Nanny For Young Master

Nanny For Young Master
Genius 57 - Kecewa


__ADS_3

Itu akan mempersulit pekerjaanku, batin Nanny. Mempertimbangkan ucapan salah satu maid yang baru saja bicara dengannya.


Nanny beralih fokus pada jam yang tergantung di dinding.


Masih ada beberapa menit sebelum jam sarapan, dan kelas pagi. Itu artinya, masih bisa beliau gunakan untuk beristirahat sekitar lima sampai enam menit.


Lagipula tampaknya beliau sangat kelelahan. Aku juga tidak tega kalau harus membangunkannya secara paksa.


Nanny memandangi Carver yang terbaring di atas ranjang. Anak laki-laki itu kembali memejamkan matanya, dan berusaha untuk tidur.


"Baiklah, anda bisa istirahat sekitar lima menit lagi. Setelah itu mau tidak mau, anda harus bangun untuk bersiap," kata Nanny. Kalimatnya berhasil membuat semua orang yang mendengarnya kaget, tak terkecuali Carver sendiri. Anak laki-laki itu langsung membuka mata dan menoleh ke arahnya.


"Apa?!" Kata itu spontan terlontar dari bibir mereka serentak.


Nanny tak kaget sama sekali. Karena ia sudah memprediksi reaksi orang-orang akan seperti itu mendengar keputusan yang diambilnya.


"Saya akan meminta semua maid untuk menunggu di luar, dan saya akan menunggu di sini hingga lima menit ke depan." Nanny menatap semua maid yang sejak tadi bersamanya dan segera meminta mereka untuk keluar.


"Tapi, Nanny…"


"Biar aku yang tangani semuanya. Kalian percayakan saja padaku. Aku yakin, sudah membuat keputusan yang tepat." Nanny meyakinkan semua teman-temannya.


"Baiklah…"


Mereka melangkah keluar, meninggalkan Nanny yang kini berdiri di sana seorang diri.


Pintu tertutup, dan kini hanya menyisakan Nanny dan Carver saja di dalam sana.


Carver masih tidak percaya. Ini adalah pertama kalinya pengasuhnya memberikan ia waktu lima menit lagi untuk tidur.


"Kenapa anda tidak tidur lagi? Bukankah anda masih ingin tidur?" tanya Nanny begitu sadar Carver mengawasinya.


"Kenapa kau membiarkan aku tidur lima menit lagi? Bukankah seharusnya kau marah dan menarik selimutku secara paksa lalu segera membangunkan ku untuk mandi?" Carver menaikkan sebelah alisnya—bingung.


"Apakah anda tidak suka? Bukannya anda yang minta?"


Memang aku yang minta. Aku hanya tidak mengerti saja, kenapa dia membiarkanku untuk istirahat? Ini benar-benar aneh. Baru kali ini aku diizinkan tidur lima menit lagi.


Carver terdiam dalam lamunannya untuk sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Nanny. Namun kali ini dengan tatapan yang jauh berbeda dari sebelumnya.


"Apa rencanamu sebenarnya?" tanya Carver, tatapan matanya penuh curiga.


Nanny menaikkan sebelah alisnya. "Rencana? Apa maksud anda? Saya hanya mengikuti permintaan anda."


"Tapi, kenapa?"


"Karena anda kelihatan sangat lelah, maka dari itu saya memberikan waktu lima menit lagi untuk anda tidur lima menit lagi. Selain itu, masih ada banyak waktu hingga jam sarapan dan kelas pertama di mulai," jelas Nanny seadanya.


...*...

__ADS_1


Aku harap dia bisa mengerjakan tugasnya dengan baik, batin Karl.


Pria itu meraih minuman hangat yang sejak tadi tersaji di cangkirnya, meneguk isinya dengan sangat menikmatinya.


Ceklek!


Perhatian Karl beralih pada Grey yang baru saja tiba dengan beberapa lebar kertas di tangannya.


Ia segera menghampiri Karl dan menaruh semua kertas di tangannya ke atas meja.


"Ini semua yang anda minta, tuan."


"Terima kasih."


Grey membungkuk tanpa menjawab.


"Omong-omong apakah kau mendapatkan kabar baru tentang Carver?"


"Saya sudah mendengar dari maid yang bertugas di tempat beliau. Mereka bilang kalau pengasuh baru itu sedang membangunkan tuan muda."


