
Hari telah berganti dengan sore, setengah hari penuh Aisyah dihantui dengan perkataan Elysa kepadanya tadi yang membuat Aisyah sakit tapi tak berdarah.
Kedua pelayan dirumahnya sangat heran dan bingung sebab dari tadi pagi hingga sore ini nona mudanya sama sekali tidak keluar kamar, karena tidak biasanya nona mudanya mengurung dirinya dikamar sendirian seperti ini.
Selang beberapa waktu Sanjaya pulang dan Aisyah segera turun untuk menyambut kepulangan suaminya.
Namun Aisyah kalah cepat dengan Elysa,perempuan itu telah dahulu menyambut Sanjaya tapi sikap Sanjaya tetap dingin kepadanya karena hanya sambutan dari istrinyalah yang dinantikan, bukan sambutan dari wanita lain.
Aisyahpun menyalami suaminya dan mencium punggung tangan Sanjaya.
"Kamu sudah pulang mas, sini aku bawakan tas kerjamu" Ujar Aisyah sambil mengambil tas kerja yang masih berada digengaman Sanjaya.
Selanjutnya Sanjaya dan Aisyah menaiki tangga untuk menuju kamar.
Dengan pasang sorot mata sinis, Elysa mengikuti langkah kaki Aisyah dan Sanjaya tapi bukan mengantarkan mereka melainkan menuju kamarnya sendiri yang memang berada dilantai dua.
Sesampainya dikamar.
Sanjaya melihat Aisyah tidak seperti biasanya dan terlihat raut wajah Aisyah yang sedang memendam suatu masalah.
Sanjaya menghampiri Aisyah.
"Dek, apa kamu baik-baik saja" sambil memegang wajah Aisyah dan dihadapkan didepan wajahnya.
"Tidak, aku baik-baik saja, mandilah setelah itu kita Sholat Maghrib bersama" jawab Aisyah dengan tatapan polosnya.
"Kamu tidak sedang membohongiku kan..??" Tanya Sanjaya yang masih sangat penasaran dengan perilaku istrinya itu.
"Tidak, aku mau turun untuk membuatkanmu teh"
"Baiklah, buatkan teh rasa cinta seperti dulu ya" sambil mencium kening Aisyah.
Aisyah hanya membalas dengan senyuman dan bergegas menuju ke dapur, Aisyah sungguh sangat hancur karena suaminya membiarkan wanita itu tinggal serumah dengannya dan Aisyah walaupun sikapnya yang dingin kepada Elysa namun tetap membuat Aisyah merasakan masa lalu itu akan segera bersemi kembali antara suaminya dan Perempuan itu.
Sesampainya didapur Aisyahpun segera membuatkan teh untuk suaminya, suasana didapur sangat sepi, karena pelayan yang biasa berada didapur kini sedang menunaikan kewajibannya, sangat hening pasti, hanya ada tetesan air mata Aisyah yang sembari tadi tidak ingin berhenti dan diiringi dengan suara putaran sendok mengaduk air dan gantungan teh yang diciptakan Aisyah.
Setelah teh itu dibuat, Aisyah segera kembali menaiki tangga untuk menuju kamarnya dan diletakkanlah teh itu dimeja dekat jendela.
Aisyah terduduk melamun sembari menunggu suaminya.
20 menit berlalu, Sanjaya telah selesai membersihkan dirinya dan Aisyah segera menuju ke kamar mandi untu berwudhu, tidak ada percakapan apapun diantara mereka dan membuat suasana kamar menjadi sangat aneh dan hening.
Sanjaya memakai baju dan sarung setelah itu menggelarkan dua sajadah satu untuknya dan satu istrinya.
Sebelum ia gelarkan sajadah itu ia mencium satu sajadah yang nanti akan dipakai bersujud Aisyah.
"Apa salahku istriku, kenapa sikapmu seperti ini" batin Sanjaya.
Aisyah keluar dari kamar mandi dan segera mengambil mukenanya dan segera memakainya.
Mereka Sholat berjamaah sama seperti biasanya, selepas Sholat Aisyah mencium tangan Sanjaya dan Sanjaya mencium kening Aisyah, tanpa disadar air mata itu turun dengan sendirinya dan kali ini Sanjaya melihat air mata berharga itu turun dari mata indah istrinya.
__ADS_1
"Istriku kamu menangis"
"Tidak, ini tadi mataku perih jadi aku mengeluarkan air mata"
Sanjaya memeluk Aisyah dengan erat.
"Jangan membohongiku sayang , sudah kewajibanmu menjadi istri untuk berkata jujur jika sedang ada masalah, dan maafkan aku jika tanpa sadar membuatmu sakit, sekarang jujurlah apa yang sebenarnya terjadi" bisik Sanjaya.
