
Saat Aisyah tengah sibuk membuat kue tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.
Tok tok tok
"Assalammualaikum"
Aisyahpun dengan cepatnya langsung berjalan dan membuka pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam"
Dan ternyata yang datang ialah perempuan cantik masih muda dan itu ialah teman Aisyah
"Eh kamu jen, mari silahkan masuk"
"Iya Aisyah terima kasih ya"
Jeni pun memasuki rumah tersebut dan terpukau karena memang rumahnya sangat besar dan megah bahkan rumahnya sendiri pun terkalahkan.
Jeni melihat ke dinding-dinding atap dan matanya mengelilingi setiap sudut ruangan sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Wah rumahmu wow banget syah"
Jeni duduk dan diikuti Aisyah yang juga terduduk.
"Ini bukan rumah aku jen, ini hadiah dari mertua aku untuk aku dan suamiku"
Saat Aisyah mendengar perkataan suamiku ia baru teringat dengan tujuan awalnya.
"Oh gitu ya, oh iya emangnya suamimu kemana"
"Mas Sanjaya sedang diperusahaan jen, baru saja berangkat memang kamu tadi tidak berpapasan ya..?"
"Tidak tau syah kan aku pakai mobil bukan motor, jadi kalau aku berpapasan dengan mobil pasti akan kurang sangat jelas aku melihatnya"
"Oh gitu ya, oh iya bentar ya aku buatkan kamu minuman dulu"
"Nggak usah syah ntar ngrepotin lagi"
"Enggaklah kan kamu tamu jen, jadi sudah kewajiban tuan rumah untuk melayaninya"
Jeni hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecut.
Aisyah membalasnya dengan tersenyum juga dan segera membuatkan teh untuk Jeni.
"Entah aku waras atau tidak tapi yang jelas aku iri melihatmu Aisyah" Batin Jeni
Jeni menunggu Aisyah sambil memainkan hpnya dan terlintas difikiran Jeni untuk memotret keberadaannya yang sekarang dirumah idola teman-temannya yaitu tuan Sanjaya.
Setelah jeni memotret ia pun segera mengirim fotonya digroup alumni sekolahnya dan bercaption "Dirumah tuan muda Sanjaya" sambil diberi emoticon Love.
Dan serentak semua temannya terutama para kaum hawa didalamnya terkejut tak percaya karena mana mungkin seorang Jeni bisa dirumah tuan muda yang keren sekaligus tampan itu.
"Kamu pasti bercanda kan Jen, mana mungkin kamu bisa dirumah tuan Sanjaya"
salah satu temannya menimpali caption jeni sebagai salah satu orang yang mewakili penasarannya kaum hawa disana.
"Tidak gaes ini itu beneran dirumah tuan ganteng Sanjaya"
seketika pesan itu diabaikan oleh Jeni karena memang Aisyah telah datang dengan dua cangkir teh karena memang camilannya sudah berada dimeja sehingga Aisyah tidak perlu repot untuk menyiapkannya.
"Silahkan diminum Jen, nggak usah sungkan-sungkan"
"Iya Syah terima kasih"
"Oh iya Syah kapan suamimu akan pulang"
"Sore nanti jen memang kenapa"
"Enggak, tadi tu aku kesini ingin berfoto dengannya karena tugas dari kampus"
"Oh ya, masak sih Jen tugas dari kampus suruh berfoto sama mas Sanjaya"
"Ya tidak Syah maksudnya itu gini tugasnya suruh berfoto dengan laki-laki yang sukses, tuan Sanjaya kan sukses ya ini jadi aku berfoto dengannya saja lagi pula kan itu suami temanku sendiri,apa kamu merasa keberatan Syah jika aku meminta bantuan dari suamimu.??, kalau memang keberatan ya sudah nggak papa aku akan pulang sekarang"
"Oh gitu enggak kok enggak Jen kamu bisa berfoto dengan suamiku maaf aku kan tidak anak kampus jadi nggak tau kalau ada tugas seperti itu"
"Iya Syah tapi kamu nggak cemburu kan..??"
"Ya enggaklah Jen, mana mungkin aku cemburu dengan temanku sendiri, lagi pula niatmu kan memang baik, mengerjakan tugas kampusmu" sambil tersenyum dan memegang bahu Jeni.
"Terima kasih ya Syah, oh iya aku juga membawakan kue ini untukmu dan juga suamimu"
"Kok aku jadi merasa merepotkan gini ya Jen hehe"
"Halah enggak papa Syah anggap saja itu rasa berterima kasih dariku"
"Tadi aku juga buat kue sih Jen, tapi terima kasih loya, ini buatan kamu sendiri..??"
__ADS_1
"Iya Syah itu buatanku" ujar Jeni berbohong.
"Wah pasti akan sangat enak, oh iya ayok makan Jen"
"Enggak ah Syah aku nggak napsu, aku makan ini aja ya" menunjuk ke arah camilan.
