
"Berhenti memanggilku seperti itu! Aku akan buktikan aku bukan anak payah!" bentak Carver dengan wajah yang begitu merah saking kesalnya.
"Kalau begitu, kenapa anda murung?"
Carver mendadak diam. Ekspresinya berubah secara tiba-tiba dari yang awalnya terlihat begitu marah menjadi sedikit lebih tenang.
Lelaki itu menundukkan kepalanya. Sekali lagi wajahnya terlihat murung.
"A-aku… hanya kecewa," lirihnya.
"Huh?" Nanny menampakkan raut wajah bingung. Ia tidak mengerti kenapa Carver bisa kecewa.
"Aku pikir setelah kejadian hari itu…, ayah sudah tidak membenciku lagi. Tapi ternyata…, aku salah."
"Ayah masih membenciku…"
Suara Carver terdengar semakin berat. Seolah-olah sulit baginya mengungkapkan semua yang ada dalam pikirannya.
Nanny diam memperhatikan wajahnya. Setiap baru beberapa detik yang lalu wajah Carver kembali berubah. Ekspresinya kali ini seperti akan menangis.
Nanny bisa melihat dengan begitu jelas mata indahnya mulai berkaca-kaca, dan hidungnya mulai berubah merah secara perlahan.
"Aku pikir, ayah menemuiku hari itu karena ayah sudah bisa menerimaku. Tapi begitu tadi pagi ada pelayan yang datang dan membawakan sarapan untukku…, aku sadar. Ternyata ayah masih membenciku…"
Carver tiba-tiba saja diam. Anak itu tidak bisa bercerita lagi. Tidak! Lebih tepatnya tidak ingin bercerita lagi, karena dadanya terasa sesak dan air matanya semakin berusaha keluar. Carver tidak ingin melihatkan semua itu dihadapan Nanny.
Jadi…, itu yang sejak tadi mengganggu pikirannya? Pantas saja beliau begitu murung. Aku pikir kenapa…
Sepertinya beliau sangat kecewa karena tuan Duke malah tidak datang untuk sarapan bersamanya.
Tuan muda yang malang. Beliau pasti sangat sedih.
Nanny diam termangu memperhatikannya. Melihat Carver yang seperti ini sungguh membuat Nanny ikut sedih. Kedua mata Nanny tanpa sadar mulai berkaca-kaca, dan dia nyaris menangis.
Nanny beranjak bangun dari tempatnya dan segera menghampiri lelaki itu. Ia memeluknya dari arah belakang secara spontan.
Carver membelalakkan mata begitu mendapati Nanny memeluknya erat guna membuatnya tenang.
"Saya mengerti, ini pasti sangat membuat anda sedih. Tidak apa-apa kalau anda ingin menangis," bisik Nanny dalam pelukannya.
Carver mendorong tubuh Nanny pelan. "Aku tidak menangis!" tukasnya dengan nada ketus.
"Menangis hanya untuk orang yang lemah, dan aku tidak lemah. Aku adalah orang yang kuat." Carver menyombongkan diri. Tapi dari balik kalimatnya, Nanny bisa melihat dengan jelas bahwa anak itu masih berusaha menahan air matanya.
__ADS_1
"Menangis bukan berarti anda lemah. Lagipula bagaimana bisa anda menyimpulkan kalau seseorang menangis itu artinya adalah orang yang lemah?"
"Zelda yang selalu bilang. Dia bilang aku tidak boleh menangis karena aku anak laki-laki. Dia juga bilang kalau menangis hanya untuk orang yang lemah."
Nanny cukup terkejut dengan ucapan Carver barusan. Ia tidak menyangka kalau Zelda akan mengatakan hal seperti itu pada anak kecil seperti Carver.
"Dengarkan saya tuan muda." Nanny menggenggam tangan Carver. Kedua matanya beradu tatap dengan Carver yang kini terdiam.
"Apa yang Zelda ucapkan itu bohong. Siapapun boleh menangis, dan anda tidak perlu menahannya. Menangis adalah salah satu bentuk emosi. Menangis bukan berarti lemah, tapi justru yang tidak bisa menangis adalah orang lemah. Karena bahkan mereka tidak bisa meluapkan emosi mereka."
Carver semakin berkaca-kaca, dan tidak lama anak itu menangis dengan begitu kencangnya. Ia tanpa sadar memeluk Nanny dengan begitu erat.
