
Chapter:48
{Melatih Alonza 2}
Terlihat Akhsa yang sedang bersama Alonza didepan rumah kayu yang dia buat dulu.
"Baiklah Alo, kita akan mengecek apakah kamu bisa mengendalikan kekuatanmu itu, dimulai dengan tiga ekor". Ucap Akhsa sambil melihat kearah Alonza.
"Baik". Ucap Alonza sambil menyiapkan ancang-ancang.
"Beastification". Ucap Alonza sambil membayangkan tiga ekor.
Lalu ekor Alonza bertambah dan menjadi tiga, dan kekuatan Alonza bertambah.
"Bagaimana?". Tanya Akhsa.
"Aku masih bisa mengendalikan diriku". Ucap Alonza sambil melihat kearah tubuhnya.
"Bagus, sekarang coba jadikan lima ekor". Ucap Akhsa.
"Baik". Ucap Alonza sambil membayangkan lima ekor.
Sfx: Wesssssss(suara angin.)
Ekor Alonza bertambah dan menjadi lima, dan kekuatan Alonza bertambah berkali-kali lipat.
"Sepertinya kamu sudah bisa mengendalikannya sampai ekor lima. Sekarang coba ekor tujuh". Ucap Akhsa sambil melihat kearah Alonza.
Kemudian Alonza membayangkan ekornya menjadi tujuh, lalu ekor Alonza menjadi tujuh. Kekuatan Alonza menjadi meluap-luap sangking banyaknya.
"Wow, Alonza coba kamu serang kearah manapun dengan kekuatanmu itu". Ucap Akhsa sambil melihat kearah Alonza.
"Baik!". Jawab Alonza.
Lalu Alonza menghadap kearah kanan dan menyerang benda, makhluk dari jarak jauh.
Alonza mengayunkan tangannya, dari ayunan tangan Alonza keluar gelombang yang sangat besar dan menyebabkan semua pepohonan atau makhluk hidup yang ada disana rata dengan tanah.
Aku yang melihat itu cukup kaget Karna kekuatannya tidak bisa diremehkan.
"Alonza, apa kamu menggunakan kekuatanmu dengan penuh". Ucap Akhsa.
"Aku hanya menggunakan 40% dari kekuatanku diekor tujuh ini". Jawab Alonza.
Yang itu artinya kekuatan Alonza sangat jauh lebih besar dari yang tadi, apa lagi masih belum sampai sembilan ekor.
"Kalau begitu, apa kamu bisa menambah ekormu menjadi delapan". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza.
Lalu Alonza mulai berkonsentrasi dan membayangkan ekornya menjadi delapan, lalu saat ekor Alonza menjadi delapan, ujung ekor Alonza yang awalnya berwarna putih menjadi merah muda.
Dan kekuatan Alonza menjadi berlipat-lipat kali lebih besar dari pada sebelumnya.
Pohon-pohon disekitar menjadi roboh Karna tekanan dari kekuatan Alonza.
Aku yang melihat ujung ekor Alonza yang berubah menjadi berwarna merah muda menjadi kebingungan, dan aku juga seperti memiliki perasaan yang familiar.
"Bagaimana, apa kamu masih bisa mengendalikannya?". Tanya Akhsa sambil melihat Alonza.
Lalu Alonza menganggukan kepalanya tanda dia masih bisa mengendalikannya.
"Baiklah, coba kamu pukul tanah yang ada ada dibawahmu dengan 30% kekuatanmu itu". Ucap Akhsa sambil menyuruh Alonza.
Lalu Alonza memukul tanah yang ada dibawahnya menggunakan 30% kekuatannya.
Sfx:BOOOMMM.
Tanah yang dipukul Alonza hancur dan membentuk lubang yang panjangnya sampai sembilan puluh meter.
"Kamu sangat hebat Alonza, kekuatanmu bahkan bisa membuat lubang yang seperti ini, kalau lubang itu diisi air, sudah jadi danau itu". Ucap Akhsa terbang sambil melihat kearah lubang yang disebabkan Alonza.
"Baiklah, apa kamu bisa terbang menggunakan kekuatanmu itu". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza.
Lalu Alonza mulai terbang dengan kekuatannya saat itu.
