
Setelah selesai sarapan Aisyah dan suaminya masih berada diruang makan, karena masih menunggu bi marni membungkuskan makanan untuk pengawal Riko.
"Mas setelah ini aku boleh keluar nggak"
"Keluar kemana dek"
"Ke rumah teman SMP ku mas"
"Teman pondok juga..???"
"Enggak mas tapi teman sekolah, kebetulan rumah dia dekat dengan rumah kita, karena kemarin aku sempat chatingan dengan dia"
"Ya sudah nanti berangkatlah bersamaku saja"
"Tapi nanti kamu enggak telat kerja mas..?"
"Enggak" Jawaban singkat tuan Sanjaya
"Ya sudah mas, aku siap-siap dulu ya"
"Oke aku tunggu sepuluh menit harus selesai"
"Siap bos"
Aisyah pun berlari menaiki tangga, dan segera cepat menuju kamar untuk mengambil gamis dialmari.
Kali ini Aisyah memakai gamis berwarna dasar ungu muda yang berkombinasikan ungu tua, kerudung Aisyah berwarna ungu tua.
Aisyah tidak berdandang glamor padahal sekarang ia sudah menjadi istri bos dari perusahaan Angkasa raya yang terkenal sebagai perusaah terbesar diprovinsi XXX.
Aisyah masih dengan berpenampilan sederhananya seperti dulu ketika ia masih menjadi santri.
Yang membuat berbeda sekarang ialah pakaiannya yang sering bergonta-ganti karena memang tuan Sanjaya sangat rajin membelikan pakaian untuk istrinya.
tujuh menit berlalu, Aisyah telah siap dengan penampilan sederhananya hingga membuatnya sangat terlihat anggun dan cantik.
Aisyah menuruni tangga sambil membawa sendalnya yang juga berwarna ungu tua.
Saat suaminya melihat Aisyah ia beranjak kagum karena baru kali ini tuan Sanjaya melihat istrinya memakai gamis berwarna ungu, karena kulitnya yang putih dan matanya yang indah membuatnya sangat sempurna.
"Ayok mas berangkat"
"Seperti janda aja kamu dek" Tawa ledek tuan Sanjaya ke Aisyah,karena memang ia tidak menunjukkan kekagumannya itu pada istrinya.
"Kan masih seperti mas, lagi pula ini juga kamu lo yang belikan" Senyum sinis Aisyah karena tak terima diledek suaminya.
"Oh ya, mungkin aku hilaf dek hehe" wajah tuan Sanjaya yang tiba-tiba berubah malu.
"Huuu, ya sudah ayok mas berangkat"
"Iya sayang" Meraih tangan Aisyah dan menggandengnya.
"Selamat pagi tuan muda"
"Selamat pagi nona muda" sambil melihat nona mudanya yang terlihat sangat cantik
"Pagi juga sopir Riko"
"Hem pagi Rik"
Tuan Sanjaya menendang kaki pengawal Riko dan berbisik ditelinga pengawal itu
"Jangan melihat istriku terlalu lama, atau akan ku hilangkan matamu"
"Maafkan saya tuan muda saya hilaf" ujar lirih pengawal Riko menghadap ke tuan mudanya.
"Hmmm" Jawab singkat tuan Sanjaya.
"Lagi pula ini salahmu tuan muda, siap suruh punya istri seperti bidadari,cowok waras mana yang nggak ingin lihat kecantikan nona muda" Batin pengawal Riko.
"Silahkan masuk tuan muda dan nona muda"
Sambil membukakan pintu untuk tuan muda dan nona muda.
"Terima kasih sopir Riko"
Lagi-lagi Aisyah yang menjawabnya memang karena sudah bawaannya dari bayi ia ditakdirkan jadi orang ramah.
Tuan Sanjaya menggandeng istrinya dan diajaknya untuk masuk ke mobil.
Pengawal Riko pun segera menyetir mobilnya dan menuju ke perusahaan Angkasa raya.
