
Chapter: 58
{Menikmati Hari Bersama Alonza}
•Kota Keren•
Saat ini aku sedang berada dikota keren bersama dengan Alonza.
"Baiklah Alo, apa yang pertama-tama ingin kamu lakukan?". Ucap Akhsa sambil melihat-lihat kota.
"Hemm, aku ingin mencoba makanan ini". Ucap Alonza sambil menunjuk satu makanan.
Yang ditunjuk Alonza adalah daging yang digulung dengan telor ayam.
"Pak, pesan empat makanannya dong". Ucap Akhsa sambil menunjuk makanan.
"Tunggu sebentar, biar aku siapkan dulu". Ucap pedagang.
Saat kami sedang menunggu, aku tidak sengaja melihat Kak Nacht berjalan dengan kak Linda.
Disaat bersamaan, makanan yang aku pesan sudah siap.
"Ini pesanannya, semua totalnya empat keping perak". Ucap pedagang.
"Heh? Empat keping perak, bukannya itu kemahalan. Bagaimana kalau dua". Ucap Akhsa sambil menawar.
"Itu memang harga yang pas! Tidak ada kata kemahalan". Ucap pedagang.
"Sial!". Ucap Akhsa sambil mengambil uang empat keping perak dari Dimension Saver.
Lalu aku memberikannya dengan paksa kepedagang itu. Dan aku mengambil makanan yang aku pesan sebelumnya.
Lalu aku memberikannya kepada Alonza.
"Ini Alo". Ucap Akhsa sambil memberikannya kepada Alonza.
Lalu Alonza mengambilnya dan berkata.
"Tapi...! Ini terlalu banyak untukku". Ucap Alonza.
"Oh, tenang saja, entar kalau tidak habis. Papa yang akan memakannya". Ucap Akhsa.
"Ohya, dimana tadi kak Nacht dan kak Linda ya". Ucap Akhsa sambil melihat sekeliling.
"Tadi aku melihat mereka jalan kesana!". Ucap Alonza sambil menunjuk kesuatu arah.
"Oh, ayo kita ikuti mereka Alo". Ucap Akhsa menggandeng Alonza sambil berjalan kearah yang ditunjuk Alonza.
Lalu kami menuju kearah yang ditunjuk Alonza, dan kami akhirnya melihat kak Nacht dan kak Linda berjalan sambil bergandengan tangan. Aku juga melihat ada cincin yang sama seperti yang dipakai kak Nacht ditangan kak Linda.
"Apa mereka beneran udah bertunangan". Gumam Akhsa.
Dan dari belakang aku membuntuti mereka terus menerus, aku juga sempat bertanya kepada orang yang ada disekitar, apakah Kak Nacht dan kak Linda bertunangan. Dan mereka menjawab Benar/Ya.
Saat aku sedang bertanya kepada orang-orang, tiba-tiba Alonza menghilang dari pandanganku.
"Mana Alo?".
"Apa dia tersesat".
Ucap Akhsa sambil melihat sekelilingnya, dan saat Akhsa sedang melihat sekelilingnya. Akhsa melihat kalau Alonza sedang ada didepan kak Nacht dan kak Linda.
Aku yang melihat itu langsung bersembunyi dibalik pedagang-pedagang dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
.
.
.
Saat ini aku sedang kencan dengan Linda, tapi... saat ditengah kencan kami, aku melihat Alonza yang sedang berjalan sendirian di depanku.
Aku heran kenapa dia berjalan sendirian disini, dan dimana Akhsa sekarang. Lalu aku bertanya kepadanya.
"Lo Alonza, kenapa kamu jalan sendirian? Dimana Akhsa?". Tanya Alonza.
"Kamu kenal dia, Kak Nacht". Ucap Linda.
"Yah, aku baru kenal dia tadi malam saat Akhsa membawanya pulang". Ucap Nacht.
"Akhsa membawa pulang anak kecil ini? Apa dia lolicon?". Tanya Linda dengan muka Keget.
"Bukan, Akhsa bilang kalau Alonza adalah putrinya". Ucap Nacht.
"Put...putrinya Akhsa!!!". Ucap Linda dengan kaget dan melihat kearah Alonza.
"Ya, bahkan dia mengatakan dengan begitu bersemangat". Ucap Nacht.