Aku yang melihat itu kaget sekaligus bangga melihat Alonza yang mampu mengendalikan kekuatannya.
"Baiklah, sekarang kamu keluarkan ekor sembilan milikmu, jadikan ekormu menjadi sembilan". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza.
"Baik". Ucap Alonza sambil membayangkan sembilan ekor.
Saat ekor Alonza bertambah menjadi sembilan, rambut, kuping, dan ekor Alonza berubah menjadi berwarna putih, dan kekuatan Alonza menjadi berlipat-lipat dari saat dia masih ekor delapan.
Saat aku melihat kuping, rambut, dan ekor Alonza berubah menjadi berwarna putih, aku baru ingat dan sekaligus tahu siapa ayah Alonza.
Kitsune, rubah berekor sembilan yang memiliki warna putih dengan ujung ekornya yang berwarna merah, lalu memiliki mata berwarna merah terang.
Kalau ujung ekor Alonza masih berwarna merah muda, itu artinya dia masih dalam usia pertumbuhan.
Dulu aku pernah bertemu dengan kitsune satu kali, saat itu aku bersama Guru untuk berlatih dan tidak sengaja bertemu dengannya.
Kitsune juga sudah hidup saat awal dunia dibentuk, sama seperti guru, dan saat itu aku tidak bisa merasakan kekuatannya yang terlalu besar Karna saat itu aku masih terlalu lemah.
"Guru, sepertinya aku masih dapat mengendalikan kekuatanku". Ucap Alonza sambil melihat akhsa.
"Kamu benar, sekarang coba hilangkan delapan ekormu itu". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza.
"Baik, Master!". Jawab Alonza dengan cepat.
Lalu Alonza menghilangkan delapan ekor miliknya.
Lalu aku menggunakan Skill Peek Apraisal untuk melihat status milikinya.
Nama: Alonza Ethelind.
Kelamin: Perempuan.
Ras: Blesteran.
Level: 500.
Usia: 10 Tahun.
Job: None.
Tittle: Creatures Who Have Above Average Intelligence And Agility.
Element: Earth Magic
•stat:
Hp: 7,200,000.
Mp: 6,400,000.
ATK: 360,000.
DEF: 360,000.
VIT: 480,000.
MAGIC POWER: 1,160,000.
•Skill
-Beastification.
-Ground Spear.
-Ground Bullets.
-Ground Attack.
__ADS_1
-World Knowledge.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠
Saat aku melihat status Alonza, aku kaget kalau level Alonza sudah naik, bahkan naik sangat tinggi. Padahal selama setahun ini dia hanya bermeditasi saja. Tunggu dia bukan hanya sekedar bermediatasi saja, saat dia bermeditasi dia juga menyerap energi yang ada disekitarnya, saat itu energi milikku juga terasa ada keluar dari tubuhku.
"Jadi semua energi yang keluar dari tubuhku diserap oleh Alo". Gumam Akhsa dalam hati.
Kemungkinan besar energi Ao Juga ikut terserap. Aku jadi penasaran seperti apa status Alonza saat berekor sembilan.
"Alonza, coba keluarkan sembilan ekor sekaligus". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza.
"Baik, akan aku coba". Jawab Alonza.
Kemudian Alonza mulai fokus mengeluarkan sembilan ekor miliknya, lalu ekor Alonza menambah menjadi sembilan.
"Bagaimana Master?". Ucap Alonza melihat kearah akhsa.
"Kamu sangat hebat Alo". Ucap Akhsa sambil melihat kearah Alonza.
Setelah Alonza mengeluarkan sembilan ekornya, kemudian aku mengecek status Alonza menggunakan 'Peek Apraisal'.
{Nine Tails Mode}
Nama: Alonza Ethelind.
Kelamin: Perempuan.
Ras: Blesteran.
Level: 500.
Usia: 10 Tahun.
Job: None.
Tittle: Creatures Who Have Above Average Intelligence And Agility.
Element: Earth Magic, Fire Magic, Water Magic, Wind Magic, Ligh Magic, Dark Magic, Ice Magic, Lightning Magic, Wood Magic.
