Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 58


__ADS_3

Ben melepas pangutannya, menatap Dila dengan mata yang berkabut.


"Itu, ciuman pertamaku." Lirih Dila tersipu.


Ben menarik sudut bibirnya ke atas. "Jadi aku yang pertama?"


Dila mengangguk malu.


"Kalau begitu, biar aku yang mengambil yang kedua, ketiga dan yang selanjutnya."


Ben mencondongkan lagi tubuhnya. Melummat bibir Dila dan mencium lebih dalam. Tangan Ben menahan tengkuk istrinya. Tubuhnya perlahan bergerak mengikuti naluri lelaki nya yang terus menuntut lebih. Hingga Dila terjatuh dengan lembut ke belakang. Tubuh Ben sudah berara di atas tubuh Dila.


"Apa kamu siap menjadi istriku seutuhnya?" Tanya Ben menjeda dan menatap dalam wajah wanita yang kini berada dalam kungkungannya.


Dengan wajah yang sudah memerah. Dila mengangguk. Tanpa membuang waktu, Ben menggendong tubuh Dila membawa istrinya masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga menuju kamar nya.


Di dalam kamar Ben meletakkan tubuh Dila diatas ranjang dengan lembut. Menyatukan lagi bibir mereka yang sempat terpisah beberapa saat.


Ben yang sudah merasa kepanasan membuka kaus yang membungkus tubuhnya. Dan menautkan lagi bibirnya dengan milik sang istri setelah semua pakaian sudah teronggok di atas lantai.


***


Dila membuka matanya, tubuhnya serasa sangat remuk dan lelah. Dila mengangkat tangan Ben yang melingkar di perutnya. Lalu menurunkan kakinya hendak melangkah ke kamar mandi.


"Aaahhh...." Dila merasakan sakit di bagian intimnya. Ini untuk pertama kalinya, meski Ben melakukan nya dengan sangat lembut namun tetap saja ia merasa sakit.


"Kamu nggak papa ila?" Ben terbangun dan membantu tubuh Dila yang merosot ke bawah lantai.


Wajah Dila menghangat mengingat apa yang telah terjadi pada mereka. Ciuman pertama yang berlanjut pada percintaan pertama juga. Membuat Dila sangat malu untuk mengangkat wajahnya.


Dengan hati-hati Ben mengangkat tubuh Dila dan mendudukkan diatas ranjang.


"Kamu mau kemana?"


"Ke kamar mandi. Mau berkemih."


"Kuat jalan kesana?"


"Aku sedang mencobanya." Dila mencoba berdiri lagi. Namun tubuhnya tiba-tiba melayang. Ben sudah mengangkat tubuh Dila.


"Aku bantu."


Ben meninggalkan Dila sendiri di kamar mandi agar gadis itu bisa lebih leluasa menyelesaikan berkemih ya.


Ben menatap noda merah di atas sprei. Lalu tersenyum dengan wajah yang mulai menghangat.


"Akhirnya, aku lakukan juga." Gumam Ben pelan.

__ADS_1


________


Acara yang di nanti pun tiba, pernikahan Dila dan Ben berlangsung dengan sangat meriah dan mewah.


"Mbak Nina cantik!"


Ozil mengacungkan dua jempol pada istrinya. Nina tersipu malu. Padahal ini juga bukan kali pertama Ozil memujinya.


Ozil, Nina dan Zidan mengenakan pakaian seragam batik dan brokat, tentu sjaa yang broklat hanya Nina yang memakainya. Sedangkan warna rok yang ia kenakan senada dengan kemeja milik Zidan dan ozil.


"Ayo mbak naik." Ajak Ozil di atas motor matik nya.


Nina duduk menyamping di belakang Ozil sedangkan Zidan berdiri di depan.


Setelah mengikuti rangkaian prosesi pernikahan Dila dan Ben, sampailah mereka di acara puncak resepsi. Ozil duduk setelah mengambilkan makanan untuk Nina dan Zidan.


"Mau makan apa lagi Zidan?"


"Bakso ya om." Ucap Zidan dengan mulut yang penuh.


"Iya, tapi habisin dulu itu satenya."


Zidan mengangkat jempolnya.


"Mbak Nina mau makan apa lagi?"


Nina mengulas senyum tipis. "Udah Ozil, kok jadi kamu yang melayani kami?"


