
Tok-tok!
Pintu itu di ketuk perlahan, hal itu membuat fokus Nanny seketika beralih ke arah pintu dimana suara itu di dengarnya.
Seorang maid melangkah masuk ke dalam kamar, berjalan menghampiri Nanny yang duduk berhadapan dengan Carver di sana.
"Nona, sudah ini sudah waktunya. Madam Colins sudah menunggu di ruang belajar," tutur wanita itu pada Nanny.
"Sungguh? Baiklah, kami akan segera ke sana begitu selesai. Terima kasih karena sudah memberitahu."
"Saya permisi."
Ia melenggang pergi meninggalkan kamar. Nanny langsung kembali memfokuskan dirinya pada Carver yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Tuan muda, ini sudah saatnya anda menghadiri kelas. Madam Colins sudah menunggu anda di ruang belajar."
"Aku tidak mau belajar!" Carver memasang wajah tak sedap. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sembari bersandar pada kursi yang didudukinya.
"A-apa? Anda tidak mau belajar?"
"Apa aku perlu mengulanginya lagi? Sudah aku katakan, aku tidak mau belajar!"
"Anda tidak bisa seperti ini. Saya dengar, anda sudah bolos cukup banyak dalam Minggu ini, dan kalau anda terus bolos, anda akan—"
"Pokoknya aku tidak mau belajar! Apakah kau tidak mengerti?" potong Carver dengan wajah kesal.
Nanny terdiam untuk sesaat. Ia tidak mengerti kenapa sifat Carver bisa seperti ini. Sungguh, ini pertama kalinya Nanny menemukan anak-anak modelan Carver begini.
"Tapi, madam Colins sudah jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengajari anda."
"Aku tidak peduli." Carver memalingkan wajahnya ke arah lain.
Nanny menghela napas pelan.
Ternyata tuan muda memang punya sifat keras kepala. Bahkan sepertinya akan sulit bagiku agar bisa menarik hatinya supaya dia mau menerimaku sebagai pengasuh barunya.
Sekarang… aku harus bagaimana?
Apa yang harus aku lakukan agar tuan muda mau menghadiri kelas madam Colins? Lagipula, kenapa beliau tidak ingin menghadiri kelas madam Colins?
Nanny mengerutkan kening. Kedua irisnya menatap Carver lekat.
Jika aku gagal membuat tuan muda menghadiri kelas, maka sama artinya dengan aku sudah membuat kedatangan madam Colins kemari sia-sia. Selain itu, aku juga gagal sebagai pengasuh tetap tuan muda. Tuan Duke pasti akan merasa menyesal karena telah memilihku sebagai pengasuh tetap beliau.
__ADS_1
Aku harus memutar otak. Aku harus pikirkan cara agar tuan muda mau menghadiri kelas madam Colins. Dengan begitu, tuan Duke akan tetap mempercayakan pekerjaan ini padaku, dan kedatangan madam Colins tidak sia-sia.
Hanya itu cara agar semua orang senang.
Carver menundukkan kepalanya. Entah kenapa tapi Nanny samar-samar melihat ekspresinya berubah.
"Kenapa anda tidak ingin menghadiri kelas madam Colins?" tanyanya, membuat Carver seketika mendongak padanya.
"Aku tidak mau saja," jawabnya singkat.
Nanny merasa ada yang sedang disembunyikan Carver darinya.
Pasti ada yang sedang beliau sembunyikan, tapi apa? Apa alasannya beliau tidak mau menghadiri kelas madam Colins?
"Anda harus menghadiri kelas madam Colins. Jika anda tidak hadir, saya bisa dimarahi oleh tuan besar." Nanny masih berusaha lembut.
"Memang apa pedulinya aku dengan kau dimarahi oleh ayahku? Sekali aku bilang tidak, pokoknya aku tidak mau datang! Jangan memaksaku," tukasnya.
"Tapi apa alasannya anda tidak ingin datang? Apakah karena pelajaran yang anda hadiri berat? Atau karena sikap madam Colins tidak baik pada anda? Kalau begitu, biar saya bicara dengan beliau agar bersikap lebih baik pada tuan muda."