•stat:
Hp: 7,200,000.(999,999,999)
Mp: 6,400,000.(999,999,999)
ATK: 360,000.(999,999,999)
DEF: 360,000.(999,999,999)
VIT: 480,000. (999,999,999)
MAGIC POWER: 1,160,000. (99,999,999,999)
•Skill
-Beastification.
-Dark Manipulation.
-Earth Manipulation.
-Fire Manipulation.
-Ice Manipulation.
-Light Manipulation.
-Lightning Manipulation.
-Water Manipulation.
-Wood Manipulation.
-Intimidasion.
-Illusion.
-Fox Shape.
-Ground Spear.
-Ground Bullets.
-Ground Attack.
-World Knowledge.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠
"Oioi, bercanda kan". Ucap Akhsa saat melihat Status Alonza.
"Ada apa Master?". Tanya Alonza sambil melihat akhsa.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya kaget melihat kekuatanmu yang sangat besar". Jawab Akhsa.
kalau bisa dibilang, kekuatan Alonza kalau dalam keadaan ini lebih tinggi dari kekuatanku. sekarang tinggal tahap selanjutnya.
"Baiklah, sekarang coba tekan aura milikmu itu". Ucap Akhsa sambil melihat kearah Alonza.
Lalu Alonza mulai fokus menekan aura besar miliknya.
Tidak mungkin dia bisa dalam sekali coba iyakan, bahkan aku membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menekan aura milikku.
Lalu perlahan namun pasti aura yang meluap-luap dari tubuh Alonza mulai memasuki tubuh Alonza, dan Alonza mampu menekan semua aura miliknya, tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
Kalau seandainya aku tidak melihat Status Alonza, sudah dipastikan aku tidak akan menyadari seberapa kuatnya Alonza itu, dan aku pasti akan mengira kalau Alonza tidak memiliki kekuatan sedikitpun.
Aku yang melihat Alonza mampu menekan auranya dalam sekali coba sangat kaget sekaligus senang Karna dia bisa dengan cepat memahami sesuatu.
"Baiklah, pertahankan bentukmu itu dan lihat sampai kapan kamu bisa mempertahankannya". Ucap Akhsa sambil menyuruh Alonza.
"Baik".
"Dan Coba Kamu Sembunyikan Telingan dan ekormu menggunakan Sihir illusion Milikmu". Ucap Akhsa sambil menyuruh Alonza.
Lalu Alonza mulai menggunakan sihir ilusi dan menyembunyikan Telingan dan ekor miliknya.
"Sekarang kamu terlihat seperti manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir sedikitpun. Kamu terlihat seperti anak kecil yang imut.". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza.
"Hehe, Terimakasih, Papa". Ucap Alonza sambil menunjukkan senyumnya kearah akhsa.
Aku yang melihat senyuman Alonza menjadi ikut senang.
"Lalu bagaimana rasanya saat telinga dan ekormu disembunyikan?". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza.
"Tidak ada yang berubah, aku masih bisa merasakan telinga dan kesembilan ekorku". Jawab Alonza
"Baik, itu artinya sihir ilusimu berhasil". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza.
"Iya". Ucap Alonza dengan senang.
Lalu aku menyuruh Ao untuk membesarkan tubuhnya, setelah Ao membesarkan tubuhnya aku dan Alonza naik kepunggung Ao.
"Baiklah, kita akan melanjutkan perjalanan kita sambil melatihmu". Ucap Akhsa sambil menaiki punggung Ao.
Lalu Alonza naik kepunggung Ao dan mempertahankan Bentuk 'Nine Tails' Miliknya.
"Baiklah, Ayo Kita berangkat". Ucap Akhsa sambil menyuruh Ao.
"Tapi Papa, Aku masih belum tahu tujuan kita pergi kemana?". Ucap Alonza karna kebingungan.
"Eh, apa aku masih belum memberitahumu?". Ucap Akhsa.
__ADS_1
"Sampai sekarang Papa belum pernah memberi tahu ku tujuan kita akan kemana". Ucap Alonza sambil melihat kearah depan.
"Ehem, Baiklah akan aku beri tahu tujuan kita sekarang, kita akan menuju keBenua andlan, lebih tepatnya kita akan menuju kelabirin Oslo dan mengalahkan Yamato no Orochi, naga berkepala delapan. Lebih tepatnya akusih yang akan melawannya". Ucap Akhsa memberi tahu Alonza.
