
"Dek teh yang kamu buat kurang manis" ucap tuan Sanjaya sambil melihat Aisyah yang sedang meminum teh.
"Masak sih mas, enggak kok udah pas inimah manisnya"
"Kamu enggak percaya dek, nih coba" memberikan secangkir teh nya untuk Aisyah.
Aisyahpun meminumnya sambil merasakan teh suaminya itu.
"Hummm manisnya udah pas lo mas, kalau kemanisan juga nggak enak mas"
"Masak sih dek" teh itu kembali diminum tuan Sanjaya.
"Kurang manis ini mah"
"Ya udah sini aku tambahin gula lagi"
"Enggak usah dek percuma nanti juga tetep enggak manis"
"La terus gimana to suamiku" Aisyah sambil geram.
"Yang bisa memaniskan itu hanya bibirmu"
"Maksudnya"
tuan Sanjaya mengampiri Aisyah dan langsung mencium bibirnya.
"Bibirmu itu sungguh manis dek,mulai sekarang kalau kau membuatkanku teh tak perlu dikasih gula, biar aku dapat terus menikmati langsung dari bibirmu" bisik tuan Sanjaya ditelinga Aisyah.
Aisyah yang sangat geli mendengarnya
bergegas cepat menjauhkan kepalanya dari tuan Sanjaya.
"Aku geli mas mendengar bisikanmu barusan"
"Aku mencintaimu" sambil mencium kening Aisyah setelah itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri bersiap-siap ke perusahaan.
setelah tuan Sanjaya telah masuk ke kamar mandi, Aisyah pun segera ke dapur untuk menaruh kembali cangkir bekas teh tadi.
dan kembali ke kamar untuk mempersiapkan segala perlengkapan untuk suaminya bekerja.
setelah selesai dan tuan Sanjaya masih belum juga tiba-tiba Aisyah sangat merindukan Abi dan umi nya yang sedang berada didesa.
Aisyah pun segera video call dengan mereka
"Assalammualaikum ibu"
"Waalaikumsalam Aisyah, ya Alloh nak ibu rindu denganmu"
"Aisyah juga rindu ibu dan Abi juga, insyaaAlloh Aisyah secepatnya akan kesana bu, mengajak mas Sanjaya"
"Oh iya bu, Abi dimana bu.??"
"Iya nak kedatanganmu dan suamimu akan sangat ibu rindukan" sambil tersenyum
"Abi sudah berangkat bekerja nak, oh iya dimana suamimu nak Sanjaya"
tiba-tiba tuan Sanjaya yang telah selesai mandi dan juga berganti pakaian itu langsung mendekati istrinya yang sedang video call dengan ibunya Aisyah.
"Aku disini bu" sambil tersenyum dan bertumpu dibahu Aisyah
Aisyah ikut tersenyum dan mengelus pipi Aisyah dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih sibuk memegang telepon.
"Wah kalian terlihat bahagia sekali, hmmm tapi itu tidak pura-pura kan"
"Tentu tidak bu, Sanjaya sangat bahagia menikah dengan Aisyah, dan entah kenapa Aisyah membuatku cepat mencintainya" jawab tuan Sanjaya.
"Alhamdulillah kalau begitu nak, Aisyah kok terlihat lebih cantik dari sebelumnya ya, apa dia sedang hamil" tanya ibu dengan tersenyum.
"Eh enggak bu" jawab Aisyah
"Boro-boro hamil bu, kami saja belum malam pertama" jawaban tuan Sanjaya dengan wajah melasnya
"Belum malam pertama bagaimana, kalian saja menikah sudah hampir satu bulan, masak belum pernah malam pertama"
__ADS_1
"Aisyah mah masih takut bu kalau diajak mas Sanjaya gitu-gituan" ujar Aisyah sambil memasang wajah polosnya.
"Tapi kan kamu sudah menikah nak, apapun harus kamu lawan termasuk ketakutanmu itu"
"Nah benar bu apa yang ibu bicarakan, Aisyah memang sangat penakut bu" haha senyum ledek tuan Sanjaya.
"Eh tidak bu, Aisyah tidak terlalu takut, tapi Aisyah malu"
"Kenapa harus malu nak, suamimu itu bukan orang lain lagi dihidupmu, dia itu adalah imam sekaligus kekasih halalmu, jadi puaskanlah suamimu itu akan menambah pahalamu nak"
"dengar tu dek Aisyah" bisik tuan sanjaya
"Iya bu iya, Aisyah akan mencobanya setelah ini"
tuan Sanjaya yang mendengar perkataan istrinya tadi serasa seperti sedang dihujani barang yang empuk-empuk sehingga mengenainya pun tidak sakit bahkan sangat bisa ia nikmati.
"Terima kasih bu terima kasih" batin tuan Sanjaya.
"Ya sudah nak, ibu akan ke pengajian pagi,
ibu matikan ya nak"
"Iya bu" jawab tuan Sanjaya dan Aisyah dengan kompak.
"Wassalammualaikum"
"Waalaikumsalam ibu"
ditutuplah panggilan itu oleh ibu.
Aisyahpun menaruh teleponnya bersampingan dengan telepon tuan Sanjaya diatas meja samping tempat tidur.
tuan Sanjaya memberikan dasinya dengan penuh manja kepada Aisyah,
Aisyah memasangkannya dengan perlahan dan juga rapi.