"Dek, kamu udah tau alamat temanmu itu"
"Sudah mas tapi belum tau arah jalannya"
"Yasudah kamu suruh dia sharelok aja"
"Oke mas sebentar"
Dikirim pesan chat itu ke temannya Aisyah.
dan temannya pun segera membalas karena memang Aisyah sangat ditunggunya"
"Ini mas sudah dibalas"
"Oke" mengambil telepon milik Aisyah.
"Rik, kita belok kiri dulu, soalnya istriku nanti akan kerumah temannya"
"Baik pak"
Tuan Sanjaya yang menyerahkan dan pengawal Riko yang mengemudia.
Aisyah hanya tinggal melihat dan menunggu.
"Nanti jangan pulang dulu sebelum aku jemput" berbicara ke Aisyah.
"Baik mas, nanti kamu jemput jam berapa"
"Setelah aku pulang kerja"
"Iya mas"
Dua puluh menit kemudian dan sudah sampai didepan rumah temannya yang ternyata memiliki rumah yang cukup besar.
"Mas aku turun dulu, selamat bekerja" Mencium pipi kanan tuan Sanjaya.
Di kursi depan pengawal Riko sedang berusaha menahan matanya untuk tidak melihat tuan muda dan nona mudanya.
__ADS_1
"Biar pintunya saya bukakan nona muda"
sambil beranjak turun dari mobil.
"Tidak perlu Rik, biar aku saja yang membukakan pintu untuk istriku"
"Tapi akan tidak sopan tuan muda jika saya membiarkan tuan muda membukakan pintu"
"Dia istriku bukan istrimukan, jadi biar aku saja yang membukakakan pintu untuknya"
"Baiklah tuan muda"
"Biar aku buka sendiri saja pintunya lagi pula aku bisa kok" Sambil berusaha membuka pintu mobil.
"kok sulit ya" batin Aisyah
Pintu mobil itu memang sengaja dikunci oleh pengawal Riko, karena memang agar dia punya kesempatan membukakakn pintu untuk nona mudanya dan bisa melihat wajahnya walaupun hanya sebentar.
"Sopir Riko ini kok pintunya sulit dibuka"
"Rik buka kunci pintu mobilnya sekarang, atau tidak akan kutendang kamu" peringatan keras dari tuan Sanjaya.
"Baik tuan"
"gagal-gagal" batin pengawal Riko.
Setelah Aisyah berhasil membuka pintu ia pun bersalaman dengan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya.
Selanjutnya tuan sanjaya mencium kening Aisyah.
"Jangan nakal dek"
"Heem mas" keluar mobil sambil tersenyum
Aisyah pun melambaikan tangannya dan berjalan menuju pintu rumah temannya.
tok tok tok
Jegrek dibukalah pintu itu oleh jeni teman Aisyah.
"Wuh soswite banget kamu sama suamimu Syah, tadi aku itu memperhatikanmu dari balik jendelaku tau, tapi sayang aku nggak bisa lihat suamimu"
"Oh ya..???" muka Aisyah tiba-tiba merah padam karena sangat malu.
"Iya Aisyah, eh sampai lupa,ayuk ke kamarku kita ngobrol-ngobrol disana aja, lagi pula dirumah aku hanya dengan bibi, dan bibi lagi ke pasar"
"La ayah sama ibu kamu kemana jen"
Karena memang jeni adalah anak satu-satunya jadi ia tidak memiliki saudara.
"Papa sama mamaku lagi ada dinas diluar kota syah"
"Oh gitu ya, tapi nanti nggak sopan lagi tamu kok dibawa ke kamar"
"Halah kamu itu temanku syah anggap saja rumah sendiri" sambil menarik tangan Aisyah untuk diajaknya ke kamar.
sesampainya dikamar Jeni dan Aisyah sedang asyik membicarakan masa lalu mereka saat bersekolah"
hingga karena keseruannya sampai tidak sadar bahwa sudah waktunya Sholat dzuhur.
"Eh udah adzan tu jen, kamu enggak Sholat..??"
