
Hari itu, setelah menjemput Dila. Ben hanya mengantar Dila ke rumah. Lalu pergi lagi ke resto. Selain untuk mengobati hatinya yang telah patah karena Nina baru saja menikah.
Di saat ia hampir, berhasil melamar pujaan hatinya. Namun Ben Arfa harus menikah dengan adik Nina karena sebuah kesalah pahaman.
Hati dan hidup Ben terasa kosong. Ia tak lagi memiliki semangat hidup. Nina benar-benar telah mengubah perputaran hidupnya.
Ring! Ring!
Dering ponsel Ben membuyarkan semua lamunan tentang Nina beserta sesal yang mengikuti nya. Panggilan dari mama yang tak mungkin Ben Arfa abaikan.
"Halo ma."
("Kamu di mana Ben?")
"Di resto ma, ada apa?"
("Pulang nak, ada yang mau mama bicarakan.")
"Sekarang Ben lagi sibuk."
("Sibuk apa? Pulang sekarang. Dila bilang mau balik lagi ke rumah bunda nya. Bagaimana bisa kamu sebagai suaminya malah bertelur di resto?")
"Kalau mau pulang, biar ajalah ma, itu kan udah pilihan Dila."
("Ben! Balik sekarang.")
Setelah mendapatkan Omelan dari mamanya, akhirnya Ben Arfa pulang juga.
****
"Dila sudah pergi."
Mama yang manyun bersidakep di depan pintu masuk.
"Kamu harus bujuk dia supaya balik lagi ke sini." Titah mama tanpa mau di bantah.
Ini hal yang Ben tak suka dari mama nya, jika sudah memberi perintah, tak bisa di bantah. Apalagi, Ben Arfa anak satu-satunya. Mama pun sudah cukup lama mendamba seorang menantu. Namun Ben yang selalu menunggu Nina menolak beberapa kali saat sang mama berniat menjodohkan nya.
Kini Ben Arfa telah menikah, tentu saja membuat sang mama senang. Tapi tidak bagi Ben.
"Diantara semua orang, kenapa dia harus adik Nina?" Gumam Ben menatap langit kamarnya.
Setelah mendapat Omelan sang mama paling tidak, Ben harus berada di rumah dan pergi hanya untuk menjemput Dila. Tapi, saat ini Ben belum ingin.
"Apa sebenarnya kemauan bocah itu?" Gumam Ben, "main kabur aja. Childish banget."
Ben turun ke bawah untuk mengambil air. Saat ia melangkah ke dapur dari ruang keluarga Ben mendengar sang mama yang sedang menelpon Dila.
__ADS_1
"Jadi gimana keadaan bunda, Dila?"
Terjeda sesaat karena mendengarkan yang sebelah sana menyelesaikan ucapannya. Lalu mama berucap lagi.
"Syukurlah kalau begitu. Mama akan ke sana nanti sama Ben."
Mama terdiam lagi.
"Kok begitu? Mama mau datang. Titik."
Ben menghela nafas, dan melanjutkan langkah nya lagi.
"Bunda sakit?"
Ben masuk ke dalam kamar nya lalu mengambil hape menekan nomor Nina. Namun jarinya tertahan tidak menyentuh tombol nya. Di layar tampak foto Nina, Zidan dan Ozil yang tersenyum ke kamera. Ben tersenyum menertawai dirinya sendiri.
Lalu Ben menekan tombol kembali. Melihat setatus wasap. Dua status kakak beradik yang masuk ke dalam hidupnya saling tumpang tindih.
Dila yang lebih dulu. Menuliskan doa kesembuhan sang bunda. Di bawahnya ada status wa milik Nina. Yang menyatakan hal serupa. Hanya, Nina melampirkan foto sang bunda yang sedang di suapi Dila. Ben Arfa menatap lama foto itu.
Hari berikutnya,
Ben dan mama berkunjung ke rumah bunda Anggi. Di sana mereka di sambut oleh Nina yang tersenyum dengan ramah.
"Kapan datang Nin?" Tanya mama begitu duduk di sofa tamu.
"Semalam Tan." Jawab Nina jujur.
"Mama."
"Eh, Dila. Kok dari luar, dari mana?" Tanya mama begitu Dila menyalami dan mencium tangan mama.
"Dari warung ma." Jawab Dila singkat.
