Nanny For Young Master

Nanny For Young Master
Genius 39 - Konsekuensi


__ADS_3

Sosok lelaki yang di lihatnya itu berdiri dihadapannya.


"Apakah kau tidak sadar bahwa apa yang terjadi pada putramu itu adalah atas ulahmu sendiri."


"Apa maksudmu?!" Karl mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak paham dengan ucapan pria itu.


"Apakah kau lupa dengan yang aku katakan ketika pertama kali kita bertemu?"


"Huh?"



"Selalu ada konsekuensi yang harus kau tanggung di setiap keputusan yang kau ambil."


"A-apa?" Karl nyaris terjatuh mendengar ucapannya.


"Ya. Kau pasti mengerti ucapanku 'kan?"


"Tidak! Tidak mungkin!" Tubuh Karl gemetar hebat.

__ADS_1


Ia menatap kedua telapak tangannya. "A-apa yang telah aku lakukan?"


Air mata semakin deras membasahi kedua pipinya.


"Setiap makanan yang kau sentuh, kau ambil, atau kau berikan pada orang lain dengan tanganmu sendiri akan meninggalkan sedikit jejak dari aura kekuatanmu. Hal itu akan langsung bereaksi, baik pada yang memiliki kekuatan atau tidak. Kekuatan itu akan berubah menjadi racun yang kemudian membunuh mereka secara perlahan…"


"…Tidak akan pernah meninggalkan jejak, dan tidak akan pernah ada yang tahu berapa lama penyiksaan itu akan terjadi." Pria itu mengulum senyum.


Semua hal yang terjadi hari ini benar-benar terasa seperti hiburan baginya. Lucu, dan sungguh menggelitik. Karena seorang ayah tanpa sadar memberikan racun untuk putranya sendiri.


"Kau…" Karl mengepalkan tangannya. Ia berlari menghampiri pria itu dan mencengkram kedua pundaknya kuat-kuat.


"Tidak semudah itu."


"Apa?!"


"Bukankah sudah pernah aku jelaskan? Kekuatan itu akan selamanya berada dalam tubuhmu dan tidak akan pernah bisa hilang setelah kau menjalin kontrak denganku. Kau tidak bisa membatalkannya, dan kau tidak bisa lepas dariku!"


"Kalau begitu berikan penawarnya! Aku tidak bisa membiarkan putraku seperti ini. Aku tidak ingin kehilangan dia! Aku tidak ingin kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku lagi?!" Karl semakin keras mencengkram pundaknya.

__ADS_1


Alih-alih kesakitan, pria itu justru terkekeh mendengar penuturannya.


"Hahaha, kau ini benar-benar lucu. Selama bertahun-tahun kau membuangnya karena kau selalu merasa tidak kuat lihat putramu sendiri. Kau bilang dia selalu membuatmu teringat akan dia…"


"…Tapi sekarang… hanya dalam satu pertemuan, kau langsung menganggap sampah kecil yang kau buang itu berharga? Kau sungguh naif." Pria itu terkekeh geli menanggapi kalimat Karl.


"Diam!" bentak Karl. Pria itu menundukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir turun dari pelupuk matanya.


"Selama ini, aku tidak menyadarinya. Selama ini aku terlalu bodoh menganggapnya sebagai orang yang membawa sial. Karena setiap menatapnya, setiap kali aku melihat wajahnya… aku selalu ingat padanya…"


"…Tapi hari ini, ada satu hal yang baru saja aku sadari. Aku baru sadar kalau ternyata dia adalah harta satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku. Dia satu-satunya yang aku miliki. Tanda dan jejak bahwa Lynn memberikan seluruh cintanya untukku." Karl merasakan dadanya sesak. Hatinya terasa seperti terkoyak, dan kepalanya mulai terasa sakit.


"Arghh…" Karl meringis sambil memegangi kepalanya. Menjambak rambutnya sendiri dengan sekuat tenaga.


"Perjanjian tetaplah perjanjian. Penyesalan yang ada di akhir adalah resiko yang harus kau tanggung atas keputusan yang kau pilih, Karl…"


Brukk!


Tubuh Karl limbung dan jatuh terduduk dilantai.

__ADS_1


...***...


__ADS_2