"Begitu, kita akan kelabirin Oslo. Seperti apa tempat itu?". Tanya Alonza.
"Tempat itu adalah tempat paling berbahaya di dunia, terdapat Monster-monster yang sangat mengerikan disana, bahkan petualang kelas S merasa enggan untuk kesana". Ucap Akhsa sambil menjelaskan.
"Kita akan pergi ketempat seberbahaya itu!". Ucap Alonza.
"Benar, kamu juga bisa berlatih disana". Ucap Akhsa sambil mengelus kepala Alonza.
"Baiklah, aku akan berusaha". Jawab Alonza dengan keras.
Lalu perjalanan kami menuju keBenua andlan dimulai kembali.
[Lima Hari Kemudian].
Saat ini aku sedang ada dilahan yang luasnya dua meter, dan bersama dengan Alonza dan Ao.
"Baiklah, kamu bisa menghilangkan bentuk 'Nine Tails' mu itu". Ucap Akhsa sambil melihat alonza.
Lalu Alonza menghilangkan bentuk 'Nine Tails' Miliknya, ekor Alonza kembali menjadi satu dan warna rambut dan ekor Alonza berubah menjadi Oranye, dan ilusi yang menyembunyikan Ekor, beserta Telinga Alonza menghilang.
"Baiklah, kamu harus sesekali mengeluarkan bentuk 'Nine Tails' itu, supaya kamu mudah terbiasa dengan kekuatanmu itu". Ucap Akhsa.
"Baik".
"Sekarang aku akan melatihmu menggunakan senjata. Tapi senjata apa yang cocok denganmu". Ucap Akhsa sambil berpikir.
"Aku lebih suka dengan senjata tombak". Ucap Alonza dengan semangat.
"Dulu aku pernah memilikinya tapi sekarang tombak itu sudah hilang". Ucap Alonza sambil bersedih.
Tombak? Bicara soal tombak saat aku sedang mengambil uang digerobak pedagang budak, aku melihat tombak yang berwarna hitam pekat.
Aku mengambil tombak itu dari 'blood inventori' dan menunjukkannya keAlonza.
"Apa ini tombak yang kamu maksud Alonza". Ucap Akhsa sambil menunjukkan tombak itu.
Saat Alonza melihat tombak yang aku tunjukkan, dia terlihat sedih sekaligus senang.
"Benar". Ucap Alonza sambil mengambil tombak itu.
"Sepertinya kamu sangat menyukai tombak itu". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza yang memeluk tombak itu.
"Iya, dulu aku pernah melihat seorang pengembara yang memainkan tombak dengan sangat hebat, dan aku jadi ingin memiliki tombak untuk diriku...
"Lalu Ibu tiba-tiba membawa tombak ini entah dari mana, aku sangat senang sekali saat itu". Ucap Alonza sambil memeluk tombak itu sambil mengeluarkan air mata sedih sekaligus senang.
Aku yang melihat Alonza menangis tahu kalau dia sedang menangisi ibunya yang sudah meninggal, lalu aku memeluk Alonza dan berkata.
"Tenang Alo, Sekarang aku yang akan selalu melindungimu, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu". Ucap Akhsa sambil memeluk Alonza.
"Apa, apa janji!". Ucap Alonza.
"Iya, Papa Janji". Ucap Akhsa.
"Kalau begitu, aku juga berjanji tidak akan meninggalkan papa". Ucap Alonza sambil tersenyum kearah akhsa.
[Beberapa Menit Kemudian].
Sekarang Alonza sudah tenang, dan aku akan memulai melatih Alonza menggunakan tombak."Meskipun Aku tidak terlalu Jago menggunakan Tombak Sih". Ucap Akhsa dalam hati.
"Sebelum dimulai, aku mau tanya, kenapa yang membawakan tombak itu adalah ibumu, bukan ayahmu?". Tanya Akhsa kepada Alonza.
"Sebenarnya aku belum pernah bertemu dengan ayahku sekalipun". Jawab Alonza dengan muka murung.
Aku yang mendengar perkataan Alonza merasa bersalah Karna telah membicarakan Ayahnya."Kenapa sih aku ini orangnya serba penasaran". Gumam Akhsa dalam hati.