"Tapi...! Tidak mungkin ini anak kandung Akhsa kan? Bukannya umur Akhsa baru tujuh belas tahun, dan kalau dilihat umur anak ini kira-kira sepuluh sampai sebelas tahun kan". Ucap Linda sambil mengangkat Alonza.
"Yah, ceritanya panjang. Nanti aku akan ceritakan semuanya kepadamu". Ucap Nacht.
"Untuk sekarang, Alonza! Dimana papamu saat ini?". Tanya Nacht Sambil Melihat Alonza.
Lalu Alonza seperti sedang melihat kesuatu tempat, dan aku juga melihat tempat yang dilihat Alonza. Disana aku melihat akhsa yang sedang bersembunyi diantara pedagang.
"Hei, Akhsa! Keluarlah aku sudah tahu dimana kamu sekarang". Ucap Nacht Sambil melirik kearah Akhsa.
Tapi, Akhsa belum keluar meskipun aku mengatakan itu.
Lalu aku mulai memikirkan cara lain dan menemukan sebuah ide.
"Akhsa, kalau kamu tidak keluar. Nanti Alonza dibawa Linda pulang kerumahnya Lo. Lihat! Dia bahkan sudah menggendongnya". Ucap Nacht.
Setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba Akhsa sudah ada didepan Linda dan mengambil Alonza dari gendongannya.
"Takkan kuserahkan, sebagai papa yang baik. Aku harus melindungi putrinya dari makhluk ganas sepertimu". Ucap Akhsa sambil menunjuk Linda.
Dengan cepat, Linda memukul kepala akhsa dan berkata."Menurutmu aku makhluk ganas seperti apa?". Tanya Linda.
"Eh, itu, aku bukan menunjuk kak Linda kok, aku nunjuk orang yang ada Jauh dibelakang kak Linda". Ucap Akhsa sambil melihat orang yang ada Jauh dibelakang Linda.
Saat aku melihat orang yang ada Jauh dibelakang kak Linda, aku melihat kalau itu adalah Bintang, Risky, dan Rizal.
"Kenapa, mereka ada disini?". Gumam Akhsa dalam hati.
Lalu kak Linda juga melihat kearah belakang dan melihat para pahlawan itu.
"Oh, apa yang kamu sebut Makhluk ganas itu adalah mereka". Ucap Linda.
"Iy..iya benar, mereka adalah makhluk ganas itu". Ucap Akhsa sambil melihat kearah para pahlawan.
"Heh, bukannya mereka adalah pahlawan, aku dengar mereka kemari untuk melawan para iblis". Ucap Linda.
__ADS_1
"Hemm, benarkah? Aku baru tahu itu". Ucap Akhsa.
"Oh, benar juga! Kak Nacht bilang kalau kamu pergi kesuatu tempat untuk berlatih. Tapi aku tidak menyangka kamu akan pergi begitu lama". Ucap linda.
"Apa menurut kak Linda berlatih itu membutuhkan waktu yang singkat". Ucap Akhsa.
"Tidak sih, tapi..! Kenapa kamu tidak bersekolah saja bersama dengan saudari-saudarimu". Ucap Linda.
"Hah! Sekolah itu membuang banyak uang, dan pelajaran disana hanya mengajari teknik dasar saja. Intinya sekolah itu tidak berguna dan hanya membuang banyak uang, titik". Ucap Akhsa.
"Hah~jadi inti perkataanmu tadi adalah, kamu tidak mau membuang-buang uang. Benarkan". Ucap Linda.
"Memang siapa yang bilang begitu?". Ucap Akhsa.
"Egh".
"Hai, Alonza! Kamu jangan sampai meniru sifat papamu ini. Lebih baik kamu tinggal bersamaku saja, kamu juga bisa meminta sesuatau yang kamu inginkan".
Untuk sekarang kamu ingin apa?". Ucap Linda sambil melihat kearah Alonza.
"Aku ingin koin emas". Ucap Alonza.
Kak Linda yang mendengar itu kaget dan menoleh kearah kak Nacht. Dan kak Nacht hanya mengangkat bahunya.
"Apa tidak ada hal lain yang kamu inginkan selain emas?". Tanya Linda.
"Tidak ada". Jawab Alonza.
"Kenapa tidak ada, apa kamu tidak suka hal lainnya?". Tanya Linda.
"Kata papa kalau ada yang menanyakan kepadaku apa yang aku inginkan, papa menyuruhku untuk meminta emas, Karna emas bisa menggerakkan segalanya". Ucap Alonza.