"Begitukah?"


"Benar, tuan."


Aku jadi penasaran, apakah dia akan berhasil menyelesaikan tugasnya hari ini? Karl terdiam. Mengingat kejadian ketika Carver tiba-tiba muntah darah, ia jadi agak ragu kalau hari ini akan berjalan baik. Apalagi untuk Nanny.


"Oh, saya juga ingin mengingatkan bahwa ini sudah saatnya tuan sarapan. Kepala pelayan sudah menyiapkan hidangan untuk pagi ini."



...*...


Carver diam tanpa kata. Irisnya melirik Nanny lewat ujung bulu matanya.


Nanny hanya diam sambil tersenyum simpul saat sadar kedua iris mata mereka saling beradu satu sama lain.


Entah apa yang sebenarnya dia rencanakan. Tapi aku jadi tidak bisa tenang.


Aku harus tahu, kenapa dia bersikap baik dan mengizinkan aku tidur lima menit lagi.


Ada yang tidak beres. Pasti ada yang coba dia sembunyikan. Semacam trik untuk mengelabui ku.


Carver menyipitkan kedua matanya, menatap Nanny penuh curiga.


Lagi-lagi Carver hanya melihat Nanny yang tersenyum ke arahnya.


"Kenapa anda sejak tadi terus melihat saya?" tanya Nanny setelah sadar Carver memandanginya berulang kali tanpa mengatakan sepatah katapun.


Carver mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Sejak tadi dia sadar aku sedang memperhatikannya?


"Tidak apa-apa."


"Kalau begitu, saya akan menunggu anda di sofa."


Nanny baru saja akan beranjak pergi, sebelum secara tiba-tiba Carver menghentikannya secepat mungkin.


"Tidak! Aku akan bangun," katanya. Membuat Nanny bingung.


"Bukannya anda masih mengantuk?"


"Aku sudah tidak mengantuk lagi."


Aku tidak mungkin mengikuti apa yang dia ucapkan. Apalagi aku tidak tahu apa yang dia rencanakan, batin Carver.


"Apa anda yakin sudah tidak mengantuk lagi?"


"Ya. Maka dari itu, bantu aku bersiap!"


"Baiklah… saya akan panggilkan maid yang lain." Nanny melangkahkan kakinya menghampiri pintu keluar.


...*...


Perhatian Nanny beralih pada dua maid yang datang membawa troli makanan di tangan mereka.


Wanita itu segera bergerak menghampiri pintu keluar dan mempersilahkan mereka untuk masuk dan membawa makanannya ke dalam.


"Terima kasih," tutur Nanny pada mereka.


Mereka tersenyum sambil membungkuk sebelum akhirnya meninggalkan kamar Carver, menyisakan Nanny dan beberapa maid saja.


"Sudah saatnya anda sarapan, tuan muda." Nanny menata meja untuk Carver makan.


Carver melirik meja yang kini ditempatinya sejenak, sebelum akhirnya beralih fokus pada pintu masuk.


Dari yang Nanny lihat, ekspresi kecewa tampak begitu kontras menghiasi wajahnya.


Wanita itu bisa merasakan dengan sangat jelas apa yang sedang Carver rasakan hanya dengan melihat ekspresinya.


Sepertinya tuan muda kecewa karena beliau harus sarapan di kamar lagi. Padahal waktu itu, tuan Duke sudah datang ke kamar beliau dan menemani beliau hingga sadar. Tapi kenapa sikap tuan Duke masih seperti ini?


Aku pikir, tadinya tuan Duke sudah benar-benar berubah setelah kejadian waktu itu. Tapi sepertinya, beliau sama sekali tak goyah.


Aku juga masih tidak mengerti. Ada banyak hal yang mengganjal dalam benakku mengenai sikap tuan Duke pada tuan muda.


Nanny menatap Carver intens. Anak laki-laki yang tengah berdiri di depan cermin itu kini tertunduk lesu.


Nanny beranjak bangun, melangkah menghampirinya lalu berjongkok tepat di depannya.

__ADS_1


"Anda harus menghadiri kelas hari ini, jadi akan lebih baik jika anda sarapan terlebih dulu," katanya. Membuat Carver tertegun.


...***...


__ADS_2