
Satu jam berlalu
Setelah Aisyah selesai memasak makanan untuk sarapan, dan bergegas Aisyah menyajikan makanan diruang makan.
Lengkap dengan piring dan sendoknya yang ia tata sendiri 3 piring untuknya dan suaminya dan juga pengawal Riko.
Tak lupa ia juga membuatkan 3 teh karena memang pagi seperti ini cocoknya ngeteh sambil berbincang-bincang mungkin itu akan sangat seru pikirnya.
Setelah semua makanan telah tertata rapi Aisyah pun menghampiri suaminya dan pengawal Riko.
Saat Aisyah sampai diruang tamu ternyata hanya suaminya yang berada disana.
"Mas, Sopir Riko dimana" bertanya dengan suaminya
"Sudah pulang"
"Kok enggak kamu tahan dulu, kan dia mau aku ajak sarapan bersama kita juga mas"
"Riko suka kamu, dia tergila-gila denganmu, kamu jangan terlalu care dengannya" Sambil berjalan menuju ruang makan.
"Kita makan berdua saja" ujar Sanjaya dengan cetusnya.
"Baik suamiku"
"Tidak akan mungkin sopir itu menyukaiku, lagi pula aku ini sudah menjadi istri orang lain, hmm emang dasar mas Sanjaya" batin Aisyah.
Sesampainya diruang tuan Sanjaya pun memakan sarapan yang telah istrinya hidangkan tadi.
"Bumbunya ini apa dek" bertanya serius
"Ah kepo ah"
"Kok nggak enak gini ya" sambil cengingisan.
"Nggak enak nggak usah dimakan mas"
"Sudah diam, budayakan jangan berbicara sendiri pas makan" sambil melanjutkan sarapan dengan sangat lahap.
"katanya enggak enak" batin Aisyah.
Setelah selesai makan, Aisyah membereskan semuanya sendiri karena memang pelayannya sedang pulang kampung.
Sedangkan tuan Sanjaya menuju ke ruang kerjanya untuk mengatur tugas-tugas karyawannya selama ia pergi berbulan madu.
Aisyah selesai membereskan dan langsung menyusul suaminya.
Tok tok tok
"Mas, Aisyah boleh masuk"
"Masuk"
"Aku membawakan kue untukmu, silahkan dimakan" Sambil duduk disofa.
tuan Sanjaya menghampiri Aisyah yang sedang terduduk manis disofa.
"Makasih dek" meraih sepotong kue yang berada dimeja sebelah sofa.
"Mas, nanti kita jadi bulan madu.
"Jadi dek, tadi aku sudah siapkan tempat yang kamu mau, dan sore nanti kita berangkat"
"Okelah mas terserah kamu, kalau begitu aku ingin beberes dulu"
Saat Aisyah hendak berdiri tuan Sanjaya menahannya.
"Terima kasih karena kamu telah bersedia memberikan semuanya untukku" berbisik ditelinga Aisyah.
"Kembali kasih, itu semua sudah kewajibanku"
Kali ini Aisyah yang duluan mencium bibir tuan Sanjaya.
Tiba-tiba tuan Sanjaya menggendong Aisyah dan dibawanya ke kamar,
"Kamu enggak keberatan mas"
"Aku udah pernah gendong kamu dek, lagi pula badanmu yang kecil bagiku seperti menggendong tumpukan tisyu"
"Ihh nakalnya" sambil mencubit hidung suaminya.
Setelah sampai didepan kamar tidur Aisyah yang membukakan pintunya karena memang tangan suaminya sedang sibuk menggendongnya.
Aisyahpun dijatuhkan ditempat tidur secara perlahan oleh tuan Sanjaya.
__ADS_1
"Istriku, malam nanti jangan lupa bawa kayu"
"Haah kayu, untuk apa mas..??"
"Untuk kita buat api-api disana, malam ini kita akan begadang menikmati udara dingin dimalam hari"
"Siap suamiku" jawab Aisyah dengan sangat bersemangat.
"Sepertinya sungguh sangat bersemangat, melihat wajahmu yang seperti itu membuatku terkesima dek"
"Aaa beneran" sambil memeluk suaminya.
"Iya sayang" Membelai halus kepala Aisyah yang masih berbalut jilbab.
"Mas, nanti kita akan melakukannya..???"
"Melakukan apa dek" menahan tawa.
"Itu lo mas, yang biasanya dilakukan suami istri"
"Haha ya jelas dong dek, tujuannya kan memang itu"
Aisyah menelan ludahnya karena sangat merasa takut.
"Baru merencanakan saja aku sudah takut apalagi nanti" batin Aisyah.
"Aku akan mandi, jangan lupa siapkan bajuku" ujar tuan Sanjaya sambil mengambil handuk bajunya.
"Baik suamiku"
Karena mereka bulan madu hanya tiga hari jadi membawa baju banyak itu hanya akan sangat merepotkan, jadi satu koper akan cukup untuk Aisyah dan suaminya.
dua puluh menit berlalu tuan Sanjaya telah selesai mandi dan segera memakai baju santai yang telah disediakan oleh istrinya itu.
Dilanjutkan dengan Aisyah dan rutinutasnya hingga selesai.
