Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
Bag 10


__ADS_3

"Kamu kenapa Zil? lemes gitu?" suara bapak mengagetkan Ozil yang sedang melamun.


"Lagi belajar pak, persiapan buat ujian besok."kilah Ozil mengambil asal buku dan membalik-mbalik buku ditangannya.


"Kamu belajar apa?" Pak Bahdim duduk di sisi Ozil lalu membenarkan buku yang Ozil pengang terbalik itu.


"Sengaja ini pak, biar lebih konsen belajarnya."ucap Ozil ngeles. Malu lah keciduk melamun dan berdalih belajar.


Pak Bahdim mengulas senyum. Menepuk bahu anak bungsunya.


"Ngalmunin Nina ya kamu, Zil?"


Ozil tertegun. Menatap bapaknya dengan pandangan terkejut.


"Eehh, bapak kok tau?"


"Ya taulah. Sama anak bapak sendiri kok nggak tau."ucap bapak menyulut rokoknya.


"Ujian akhir kamu gimana?"


"Tinggal dua materi lagi kok pak."


"Masih dua materi lagi, udah nglamunin Nina." ledek bapak menyembulkan asap rokoknya.


"Gini ya Zil, coba kamu selesaikan dulu ujian kamu. Baru nanti pikirin Nina."saran bapak menghisap lagi rokoknya.


"Iya pak. Ini lagi mau lanjut belajar."Ucap Ozil ngeles.


"Kalau jodoh, mau sejauh apapun pergi, pasti balik lagi kok. Kamu nggak usah kuwatir."ucap Bapak lagi.


"Ya nggak kuwatir sih pak, cuma was was aja."


"Sama aja itu Zil." seru bapak mengibas tangannya di udara."Kamu itu ya, belajar yang bener, terus kerja cari duwit, baru deketin cewe, jangan sebaliknya. Apa yang mau kamu banggain?"


"wajah ganteng ini pak."


bapak tergelak, "le le, kamu itu ya, mau kasih makan Nina wajahmu ini?"


"ya enggak, kan bisa dipandengin pak." kilah Ozil.


"terus kalau di pandengin terus kenyang?"


"ya enggak."


"nah, itu tau. Laki-laki itu harus punya penghasilan, punya pekerjaan biar anak istrinya bisa makan."


"Iya pakk,"dengus Ozil mulai kesal, "Bapak mah kasih wejangan muluk. Kasih duwit napa?"


"Tuh, sekarang aja kamu masih minta duwit sama bapak. Nggak malu kamu sama Nina, sama Zidan?"


"Hehe, ya malu sih pak."


"Gitu mau nikahin Nina?"


"Ya kan mau pepet dulu pak, ntar keburu ditubruk orang mbak Nina nya."tukas Ozil tak mau kalah.


"Ya kamu mau mepet-mepet kalau Nina nya lebih tertarik sama yang udah mapan kamu mau apa?"tanya pak Bahdim sambil menghisap rokoknya.


"Weee,, ya janganlah pak..."tukas Ozil cepat.

__ADS_1


"Ya udah! Pantasin diri kamu buat Nina sama Zidan. Lulusin sekolahnya, terus kerja yang baik. Dimempengin lagi sholat sama ngajinya, biar rejeki lancar."Ucap Pak Bahdim lagi-lagi memberi Ozil wasiat.


"Iya iya pak."


"Jangan iya iya aja donk."


Pak Bahdim menghisap rokoknya lagi, dalam keheningan mereka berdua. Menatap pekatnya malam dari teras rumah.


"Pak, yang jemput Mbak Nina tadi siapa?" Tanya Ozil akhirnya, dia harus mengobati rasa penasarannya.


"Sama Kedira, tetangganya katanya tadi."jelas bapak."Kebetulan ada urusan di sekitar sini. jadi sekalian."


"Kamu cemburu ya?" goda bapak memainkan alisnya.


Ozil mendengus.


"Ozil Ozil, biarkan Nina menyeleksi calon suaminya sendiri. Tugas kamu, kalau mau bersaing, ya memantaskan diri biar bisa sama Nina."


"Caranya pak?"


"Ya tadi kan dah bapak jelasin, makanya kalau orang tua ngomong tu didengerin, jangan dilewatin aja kayak angin."


Ozil mendengus lagi dapat ocehan dari bapaknya.


"Kamu kan masih sekolah, Jelas Nina nggak bakal nglirik kamu.." ledek bapak makin gencar menggoda anaknya.


"Yah,bapak mah, bukannya kasih semangat malah..."keluh Ozil lemas.


"Yaa, itu kenyataan Ozil. Kalau bapak jadi Nina pun nggak bakal milih kamu. Apa lagi kamu masih sekolah, belum bekerja, tambah lagi Nina janda, punya anak satu."terang bapak mencoba membuka mata Ozil yang masih masa puber itu.