"Bagaimana, ajaranku sangat hebat bukan". Ucap Akhsa dengan bangganya.
"Apa saja sih yang kamu ajarkan pada anak kecil yang masih polos ini". Ucap Linda dengan muka yang kesal.
"Tentu saja pelajaran yang berarti, jadi apa kakak akan memberikan emas kepada Alonza?". Tanya Akhsa.
"Aku akan memberikannya kepada Alonza bukan kepadamu". Ucap Linda sambil mengambil uang dari dompetnya.
"Sebelum itu, Alonza bisa kamu memanggilku Tante mulai sekarang". Ucap linda.
"Hehm, baik Tante". Ucap Alonza.
"Hehe, anak pintar. Ini untukmu jajan". Ucap Linda sambil memberikan sepuluh keping emas.
Lalu Alonza mengambil koin emas itu dan menyimpannya.
"Hem, kalau Alo memanggil Kakak dengan sebutan Tante, aku sebagai papa nya juga harus menyebut kakak Linda tente dong". Ucap Akhsa.
"Heh, kenapa harus begitu". Ucap Linda.
"Tidak kenapa-kenapa Tante".
"Baiklah, ayo kita lanjutkan berkeliling Alo. Dan kita jangan sampai mengganggu kencan Om dan Tante mu ini". Ucap Akhsa menggendong Alonza sambil berjalan.
"Ap...Apa kamu bilang?". Ucap Linda.
"Hei Akhsa, kamu jangan sampai membiarkan Alonza berjalan sendirian lagi. Kalau terjadi sesuatu padanya kamu yang akan kami salahkan". Ucap Nacht.
"Siap Pak!". Ucap Akhsa.
Lalu kami melanjutkan berkeliling kota.
Saat ini kami sedang ada di toko pakaian mirror. Kami disini Karna dipaksa oleh Alice untuk memilih pakaian yang cocok dengan Alonza. Dan saat ini Alonza sedang bersama Alice memilih pakaian.
Saat aku sedang makan cemilan yang disiapkan Pelayan Alice. Alice dan Alonza keluar dari ruang ganti.
Aku melihat Alonza yang memakai pakaian yang sangat imut. Sangking imutnya aku terasa bisa mati kapan saja. Tidak jangan kapan saja, aku masih belum membalaskan dendamku keiblis. Nanti saja kalau aku sudah balas dendam, aku bisa mati kapan saja.
"Bagaimana Akhsa, Alonza terlihat cantik dari pada sebelumnya kan". Ucap Alice.
"Hehehe, tentu saja. Kecantikan Alo itu natural, tanpa pakaian seperti itupun Alo tetap sangat cantik dan imut". Ucap Akhsa dengan sombongnya.
"Hah~ terserah kamu dah. Kamu sudah bilang begitu berulang-ulang kali dari tadi". Ucap Alice sambil menghela nafas.
"Ohya, apa cuma Alo yang kamu buatkan pakaian saja. Apa aku tidak kamu buatkan?". Tanya Akhsa.
"Hem, kalau kamu mau. Kamu tinggal ambil beberapa pakaian yang ada disini kan!". Jawab Alice sambil merapikan pakaian Alonza.
"Tapi yang ada disini semuanya terlihat membosankan!". Ucap Akhsa sambil mengeluh.
"Apa kamu mau aku buatkan yang berbeda dari yang ada disini?". Tanya Alice.
"Oh, boleh juga itu".
"Aku ingin pakaian yang terlihat keren jubah juga tidak masalah, lalu ada syalnya juga, dan memiliki tekstur yang berbeda dari pada yang ada disini, tidak hanya disini tapi di seluruh dunia. Dan pakaian itu juga bisa menyesuaikan ukuran tubuhku sendiri". Ucap Akhsa.
"Stop..stop.., oke..oke. aku akan buatkan pakaian yang kamu inginkan. Tapi sekarang aku harus mengukur tubuhmu dulu Karna sekarang tinggi dan badanmu sudah beda dari yang dulu. entar kalau aku sudah mengukur tubuhmu, aku akan mencari mantra yang dapat menyesuaikan ukuran tubuh". Ucap Alice.
"Baiklah, kita ukur sekarang badanku". Ucap Akhsa.
Lalu aku menuju keruangan yang biasanya Alice buat untuk mengukur tubuh pelanggannya. Tapi Alice tidak pernah mengukur tubuh pelanggannya tapi pekerja Alice yang melakukannya.