"Tidak! Aku tidak ingin datang bukan karena itu. Pokoknya aku tidak mau!"
"Jika bukan karena itu, karena apa? Beritahu saya alasannya."
"Apakah karena saya? Atau karena tuan Duke?" Nanny terus bertanya. Ia mendadak berhenti ketika secara tanpa sadar menyebut Karl.
Ekspresi Carver juga mendadak berubah ketika dia menyebut 'tuan Duke.'
"Berhenti bertanya! Kau sama saja seperti yang lain. Sama-sama menjengkelkan!" Carver beranjak dari kursinya dengan wajah kesal.
Kenapa bisa-bisanya aku mengira itu karena tuan Duke? Bibirku terkadang bicara tanpa berpikir dulu. Nanny menggelengkan kepalanya pelan.
Tapi, tunggu… melihat dari reaksi tuan muda barusan…
Oh astaga, kenapa aku baru sadar! Pasti memang itu alasannya!
Nanny beranjak dari tempat duduknya dan segera mengejar Carver yang kini melangkah menuju beranda kamarnya.
"Tuan muda."
"Aku tidak mau!" teriak Carver dengan wajah kesal. Ia mulai jengkel dengan sikap Nanny yang tak kenal lelah untuk terus berusaha bersikap baik padanya.
__ADS_1
"Saya belum selesai bernegosiasi dengan ada."
"Apa?" Carver kaget. Untuk pertama kalinya, ia mendengar pengasuhnya mengatakan ingin bernegosiasi dengannya.
"Apa yang anda inginkan? Saya akan memenuhi segala permintaan anda jika anda mau menghadiri kelas hari ini."
"Maksudmu?"
"Maksud saya adalah, saya akan menuruti segala permintaan yang anda buat. Misalnya jika anda ingin makan sesuatu, atau anda ingin saya melakukan apa. Akan saya lakukan semuanya sesuai ucapan anda. Tapi dengan catatan, anda harus menghadiri kelas madam Colins hari ini."
"Aku tidak tertarik. Lagipula memang itu tugasmu, di sini 'kan?"
Ah, benar juga apa yang beliau ucapkan. Memang itu tugasku di sini. Nanny membatin.
Tidak! Aku tidak boleh menyerah begitu saja dan kalah dengan ucapannya. Bisa-bisa aku kehilangan kepercayaan tuan Duke terhadapku.
"Ya, memang benar itu adalah tugas saya di sini. Tapi kesepakatan kita dengan pekerjaan saya itu akan sangat jauh berbeda. Saya akan menuruti permintaan anda setelah kesepakatan itu di buat—maksud saya ketika anda meminta saya untuk tidak mengganggu anda, saya akan menuruti permintaan anda dan tidak akan melanggar kesepakatan yang telah kita buat."
"Apa jaminannya?" Carver mulai sedikit mengerti mengenai maksud dari kesepakatan yang Nanny tawarkan.
"Hanya satu. Anda tidak boleh bolos kelas lagi, dan anda harus bicara jujur pada saya apapun yang terjadi."
"Apa?!" Carver tertegun mendengarnya.
"Jika ketentuan ini anda langgar, maka kesepakatan kita berakhir."
"Kalau begitu aku tidak mau!"
"Itu pilihan anda? Maka tidak ada pilihan lain bagi saya selain menarik paksa anda menuju ruang belajar, seperti yang mungkin Zelda lakukan juga kepada anda."
"Tunggu! Apa?!"
Nanny menarik tangan Carver dan berusaha untuk membawanya pergi dari sana.
"Tidak! Aku tidak mau?!" Carver meronta-ronta.
"Anda yang telah membuat saya harus memilih jalan ini. Jadi anda juga yang harus menerimanya!"
"Tidak!" Carver terus memberontak. Alih-alih menolong, semua orang yang ada di sana hanya diam dan menonton. Memang bukan hal yang aneh lagi kalau kejadian seperti ini terjadi. Pasalnya bukan sekali ini terjadi.
Saat Zelda masih menjalankan tugasnya sebagai pengasuh tuan muda, hal ini kerap terjadi di setiap pagi. Jadi sudah bukan hal besar lagi bagi mereka semua.
"Baiklah!"
__ADS_1
...***...