"Kamu dari tadi cuma ngambilin makan tapi belum makan apapun kan?" Nina mengambil satu tusuk sate yang ujungnya ia tusuk pada lontong."nih, kamu juga makan."


Nina menyuap Ozil. Dengan sumringah, Ozil memakan suapan dari Nina.


"Makasih ya Mbak."


"Embak yang makasih, Oz." Ucap Nina membetulkan ucapan Ozil ."aaaa~ lagi." Sembari menyodori Ozil sate.


Senyum Ozil melebar, sebenarnya Ozil sempat inscure saat melihat betapa mewahnya pernikahan Ben dan Dila. Tapi, Nina berulang kali menegaskan diri nya baik-baik saja dan sangat bersyukur karena menikah dengan Ozil.


"Kamu adalah yang terpilih, Oz. Jangan merasa inscure karena mbak nggak menyesal ataupun kecewa. Mbak bahagia. Kamu yang terbaik yang Alloh kirimkan untuk mbak." Kalimat yang meluncur dari bibir Nina membuat Ozil tenang dan kembali bersemangat.


Ozil menatap wajah cantik istrinya yang sedang memakan sate bersama Zidan.


"Aku pasti bakalan ngebahagiain kamu mbak, juga Zidan." Gumam Ozil dalam hati.


"Mbak Nina mau makan bakso?" Tanya Ozil saat piring Nina dan Zidan sudah kosong.


"Kita ambil bareng aja Oz."

__ADS_1


"Nggak usah, biar Ozil aja mbak. Nanti kursinya di ambil orang."


Nina tergelak lalu berdiri mengandeng Zidan dan memeluk lengan Ozil.


"Ayo. Aku mau makan di dekat STAN nya biar kalau mau nambah nggak malu." Kekeh Nina di ikuti gelak dari Ozil.


"Iiisshh, mbak Nina ini kayak nggak pernah makan bakso aja."


"Iya, yang gratis belum pernah Oz." Balas Nina mengendikkan alisnya.


Seusai kembali dari pesta Dila, Nina dan Ozil tidak langsung kembali ke rumah.


"Mbak nyari yang dingin-dingin yuk." Ajak Ozil.


"Kemana?"


"Kaliurang. Mau nggak?"


Nina mengulas senyum. "Okey."


"Zidan mau nggak ke Kaliurang?" Tawar Ozil pada keponakan sekaligus anak sambungnya.


"Kaliurang mana om?"


"Ya nanti kamu tau, ada air terjunnya di sana. Bagus. Banyak monyet juga." Jawab Ozil membujuk.


"Ummm... Mau."


"Yeeesss!!! Meluncuurr...."


Hingga menjelang sore Keluarga kecil itu masih berada di Kaliurang. Kesemuanya berbasah-basahan, bahkan Nina yang awalnya memilih duduk menunggu juga tak luput dari keusilan ozil dan Zidan yang menyiramnya dengan air yang dingin.


"Ayok, pulang, udah makin sore nih." Ajak Nina."mana nggak bawa baju ganti lagi."


"Tenang mbak, di bawah ada yang jual baju kok. Kita beli aja di sana."


"Mau nginep di sini?" Selidik Nina menyipitkan matanya.


Ozil tertawa lebar."enggak lah mbak. Kita balik. Kasihan bunda di rumah sendiri."


Nina mengulas senyumnya lalu tanpa kata ia mencium pipi suaminya. Ozil terkejut dan memandang sekeliling.


"Mbak Nina. Malu mbak. Ntar di marahi bapak."


Nina tergelak. Zidan pun menarik tangan Ozil agar mennyamakan tinggi. Ozil berjongkok, Zidan pun ikut-ikutan Nina mencium pipi Ozil, sukses membuat Ozil mengharu. Lalu menggendong tubuh kecil itu, dan membalas mencium pipi Zidan.


"Anak kecil ikut-ikutan." Ucap Ozil mencium gemas Zidan hingga bocah itu tergelak geli.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Nina memeluk perut Ozil. Suaminya itu tersenyum bahagia.


"Sepertinya, malah aku yang kini di buat bahagia sama kamu mbak." Batin Ozil tersenyum samar sembari menarik tuas gas motor nya tipis-tipis. Ozil ingin menikmati rasa ini lebih lama.


__ADS_2