
Adzan subuh pun telah berkumandang, Aisyah yang selalu bangun ketika mendengar Adzan dan tuan Sanjaya yang masih terlelap ditidur tampannya.
"Mas sudah subuh Sholat dulu sana nanti kamu lanjut lagi kalau mau tidur"
"Bentar dek biar selesai Adzan dulu nanti aku akan bangun"
"Huss mas kalau lagi ada Adzan itu nggak boleh rebahan nanti kalau meninggal jenazahnya berat diangkatnya"
Tuan Sanjaya pun bergegas bangun dan duduk, karena perkataan istrinya barusan membuat jiwanya takut dan terbangun.
"Sudah sana wudhu dulu mas"
"Iya dek"
Tuan Sanjaya menuruni tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu sekaligus menggosok gigi.
Setelah itu tuan Sanjaya menggelarkan sajadahnya dan melaksanakan Sholat subuh,
Aisyah yang telah memunggu suaminya keluar dari kamar mandi kini saatnya ia masuk menunaikan hajatnya dikamar mandi.
Saat Aisyah keluar ternyata suaminya tengah membaca Al-Qur'an dan yang suaminya baca ialah Ar-Rahman surah kesukaan Aisyah.
Suara tuan Sanjaya yang merdu membuat hati Aisyah sangat berbunga seperti ibarat bunga mekar dipagi hari yang langsung tertetes embun bekas hujan yang menyejukkan.
"MasyaaAlloh mas, biarpun kamu itu nyebelin tapi jika aku melihatmu seperti yang sekarang ini kurasa semua keisenganmu tertutup oleh lantunan bacaan Al Qur'an mu itu" batin Aisyah.
Hingga Aisyahpun tak ingin kehilangan moment terlangka ini ia pun mengabadikannya dalam bentuk file video.
Tiga puluh menit berlalu, tuan Sanjaya telah selesai mengaji dan ketika ia ingin mengembalikan Al Qur'an nya tiba-tiba ada istrinya yang tengah melamun dirinya.
Sehingga ketika ia selesai mengajipun Aisyah masih berada pada lamunannya.
Tangan tuan Sanjaya melambai ke Aisyah berharap Aisyah bisa tersadar dari lamunannya.
"Eh mas sudah selesai mengajinya, lantunan Ar Rahman mu sungguh bagus mas,kenapa ya waktu nikah dulu aku tidak meminta mahar Ar Rahman darimu hehe"
"Kamu kan tau sendiri dek dulu kita belum sama sekali pernah ketemu dan bahkan aku tidak mengenalmu dan sebaliknya, jadi syukuri saja apapun mahar pemberianku, Semogsa saja suatu saat jika kita mempunyai anak perempuan sifat dan perilakunya seperti dirimu dek dan biarkan ketika menikah ia meminta mahar Ar Rahman dari suaminya kelak" Sambil menaruh Al-Qur'an dirak almari paling atas sendiri.
"Aamiin Allohumma Aamiin, semoga jika anak kita laki - laki juga sepertimu yang penyayang dan menghargai istrinya"
"Aamiin" mendekati Aisyah dan mencium keningnya dengan lembut.
"Mas setelah ini kamu mau tidur lagi atau enggak"
"Tidak dek, hari ini aku libur, persiapan buat nanti malam"
"Bulan madu kita yeyyy" memeluk suaminya dengan erat.
"Kamu sepertinya sangat bahagia dek" sambil memberantakkan rambut istrinya.
"Aku tu penasaran mas gimana rasanya jadi aku bahagia humm" mencubit kedua pipi suaminya.
"Jangan takut sakit, nikmati saja dek" sambil merapikan rambut Aisyah.
"Sudah enggak takut mas hehe"
"Pinter anak papa" tawa ngakak tuan Sanjaya.
"Apaan si, Aisyah kecilnya belum ada ya mas haha"
"Kita langsung buat dua saja dek Sanjaya kecil dan Aisyah kecil"
"Ide bagus" sambil mengangkat kedua jari jempolnya dan tersenyum meringis.
"Ya sudah dek aku mau keluar dulu, mau lari-lari biar nanti malam kuat"
"Ikut dong mas, biar aku juga kuat"
Tuan Sanjaya melihat istrinya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Bentar dong mas aku harus merapikan kamar dulu tapi, kamu tunggu diruang tamu ya"
"Sini aku bantu"
__ADS_1
"Jangan mas, nggak baik tau suami mengerjakan tugas wanita"
"Kata siapa"
"Enggak tau juga hehe"
"Sudah biar cepet kok nanti kita bisa lari pagi dengan segera"
Tuan Sanjaya dengan cakcek nya merapikan tempat tidur.
"Seorang boss besar Sanjaya yang dingin itu merapikan tempat tidurnya sendiri ,entah apa yang merasukimu suamiku" Batin Aisyah.
Setelah selesai merapikan tempat tidur Aisyah bergegas mengambil kerudung dan memakainya.
"Mas tapi aku belum masak lo, aku masak dulu ya"
"Keburu siang Aisyah, nanti saja setelah lari-lari"
"Tapi kamu nggak lapar apa mas"
"Tidak dek"
"Beneran"
"Bener Aisyah" meraih tangan Aisyah dan segera mengajaknya turun karena semakin ia meladeni suaminya maka Aisyah akan semakin cerewet, fikiran tuan Sanjaya.