"Aku hanya ingin menangis dipelukanmu mas, aku lelah" Ujar Aisyah dengan isak tangisnya.
Kali ini Aisyah masih menyembunyikan segala perlakuan buruk Elysa karena memang ia tidak ingin jika suaminya lebih membenci Elysa, biarkan semua berjalan dengan semestinya dan Aisyah berharap Elysa segera kembali ke asalnya.
Aisyah memeluk erat suaminya dan saat sudah sedikit merasa lega ia pun melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
Sanjaya menunggu istrinya melepaskan mukenanya dan sekaligus ingin mengajaknya ke tempat duduk dekat jendela tepat dimana teh itu diparkirkan Aisyah tadi.
Setelah mukena itu dilepas terlihat jelas uraian rambut Aisyah yang panjang dan hitam membuat Sanjaya lebih mencintai istrinya.
"Dek, sisir kamu dimana"
"Di meja rias mas" jawab Aisyah sambil melipat mukenanya.
Sanjaya mengambil sisir itu dan menyisir rambut hitam panjang Aisyah.
"Jangan pernah potong rambutmu, karena aku menyukainya" ujar Sanjaya dengan sentuhan lembut tangannya dirambut Aisyah.
"Iya, lagipula siapa juga yang ingin memotong rambutku"
Sanjaya mencium rambut Aisyah dan meletakkan kembali sisir itu diatas meja rias.
"Setelah kamu selesai melipat mukenamu ikutlah aku"
"Kemana mas"
"Tempat duduk dekat jendela"
Aisyah menganggukan kepalanya tanda ia bersedia.
Sanjaya telah dahulu berada ditempat duduk dekat jendela dan Aisyah segera mengikuti Sanjaya yang sedang duduk.
Sanjaya meminum sesuprut teh buatan Aisyah dan menelannya dengan sedikit raut wajah yang aneh.
"Istriku kamu tadi kamu membuat teh rasa cinta menggunakan garam ya, kok rasanya asin teh nya" ujar Sanjaya dan kembali menyuprut teh untuk memastikan.
"Tadi aku pakai gula kok, apa iya gulanya jadi asin"
Sanjaya menyodorkan teh itu yang masih ditangannya dan menyuruh Aisyah merasakan teh cinta buatannya itu.
Aisyah menyuprut teh itu dan benar ternyata rasanya sangat asin.
Aisyah tertawa berbahak-bahak karena memang tawanya itu sudah tidak bisa ia tahan.
__ADS_1
"Ya Alloh apa yang aku fikirkan sehingga membuat teh itu berasa asin" batin Aisyah.
"Tertawalah seperti itu, aku rela meminum banyak teh rasa cinta yang asin jika memang itu syarat tawamu" batin Sanjaya.
Sanjaya ikut tertawa dan menjentikan jarinya dikening Aisyah.
"Istri nakal" ujar Sanjaya
"Auhh sakit"
"Maaf-maaf" ujar Sanjaya sambil mengelus kening Aisyah.
"Karena kamu tadi membuat tehnya keasinan jadi kamu harus menerima resikonya dek" senyum sinis Sanjaya.
"Apa mas..???, di kasur lagi ya"
"Bukan, sekarang tutup matamu"
Aisyah menutup matanya dan Sanjaya mengambil sesuatu dari kantong celananya.
"Bukalah matamu"
Dihadapan Aisyah ada sebuah cincin indah yang sederhana namun terkesan seperti barang mahal.
"Maksudnya mas..??"
"Iya ini resikomu, kamu harus bersedia menerima hadiah dari suamimu"
"Aku mau jika kamu pakaikan mas" sambil tersenyum girang.
"Baiklah"
Sanjaya mengambil cincin itu dari tempatnya dan memakaikan cincin itu ke jari manis Aisyah.
"Pas mas hehe, kok kamu tau sih ukuran jariku"
"Aku mengukurnya saat kamu tidur, dan jari manis kiri kamu tak jauh beda dari kelingking kanan aku"
"Wah makasi suamiku"
"Iya istriku, kamu suka"
Aisyah menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan kembali meneteskan air matanya karena teringat ucapan perempuan itu tadi pagi, bahwa lelaki didepannya itu sudah pernah tidur dengan wanita lain selain dirinya.
Sanjaya kembali memeluk erat istrinya dan menciptakan rasa nyaman yang bertubi-tubi untuk Aisyah.
"Semoga ucapan perempuan itu semua hanya rekayasa" batin Aisyah dan bersandar dikepala Sanjaya.
Secangkir teh rasa cinta yang asin itupun berhasil membuat Aisyah dan Sanjaya kembali meluapkan cintanya.
Walaupun pada akhirnya teh rasa cinta itu harus terbuang.
__ADS_1