Neng Aisyah Pilihan Ayahku

Neng Aisyah Pilihan Ayahku
oleh-oleh untuk pengawal Riko dan Jeni


__ADS_3

Karena memang kemarin tuan Sanjaya sudah sepakat berbelanja oleh-oleh mereka pun berhenti disalah satu swalayan perbelanjaan oleh-oleh yang sangat terkenal didaerah tersebut.


Sesampainya diswalayan sudah terlihat bermacam-macam cendera mata yang membuat mata Aisyah terpukau melihatnya.


"Wah banyak sekali mas, hmm kita beli yang banyak ya hihi"


"Iya sayang"


"Makasih" mencium pipi kiri tuan Sanjaya.


Karena suasana hati Aisyah yang sedang sangat berbahagia membuatnya tak sadar bahwa disitu banyak orang yang memperhatikannya.


"Baiklah dek lanjutkan memang dunia ini hanya milik kita berdua yang lain ngontrak" batin tuan sanjaya setelah dicium Aisyah.


"Mas-mas aku mau beli itu, kita kesana ya"


menunjuk ke arah toko aksesoris


Tuan Sanjaya menganggukan kepalanya sambil tersenyum kearah Aisyah.


"Terima kasih" mencium kembali pipi tuan Sanjaya.


Aisyah langsung menggandeng tangan suaminya dan sesekali mengajak suaminya untuk berjalan agak cepat.


Didepan toko aksesoris sudah ada pelayan yang mempersilahkan masuk semua pelayan disitu sangat ramah sehingga membuat siapapun yang membeli aksesoris ditempat itu akan sangat merasa nyaman.


Sudah ada aksesoris yang tertata rapi dalam berbagai bentuk warna mulai dari kalung,gelang,cincin,gantungan kunci dan lain sebagainya tapi yang paling banyak ialah gantungan kunci karena memang sangat cocok jika digunakan untuk oleh-oleh.


"Mas, kamu mau beli yang mana" tanya Aisyah sambil memilih aksesoris yang akan dibelinya.


"Terserah kamu aja dek"


"Hmm bagaimana kalau kita beli tasbih couple mas, pasti akan sangat seru jika kita pakai nanti selepas sholat, dan membuat kita bersemangat gitu" melihat ke arah suaminya sambil menunjukkan wajah girang Aisyah.


"Iya dek, apapun pilihanmu aku suka yang penting itu hal positif"


"Oke, tapi bantu aku memilihnya ya mas, kan selera kita pastinya berbeda"


"Aku nggak bisa milih dek, belanja ginian aja nggak pernah lo" sambil memegang kepala Aisyah yang berbalut kerudung.


"Oh gitu, kalau ini bagus nggak mas warna merah kesukaanku"


"Bagus" sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Oke kita beli yang ini ya, Mas aku mau beli souvenir pajangan dari keramik, tapi kok nggak ada ya"


"Coba dek kita cari ditoko lain pastinya ada lah"


"Iya aku mau, ayok mas" menarik tangan suaminya untuk mengajaknya keluar toko aksesoris.


"Memangnya udah ya kamu beli itu aja, Abi dan ibu kamu nggak kamu beliin apa..??"


"Emang boleh mas..?"


"Ya Alloh dek, abi sama ibu kamu itu orang tua ku juga, kita belikan semuanya saja termasuk juga pelayan rumah"


"Nanti kalau uang kamu habis gimana mas"


"Kalau habis tinggal ambil lagi kan gampang"


"Orang kaya mah bebas" guman lirih Aisyah.


"Hmm tapi sebaiknya kita belikan souvenir saja mas, biar samaan gitu hehe"


"Ya sudah terserah kamu saja"


Setelah selesai berbincang-bincang Merekapun segera mencari toko souvenir yang berada didalam swalayan itu, karena memang menurut petunjuk dari petugas swalayan bahwa toko souvenir berada dilantai paling atas tuan Sanjayapun mengajak Aisyah untuk membeli minum dan mengajaknya makan karena memang tadi mereka belum sempat sarapan.


Tuan Sanjaya dan Aisyahpun berhenti disebuah restaurant didalam swalayan itu dan mencari tempat duduk selanjutnya memesan menu makanan.


Saat sedang menunggu makanan tiba-tiba tuan Sanjaya memegang tangan Aisyah sambil melihat kearah istrinya.


"Dek sebentar ya" sambil meraih dagu Aisyah agar menghadap kearahnya.

__ADS_1


"Mau kemana mas"


"Mau ke luar"


"Tapi jangan pulang lo mas, nanti kamu pulang lagi"


"Ya Alloh dek sependek itu ya berfikirmu, mana mungkin aku meninggalkan istriku pulang dan membiarkanmu sendirian disini" sambil mencubit hidung kecil Aisyah.


"Iya-iya maaf, kan aku takut"


"Enggak dek, bentar ya nggak ada 10 menit"


"Iya suamiku"


Tuan Sanjaya bergegas meninggalkan Aisyah untuk menunaikan tujuannya, dan selang beberapa saat pelayan restaurant itu mengantarkan makanan dan minuman yang telah dipesannya dan suaminya tadi.


"Selamat menikmati nona"


"Iya terima kasih pak"


Pelayan itupun menundukkan kepalanya sambil tersenyum kearah Aisyah dan segera meninggalkannya.


Aisyah hanya melihat makanan yang berada didepannya itu tanpa mencicipinya karena memang ia masih menunggu tuan Sanjaya yang sedang keluar tadi.