Nanny membalas pelukan Carver. Ia membelai punggungnya penuh kelembutan.
"Saya harap anda tidak menahan emosi anda lagi. Apapun yang anda rasakan, tolong sampaikan pada saya. Saya akan berusaha untuk membantu anda menyelesaikan segalanya…" bisik Nanny.
...*...
"Apakah ada kabar terbaru mengenai pengasuh baru itu?" tanya Karl yang membuat Gray beralih fokus padanya.
"Saya dengar Nanny telah berhasil membujuk tuan muda untuk menghadiri kelas madam Colins hari ini."
"Betul, selain itu. Madam Colins sempat bicara dengan Nanny, dan Nanny menjanjikan kalau tuan muda tidak akan pernah bolos lagi."
"Huh? Apakah itu benar?" Karl menatap Gray dengan raut wajah tidak percaya.
"Iya, tuan." Gray menganggukkan kepalanya pelan.
Ternyata, dia bisa mengerjakan tugasnya dengan baik juga. Aku pikir dia akan gagal mengerjakan semua tugasnya, tapi ternyata tidak. Karl membatin.
Ia terdiam mengingat-ingat kembali kejadian saat dia meminta Nanny untuk menjadi pengasuh tetap putranya. Tapi entah kenapa setiap kali mengingat wanita itu, setiap kali itu juga Karl teringat akan sosok wanita lain yang pernah hadir dalam hidupnya.
...*...
Carver terdiam. Setelah menangis cukup lama, akhirnya anak itu bisa sedikit merasa tenang. Nanny mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Pipinya sampai sembab karena terlalu banyak menangis. Sepertinya beliau memang sangat ingin bisa menghabiskan banyak waktu bersama tuan Duke.
Aku mengerti. Lagipula, anak mana yang tidak ingin menghabiskan waktunya bersama orang tuanya? Terlebih tuan muda masih sangat kecil. Beliau masih membutuhkan banyak perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Sayangnya…, nyonya Duchess telah tiada, dan tuan muda hanya bisa mengandalkan kasih sayang dari tuan Duke.
__ADS_1
Tapi tuan Duke malah tidak memberikan kasih sayang yang beliau butuhkan. Tuan Duke malah cenderung terlalu fokus pada semua pekerjaannya.
Aku tahu beliau sibuk. Tapi, aku hanya menyayangkan beliau karena menelantarkan putra semata wayangnya seperti ini.
"Selesai." Nanny tersenyum simpul.
Carver hanya menatapnya sekilas sebelum kembali menundukkan kepala.
"Hm…, daripada kita duduk di sini dan anda terus bersedih, bagaimana kalau kita melakukan hal lain?"
"Hal lain?"
"Ya, seperti misalnya jalan-jalan atau memainkan permainan yang ada sukai. Bagaimana?"
"Hm…" Carver terdiam sejenak. Berusaha mencaritahu apa yang sebaiknya mereka lakukan.
"Baiklah aku setuju!" tuturnya setelah berpikir sejenak.
"Okay, kalau begitu ayo kita lakukan hal yang menyenangkan agar tuan muda tidak merasa sedih lagi. Apakah ada yang anda sukai? Atau mungkin ada hal yang ingin anda lakukan?"
"Aku ingin bermain di luar."
"Diluar?"
"Di taman!"
"Baiklah, ayo pergi!" Nanny beranjak dari tempatnya. Ia kemudian menaruh sapu tangan yang digenggamnya ke atas meja. Setelah itu, ia mengajak Carver pergi.
"Bagaimana kalau setelah itu, kita pergi ke perpustakaan dan membaca buku? Saya bisa mencarikan buku dongeng untuk anda dan membacakannya nanti malam."
"Aku ingin buku lain! Yang seru."
"Haha, baiklah akan saya coba carikan."
Nanny dan Carver berjalan keluar dari kamar. Mereka lantas pergi ke taman untuk bermain bersama. Setelahnya, mereka menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca buku.
Seperti janjinya, Nanny juga mencarikan buku yang menarik untuk dibacakannya nanti malam.
Usai melakukan semua yang mereka inginkan, Carver dan Nanny kembali ke kamar karena sudah waktunya makan malam.
...***...
__ADS_1