"Berumah tangga itu nggak cuma butuh cinta Zil, butuh dana juga. Itu sebagai wujud tanggung jawab. Tanggung jawab juga bukan sekedar materi dunia. Ada akhirat yang butuh pertanggungjawaban. Apalagi kamu sebagai laki-laki, tanggungjawab mu lebih besar. Menuntun istri dan anakmu supaya tidak salah jalan."


"Iya pak."


"Jadi kamu jangan zolim pada mereka. Terlebih jika dia janda. Paham maksud bapak kan Zil?" terang bapak lagi, "Bapak nggak mau kamu memburu nafsu lalu lupa jika menikah itu bentuk ibadah terpanjang. Bakal ada banyak rintangan."


"Iya pak taunya aku."sela Ozil mulai bosan dengan ceramahan bapaknya.


"Ini sebenernya lagi belajar apa sih pak?" Ibu Ana yang tiba-tiba ikut nimbrung, duduk disamping suaminya dengan membawa ubi kukus dan pisang goreng. Bu Ana meletakkan bawaannya dimeja dekat buku-buku Ozil.


"Ya ngasih pelajaran hidup buk sama anak kesayanganmu ini."jawab bapak Enteng."ngebet banget sama jandanya Ozan."


Bapak mencomot pisang goreng dipiring lalu mengunyahnya perlahan, maklumlah udah aki-aki, giginya sudah tak seberapa.


"Kamu kok nggak pacaran sama Nisa aja sih Zil?"tanya ibuk Ana melirik sekilas anaknya, lalu mengambil ubi rebus dan mengupas kulitnya.


"Dia anak baik, soleha, masi muda, ramah sopan lagi."


"Ozil cintanya sama Mbak Nina buk."tegas Ozil bersungut."Jangan tawarin yang lainlah."


"Iya ibuk ini, belum tentu juga Nisa mau sama anakmu ini."tukas pak Bahdim lanjut menggigit pisang gorengnya.


"Eehh,, siapa bilang?"sergah bu Ana tak terima,"Orang Nisa nya dah ngomong sendiri kok sama ibuk. Dia itu suka sama anakmu ini."


"Waahh, anak jaman sekarang ini itu ya buk. apa ya namanya... mmm.. gercep."sahut bapak ikut berkomentar."gercep iya..."


Ozil mendengus kesal.


"Udahlah aku mau belajar aja di kamar. Disini bapak sama ibuk malah bikin ilang mood aja."kesal Ozil beranjak dengan membawa bukunya.

__ADS_1


"Loh, kok mau pergi, orang mau ditemenin kok."seru bapak protes.


"Yang nemenin bukan Nina pak. Nggak mau dia."Ibu bantu jawab sambil cekikikan.


Ozil yang sudah melangkah dengan kesal balik lagi.


"Nggak jadi belajar di kamar Zil?"goda bapak.


"Jadilah!"tukas Ozil cemberut sambil membawa piring berisi ubi rebus dan pisang itu. lalu melangkahkan kakinya kedalam.


"Eehh,, mau di bawa keman itu?"tegur pak Bahdim."Bapak masih mau lhee.."


"Anakmu kok ngambekan to buk?"tanya bapak dengan wajah kasihan.


_____


Hari berganti, sehabis magrib Ozil mengajar ngaji salah satu anak di masjid Nurul Hikmah. Memang tiap ba'dha magrib masjid di kampung Ozil tinggal, dihidupkan taman mengaji untuk anak-anak. Ozil adalah salah satu anggota mengajarnya.


"Mas Ozil!" panggil Nisa, gadis manis nan ayu berjilbab sebatas perut itu mendekat.


"Apa Nis?" jawab Ozil tak acuh mengajari bocah SD membaca iqro'.


"Itu Nisa dah bikinin teh buat Mas Ozil. Snaknya juga udah Nisa siapin. Abis ini istirahat aja dulu."ucap Nisa lembut.


"Ya."jawab Ozil singkat.


Begitu kelar, Ozil menyambangi dapur masjid yang letaknya tak jauh dari ruang umikalsum tempatnya mengajar iqro tadi. Di dapur ada Karim, Nisa, Nurul , dan Oman.


"Mana nih jatah ku?"tanya Ozil


"Ini Mas." Nisa menyodorkan segelas teh yang masih hangat itu. Ozil langsung menyeruputnya.


"Aaahh,, sedaaapp...."selorohnya.


"Aaaaahhh..... buruan diresmiin kenapa kalian ini?"celetuk Karim menaik turunkan alianya.


"Resmi apaan Rim?"


wajah Nisa sudah memerah, mendengar Karim mengkode begitu. Gadis manis itu memang sudah sejak lama menaruh hati pada Ozil, walau yang bersangkutan tidak sepeka itu.


"Ya hubungan kalian ini lah"seru Karim lagi.


"Hubungan apaan?"


"Sok bego kan si Ozil." oceh Nurul ikut-ikutan.


"Emang kita punya hubungan apa Nis?"tanya Ozil tanpa beban, menoleh pada Nisa. Membuat yang ditanya jadi salah tingkah.


___€€€___


Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___


😊

__ADS_1


__ADS_2