Nanny For Young Master

Nanny For Young Master
Genius 30 - Tidak beracun


__ADS_3

Inggrid membulatkan kedua matanya begitu melihat logam itu tidak berubah sama sekali.


"Jika bukan dari makanan yang beliau makan, bisa saja 'kan racunnya ada pada alat makan beliau?" tanya Inggrid.


"Saya juga sudah mengecek alat maka beliau, dan memang sama-sama tidak menunjukkan reaksi kalau ada racun di dalamnya."


"Ini aneh, kalau memang tidak ada racun pada makanan beliau. Lalu bagaimana beliau bisa muntah darah?"


"Ini juga yang membuat saya bingung. Seharusnya jika tidak ada apa-apa di dalam makanan beliau, maka beliau juga tidak akan muntah darah sampai jatuh pingsan 'kan?"


"Ya. Aku jadi semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi," gumam Inggrid pelan.


Inggrid terdiam memikirkan segala pertanyaan yang mendadak bermunculan menghampiri pikirannya.



...*...


"Huft~" Nanny menghela napas pelan.


Ia menyandarkan punggungnya pada dinding, duduk di lantai sembari memeluk lututnya.


Semua ini salahku. Hari ini benar-benar kacau. Semuanya terjadi di luar dari dugaanku.


Nanny menundukkan kepalanya, raut wajahnya murung. Ia sangat menyayangkan hari pertamanya bekerja benar-benar kacau di luar dari ekspektasinya di mana dia pikir semuanya akan berjalan baik.


Aku masih merasa menyesal dengan tuan muda, lalu sekarang… tuan Duke juga.

__ADS_1


Mereka jadi terluka karenaku…


Lagipula apa sebenarnya yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa membuat dua kekacauan dalam satu hari?


Nanny menengadahkan kepalanya. Menatap langit-langit kamarnya.


"Kira-kira, bagaimana keadaan tuan muda sekarang? Apakah beliau sudah sadar?"


"Aku sangat ingin menemui beliau guna memastikan keadaannya."


"Tapi, aku takut kepala pelayan dan maid yang lain melarangku."


Tok-tok!


Pintu kamarnya di ketuk secara perlahan. Nanny menoleh ke arah pintu yang letaknya tepat berada di sampingnya.


"Masuklah," tutur Nanny dengan lesu.


Nora mendorong pintu kamarnya. Melangkah masuk ke dalam kamar Nanny.


"Astaga, apa yang kau lakukan di situ?" Nora berjongkok di hadapan Nanny.


"Aku sedang meratapi nasibku…" lirih Nanny sambil terkekeh pelan. Nora bisa dengan jelas melihat keresahan di wajah Nanny.


"Kau pasti kepikiran karena kejadian hari ini 'kan?"


"Hm." Nanny menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Aku masih tidak menyangka kalau hari pertamaku bekerja akan seperti ini," gumam Nanny dengan suara lirih.


"Ini pasti sangat berat untukmu 'kan?" Nora mengulurkan tangannya, mengusap pundak Nanny penuh kelembutan.


"Ya…" Nanny tersenyum hambar.


"Tenanglah. Semuanya pasti akan kembali normal secepatnya." Nora berusaha menenangkan Nanny.


"Aku harap begitu," gumam Nanny pelan.


"Kau jangan sedih seperti itu. Sini, biar aku peluk!" Nora merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Nanny erat.


"Semuanya baik-baik saja. Kau harus percaya bahwa besok akan menjadi hari yang lebih baik," lirih Nora.


Nanny merekahkan senyumnya secara perlahan. Pelukan dari Nora benar-benar membuatnya merasa lebih baik.


"Aku harap begitu."


Nora melerai pelukan mereka. "Daripada sedih, mending sekarang kita makan malam. Kau sudah melewati hari ini dengan begitu berat."


"Tapi aku merasa tidak lapar."


"Tidak! Jangan bicara seperti itu. Kau harus makan malam, besok kita masih harus bekerja 'kan? Maka dari itu, kita membutuhkan banyak tenaga. Apalagi kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok."


"Ya, kau benar."


"Kalau begitu ayo makan!" Nora menarik tangan Nanny dan membawanya keluar dari kamarnya. Mereka hendak makan malam.

__ADS_1


...***...


__ADS_2