"Eh iya boleh makan saja, itu memang disuguhkan untuk dimakan kok" jawab Aisyah dengan senyuman.
"Jen kamu suka ice cream..???"
"Suka banget, memangnya kenapa Syah.??"
"Kemarin aku beli ice cream banyak banget dan sampai sekarang belum habis karena memang hanya aku yang memakannya, suamiku juga tidak terlalu menyukainya, aku ambilkan bentar ya"
"Wah enak dong jadi kamu apa-apa tersedia hehe"
"Alhamdulillah Jen Alloh kasih rezeki tambahan"
Aisyahpun menuju ke dapur untuk mengambil ice cream, ia mengambil cukup banyak hingga sebanyak separuh dari jumlah ice creamnya.
"Silahkan dimakan Jeni"
"Wah banyak amat Syah, mahal-mahal pula harganya" sambil mengambil salah satu ice cream.
"Enggak mahal jen, ya memang harganya segitu hehe" ujar Aisyah tidak bermaksud sombong
"Ya iyalah kan sekarang kamu nona muda disini, jadi satu ice cream dengan harga 50 ribu itu tidak mahal bagimu" batin Jeni dengan senyum sinisnya.
"Enak ya Syah jadi kamu, kok aku jadi kepengen ya"
Deg hati Aisyah terasa seperti sangat terguncang karena ucapan Jeni barusan tapi ia tetap berkhusnudzon kepada Jeni, lagi pula ia temannya mana mungkin akan berbuat yang tidak baik.
Setelah beberapa jam Jeni dan Aisyah menunggu kepulangan tuan Sanjaya. dan pada akhirnya orang yang ditunggu-tunggu tersebut dengan suara mobilnya telah sampai didepan rumah.
Aisyah bergegas keluar dan menyambutnya,
Jeni yang masih tetap menunggu diruang tamu.
"Alhamdulillah kamu sudah pulang suamiku, karena dari tadi pagi ada yang menunggumu"
"Kamu lebay dek, paling-paling iya kamu kan yang menungguku"
"Iya aku juga meunggumu tapi bukan hanya aku yang menunggu kepulanganmu tapi temanku juga"
"Maksudnya..??"
"Sudah nanti aku jelaskan, ayok kita masuk rumah dulu"
Sesampainya didalam rumah tuan Sanjaya disambut dengan senyuman Jeni, namun memang karena sifat dinginnya tuan Sanjaya dengan orang lain sehingga senyuman jeni tak berarti baginya bahkan hingga terabaikan.
"Anjay aku terkucilkan" guman lirih Jeni
"Kamu temani temanmu saja, aku bisa naik sendiri" sambil mengambil tas kerja yang berada ditangan kanan Aisyah.
"Apa kamu benar mas tidak apa-apa jika sendirian naik dan membawa tasmu"
"Iya istriku" sambil membelai halus kepala Aisyah.
Jeni yang melihat kemesraan pasangan suami istri itu merasa sangat kecut dan terkucilkan.
"Baik terima kasih"
"Nanti kamu jangan lupa setelah sholat dan mandi segera turun dan sekalian bawakan oleh-oleh untuk jeni yang kita belikan kemarin hehe" bisik Aisyah.
"Dasar kamu sangat lancang ya menyuruh suamimu sendiri, tapi baiklah nanti aku ambilkan" bisik tuan Sanjaya setelah itu mencium pipi kiri Aisyah.
Tuan Sanjayapun segera menaiki tangga untuk menuju ke kamar sedangkan Aisyah kembali ke ruang tamu untuk menemani Jeni.
"Maafkan aku ya Jen karena membuatmu menunggu"
"Hehe iya nggak papa Syah"
"Sebentar lagi mas Sanjaya akan segera kemari karena tadi aku sudah memberi tau nya"
"Oh gitu iya terima kasih"
Jeni pun merapikan rambutnya dan menambah gincu dibibirnya.
"Sepertinya kamu sangat antusias sekali ya Jen bertemu dengan mas Sanjaya"
"Ya iyalah Syah cewek mana sih yang nggak antusias jika bertemu dengan lelaki tampan seperti tuan Sanjaya" jawab Jeni sambil mengoleskan lipgloss dibibirnya.
"Oh iya" jawab singkat Aisyah.
"Nah tu kan siapa yang banyak penggemarnya kan sudah kelihatan, bukan aku tapi kamu mas Sanjaya" batin Aisyah.
Selang beberapa saat tuan Sanjaya menuruni tangga dan memakai pakaian santai baju oblong polos berwarna hitam dan celana pendek berwarna coklat army bermotif doreng yang membuat warna kulitnya menjadi semakin cerah dan bentuk tubuhnya yang sangat terlihat gagah sehingga membuat ketampanannya bertambah.
