
Aisyah pun masuk ke kamarnya karena memang hati dan fikirannya masih terselimuti rasa tidak percaya bahwa dia sudah tidak mondok lagi.
Ibu Aisyah pun menyusul ke kamar Aisyah untuk menenangkan hati putrinya tersebut.
Aisyah adalah putri satu satunya bapak santoso dan istrinya, memang semasa hidupnya Aisyah selalu hidup diruang lingkup pesantren.
Hingga Aisyah pun harus sangat super tabah mengikhlaskan semua yang ia jalani sekarang demi sebuah pernikahan.
Sebenarnya Aisyah sangat penasaran alasan apa yang membuatnya harus boyong dari pondok, dan kenapa kok banyak sekali orang yang datang kerumah bahkan Aisyah sama sekali tidak mengenal mereka.
Aisyah pun bertanya pada ibunya
"Bu, kenapa Aisyah harus keluar pesantren, Aisyah masih ingin dipesantren bu" sambil berusaha menahan air matanya
"Maafkan ibu dan abi mu nak jika harus mengeluarkanmu dari pesantren, mari ke ruang makan. nanti kamu akan tau alasan dari semua ini"
"Kenapa bu, ada apa, Aisyah sungguh tak percaya dengan keadaan Aisyah yang saat ini"
"Ayok nak mari ikutlah dengan ibu"
"Baiklah bu" mengusap air mata yang turun deras
__ADS_1
Ruang makan
saat semua keluarga bapak Santoso dan juga tuan sanjaya berkumpul mereka pun memakan bersama dan juga saling mengumpulakan mental untuk berbicara ke Aisyah kecuali dengan tuan sanjaya, tuan sanjaya hanya melihat teleponnya padahal disana sama sekali tidak ada jaringan internet, memegang telepon hanya untuk pencitraan saja karena memang tuan Sanjaya sangat merasa tidak nyaman dengan keputusan ayahnya.
Setelah selesai makan
Bapak Santoso pun yang memulai pembicaraan
"Aisyah"
"Iya bi ada apa"
"Apakah kamu ingin tau apa alasan abi
"Tentu saja bi, Aisyah sungguh sangat penasaran"
"Nak, abi akan menjodohkanmu dengan anak dari bapak jaya, yaitu tuan sanjaya"
"Siapa bi mas sanjaya itu, Aisyah sangat tidak mengenalinya"
Tuan sanjaya pun melirik wanita itu dengan tatapan sinis "Lagi pula aku juga tidak mengenalmu dan juga tidak ingin mengenalmu neng santri" batin tuan sanjaya
__ADS_1
"Kita sekarang sedang bersama keluarga bapak jaya nak, perkenalkan yang duduk didepan mu itu ibu salwa, dan didepan abi itu bapak jaya, didepan ibumu itu tuan Sanjaya yang akan dijodohkan denganmu"
seketika hati Aisyah pun seperti tertendang tergoncang merasa sangat sakit karena sungguh tak percaya bahwa dia akan dijodohkan dengan pria sombong dan juga dingin itu.
"Benarkah bi, abi apakah tidak salah memilihkan Aisyah calon imam, tuan Sanjaya itu orang berpendidikan tinggi dan juga kaya raya sesadangkan Aisyah, Aisyah hanya seorang wanita yang tidak berpendidikan tinggi"
"Sudahlah nak, jangan merendahkan dirimu seperti itu. saya akan beruntung dan juga bahagia memiliki menantu sepertimu nak" ucap bapak Jaya
"Benar Aisyah apa yang dikatakan suami saya, pasti nanti sanjaya akan senang jika memiliki istri sholihah sepertimu"
Aisyah hanya tertunduk diam dan matanya sangat berkaca - kaca
"Jadi hanya karena aku akan dijodohkan dengan laki - laki yang tak ku kenal hingga aku harus keluar dari pesantren ya Alloh ya Robbi"
"Bagaimana nak, apakah kamu bersedia" ujar ibu marwa (ibu Aisyah)
" keputusan yang sangat berat tapi aku harus bisa ikhlas dan kuat, ini semua demi orang tua ku,Bismillah" batin Aisyah.
"Baiklah bu, jika memang itu yang abi dan ibu inginkan, Aisyah akan menerima dengan lapang dada" Air mata Aisyah pun menetes namun bibirnya masih bisa tersenyum.
Dua keluarga yang sedang menunggu jawaban dari Aisyah akhirnya puas dan juga lega dengan jawaban yanh terlontar dilisannya Aisyah.
__ADS_1
Saat tuan Sanjaya mendengar jawaban Aisyah. telepon tuan Sanjaya pun terjatuh dan secepat kilat tuan Sanjaya mengambilnya.
"Sialan kenapa gadis itu mau" batin tuan sanjaya