Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 48


__ADS_3

Ben menatap Nina nanar.


"Aku tau..." Katanya, "tapi aku ingin tau jawabanmu Nin."


Nina menghela nafasnya. "Aku menolak."


"Apa kamu katakan ini untuk menjaga perasaan lagi?"


"Tidak. Aku memang menolak. Aku sudah dapatkan jawabannya setelah melakukan istikharah. Dan aku memang bermaksud untuk tidak menerima lamaran mu." Tegas Nina agar semua terang bagi Ben dan tidak mengharapkan diri nya yang akan menyakiti Dila.


****


"Pulanglah, Dil. Suami dan mertuamu udah menjemput. Bunda juga sudah nggak apa-apa."


Dila menggeleng. "Nggak mau! Dila mau nemenin bunda."


"Jangan begitu. Ada Nina di sini. Nanti juga Ozil dan Zidan kemari. Bunda nggak sendiri." Bujuk bunda Anggi mengusap punggung Dila yang memeluknya.


"Nggak mau bunda. Tinggal bunda seorang yang dila punya. Ayah sudah pergi. Dila mau tinggal di sini."


"Ngak bisa gitu dong. Ada nak Ben suamimu."


Dila menggeleng. "Dila mau di sini bunda. Kalau dia nggak suka, dia boleh menceraikan Dila. Lagi pula kami...."


"DILA!" Sentak bunda meninggi.


Dila menunduk, matanya yang berair seketika meluruh mendengar bunda membentak dirinya untuk pertama kali.


Wajah mama sempat berubah terkejut mendengar ucapan Dila. Dan sedikit menoleh pada Ben dengan pandang yang entah apa.


"Nggak apa jeng. Dila masih kangen sama jeng Anggi. Biar Dila di sini dulu. Kami kemari hanya untuk menjenguk." Ucap mama dengan ramah dan tersenyum.


"Ya udah, saya pulang dulu ya jeng."


"Maaf kan ucapan Dila ya jeng. Dia masih anak-anak, jadi masih labil." Ucap bunda tak enak hati.


"Nggak pa." Mama mengelus kepala Dila sayang."mama pulang dulu ya nak. Nanti mama kesini lagi."


Dila mengangguk pelan dan mencium tangan mama.


***


Dalam perjalanan pulang, mama dan Ben Arfa terdiam. Rasa tak nyaman Ben rasakan, karena sang mama bahkan mendiamkannya sekarang. Padahal wanita sangat cerewet biasanya. Ben yakin ini semua tak lain karena Dila mengucapkan kata cerai tadi.


"Ma..."


"Maafkan mama Ben." Potong mama tanpa melihat anaknya yang sedang menyetir. "Mama nggak mikirin perasaan kalian. Mama terlalu senang karena akhirnya mama punya mantu. Mama terlalu menjunjung tinggi sebuah kesakralan pernikahan. Hingga hanya boleh sekali seumur hidup menikah.

__ADS_1


Tanpa memikirkan kalian yang mungkin tertekan oleh pernikahan ini. Mama pikir, kalian akan bahagia setelah terbiasa. Apalagi, mama lihat Dila gadis yang baik dari keluarga yang baik juga."


Ucapan sang mama membungkam Ben Arfa dan membuat pria itu berpikir. Akan kemana ujung pernikahannya dengan Dila?


***


Dalam sebuah mobil yang melaju, Ben dan Dila hanya terdiam dalam kecanggungan. Tak ada yang mulai membuka suara.


"Mas Ben. Kita mau ke mana?" Tanya Dila akhirnya, karena tak tahan dengan rasa penasarannya. Tadi saat di rumah, setelah tiga hari lamanya sejak Ben dan mama berkunjung. Ben datang dan meminta ijin untuk membawa Dila fiting baju. Dan bunda mengijinkan meski Dila merasa sangat keberatan dan ragu.


"Kan udah ku bilang fitting baju." Jawab Ben tanpa melihat ke arah Dila.


"Fitting baju untuk apa?"


"Menurutmu?" Ben malah balik bertanya.


"Nggak tau. Kita kan nggak ada acara apapun." Jawab Dila setaunya, karena memang ia tak tau. Mengingat Ben belum melamar secara resmi dan belum mendaftarkan pernikahan siri mereka.


Sejenak kedua nya terdiam.


"Dua hari lagi aku akan datang ke rumah sama mama dan papa, untuk membahas pernikahan kita nanti." Ucap Ben.


Dila mengubah posisi duduknya menatap Ben Arfa.


"Kita fitting baju pengantin. Mama ingin acara kita nanti di gelar dua Minggu setelahnya." Lanjut Ben tanpa mengurangi fokus nya ke depan.


