
"Mbak Nina mau subuhan?"
"Ini mau ambil wudhu." jawab Nina menyingsingkan lengannya lalu mulai berwudhu.
Yes, bisa jama'ahan nih batin Ozil berjalan mendahului. Begitu sampai di ruangan yang dikhususkan untuk sholat itu, Ozil segera memakai koko dan sarung, lalu memasang pecinya. Dia berkaca sebentar.
Udah ganteng! batinnya lagi. Ozil mengintip dibalik tirai yang menutupi ruangan itu, Nina sedang berjalan kearahnya.
Yeeesss!! Target udah mendekat. batin Ozil lagi. Gegas Ozil mengambil posisi diatas sajadah.
Tak lama tirai dibuka,
"Eehh, mbak Nina. Pas nih belum sholat aku. Jama'ah an yukk!" ajak Ozil dengan sedikit menoleh.
"Iya," Nina mengenakan mukenanya dan berdiri bersiap dibelakang Ozil.
Setelah selesai melaksanakan dua roka'at nya, kedua insan itu tenggelam dalam zikir dan Do'a nya.
Ozil menengok. Nina masih terlihat duduk dibelakang.
Huuuff, tenang Ozil, latian dulu. Mbak aku doa mbak nina yang aminin ya.
Nggak! masa kayak gitu sih. Mbak ayo doa bareng. Heeeiiiisss, salah.
Mbak aminin doa ku ya? Ini bagus, tapi masak gini sih. duuuhh gimana? kayaknya bagusan yang pertama deh.
Mbak, aku yang doa, mbak Nina yang aminin ya. Yes, pake yang ini aja. Mbak Aku yang doa mbak Nina yang aminin ya.
Oke! yakk. Ozil memiringkan tubuhnya, dan menoleh,
"Mbak....." Ucapan Ozil terpotong air muka nya pun berubah masam melihat Nina sudah melipat mukenanya."Yaaahhh... Mbak Nina kok udah lipat mukena aja sih?"
"Lah, kenapa emang?" tanya Nina melanjutkan lipatannya.
Huuuuhhh,, kelamaan mikir ma latian malah keduluan mbak Nina lipat mukena... Hiks.
Nina berjalan keluar dari ruang sholat.
Nggak boleh jadi nih, kayaknya aku masih kurang getol deketin mbak Nina. Semangat Ozil!!
Ozil menyemangati diri sendiri dengan menekuk sikunya dan mengepalkan tangannya.
Pukul Lima tiga puluh menit. Langit sudah terlihat terang, dengan sembut warna kekuningan di ujung timur, cahayanya melewati disela sela dedauan dan batang pohon jatuh di bumi tercinta dimana Nina tengah menyapu halaman rumah.
Ozil mengeluarkan motornya,memasang selang pada kran yang ada didepan rumah, lalu mulai mencuci motor dengan sabun.
"Pagi pagi napa nyuci motor Oz?"Tanya Nina heran, melihat air dari cuci motor Ozil mengalir sampai tempat Nina berdiri menyapu. Jujur saja itu mengganggu. Daun daun yang berguguran jadi basah dan lengket pada tanah yang dia sapu.
"Ya. biar bersih mbak."
__ADS_1
"Sore kan bisa. Ngapain pagi juga." Nina kembali menyapu walau hati menggerutu.
"Kalau nyuci pagi sebelum sekolah, pas sampai sekolah motor bersih dan cantik. Ditambah penunggangnya ganteng kek gini kan, pasti banyak yang nglirik mbak." celoteh Ozil mulai narsis.
Nina memutar matanya malas.
"Nglirik doang sampai juling."
"Hahahha... Mereka yang juling mbak."kekeh Ozil."Nglirikan cowok ganteng kek aku nih."
"Hiiiiisssss...." desis Nina kesal menyapu daun yang menempel ditanah basah oleh kucuran air dari motor Ozil.
"Eeehh,, mbak Nina nggak usah kesel lah, walau banyak yang nglirik, cinta Ozil tetep buat Embak Nina kok." Celetuk Ozil mendengar Nina mendesis.