"Mau lari-lari kok pakai sendal" sindir Aisyah ke suaminya.
"Iya-iya aku copot dek, jangan nyindir juga kali" langsung lari meninggalkan Aisyah.
"Mas tunggu nanti aku diculik lo"
"Mana ada yang mau menculik wanita cerewet sepertimu" batin tuan Sanjaya.
Tuan Sanjaya tetap berlari tanpa menunggu istrinya yang masih berada dibelakang.
Aisyah pun berlari dengan sangat cepat hingga dapat membalap suaminya yang berada didepannya.
Tuan Sanjaya yang melihat kelincahan istrinya malah membuatnya bersemangat untuk lomba lari dengannya.
"Awas saja kau mas" sambil berusaha membalap suaminya kembali.
Tuan Sanjaya yang merasa kasihan kepada Aisyah ia pun memilih istirahat dipinggir jalan dan mencari tempat duduk yang berada dibawah pohon.
Karena jarak Aisyah dan suaminya tidak jauh Aisyahpun telah sampai ditempat suaminya berhenti.
"Kenapa mas berhenti"
"Istirahat dulu dek" sambil melambaikan tangannya ke Aisyah.
Aisyahpun menghampiri suaminya dan ikut duduk bersamanya.
"Ini mas minum dulu" memberikan sebotol minum air yang dibawanya dari rumah tadi.
"Makasih sayang" sambil meminum air tadi dan tak lupa menyisakannya untuk istrinya.
"Dek" sambil memberikan bekas minumnya.
"Bentar Aisyah minum dulu mas"
Habis diminum Aisyah.
"Iya mas ada apa"
"Kan aku pernah tanya-tanya ke pak rodi tentangmu, katanya kamu ikut karate ya dipondokmu"
"Hehe iya mas, emang kenapa"
"Aku kok takut kalau nanti malam kamu kesakitan terus aku kamu tendang gimana ya" sambil menahan tertawa.
"Yakali ya nggak lah mas, nggak mungkin juga haha, yang lebih takut tu aku mas kamu kan juga pernah ikut taekwondo dan bertanding diwilayah XXX dapat juara satu kan"
"Dari mana kamu tau dek"
__ADS_1
"Dari adek iparku dong mas hehe"
"Ternyata kamu kepo ya" sambil mencubit hidung Aisyah dan menggelitiki badannya.
"Biarin" tertawa kegirangan dan lari.
"Ayok pulang mas" melambai tangan ke suaminya.
Tuan Sanjaya pun mengikuti Aisyah dari belakang.
sesampainya dirumah ternyata diruang tamu sudah ada pengawal Riko yang tengah duduk bersantai sambil menikmati kopi buatan bapak eko atau tukang kebun dirumah tuan Sanjaya dan Aisyah.
"Eh sopir Riko"
Riko yang mendengar perkataan nona mudanya langsung beranjak berdiri dan memberi sapaan kepada nona muda dan tuan mudanya.
"Selamat pagi tuan muda dan selamat pagi nona muda" sambil menundukan kepalanya.
"Pagi juga Rik"
Tuan Sanjaya segera menjauhkan istrinya dari laki-laki dihadapannya itu
"Dek kamu mau masak kan tadi, masak yang enak ya"
"Siap Suamiku"
"Mari sopir Riko" sambil tersenyum.
"Baik nona" melihat Aisyah dengan senyum tapi tidak menundukkan kepalanya karena ini kesempatannya bisa melihat nona mudanya.
"Balikkan badanmu Rik"
"Baik tuan muda maafkan saya" bergegas membalikkan badannya menghadap kembali ke tuan Sanjaya.
"Duduklah"
"Baik tuan muda"
"Sebelumnya kenapa tuan muda memanggilku kemari"
"Nanti malam aku akan berbulan madu dengan Aisyah, istriku meminta berbulan madu dibawah pegunungan karena tempatnya yang sejuk dan dingin katanya.
Apa kamu pernah menjumpai tempat yang diinginkan istriku itu"
"Kesukaan nona muda memang sama seperti wajahnya. tempat yang alami dan indah-indah" batin pengawal Riko.
"Saya tidak tau tuan mohon maaf"
"Kamu tidak pura-pura bodoh kan Rik"
"Benar saya tidak tau tuan"
"Saya tidak tau karena saya dilema tuan muda Sanjaya" batin pengawal Riko.
"Nggak ada gunanya aku memanggilmu Rik, yasudah pulang sana, 3 hari ini aku tidak masuk kerja dan selama aku pergi akan kuserahkan pada sekertarisku dan awasi dia"
"Baik tuan muda, saya enggak disuruh sarapan dulu ini tuan muda, saya juga ingin menikmati masakan istri tuan muda"
"Bicara sekali lagi akan kupecat kamu"
"Tidak tuan muda saya mohon maaf"
"Saya hitung sampai satu kali, kalau kamu tidak keluar dari rumahku akan kutendang kamu"
"Saaaa"
"Saya permisi tuan muda, Assalammualaikum" sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Waalaikumsalam"
"semakin kesini semakin terlihat bahwa kau sangat tergila gila dengan istriku Rik, nikmati kegilaanmu itu"
pemeran pengawal Riko
__ADS_1