Saat sampai disana, tubuhku diukur oleh Alice secara langsung Dan Alonza hanya melihat sambil makan cemilan yang sudah disiapkan.
Beberapa menit kemudian.
Setelah selesai diukur, aku dan Alonza pergi dan melanjutkan keliling kami.
"Ohya, jangan lupa untuk membuatnya terlihat keren". Ucap Akhsa sambil melihat kearah Alice.
"Tenang saja, aku jamin kamu akan menyukainya". Ucap Alice.
Setelah itu, aku dan Alonza berkeliling kota lagi, dan Alonza memakai pakaian yang tadi diberikan oleh Alice.
.
.
.
Setelah selesai berkeliling, kami akhirnya beristirahat di dekat air mancur sambil makan dan minum.
"Bagaimana Alo, apa kamu menikmati perkelilingnya?". Tanya Akhsa sambil melihat Alonza.
"Hem, disini ada banyak hal-hal yang seru!". Ucap Alonza sambil melihat air mancur.
"Baguslah kalau kamu menikmatinya". Ucap Akhsa sambil mengelus kepala Alonza.
Saat kami sedang bersantai didekat Air mancur. Tiba-tiba dari samping ada yang memanggilku ketua.
"Ketua!". Ucap orang itu.
__ADS_1
Aku yang melihat itu langsung menutup mulutnya dan berkata."Hei, kalau diluar jangan panggil aku ketua, panggil saja aku akhsa". Ucap Akhsa sambil menutup mulut orang itu.
Lalu dia mengaggukkan kepalanya, setelah dia menganggukkan kepalanya, aku melepaskan tanganku dari mulutnya.
Lalu dia mulai bernafas panjang.
Lalu saat aku perhatikan, dia adalah anggota baru Night Month yang sudah ada sejak setahun yang lalu, nama nya kalau tidak salah.
"Akela?". Ucap Akhsa sambil melihat akela.
"Ket-..Akhsa mengingat namaku?". Ucap akela.
"Tentu saja aku ingat, bagaimana mungkin aku tidak bisa mengingat anggotaku sendiri". Ucap Akhsa.
Bagaimana aku bisa tahu kalau Akela adalah anak laki-laki yang diselamatkan Kak Nacht, itu Karna sebelum aku mengajak jalan-jalan Alonza, aku sempat membaca beberapa dokumen yang harus aku selesaikan.
"Seperti yang diharapkan dari seorang Ketua". Ucap Akela.
"Hehe, lalu apa yang kamu lakukan disini?". Tanya Akhsa.
"Saya disini ingin berbelanja Karna baru saja gajian". Ucap Akela.
"Hemm......".
Lalu saat aku melihat kearah pedang Akela, pedang Akela terlihat memiliki warna yang sangat hitam pekat.
Dengan cepat aku mengambilnya dan melihatnya.
"Eh, Apa yang sedang Anda lakukan?". Tanya Akela.
"Aku cuma mau melihatnya". Ucap Akhsa sambil melihat-lihat pedang itu.
Saat aku melihat pedang ini, aku seperti pernah melihatnya disuatu tempat.
"Hei Akela, dimana kamu membeli pedang ini?". Tanya Akhsa.
"Saya membelinya didekat sini, lebih tepatnya toko senjata yang ada disebelah sana". Ucap Akela.
Saat Akela berkata didekat sini, aku jadi ingat saat aku pertama kalinya menjadi petualang. Dulu aku pernah masuk disebuah toko senjata, dan disana aku seperti dipanggil oleh salah satu senjata disana. Tapi aku mengabaikan dan meninggalkannya begitu saja.
"Hei, pedang! Apa kamu mau adu kekuatan Dangan senjataku". Ucap Akhsa sambil melihat kearah pedang itu.
"Ap...Ap..kenapa Anda berbicara dengan pedang saya Akhsa". Ucap Akela dengan gagap.
Lalu aku menyerahkannya ke Akela, setelah aku menyerahkannya ke Akela. Aku menarik belatiku dari sarung dan mengatakan.
"Apa kamu berani melawan senjataku, pedang berkarat". Ucap Akhsa sambil menghina pedang itu.
"SIAPA YANG KAMU PANGGIL BERKARAT BRENGSEK". Teriak pedang itu.