"Hiiiiisssshhh.... Ge'er."
"Tuh kan mbak Nina kesel lagi."
"Aku kesel gara-gara itu, aliran cucian motor kamu nih, daun-daunnya jadi susah disapu!"gerutu Nina menunjuk Ozil dengan sapu yang dia pegang.
"Iihh, slow aja lah mbak. Namanya juga air, mengalir. Sama kayak cintaku ini mbak, dari sini mengalir ke Embak.." ucap Ozil memainkan alisnya.
"Beeeeeehhh..." wajah Nina berekspresi mau muntah.
"Dasar bocah."gumamnya. Nina melanjutkan menyapunya walau ada kesel-keselnya juga dengan daun yang susah disapu itu.
Setelah selesai dengan olah raga pagi, yaitu menyapu halaman yang lumayan menguras keringat itu. Nina beralih ke dapur meminum seteguk air sejuk dari gentong.
"Sarapan nasgor aja buk? bikin goreng-goreng nggak??" tanya Nina mendekat.
"Udah kelar semua Nin." ucap Ibuk menyelesaikan perpindahannya."Kamu siap-siap aja buat berangkat ntar."lanjut Ibuk berjalan ke ruang makan.
"Iya." Nina menyetujui.
Seusai bersih-bersih dan mandi Nina kembali melongok kamar, Zidan masih pulas saja.
Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit dan Ozil masih dirumah.
"Kamu jam segini kok masih masih dirumah Ozil?"tegur bapak."Buruan sana! nanti telat lagi. Ujian kan?"
"Iya pak. Bentar! masih make sepatu." sahut Ozil begitu selesai memakai sepatu menyalami bapak dan ibu.
"Doain Ozil biar lancar ya ujian nanti." serunya menstater motornya.
"Iya udah. Telat loh!" balas ibu berseru.
###
Pukul 10.30
__ADS_1
Sebuah mobil inova hitam berhenti di halaman rumah pak Bahdim. tak lama seorang pria muda muncul dari sana.
"Assalammualaikum" sapanya.
"Waalaikum salam." jawab bapak dan ibuk serentak.
"Saya Kedira pak. tetangga Nina." ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Wah. namanya sama kayak anakku nih."seloroh bapak.
"hehehe.."
"Udah sampai kamu Ked?" seru Nina yang baru saja keluar dari rumah.
"Iya, duduk dulu. Kubikinin minum ya."tawar Nina,
"Nggak usah Nin, ini ada janji sama orang, searah juga kok."
"Oohh gitu. bentar ya."
Setelah berbasa basi dengan bapak dan ibu, juga Nina memasukkan barang bawaan nya ke kemobil. Akhirnya, Nina pamit juga meninggalkan rumah Bahdim.
Tepat pukul sebelas siang, mobil inova itu keluar dari halaman kediaman Bahdim. Melewati sosok yang mematung dipinggir jalan masuk ke halaman. Ozil terdiam diatas motor matiknya, menatap mobil hitam itu membawa Nina pergi.
Bocah itu baru saja pulang, setelah secepat kilat menyelesaikan ujiannya. Namun begitu sampai di jalan menuju rumah, Ozil malah melihat Nina dijemput oleh pria yang tidak dia kenal. Hingga dia menghentikan motornya. Menatap mobil yang bergerak dan melewatinya begitu saja.
Mbak Nina....... dalam hati Ozil
Nina pun sekilas melihat Ozil yang terdiam dipinggir jalan, namun dia hanya sedikit abai. Tanpa meminta Kedira berhenti sejenak, sekedar untuk berpamitan.
Sudahlah, toh aku masih akan kesini lagi... batin Nina.
***Jika aku bukan jalanmu
kuberhenti mengharapkanmu
jika aku memang tercipta untukmu
Kukan memilikimu
Jodoh pasti bertemu***...
___€€€___
readers kuh mau kasih semangat donk biar Othor semangat Nulis.
like dan komen
makasih
__ADS_1
salam____
😊