Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
Bab 26


__ADS_3

"Maaf Zil, sebenarnya, Nina sudah di khitbah."


Tubuh Ozil serasa lemas seketika. Harapan yang sudah dia gantungkan tinggi tiba-tiba saja harus di hempas jatuh ke bumi.


'Aku bahkan sudah jatuh sebelum sempat terbang. Kenapa nasib cinta ku padanya setragis ini?' batin Ozil menatap wanita yang selama ini berada dalam setiap doanya.


Keadaan ini membuat Nina terdiam, hanya bunda nya lah yang masih bertutur.


"Bukan kami bermaksud untuk menolak. Tapi, memang semalam sudah ada keluarga yang datang melamar." Jelas Bunda.


Pak Bahdim dan Bu Ana juga tampak sedikit kecewa, namun itu tak terlalu kentara seperti mimik muka yang Ozil tunjukkan.


Mereka sangat bisa menerima bahkan masih tersenyum dengan ramah.


"Wah, sepertinya kami kalah start ini..." Kekeh bapak mencairkan suasana yang terasa sangat canggung.


"Sayang sekali ya Zil?" Ibu ana turut bersuara, sedikit menoleh pada Ozil yang bungkam. Lalu kembali melihat bunda.


MMM... Ngomong-ngomong orang mana yang semalam melamar Nina?"


Bunda tersenyum kecil, lega juga karena keluarga besan bisa menerima dengan baik walau terlihat kecewa. "Teman SMA Nina. Tinggal di Turi."


"Ooohh,, teman SMA. Apa yang kemarin ngajakin reuni ya Nin? Siapa itu namanya?" Tanya pak Bahdim mengingat-ingat.


"Ben Arfa." Lirih Ozil membuka suara yang edari tadi bungkam.


"Iya Ben, baru ingat bapak..."


Nina menatap gurat kecewa di wajah Ozil yang berusaha di kuasai.


"Loh, Ozil juga tau ternyata?"


Ozil berusaha mengangkat sudut bibirnya agar terlihat baik-baik saja walau sebenarnya hati sudah hancur.


"Mas Ben salah satu pelanggan Ozil bunda."


Bunda menautkan alis nya,


"Dia bisa pesan lele tempat saya." Jelas Ozil dengan suara yang sedikit bergetar, menahan rasa sesak yang menghimpit.


"Waah, sempit juga ya Jogja..." Ucap bunda menatap Nina dan Ozil bergantian.


"Nin, kalau nanti kamu sudah menikah, tetep bawa Zidan ke rumah ya?" Pinta Bu Ana, "ibuk nggak bisa kalau nggak ketemu Zidan. Seminggu sekali juga nggak apa Nin."


"Iya buk, nggak akan ada yang berubah." Ucap Nina lirih.


"Mbak Nina...." Sebut Ozil dengan wajah yang masih tampak sendu yang mengiba. Ozil menatap lekat Nina, Nina sempat bertemu pandang dengannya, namun langsung mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Mbak Nina... Apa..."


"Zil, ingat apa kata bapak tadi, apapun keputusan Nina, kamu harus terima dan iklas." Sela pak Bahdim yang sepertinya mengerti apa yang akan di ucapkan putranya.


Ucapan dari pak Bahdim membungkam Ozil. Kenyataannya semua tak semudah ucapan. Hati dan harapannya tetap perih dan hancur. Meski ia terus mencoba untuk iklas.


"Zidan mau mau jalan-jalan sama Om nggak?" Ucap Ozil menatap anak kakanya yang masih bermanja di pangkuannya.


"Mau!"


"Saya, pamit keluar sebentar ya, bunda...." Akhirnya, Ozil lebih memilih menghindar."Mbak Nina..."


"Iya, nggak apa Ozil, hati-hati dan jangan jauh-jauh." Pesan bunda merasa iba pada Ozil yang sangat terlihat kecewa. "Zidan jangan nakal ya nak." Berganti menatap cucunya.


"Iya nek."


Ozil dan Zidan pun pergi keluar, entah kemana. Nina menarik nafas dalam. Ibu dan bunda berbincang santai.


Nina masih menatap punggung Ozil yang terlihat menggandeng anaknya. Terbersit rasa iba, juga nyeri di hatinya melihat Ozil sesedih dan kecewa seperti itu.


Nina memang menganggap Ozil adiknya, hingga kini dan banyak nya hal yang telah mereka lalui, mungkinkah rasa itu tetap sama? Jika iya, harusnya rasa ini tak serumit sekarang. Ia bahkan tak tau apa yang Nina rasakan.