"Mama ingin?" Dila mengulangi. "Jadi ini keinginan mama?"


"Mas, kita... Kenapa kita mesti melanjutkan pernikahan ini? Mas Ben masih cinta kan sama mbak Nina?"


"Masih." Jawab Ben cepat tanpa ragu, tentu itu membuat dada Dila serasa di sesaki.


"Kalau begitu, kenapa mas Ben masih mau menikah dengan ku?" Tanya Dila dengan mata yang terasa panas. Walau sesungguhnya ia juga dalam kondisi terpaksa menikah dengan Ben. Namun, tetap saja menyadari sang suami masih mencintai kakaknya sendiri. Hati nya teriris.


Cukup lama Ben terdiam tanpa menjawab, hanya suara tarikan nafasnya yang terdengar. Dila masih menatap Ben, menunggu jawaban dari suaminya untuk menentukan langkahnya ke depan. Sesungguhnya, Dila juga tak menginginkan pernikahan tanpa cinta ini. Tapi, jika Ben ada sedikit saja rasa untuk nya, mungkin Dila mau mencoba bertahan


"Nikah bukan main-main Dila." Lirih Ben Arfa tanpa menoleh pada sang istri yang sudah tampak menggenangi netranya dengan butiran bening.


Dila menatap Ben lagi.


"Apa yang sudah di ucapkan pada hal sakral itu. Tak bisa di tarik lagi, ila. Apa kamu pikir aku menyetujui menjadi suami tanpa berpikir?"


Dila masih bungkam, walau ada secuil rasa di hatinya yang mulai membunga.


"Mungkin ini adalah jawaban di setiap doa-doa ku. Nina bukan untuk ku. Kenapa aku masih harus terpaku pada satu wanita yang tak akan bisa aku miliki? Dan mengabaikan wanita yang jelas sudah halal untukku?"


Ben sedikit melirik Dila dari ekor matanya, istrinya itu masih menatap padanya walau kadang mengalihkan pandangannya ke tempat lain karena merasa canggung.

__ADS_1


"Kamu tau nggak apa salah mu?" Tanya Ben Arfa lagi.


"Salah? Maksud mas?"


"Kamu nggak tau kalau kamu salah?"


Dila membisu. Lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Melihat lalu lalang kendaraan yang memadati jalanan.


"Pergi tanpa izin suamimu." Ucap Ben. "Meskipun itu untuk kembali ke rumah bunda yang sedang sakit sekalipun. Kamu tetap harus ijin padaku. Apa kamu mengerti."


"Kita memang belum sah di mata hukum. Tapi, kita sudah sah di mata agama. Jadi, sudah sepatutnya, kamu mengikuti apapun yang aku katakan, karena aku imammu sekarang." Jelas Ben menghentikan mobilnya di pelataran sebuah butik.


"Maaf..." Dila menunduk dalam mengakui kesalahannya.


"Dan salah mu yang kedua, kamu mengucapkan kata cerai di depan bunda dan mama."


Seketika Dila mengangkat wajahnya.


"Tanpa berdiskusi dulu padaku."


"Maaf..." Lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulut dila menatap netra Ben.


"Keluar! Kita fitting baju."


Ben mendorong pintu sebelah nya. Lalu keluar sedangkan Dila masih tak bergeming. Memaksa Ben membuka pintu samping Dila.


"Ayo." Tangan Ben mengambang.


Dila hanya menatapnya saja. "Mas Ben yakin mau meneruskan pernikahan ini?"


"Kamu nggak yakin?"Ben balik bertanya. Dila diam tak yakin dengan dirinya sendiri.


"Setidaknya aku sudah melakukan kewajiban ku. Aku juga sudah memberimu nafkah sesuai anjuran. Meski untuk nafkah batin aku belum bisa apa-apa."


Dila menatap Ben, lalu mengerjab.


"Tunggu, mas ngasih aku nafkah? Kapan? Aku merasa nggak pernah menerimanya."


Ben mengulas senyum hingga membuat Dila berdebar.


"Cek saldo kamu."


"Cek saldo?" Dila bingung. Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri."Di sini, nggak ada ATM."


"Makanya pake m-banking. Jadi tau." Ucap Ben membuka hp nya lalu mulai mengecek riwayat transaksi.


"Ini." Ucap Ben lagi menunjukkan transaksi ke nomor rekening Dila.

__ADS_1


Dila menutup mulutnya yang terbuka lebar melihat nominal yang Ben kirim.


"Aku juga sudah membayar kuliahmu." Lanjut Ben Arfa tersenyum kecil."sekarang, keluar jika masih ingin melanjutkan pernikahan ini."


__ADS_2