Semua sudah siap mereka akan berangkat ke daerah XXX untuk melaksanakan bulan madu, kali ini tuan Sanjaya mengemudikan mobilnya sendiri dan tanpa ada Riko yang mengikuti atau sebagai orang ketiga.
Mereka cukup berdua dan ketika pulang mereka akan bertiga dengan membawa cabang bayi yang dibuatnya nanti malam.
"Semua sudah siap dek..?"
"Sudah mas"
"Sudah siap suamiku"
"Mental kamu..???"
"InsyaaAlloh siap"
"Oke kita berangkat"
Mobil tuan Sanjaya yang melaju menyisakan angin di jalan perkotaan perumahannya.
"Mas kita nanti bulan madu dimana sih"
"Ditempat impianmu dek"
"Iya mas tapikan pasti ada nama daerah atau negaranya atau kotanya gitu" sambil memanyunkan bibirnya.
"Dimana-mana hatiku senang, sayala la la" Sambil bernyanyi bermaksud meledek Aisyah.
"Ah tau ah"
"Jangan marah, nanti jelek"
"Bergembira la la banyak teman"
"Lebay kamu dek"
"Biar nggak sakit weeek" sambil meledek suaminya yang tengah menyetir.
"Sakit apa dek" tawa berbahak
"Sakit batin"
"Cieee hah"
Lirikan sinis Aisyah.
Setelah lima jam perjalanan dan sekarang jam tujuh malam akhirnya mereka sampai ditempat itu.
"Wahh indah sekali ya mas, meskipun malam tapi humm udaranya sejuk"
__ADS_1
"Nah tiga hari kedepan kita akan menginap diperumahan kecil ber cat putih itu, tadi aku sudah menyewanya"
"Siap mas, makasi karena telah membawaku ditempat indah ini, aku ingin berteriak boleh"
"Boleh lah, tapi jangan keras-keras disini banyak makhluk halusnya" berniat menakuti Aisyah
Aisyah menganggukan kepala sambil tersenyum.
"Aku mencintaimu Suamiku"
"Ternyata kamu juga bisa teriak ya dek" batin tuan Sanjaya.
"Aku juga mencintaimu Istriku" teriakan tuan Sanjaya lebih keras dari Aisyah.
"Hussst ada makhluk halus jangan keras-keras" sambil memeluk erat tuan Sanjaya.
"Makasih dek karena telah mengajariku ilmu lebay seperti ini, seumur hidup aku tidak pernah mencintai wanita kecuali ibukku dan kamu"
Aisyah yang mendengar ucapan suaminya barusan sangat merasa terkejut.
"Oh ya mas, jadi kamu tidak pernah berpacaran dengan wanita lain" sambil masih memeluk tuan sanjaya.
"Belum pernah sama sekali" mencium kening Aisyah.
Sejenak mereka saling memandang satu sama lain dengan tatapan saling terkesima.
"Mas dingin" tiba-tiba Aisyah menengahi tatapan mereka dengan ucapannya barusan.
"Ayo masuk dek" sambil tersenyum ke Aisyah.
Setelah sampai kamar mereka tidak langsung beristirahat melainkan menunaikan kewajibannya untuk sholat isya'.
Saat sedang Sholat isya' tiba-tiba lampu padam tanpa sebab, tuan Sanjaya pun segera menyalakan lilin yang telah tersedia dirumah kecil yang ia sewa itu.
"Dek, mari kita istirahat" mengulurkan tangannya ke Aisyah.
"Iya mas"
Kali ini fikiran Aisyah sungguh sangat bercampur aduk seperti gado-gado, karena setelah ini ia dan suaminya akan melaksanakan sesuatu hal yang sangat bersejarah dalam hidupnya.
Tuan Sanjaya meraih badan Aisyah dan menjatuhkannya perlahan ke kasur yang empuk itu.
"Mas, jangan sakit-sakit ya"
"Aisyah, kamu takut..???"
Menyembunyikan kepala dibalik selimut.
"Iya mas, tapi aku sudah siap kok"
Tuan Sanjaya mendekati Aisyah dan memeluknya dari belakang.
"Jangan takut, aku tidak akan melakukannya sekarang dek"
"Maksutnya mas" sambil mengeluarkan kepalanya dan menghadap ke suaminya.
"Kita istirahat dulu malam ini, karena pasti hari ini sangat melelahkan bagimu, aku tidak ingin kamu kelelahan"
"Uhh terima kasih mas" menghujani ciuman diwajah suaminya.
"Tapi kita akan melakukannya besok, kamu harus siap dan jangan lelah"
Aisyah menganggukan kepalanya.
"Hari ini aku boleh memegangnya"
"Hemm boleh mas"
Tangan Tuan Sanjaya mulai beraksi dan Aisyah memejamkan matanya.
"Kamu menikmatinya dek"
Aisyah menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
Tuan Sanjaya masih beraksi.
"Mas, apakah aku boleh mencium bibirmu"
"Jangan izin, ciumlah"
Aisyah mencium bibi suaminya dengan penuh kelembutan.
Malam semakin larut, mereka berhenti melakukan aksinya dan saling memeluk hingga membuat mereka tertidur pulas.
__ADS_1