"Oh sama dong" sambil tertawa
Mereka pun berhenti berbicara sebentar untuk mendengarkan Adzan dan dilanjutkan pembicaraannya setelah Adzan selesai.
"Eh Syah kapan kamu nikah, kok aku enggak kamu undah sih"
"Hehe maaf jen, aku nikah emang teman-temanku nggak ada yang aku undang"
"La kenapa"
"Ya karena memang akutu sebenarnya nikahnya juga dipaksa jen, bayangkan ya aku itu masih enak-enaknya dipondok tiba-tiba pas pagi hari abi dan juga ayah dari suamiku itu menjemputku, dan parahnya lagi akunya suruh boyong, ya mau gimana lagi kan aku belum tau kalau mau dinikahkan jadi aku fikir abi dan ibu sudah tidak sanggup membiayaiku lagi jadi aku bersedia boyong, tapi kok ternyata suruh nikah sama orang yang enggak aku kenal sama sekali, bayangkan jen kalau kamu berada diposisiku, ngenes banget kan ..hiks hiks"
"Iya sih syah, tapi tadi aku melihatmu dengan suamimu sangat romantis banget kok, aku saja yang belum nikah jadi kebelet nikah loh"
"Haha salah siapa coba, aku nggak pamer kemesraan didepanmu lo ya tadi"
"Iya juga sih, eh tapi kok kamu jadi lebih cantik gini ya, kamu udah pernah bercinta ya sama suamimu" senyum penasaran jeni.
"Berhubungan gimana jen, aku aja sekarang masih prawan lo"
"Oh ya, kamu nggak ingin gitu ena ena sama suamimu"
"Ingin jen aku juga penasaran rasanya kayak gimana, tapi aku itu masih takut"
"Mumpung belum alot coba aja syah, kalu udah alot malah sakit loh hahah"
"Beneran..!!!, kamu kok kayaknya ngerti banget sih"
"Kan udah besar terus wanita normal lagi kan juga udah paham sama yang namanya begituan, kamu kan mondok syah masak belum pernah diajar kitab yang membahas tentang berhubungan gituan"
"Udah jen, kedengarannya sakit deh rasanya, mangkannya aku takut"
"Iya syah sakit awalnya tapi setelah itu enggak kok"
"Ah sudahlah jen kamu nih dasar omes(otak mesum)" sambil menabuk bahu jeni dengan tidak keras.
"Dari dulu kali haahaa"
"Dulu kalau aku mondok sepertimu apa aku juga sepolos kamu ya Syah"
"Mungkin aja Jen, tapi wajah- wajah sepertimu mah tidak pantas banget kalau polos" tawa ledek.
"Apaan sih kamu syah, ayuk makan Syah"
"Ayuk aku juga udah laper banget untung kamu peka Jen hihi"
"Kita makan diruang makan aja ya Syah"
"Oke siap, yang penting mah makan jen"
Mereka pun berjalan kearah ruang makan dan bibi sudah menyiapkan makanan dimeja.
saat mereka sedang menikmati makanan tiba-tiba tuan Sanjaya menelpon Aisyah.
"Eh suamiku menelpon ku Jen, aku angkat ya"
"Iya tapi jangan ada romantisnya, nanti aku ambyar lagi Syah"
__ADS_1
"Oke" sambil mengangkat jempolnya
"Hallo Assalammualaikum suamiku"
"Waalaikumsalam sayang"
"Ada apa kok menelponku mas"
"Sore nanti aku menjemputmu dek"
"Oh iya mas, aku tunggu"
"Dek kamu sudah makan atau belum,jika disitu tidak ada makanan aku akan memesankan makanan online untukmu biar grab nanti yang mengantar kesana"
"perhatian banget suamimu syah, duh jiwa kejombloanku tumpah" batin Jeni
"Eh sudah mas ini aku sedang makan"
"Syukurlah kalau begitu, ini sudah jam tiga sepuluh menit lagi aku pulang kerumah dan akan berganti pakaian dulu setelah itu menjemputmu"
"Baik mas"
Diputuskan panggilan suara itu oleh tuan Sanjaya.
