Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 29


__ADS_3

Di malam berikutnya, Nina bermimpi lagi. Ia dan Ozan berjalan di suatu tempat yang Nina tak tau dimana. Tempat itu penuh dengan bunga yang indah, anginnya sepoi-sepoi membelai kulit. Nina tersenyum bahagia menatap sang suami.


Lalu Ozan berhenti menghadap istrinya.


"Mas harus pergi. Titip Zidan ya."


"Mas mau pergi kemana?" Nina cemas dan khawatir, tak rela rasanya di tinggalkan oleh suaminya. Menatap mata Ozan dengan penuh pengharapan agar dia tinggal.


Ozan mengulas senyumnya.


"Mas harus pergi Nin, janji kamu harus bahagia. Dan jaga Zidan untukku."


Ozan mengecup kening Nina. Lalu mulai melangkahkan kakinya. Tangan yang semula bertaut mulai merenggang dan terlepas.


"Mas! Jangan pergi mas." Nina mengejar. Mempercepat langkahnya mengikis jarak. Namun, semakin ia melangkah, semakin jauh punggung suaminya yang bahkan tak menoleh padanya.


"Mas! Tunggu! Jangan tinggalin kami mas. Mas Ozan!" Nina terjatuh dan menangis tersedu. "Mas Ozan!"


Tubuh Ozan semakin jauh dari pandangan. Nina masih terus terisak di atas tanah yang tertutup rumput hijau memeluk kakinya.


"Mbak Nina."


Nina menoleh pada suara yang menyebut namanya. Wajah Zidan yang polos dan ceria membuat Nina menghapus air matanya. Memeluk tubuh mungil itu. Netra Nina tertuju pada pria yang berdiri beberapa hasta di belakang Zidan. Tersenyum kepadanya.


"Jangan menangis mbak."


Nina membuka mata.


"Apa ini? Kenapa Ozil ada di akhir mimpiku?"


Nina tak ingin memikirkan nya. Ia memilih melaksanakan dua rakaat nya malam itu.


Nina tenggelam dalam zikirnya, hingga tiba-tiba terlintas. Dalam setiap mimpinya saat ia bersama Ozan. Ada Zidan dan seseorang yang memakai baju putih. Namun sosok itu tak dapat Nina lihat dengan jelas wajahnya. Hingga saat Ozil muncul di belakang Zidan dengan baju putihnya tersenyum.


Hari ini harus nya Nina memberi jawaban untuk Ben.


"Sepertinya, aku sudah dapat jawabannya." Nina tersenyum dengan mata berkaca.


.


.

__ADS_1


.


"Ya ampun, kenapa aku harus mengantarmu ke Dieng? Mana dingin lagi." Dila menggerutu pada salah satu teman kuliahnya.


"Maaff... Kamu tau kan, ini adalah debut ku. Lagian kan kamu juga lagi senggang dan tidak masuk kerja. Nanti aku traktir makan selama seminggu. Oke?"


Dila menghela nafasnya. Ia memang tak bisa mengelak jika Fina sudah merayunya dengan makanan.


Pasalnya, Fina bermaksud untuk ikut menjadi salah atu talent di sebuah filem yang berlokasi di Dieng. Namun, karena suatu alasan. Fina teman Dila itu terlambat dan tertinggal rombongan.


Terpaksa ia meminta Dila mengantarnya ke Dieng. Hari itu sebenarnya masih masuk petang. Dan mereka sudah sampai di lokasi syuting. Dila menunggu Fina dan ikut ke sebuah penginapan di atas bukit.


"Ya ampun, dingin banget sih." Gumam Dila memeluk tubuhnya. Menunggu Fina di penginapan.


Ring ring


Dila mengambil hp nya di saku celana. Panggilan dari Fina.


"Ada apa?"


("Dil, kami kekurangan talent nih, kamu join ya?")


"Ogah ah, nggak ngerti aku." Tolak Dila.


"Fina...!!" Geram Dila mencengkram erat hp nya karena Fina sudah memutuskan sambungan telpon lebih dulu.


Dila mengatur nafasnya, lalu berjalan dengan menahan dingin. Ia memang tak menyangka Dieng akan sedingin ini, hingga dia tak memakai baju lebih tebal.


Sesampainya di sana. Fila langsung memberinya baju.


"Ganti pake ini ya?"


"Ihh, baju apaan nih?" Dila menjembereng baju dengan motif polkadot berwarna kuning dan merah. " Nggak mau ah, norak gini." Dila menolak dan melemparkannya pada sang Sahabat.


"Udah pake aja. Ntar ada fee nya. Santai aja lah Dil, nggak akan ketahuan kok." Bujuk Fina.


Akhirnya, Dila pakai juga dan ikut menjadi salah satu figuran. Hingga syuting usai. Dila mencari Fina, namun masih tak bisa menemukan nya.


"Duh, gimana ini ganti nya? Gumam Dila merasa risih mengaruk kelapanya yang tidak gatal. "Sudah ah, ke toilet aja."


Sayang, toilet saat itu sedang penuh dan antri karena banyaknya talent. Akhirnya Dila berjalan mengitari lokasi. Mencari tempat yang mungkin bisa dia pakai untuk berganti baju.

__ADS_1


Mata Dila tertuju pada satu bangunan gudang yang sedikit terpisah. Dila berjalan ke sana.


"Di sini sepi, dan tertutup juga. Ganti sini ajalah." Gumamnya lalu masuk kedalam gudang. Lalu mulai melepaskan pakaian setelah memastikan tak ada orang di sana.


Dila sudah mengganti sebagian pakaian, hanya tinggal memakai kaus luar.


"Astaghfirullah."


Suara seorang pria mengejutkan nya. Dila mengangkat kepalanya, lelaki di depannya itu sepertinya terlalu kaget sampai terantuk sesuatu hingga tubuhnya condong dan mendarat tepat di tubuhnya.


Dila terkejut sampai ikut terjatuh. Wajah pria itu terbenam diantara kedua buah dadanya yang saat itu hanya memakai sport bra.


"Waaaa...."


"Ternyata kalian yang selama ini mesum di sini?" Suara seorang dari pintu gudang yang terbuka.


Di rumah Nina.


Keluarga Ben Arfa sudah datang berkunjung. Bunda menyambut mereka dengan senyum ramah.


"Maaf ya jeng, Ben sedang dalam perjalanan jadi nggak bareng sama kami."


"Enggak apa, Bu. Silahkan masuk." Ucap bunda maklum mempersilahkan dengan tangannya.


Nina keluar dari dalam dengan menyibak gorden pembatas membawa beberapa cangkir teh diatas nampan.


"Silahkan di minum dulu Tante, om." Ucap Nina setelah meletakkan cangkir di meja.


"Makasih ya Nin." Ucap mama Ben dengan senyum lalu menyeruput tehnya.


Selama beberapa saat bunda dan keluarga Ben berbincang, hingga dering hp milik mama menjerit-jerit.


"Saya terima telpon dulu ya jeng." Mama Ben meminta ijin.


"Silahkan."


"Ben, udah sampai mana?"


Terdiam sesaat


"Apa? Kok bisa?" Mama memekik tak percaya. Wajahnya berubah jadi sangat tegang dan cemas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2