__ADS_1
Tuan Sanjaya segera menghampiri Aisyah diruang tamu dan mengambil duduk disampingnya sambil membawa pesanan Aisyah tadi.
"Oh iya ini Jen ini oleh-oleh buat kamu"
Dengan masih menatap tuan Sanjaya karena dertak kagumnya Jeni pun segera mengalihkan pandangannya ke Aisyah.
"Oleh-oleh..??, memang kamu habis kemana Syah"
"Kemarin aku dan mas Sanjay baru melaksanakan bulan madu dan kami membelikan oleh-oleh ini untukmu"
"Bulan madu" batin Jeni sambil menahan rasa patah hatinya.
"Wah ternyata kamu habis bulan madu, pantas saja kemarin pas aku kesini kamu nggak ada dan rumahmu sangat sepi sekali hanya ada dua orang yang sudah setengah tua disini"
"Oh iya itu pak kebun sama pak Rodi"
"Terima kasih ya atas oleh-olehnya"
"Iya sama-sama Jen" sambil tersenyum kearah jeni.
Tuan Sanjaya yang dari tadi hanya terdiam sambil merangkul istrinya tanpa mempedulikan apa yang dibicarakan 2 kaum hawa disamping dan didepannya itu.
"Oh iya mas, tadi aku menyuruhmu kesini karena Jeni ingin berfoto denganmu"
"Dengan tujuan apa temanmu itu ingin berfoto denganku"
"Katanya sih untuk tugas kampusnya gitu mas"
"Apa iya, memang ada tugas kampus berfoto dengan laki-laki, kok lucu amat sih zaman sekarang" Senyum sinis tuan Sanjaya.
Karena senyuman sinis itu Jeni menjadi semakin menciut nyalinya karena memang ia tau siapa orang yang sedang ditipunya.
"Sudahlah mas, ya mungkin kan sudah beda zamanmu sama zaman sekarang kamu kan udah tua hehe" tawa ledek Aisyah.
"Kamu meledekku" sambil mencubit hidung Aisyah.
"Tidak mas, yasudah lah kamu bantu dong temanku"
"Baiklah baik tapi kamu juga harus ikut berfoto"
"Tapi mohon maaf tuan Sanjaya tugas dari kampus itu cukup berfoto dengan seseorang yang sukses saja" ujar Jeni dengan sedikit ngotot.
"Maksudmu, kamu meledek istriku..???" balas tuan Sanjaya dengan tatapan tajamnya.
"Bukan begitu tuan, maafkan saya jika saya lancang berbicara seperti itu, maafkan aku juga Aisyah" sambil menundukkan kepalanya takut.
Aisyah menutup mata suaminya dengan tangannya.
"Jangan menatapnya seperti itu, Jeni takut melihatmu mas" bisik Aisyah.
"Tidak apa-apa kok Jen"
"Ya sudah berfoto bertiga juga nggak apa-apa kok Syah nanti akan ku jelaskan ke dosenku"
"Nggak usah Jen, berdua saja kamu sama mas Sanjaya nanti malah akan memberatkan tugasmu lagi"
"Ayohlah mas, kasian temanku,bantu dia" bisik Aisyah.
"Baiklah-baiklah ayok"
Tuan Sanjaya menyetujuinya dan segera memposisikan dirinya ditempat yang pas untuk berfoto.
Jenipun segera mengikuti tuan Sanjaya dan berdiri disampingnya agak dekat.
Dengan senyum tuan Sanjaya yang terpaksa namun tetap terlihat tampan dan pose Jeni yang senyum lebar dengan mengangkat kedua jarinya diatas.
Aisyah yang memotretnyapun tak bisa menahan tawa akibat pose suaminya yang terlihat sangat terpaksa.
satu foto berhasil dipotret saat Jeni hendak berganti pose ternyata tuan Sanjaya sudah berjalan pergi meninggalkan wanita itu.
Aisyahpun mendekati Jeni dan memberikan hasil potretannya tadi ke Jeni.
"Terima kasih Aisyah"
"Iya Jen, ayok duduk lagi"
Aisyah dan Jeni pun kembali duduk diruang tamu.
Jeni kembali memakan camilan yang disuguhkan tadi dan sambil berbasa basi dengan Aisyah selang beberapa saat Jeni pun berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang dulu ya Syah, makasih telah mengizinkanku bermain dirumahmu, kapan-kapan aku boleh kan main disini lagi"
"Tentu saja Jen, kamu boleh kok main disini lagi, mari aku antarkan kedepan"
Sebelum keluar Jeni menundukkan kepalanya ke tuan Sanjaya sambil tersenyum.
"Saya permisi dulu tuan Sanjaya"
__ADS_1
"Hmm" jawab singkat tuan Sanjaya tanpa melihat kearah Jeni.
"Aku sangat tidak menyukai sifat teman Aisyah itu" batin tuan Sanjaya.