"Terlihat lezat makananya, tapi lezatnya pasti berkurang jika tidak makan bersama mas Sanjaya" batin Aisyah.


Saat Aisyah melihat kearah pintu masuk restaurant terlihat tuan Sanjaya yang sedang berjalan menuju kearahnya sambil membawa tas kecil.


Semua pandangan beralih ke arah tuan Sanjaya terutama para kaum hawa, bola matanya mengikuti gerakan berjalan tuan Sanjaya hingga pada akhirnya berhenti disebuah meja disana ada wanita berhijab dan juga cantik yaitu Aisyah, serentak kaum hawa yang melihatnya menjadi ambyar ternyata pria yang dikaguminya sudah beristri.


"Lama ya dek, lo kok kamu nggak makan duluan"


"Enggak kok mas, hehe iya aku menunggumu"


"Maaf ya gara-gara aku kamu menjadi menunggu"


"Halah nggak papa mas nggak usah lebay, oh iya tadi kamu habis ngapain mas"


"Ini tadi aku beli kaca mata untukmu, nanti kamu pakai ya"


"Sudah kamu pakai saja, aku tidak mau orang lain melihat mata indahmu"


"Darimananya perasaan biasa-biasa saja, kamu itu lo ya banyak pengagum rahasianya" batin Aisyah sambil meraih minumnya.


"Ya sudah aku coba ya mas, tapi janji jangan menertawakanku"


"Iya dek enggak" sambil menikmati makanannya.


Aisyah mencoba kaca mata yang dibelikan oleh suaminya tersebut.


"Bagaimana mas, cantik tak" sambil menaikan dua jarinya gaya berpose.


"Anjay cantiknya nambah lagi" batin tuan sanjaya yang berhenti memakan makanannya karena melihat kearah Aisyah.


"Iya udah mata kamu nggak kelihatan tapi bibirmu masih kelihatan"


"Sekalian aja mas kalau aku keluar pakai cadar biar sekalian nggak ada orang yang lihat"


"Nah itu juga bagus, besok aku akan membelikan cadar yang banyak untukmu"


"Aku kan bercanda" batin Aisyah geram.


"Tapi kali ini kamu cukup pakai kaca mata dulu saja, tapi jangan memperlihatkan bibirmu,karena mereka bisa terkesima denganmu nanti"


"Baiklah baik"


"Gitu saja...???, nggak berterima kasih..??"


Aisyah menghela nafas karena tingkah suaminya yang membuatnya geram.


"Terima kasih suamiku tersayang tercinta"


"Lanjutkan makanmu"

__ADS_1


"Nggak ada balasan ucapan terima kasihku gitu..??, hmm memang kadang kamu jutek kadang juga konyol, entahlah suamiku" batin Aisyah.


Aisyah melahap makanannya karena memang ia sebenarnya sangat lapar dan memang benar bahwa makanannya sangat lezat.


Setelah mereka selesai makan segeralah mereka bergegas ke lantai paling atas untuk membeli souvenir oleh-oleh.


Aisyah berjalan dengan menggunakan kaca mata yang dibelikan suaminya tadi dan alhasil banyak sekali yang melirik Aisyah.


Sesampainya ditoko souvenir pelayanpun melayani juga sangat ramah seperti pelayan tadi yang ada ditoko eksesoris.


"Wah ini bagus ya mas, khas daerah sini banget"


"Iya dek, kamu mau yang itu"


"Iya mas, bolehkah..???"


"Boleh sayang ambil saja"


"Oke mas, sekalian samaan saja ya oleh-olehnya"


"Iya istriku"


"Berapa ya orangnya, hmm 25 tambah 2 ya mas, sopir Riko sama Jeni teman aku itu"


"Riko nggak usah"


"Lo mas kenapa"


"Nanti dia tambah tergila-gila denganmu jika tau kalau souvenir itu pilihanmu"


"Mana mungkin lah mas, ya dibeliin sekalian ya, kasian lah mas nanti pas pembagian oleh-olehnya masak dia hanya melongo saja"


"Iya juga ya, ya sudah 27"


"Makasih mas"


"Pak tolong ini dibungkus ya 27 totalnya" Aisyah berbicara dengan salah satu pelayan.


"Baik nona"


Setelah dibungkus dengan rapi dan cantik Aisyahpun membawanya dengan sedikit keberatan.


"Biar aku saja yang bawa" ujar tuan Sanjaya.


"Nggak usah mas nanti kamu capek"


"Lebay kamu dek, lagi pula tenagaku sama tenagamu lebih kuat tenagaku" sambil mengambil souvenir itu dari tangan Aisyah.


"Makasih suamiku, untung kamu laki-laki yang peka hehe"


"Huuu" sambil merangkul Aisyah.


"Kita beli oleh-oleh jajanan khas dulu dek"


"Siap mas"


Dua kresek besar berisi jajanan khas daerah pun sudah siap dibawa pulang oleh tuan Sanjaya dan Aisyah.


Mereka pun menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.


"Hmm melelahkan sekali ya mas"


"Enggak juga" sambil mengemudikan mobilnya.


"Tadi total semuanya berapa mas"


"Sedikit, nggak usah tanya yang penting sudah cukup dan membuatmu puas itu tujuanku"


"Aku kan penasaran mas"


"Habis sedikit, sudah kamu istirahat saja kalau lelah"


"Iya lah sedikit menurutmu mas" batin Aisyah sambil bersandar ke jendela mobil.

__ADS_1


Suasana yang hening dan pemandangan pegunungan yang indah seperti sedang menghipnotis Aisyah hingga ia tertidur pulas didalam mobil.


__ADS_2