“Tapi Michael, apa ketua bisa mendengarkan apa yang kamu katakan”. Ucap Akela lewat pikiran.
“Apa kamu bodoh, dia itu bukan orang sembarangan. Dulu juga dia pernah mengabaikanku begitu saja”. Jawab Michael lewat pikiran.
"Hahahaha, akhirnya kamu mau berbicara juga". Ucap Akhsa sambil tertawa.
"Apa yang kamu inginkan?". Ucap Michael.
"Hem, aku hanya heran sebenarnya kamu ini pedang apa sih. Kenapa kamu bisa berbicara?!". Ucap Akhsa sambil melihat Michael.
"Kamu mau tanya aku pedang apa? Biar ku perkenalkan diriku, aku adalah Michael! Salah satu dari empat belas pedang legendaris. Sekarang kamu bisa mengagumi ku sesukamu!". Ucap Raphael.
"Hoho, pedang legendaris ya. Kalau begitu apa kamu mau beradu dengan senjataku ini". Ucap Akhsa sambil menodongkan belatinya.
"Heh?". Ucap Michael terlihat ketakutan.
"Ja... jangan bercanda, bisa-bisa aku hancur duluan sebelum menyentuh ujung senjatamu itu". Ucap Michael terlihat ketakutan.
“Kenapa kamu malah ketakutan Michael?". Tanya Akela lewat pikiran.
“Apa kamu tidak merasakannya, Belati yang dibawa dia itu bukan Belati biasa”. Jawab Michael lewat pikiran.
“bukan Belati biasa?”. Ucap Akela lewat pikiran.
"Benar, dibelati itu sepeti ada jiwa dari Makhluk yang sangat mengerikan”. Ucap Michael lewat pikiran.
"Makhluk yang mengerikan, seperti apa?”. Tanya Akela lewat pikiran.
"Aku kurang tahu soal itu patner, tapi intinya jiwa yang ada dibelati itu sangat mengerikan!”. Ucap Michael lewat pikiran.
\=\=
"Yah~ itu sangat mengecewakan, kukira senjata legendaris itu memiliki kekuatan yang sangat hebat". Ucap Akhsa dengan wajah yang kecewa.
"Senjatamu, apa yang ada didalam senjatamu itu sebenarnya?". Tanya Michael.
"Hem? Kamu mau tahu?". Tanya Akhsa.
"Akan kuberi tahu apa yang ada didalam senjataku ini, jadi dengarkan baik-baik".
"Didalam senjataku ini ada..........ada....ada ada apa ya~ hahaha, manamungkin aku akan memberi taumu yakan. Ini adalah sesuatu yang harus dirahasiakan bukan.
pedang L E G E N D A R I S". Ucap Akhsa sambil melihat kearah Michael.
"Sial". Ucap Michael.
"Tapi Karna kamu tidak bisa melawan ku menggunakan senjataku ini.....kalau begitu bagaimana kalau aku melawanmu menggunakan senjata milik Alo". Ucap Akhsa sambil memperlihatkan tombak Alonza.
"Hei, kau bercandakan! Itu tidak jauh dari senjata milikmu tahu!?". Ucap Michael.
Aku yang mendengar itu agak bingung Karna, meski tombak Alonza berwarna hitam pekat, tapi aku tidak tahu kalau pedang legendaris itu juga akan takut pada tombak Alonza?.
"Benarkah, tapi masak pedang legendaris tidak berani melawan senjata biasa seperti ini?". Ucap Akhsa.
"Hah? Oke aku siap melawan tombak itu. Patner bersiap-siaplah melawannya". Ucap Michael.
"Heh! Tapi kan aku belum memutuskannya akan melawan ketua apa tidak". Ucap Akela.
"Bukan aku yang akan melawanmu, tapi Alo yang akan melawanmu". Ucap Akhsa sambil menunjuk Alonza.
"Apa ketua bercanda?". Ucap Akela.
Lalu Alonza berdiri dan memutar tombak dengan lihainya.
"Sepertinya tidak". Ucap Akela.
"Baiklah, kita akan pergi ketempat yang Biasa anggota Night Month latihan!". Ucap Akhsa sambil berjalan menuju kesana.
"Baik". Ucap Akela.
Lalu kami menuju ketempat yang Biasanya Anggita Night Month latihan. Dan aku juga akan melihat seberapa hebat Akela dan pedangnya itu.
Bersambung........
__ADS_1