Dulu mungkin Nina ingin menjadi semangat Ozil untuk maju. Namun nyatanya, Ozil kini justru melamarnya.


Nina menatap kedua ayah dan ibu mantan suaminya, Ozan. Terlihat mereka juga menyembunyikan rasa sedih di balik senyum dan candaan yang terlontar. Juga kekecewaan di antara tawa dan doa mereka untuk Nina agar bahagia dengan calon suaminya nanti.


"Iya Nin. Susul aja." Ucap bunda dengan senyum tipis di wajahnya.


"Biarkan aja Nin, Ozil sudah biasa ngatasin Zidan. Bapak rasa dia butuh ruang untuk menata hati dan pikirannya." Ucap bapak lembut.


"Iya Nin. Kalau kamu kesana nanti dia malah makin nggak bisa buat iklas dan menerima." Timpal ibuk Ana.


Nina meremas tangan sendiri. Pikirannya entah ada di mana? Hatinya juga entah da di mana? Ia tak tau apa yang dia rasakan pada Ozil maupun pada Ben Arfa. Yang sangat Nina tau, di hatinya ada Ozan. Dan akan tetap sepeprti itu, namun, kenapa sekarang dia merasa ragu?


Nina berdiri. "Nina kebelakang dulu, bunda, pak, buk."


Ke tiga orang tua itu mengangguk dan mempersilahkan. Nina bergegas masuk lebih dalam. Nina sendiri tak paham dengan perasaanya saat ini. Nina mengambil gelas, mengisi dengan air putih dan meminumnya hingga habis. Lalu ia berjalan lewat belakang dan melewati samping rumah. Entah apa yang menuntunnya untuk menyusul Ozil dan Zidan.


Di kejauhan tampak Ozil sedang menggendong Zidan melihat arah sawah yang mulai menguning.


"Ozil!"


Ozil tak bergeming. Nina melangkah lebih dekat.


"Ozil!"


"Jangan kesini mbak."

__ADS_1


Nina menghentikan langkahnya tepat di belakang Ozil.


"Jangan ke sini mbak. Aku sedang menenangkan diri."


"Ozil..." Lirih Nina...


"Mbak dulu dah janji mau nunggu Ozil, kenapa sekarang malah..."


"Om Ozil kok nangis?" Suara Zidan mengusap pipi Ozil.


"Nggak papa Zidan, mata om cuma kemasukan nyamuk. Perih." Kilah Ozil lirik memaksakan senyum.


"Ibuk..." Zidan mwngulur tangan pada ibunya minta di gendong.


Setelah Zidaan berpindah gendongan ke Nina. Ozil berjalan sedikit menjauh. Rasa iba membuat Nina mengikuti. Ozil menoleh dan tersenyum pahit.


"Aku baik-baik aja mbak. Jangan kasihani aku. Aku hanya butuh waktu menata hati. Jika mbak mengikuti ku, aku makin nggak bisa iklas dan menerima." Ucap Ozil lalu melanjutkan langkahnya.


Nina mematung di tempatnya.


"Ibu.... Om Ozil marah?"


"Enggak sayang..." Lirih Nina dengan seutas senyum pada anaknya."ayo pulang."


Memang yang terbaik adalah membiarkan Ozil sendiri lebih dulu. Dia memang butuh ruang. Seperti dirinya. Nina juga butuh ruang.


Hari semakin siang, keluarga pak Bahdim berpamitan setelah Ozil kembali dengan wajah yang lebih segar meski tampak ada gurat sendu di wajahnya namun tetap tersenyum.


"Nak Ozil." Panggil bunda saat keluarga besannya itu hendak memasuki mobil yang di sewa.


"Nina memang sudah di khitbah dan nggak bisa menerima lamaran mu. Tapi, Nina masih belum memberi jawaban."


Ozil masih bungkam menunggu bunda menyelesaikan ucapnya.


"Dia meminta waktu seminggu untuk shalat istikharah..."


Ozil tersenyum penuh arti. "Terima kasih bunda, untuk harapan nya..."


"Semangat mas Ozil!" Seru dila di belakang bunda mengangkat tangannya.


Bunda ikut tersenyum,


"Tuh, Zil ! Nina belum menerima loh, kamu masih punya kesempatan. Pake jurus pamungkas mu." Pak Bahdim menimpali tak lupa senyum di wajahnya.


"Iya pak."


"Selama itu, bunda berharap kamu dan juga Ben untuk sementara tidak menghubungi Nina dulu, agar dia nggak bingung."

__ADS_1


__ADS_2