
Satu bab menuju end
Hari ini hujan cukup lebat, Ozil was-was dan khawatir semoga lele nya baik-baik saja dan tidak masuk angin karena kelamaan berendam dan ke hujanan. Eehehehe, enggak sih, Othor bercanda. Maksudnya, Ozil khawatir jika sampai kolam nya membludak karena curah hujan yang cukup tinggi dan awet.
"Mau kemana Oz?" Tanya Nina melihat ozil sudah mengenakan mantel hujan.
"Mau lihat kolam mbak. Ini hujannya nggak berhenti soal nya dari tadi. Takut aja membludak airnya dan lele pada kabur." Ucap Ozil menerangkan maksud kepergiannya siang itu.
"Hati-hati ya Ozil. Moga semua nggak apa-apa dan hujannya cepet reda." Ucap Nina tetap merasa cemas melepas Ozil pergi di tengah hujan lebat ini.
"Iya mbak, amin. Pergi dulu ya mbak." Pamit Ozil berbalik namun lengannya tertahan oleh gengaman tangan Nina. Ozil menoleh menatap wajah istrinya yang cemas. lalu ia mengulas senyum.
Ozil mendekat menangkup wajah Nina dan mencium pipinya. lalu memaksa Nina menjabat tangan dan menempelkan tangannya di wajah Nina.
"Pergi dulu ya mbak. jangan buat langkah ku mencari Rizki buat mu dan Zidan berat." ucap nya penuh arti.
Nina menatap kepergian Ozil yang dengan motornya. Ada rasa tak rela dan kecemasan yang berlebihan yang Nina rasakan. Hujan mengingatkan nya pada beberapa hal. Kelahiran Zidan dan kematian Ozan.
"Tolong, pulanglah dengan selamat. Jangan tinggalkan aku seperti kakakmu." Gumam Nina dengan dada yang bergemuruh.
Ozil tiba di kolam nya, air kolam memang belum terlalu tinggi. Namun jika terus mendapat debit air hujan yang konsisten dengan intensitas seperti ini, bisa di pastikan kolamnya membludak dan ikannya bakal lepas.
Sebelum itu terjadi, Ozil harus mengurangi kemungkinan merugi. Dengan dua orang pekerjanya yang tinggal di area kolam. Ozil menutup kolam dengan jaring agar jika air benar-benar membludak, ikan-ikan nya tidak ikut keluar.
"Gimana mas?"
"Udah mas Ozil. Insya Allah aman. Semoga hujan segera cepat reda." Ucap pekerjanya selepas mereka menutup kolam dengan jaring.
"Aku ikut mantau sini aja mas sampai benar-benar reda." putus Ozil menatap kolam-kolam nya.
"Iya mas nggak papa. Ngopi-ngopi dulu yok biar anget." ajak pekerjanya.
"Iya mas. Pas banget nih." Balas Ozil.
__ADS_1
"ada rokok juga mas, nglinting tapi, hahaha..."
****
Sudah hampir sore, Ozil belum juga kembali. Ditambah hujan tak kunjung mereda. Nina makin gelisah, apalagi, ponsel ozil di tinggal begitu saja di rumah. Mau menghubungi siapa dia tak tau. nomor pekerja Ozil pun Nina tak punya.
"Udah, tenang Nina. Nanti juga Ozil balik kok. Nggak usah mondar-mandir seperti itu." Kata Bu Ana menatap menantu nya yang gelisah sedari tadi keluar masuk rumah.
"Iya buk." Nina akhirnya duduk di teras demi menghormati ibu mertuanya. Namun, tak mengurangi kegelisahan dirinya. Bayangan Ozan yang merenggang nyawa di tengah hujan bersama dengan dirinya yang bertaruh nyawa melahirkan Zidan membuat Nina tak karuan. Ia tak mau mengalami kedua kalinya dengan Ozil.
"Pak," panggil Bu Ana dari ruang tamu.
"Iya buk," sahut pak Bahdim keluar dari kamarnya.
"Itu lihat anakmu, dari tadi gelisah terus melihat keluar rumah." Ucap Bu ana menunjuk Nina."Nungguin Ozil di kolam."
"Tenang nin, nanti juga Ozil balik. Jangan lupa di bikinin minum hangat terus kelon di kamar." Bapak terkikik.