"Tapi, sekarang aku sudah punya papa, aku tidak merasa kesepian sekarang". Ucap Alonza sambil tersenyum lebar.
Aku yang mendengar perkataan Alonza tersenyum dan berkata.
"Aku juga senang, kalau kamu senang". Ucap Akhsa sambil tersenyum.
.
.
.
"Baiklah, sekarang tunjukkan dulu padaku apa yang kamu bisa dengan tombak itu". Ucap Akhsa.
Tapi, bukannya tombak itu terlalu kepanjangan untuk Alonza.
"Baik". Ucap Alonza.
Alonza memegang gagang tombak itu dan tiba-tiba tombak itu memendenek. Aku yang melihat itu kaget.
"Tung...Tunggu Alonza, apa yang kamu lakukan". Ucap Akhsa sambil melihat Alonza yang memendekkan gagang tombak itu.
"Apa yang aku lakukan? Tentu saja menyesuaikan panjang tombak ini. Tombak ini bisa dipandang pendekkan sesuka mungkin....
"Lihat aku memendekkan tombak ini sampai terlihat seperti belati". Ucap Alonza sambil menerangkan kegunaan tombak itu.
Itu hampir sama seperti senjata milikku yang dapat berubah-ubah bentuk."Menarik". Gumam Akhsa dalam hati.
"Baiklah, tunjukkan padaku seberapa lihainya kamu menggunakan tombak itu". Ucap akhsa sambil menunjuk tombak itu.
Lalu Alonza memutar tombak itu kedepan, atas, kiri, kanan, belakang dengan lihainya.
Aku yang melihat itu hanya terdiam Karna kehebatan Alonza."Sial, bahkan aku tidak bisa memutar tombak dengan benar". Ucap Akhsa dalam hati.
"Ehem, Karna kamu sudah sangat lihai memutar tombak, sekarang kamu serang aku dengan tombak itu, dan aku hanya akan menangkis setiap Seranganmu". Ucap Akhsa sambil mengambil Belati dipinggangnya.
Setelah aku mengambil Belati dipinggangku, aku mengubahnya menjadi bentuk pedang.
Alonza yang melihat itu kaget dan berkata."Kenapa bentuknya bisa berubah". Ucap Alonza.
"Bagaimana, senjataku tidak kalah dengan senjatamukan!". Ucap Akhsa sambil memamerkan senjata miliknya.
"Baiklah, sekarang coba serang aku". Ucap Akhsa dengan semangat.
Alonza berlari kearahku dan mulai menyiapkan serangannya.
Dan kami latihan terus-menerus dari saat itu, kami latihan di atas punggung Ao Sambil terbang, Kami Latihan sambil makan, Kami Latihan sambil memburu monster, kami latihan sambil terbang, kami latihan sambil berlari, kami latihan sambil melompat diantara pepohonan, kami berlatih sambil memancing ikan, kami berlatih sambil menaiki kuda, Dami berlatih sambil terbang, kami berlatih sambil mengambil uang dari Bandit, kami berlatih sambil menghitung uang, kami berlatih sambil mencari uang.
Dan kebiasaan Akhsa yang suka dengan uangpun tertulah keAlonza.
Tiga Bulan pun Berlalu.
Saat ini kami Sedang ada dipinggir lautan yang diujungnya terdapat benua Andlan.
"Uwahhhh, Setelah kita melewati lautan ini, kita akan sampai dibenua Andlan dan menuju kelabirin Oslo". Ucap Akhsa dengan semangat.
"Benar, aku sudah tidak sabar sampai kesana". Ucap Alonza dengan semangat.
"Kyakkk.....kyakkkk"..
"Kamu juga tidak sabar yah, Ao!?". Ucap Alonza sambil mengelus kepala Ao.
"Kyakkkk....Kyakk...".
"Baiklah, sekarang kita akan terbang menuju kesana". Ucap Akhsa dengan semangat.
"IYAAA!!!". Teriak Alonza.
"KYAKKK!!".
lalu kami menuju keBenua andlan dan akan menaklukan labirin Oslo.
(Note: inti dari latihan Akhsa adalah.......Mereka Tidak Pernah Mandi😁😁).
Bersambung............
__ADS_1