Tangannya terulur menyalami Ben, walau ia merasa tak nyaman. Tetap ia lakukan agar mereka terlihat baik-baik aja.
"Udah lama."
"Belum, baru datang." Lirih Ben
"Dila bikinin minum dulu ya." Pamit Dila hendak beranjak ke dalam, namun di tahan oleh Nina.
"Jangan, kamu di sini aja. Biar mbak yang bikinin." Cegah Nina berdiri.
"Nggak usah mbak..."
Nina sudah masuk ke dalam, hingga Dila mau tak mau duduk dan tetap menemani mama juga Ben Arfa.
__ADS_1
"Bunda gimana? Udah lebih baik?" Tanya mama.
"Lagi istirahat di kamar, ma." Jawab Dila."Tadi abis makan, terus pingin makan klengkeng. Nih, Dila baru dari warung beli." Sembari menunjuk sekantong kresek di tangannya.
"Mama lihat bunda ya, sekalian deh mama bawain klengkeng nya mana tau bunda mu mau cepet-cepet makan." Ucap mama mengambil kresek di tangan Dila.
Dila hendak berucap namun urung karena mama sudah terlanjut masuk ke dalam. Tinggallah dila dan Ben dalam kecanggungan. Tak ada satupun yang bicara. Keduanya hanya diam. Dila memilih mengeluarkan hp nya tanpa tau aplikasi apa yang akan dia buka. Ia merasa tak nyaman. Menunggu Ben mengatakan sesuatu rasanya, mustahil.
Tak lama, Nina muncul dengan minuman. Ia terkejut hanya ada Dila dan Ben di sana.
"Tante mana?"
"Ke kamar bunda." Ucap Dil dan Ben bersamaan, Nina tersenyum di buatnya. Dila dan Ben saling berpandangan lalu saling membuang muka ke arah lain.
"Nin, bisa kita bicara sebentar?"
Hati Dila berdenyut pelan. Lalu tersenyum getir. Selama itu, bahkan Ben tak mengatakan apapun padanya, tapi begitu Nina datang, justru ingin berbicara dengannya. Hati wanita mana yang tak sakit.
Nina menatap Dila. Tentu saja dia merasa tak enak pada adiknya.
"Dila ke dalam dulu ya, lihat bunda." Ucap Dila sembari melangkah masuk.
"Dila, tunggu..." Lirih Nina mencoba menahan adiknya, namun Dila sudah tak terlihat di balik gorden.
"Nin, kita keluar sebentar yok." Ajak Ben seolah tak terganggu dengan kepergian Dila. Bagi Ben, Dila sedang memberi nya kesempatan waktu untuk menyelesaikan masalah perasaannya pada Nina.
Dengan helaan nafas panjangnya. Nina lalu menatap Ben.
"Maaf Ben, suami sedang nggak ada. Aku ijin padanya hanya untuk menemani bunda yang sedang sakit. Aku nggak bisa pergi kemana pun."
"Kalau gitu di teras aja." Ucap Ben tersenyum kecut. Melangkah mendahului Nina keluar rumah dan berdiri di teras.
Walau merasa ragu, dan sempat menatap ke dalam di mana dila menghilang. Nina melangkah juga mengikuti Ben ke teras.
"Ada apa Ben?" Tanya Nina berdiri di depan pintu dan tetap menjaga jarak dari Ben.
"Aku... Tau, situasi kita membuat semuanya tak nyaman dan canggung. Tapi, aku perlu menyelesaikan perasaanku pada mu sebelum aku memulai nya dengan Dila atau wanita lain manapun."
Nina diam, membiarkan Ben berbicara menyelesaikan maksudnya.
"Saat aku melamarmu dulu, dan jika situasi itu tidak terjadi, apa jawaban kamu?" Tanya Ben menatap lekat Nina.
"Itu nggak penting sekarang Ben." Jawab Nina setelah sempat diam sesaat."Kita memiliki pasangan masing-masing, yang harus kita jaga. Terlebih aku... Aku harus menjaga perasaan adikku yang sekarang sudah menjadi istri. Terlepas bagaimana kalian bisa menikah, tetap saja. Dila adalah istri mu yang sah secara agama."
Ben menatap Nina nanar.
"Aku tau..." Katanya, "tapi aku ingin tau jawabanmu Nin."
__ADS_1
Nina menghela nafasnya. "Aku menolak."
"Apa kamu katakan ini untuk menjaga perasaan lagi?"