"Dek Aisyah"
"Mamas-mamas nggak sekalian nanas saja" sambil menjitak pelan kening Aisyah
"Kalau nanas mah kebagusan kali mas, soalnya mah itu buah favoritku"
"Oh ya, kamu lebih suka mana nanas muda atau nanas tua" tawa terbahak karena paham arti dari perkataannya barusan.
"Aku suka duren mas" hiiii meringis ke arah wajah tuan Sanjaya.
"Tadi katanya nanas dek kok jadi duren"
"Iya mas buahnya mas emang suka nanas apalagi dicampur ke es campur humm sedap, tapi aku juga suka duren"
"Oh jadi kamu suka buah nanas sama buah duren"
"Duren itu enggak buah mas" sambil menahan tawa
"La terus..????" firasat tuan Sanjaya mulai tidak enak.
"Duda keren" tertawa sambil mencium pipi tuan Sanjaya.
"Ih dasar ya istriku mulai berpaling denganku, awas saja kamu akanku selingkuhi dengan syifa" sambil memeluk istrinya yang mencoba kabur karena takut dijitak lagi.
"Syifa itukan namaku mas, jadi kamu menikahi denganku sekaligus berselingkuh denganku" memegang kedua pipi tuan Sanjaya dan menekannya sehingga menciptakan bentuk wajah yang lucu dari tuan Sanjaya
"Ya iya emang kamu, kamu itu cintaku juga pemuasku dek" mencium bibir Aisyah
"Kamu mah gitu orangnya"
terdiam sepuluh detik
"Suka membuatku semakin mencintaimu"
sambil tersipu malu
tuan Sanjaya yang mendengar perkataan istrinya barusan tertawa tak henti hingga membuat Aisyah ikut tertawa padahal tuan Sanjaya menertawakan dia.
__ADS_1
"Dasar lebay" mengacak acak rambut panjangnya,
karena memang Aisyah sedang tidak memakai kerudungnya.
"Aku nanti mau kerja, pulang kerja kamu mau dibelikan apa dek" sambil merapikan rambut Aisyah yang diacak acaknya tadi
"Aku mau dibelikan dedek kecil" senyum mringis Aisyah.
"Tidak ada yang menjual dedek kecil dek, kalau kamu mau dedek kecil aku juga udah punya"
"Mana mas nggak ada tu"
"Kamu mau tau" tertawa geli
"Enggak ah, Mau nya mah buat" berbicara dengan gayanya yang sok berani
"Beneran mau buat, kalau gitu ayok sekarang" mendorong tubuh Aisyah dan dijatuhkannya ditempat tidur dengan pelan,
setelah itu tuan Sanjaya melonggarkan ikat pinggangnya.
Aisyah yang melihat ke ganasan suaminya pun sangat merasa menyesal karena telah berbicara tidak depat pada waktunya.
tuan Sanjaya pun telah memegang celana piyama yang dipakai Aisyah dan berusaha menurunkan celana itu.
tapi tiba-tiba Aisyah mencegahnya
"Aku masih haid mas, lagi pula cara yang benar dan dianjurkan dalam berhubungan intim itu bukan seperti ini"
tuan Sanjaya yang mendengar perkataan Aisyah langsung sadar bahwa didepannya itu adalah seorang santri jadi tidak wajar juga jika ia menubuhinya dengan cara seperti itu.
tuan Sanjayapun mencium kening Aisyah dan berdiri membenahi ikat pinggangnya yang sempat ia longgarkan tadi.
Aisyah terduduk ditempat tidurnya dan merapikan rambutnya
"Ayok dek kita sarapan, aku sudah lapar"
sambil mengambilkan kerudung instan kepunyaan Aisyah.
"Pakailah kerudungmu, aku tunggu"
"Baiklah mas, sebentar ya jangan meninggalkan ku sendirian dikamar, nanti aku diculik" tertawa ngakak sambil berkerudung tanpa mengaca.
setelah selesai mereka pun turun ke ruang makan untuk menikmati sarapan yang telah disediakan oleh pelayan rumahnya.
"Selamat pagi tuan muda, selamat pagi nona muda"
"Pagi juga bi" jawab Aisyah.
saat Aisyah melihat ke arah luar
"ternyata sopir Riko telah stay didepan rumah" batin Aisyah
"Suamiku" memanggil tuan Sanjaya yang sedang menikmati makanannya.
"Hmmm" dijawab singkat oleh tuan Sanjaya.
"Saat tadi aku tak sengaja melihat ke arah luar ternyata sopir Riko sudah stay diluar rumah, apakah boleh jika sopir itu ikut makan bersama kita"
"Tidak perlu, nanti saja aku akan menyuruh pelayan rumah membungkuskan makanan untuk Riko"
"Tapi kenapa begitu mas"
"Aku tidak ingin Riko melihat kecantikanmu dan mencium keharumanmu, nanti bisa-bisa Riko mencintaimu"
"Ada-ada saja kamu mas, mana mungkin sopir Riko mencintai wanita yang sudah menikah sepertiku" batin Aisyah
pemeran Tuan Sanjaya
pemeran Neng Aisyah
__ADS_1