
"Ayah tidak menyayangiku."
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?"
"Ayah tidak pernah mau menghabiskan waktu bersamaku, dan tidak pernah mengizinkanku untuk menemuinya. Sejak dulu… ayah benci padaku…" Carver kembali menangis. Ada rasa sakit yang mendadak ia rasakan di hatinya. "Aku tidak ingin bersama ayah. Aku ingin ikut dengan ibu saja…"
Wanita itu memeluknya erat, berusaha menenangkan anak laki-laki yang kini ada dihadapannya.
"Dengarkan ibu, sayang. Ayah tidak membencimu, dan ayah bukannya tidak ingin menghabiskan waktu bersamamu. Ayah hanya sedang berjuang untuk melindungi mu."
"Melindungi ku?" Carver melepaskan pelukannya dan menatap ibunya dengan wajah bingung.
"Ya, ayah berusaha untuk melindungi mu. Ayah menjauhimu dan berusaha untuk tidak bertemu denganmu adalah agar kau tetap selamat. Agar kau tetap aman, dan selalu ada di samping ayah."
"Aku tidak mengerti…"
"Suatu saat, kau akan mengerti dengan situasi ini. Dan kalau kau ingin menghabiskan banyak waktu dengan ayah, maka kau harus sedikit bersabar sampai ayah benar-benar bisa memastikan keadaanmu aman."
"Tapi, kapan? Kapan aku bisa menghabiskan banyak waktu dengan ayah?"
"Waktunya tidak lama lagi. Ibu yakin itu."
__ADS_1
"Sungguh?"
Dia mengangguk mengiyakan ucapannya. "Sekarang, bagaimana kalau kau pulang dan menemui ayah? Ibu yakin, ayah sudah menunggumu. Ayah pasti sangat mencemaskan mu karena kau sudah pergi terlalu lama."
"Aku tidak mau." Carver menggeleng. "Jika aku pulang, maka aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan ibu lagi. Jika aku pulang… aku tidak akan bisa memeluk ibu lagi…"
"…Aku ingin di sini saja. Aku ingin dengan ibu saja."
"Tapi kalau kau di sini, ayah akan sedih."
"Aku memang ingin menghabiskan waktu dengan ayah, tapi aku juga tidak ingin berpisah dengan ibu. Ini adalah pertama kalinya kita bertemu. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama ibu."
"Kau harus pulang, sayang…"
"Dengarkan ibu. Walaupun kita tidak akan bertemu lagi, tapi ibu akan selalu ada di sisimu. Ibu akan selalu menjaga dan mengawasi mu serta memastikan kau selalu bahagia. Suatu saat, akan ada waktunya dimana kita—kau, ayah, dan ibu untuk bersatu. Akan ada saatnya, kita berkumpul bersama seperti yang seharusnya."
"Benarkah itu? Kita akan bisa berkumpul?"
"Iya. Ibu berjanji padamu, asalkan kau juga berjanji akan kembali untuk menjaga ayah, mengerti?" Ia mengacungkan kelingkingnya.
Carver mengangguk pelan. "Baiklah, aku berjanji."
__ADS_1
Tangan mungilnya terangkat, menautkan jari kelingkingnya sambil tersenyum.
"Sekarang bangunlah, sayang…"
Pats!
Carver membuka kedua matanya perlahan. Pandangannya buram, butuh beberapa saat hingga dirinya benar-benar bisa melihat semuanya.
"Carver! Sayang…" Bariton seorang pria di dengarnya. Bersamaan dengan itu, samar-samar Carver bisa melihat siluet seseorang yang kini menatapnya.
"Carver…" Sekali lagi, dan kali ini dia bisa melihat sosoknya dengan jelas.
"Ayah…" Carver berucap lirih.
"Nak…" Karl tersenyum lalu memeluk tubuh putranya yang baru saja sadarkan diri. "Syukurlah kau akhirnya bangun," gumamnya sambil tersenyum lega. Air matanya sampai menetes saking terharunya.
Suara Karl yang kesenangan benar-benar berhasil membuat tidur Nanny terusik. Wanita itu membuka kedua matanya, dan begitu terkejut begitu melihat Karl memeluk Carver yang telah sadarkan diri.
"Tuan muda…" Nanny mengulum senyum.
__ADS_1
"Ayah sangat mencemaskan keadaanmu, nak. Syukurlah kau baik-baik saja. Ayah benar-benar lega."
...***...