"Sebentar lagi mungkin suamiku akan menjemputku jen"
"Oh gitu,oke syah nggak papa kok, kita tungguin suamimu sambil nonton televisi aja yuk"
"Setuju banget jen, selama aku nikah jarang juga melihat televisi"
"Masak iya" tawa berbahak
"Iya tauk, setiap hari itu hanya dikamar mulu, padahal mah dikamar akutu nggak ngapa-ngapain sama suamiku"
"Kasiannya temanku yang satu ini, ya sudah habiskan dulu makananmu setelah ini kita ke ruang tamu"
"Iya jen"
Setelah mereka selesai makan, mereka pun bergegas menuju ruang tamu.
"Jen kita lesehan aja"
"Oh iya bentar aku ambilin bantal dulu buat kita rebahan"
Aisyah hanya menganggukan kepala.
Mereka pun melihat televisi sambil rebahan.
"Eh syah, kalau tahun depan aku nikah udah pantas belum ya"
Jeni menunggu jawaban dari Aisyah namun satu kata pun tidak keluar dari lisan Aisyah.
"Syah, Syah"
Jeni melihat Aisyah dan ternyata Aisyah sudah tidur.
"Ya ampun anak ini"
Satu jam kemudian Jeni yang tidak tidur mendengar suara motor didepan rumahnya, namun ia abaikan karena siapa tau itu hanya orang lewat yang sedang berhenti sebentar didepan rumahnya.
Tok tok tok
Ketukan pintu dari luar rumah Jeni.
Jeni pun membukanya dan terkejut karena yang datang adalah bos dari perusahaan ternama yang semua orang pasti mengenalnya dan kagum kepadanya.
"Aduh kenapa tuan Sanjaya datang dirumahku, apa dia mau melamarku,tapikan dirumah enggak ada orang tua ku gimana ini" batin Jeni.
"Hemmm tenang Jen tenang" batin Jeni.
"Selamat sore tuan Sanjaya, bisa saya bantu, eh silahkan masuk dan duduk"
"Terima kasih temannya Aisyah, saya kesini mau menjemput istriku"
"Maksud tuan..???, jadi teman saya Aisyah itu istri tuan"
"Iya dia istriku, kemana dia kok tidak ada bersamamu"
Jeni yang mendengar perkataan tuan Sanjaya barusan sangat begitu iri dengan Aisyah.
"Aisyah sedang tidur tuan didepan televisi"
"Mana tolong antarkanku menemui istriku"
"Baik" sambil memperlihatkan wajah kesalnya.
Setelah sampai didepan televisi tuan Sanjaya pun membangunkan Aisyah dengan sangat berhati - hati dan dengan kelembutannya.
"Kamu sangat dingin kepada orang lain, tapi tidak dengan Aisyah,humm semakin panas sekali" batin Jeni.
"Sayang, ayok bangun kita pulang"
Aisyah terbangun dan terkejut karena suaminya telah datang.
"Kamu sudah kesini mas, kenapa kamu tidak memberi tahu ku dulu tadi kalau akan berangkat kesini"
"Tadi aku sudah memberi tahumu lewat chat juga telepon tapi tidak ada balasan sama sekali darimu"
"Benarkah mas..??"
Aisyah mengecek teleponnya dan memang benar banyak sekali chat dan telepon yang masuk dari kekasih halalnya.
"Yasudah mas ayok pulang"
"Jen terima kasih karena sudah memeperbolehkanku bermain dirumahmu"
"Iya Syah sama-sama, oh iya apakah kapan-kapan aku boleh main kerumahmu"
Aisyah melihat ke arah tuan Sanjaya dan kedipan mata tuan Sanjaya itu telah memberi Aisyah kode.
"Boleh jen dengan senang hati, Yasudah kami permisi dulu Assalammualaikum"
"Waalaikumsalam"
Jen yang masih melihat mereka berboncengan.
Setelah sekiranya jauh Jen pun segera masuk kerumahnya dan menutup pintu rumahnya dengan sangat keras.
pemeran Jeni
__ADS_1