Nina pun terpaksa mengulas senyumnya juga walau hati terus gelisah. Perasaan yang sama saat dulu Ozan meninggalkan nya.
"Iya pak."
"Ya udah, biar nggak ngelamun dan gelisah gitu, coba kamu bikin-bikin gorengan biar nanti pas Ozil pulang ada anget-anget yang bisa di makan." Saran ibuk menimpali.
"Iya buk." Nina beranjak dari teras depan dengan perasaan tak tenang. Matanya masih melihat di jalan menuju halaman rumah pak Bahdim berharap Ozil muncul di sana. Namun hanya ada kehampaan dan rintikan air hujan yang turun tiada henti.
Seperti anjuran ibuk. Nina menyibukkan diri membuat gorengan walau hatinya masih merasa tak tenang dan khawatir. Ia terus saja gelisah walau kini lebih samar.
Ibuk pun ikut memotong satu papan tempe untuk di jadikan mendoan. Sesekali ibuk bercerita yang membuat Nina sedikit tertawa. Ibu Ana tau, Nina pasti merasa gelisah karena mengingat akan Ozan dulu.
"Nin, ini bandengnya ikut di goreng aja ya." Kata Bu ana meletakkan bandeng di samping Nina menggoreng.
"Uuuwwweeekkk....." Nina menutup mulutnya menahan agar perutnya yang tiba-tiba bergejolak itu tak memuntahkan.
__ADS_1
"Nin?" Bu ana mengernyit. Lalu menjauhkan lagi bandengnya dari samping Nina. Dan mencuci tangan, lalu mendekat lagi pada Nina yang tengah menggoreng tahu isi.
"Jangan-jangan kamu isi." Bu Ana menerka-nerka.
"Buk." Panggil pak Bahdim dari ambang pintu dapur dan ruang tengah. Ibu Ana menoleh, tangan pak Bahdim melambai memanggil istrinya.
Bu ana menatap sebentar Nina, lalu berjalan pelan ke arah sang suami.
"Ada apa pak."
"Buk, bapak pergi dulu ya. Ini ada laporan warga, tanggul di sungai jebol. Jadi bapak harus ikut ke sana bantu-bantu." Bisik pak Bahdim agar Nina tak mendengar dan menambah cemas menantunya. Karena aliran sungai tak jauh dari tempat Ozil beternak lele.
"Innalilahi, ya Alloh pak. Semoga nggak ada hal buruk terjadi ya. Takut ibuk kalau banjir lagi sampai kayak dulu." Cemas Bu Ana mengingat di beberapa tahun lalu sempat banjir hingga menghanyutkan jembatan.
"Iya, bapak berangkat dulu. Doa kan ya buk, semoga semua nggak jadi lebih buruk."
"Iya pak, ibuk selalu berdoa. Bapak yang hati-hati. Kalau sempat lihat keadaan Ozil ya pak." Pesan ibuk yang ikut khawatir dan cemas.
"Ada apa buk? Tanggul jebol?" Tanya Nina yang tampak semakin cemas begitu ibu Ana mendekat lagi setelah bapak pergi.
"Kamu dengar?"
Wajah Nina berubah pias. Hatinya bergemuruh hebat, makin tak tenang dan gelisah.
Nina mematikan kompor.
"Nina susul Ozil ya buk." Ucap Nina tak bisa lagi menutupi kegelisahan dan kecemasan nya. Ia harus memastikan suaminya itu tak bernasip sama dengan Ozan. Sedih rasanya jika sampai harus kehilangan suami untuk kedua kalinya.
"Nggak usah nin."cegah Bu menahan lengan Nina.
"Tapi buk." Air mata Nina mengalir deras, ia sudah tak sanggup lagi jika hanya diam menunggu dalam kegelisahan seperti ini.
"Kita berdoa saja, ingat ada Zidan. Kamu tega ninggalin ibuk sama Zidan. Ozil itu laki-laki Nin. Ada bapak juga yang akan melihat keadaan. Jangan nambah rasa cemas ibuk karena semua pergi." Ucap ibuk yang ikut menangis.
__ADS_1
"tapi maut nggak memilih laki-laki atau perempuan buk..." tangis Nina, "mass Ozan..." bahu Nina berguncang hebat mengingat mantan suaminya yang meninggal di tengah hujan.
" Kita berdoa saja ya? Temenin ibuk." Mohon ibu ana menatap Nina yang sudah sembab.