
End part
Nina terus berdoa di tengah rasa cemas yang melanda. Langit masih setia menjatuhkan butiran bening ke bumi. Hawa dingin tak Nina rasakan, biarlah angin memeluk nya yang diliputi kemelut kegelisahan.
Nina masih terus gelisah menatap rintikan hujan. Tiba-tiba saja kakinya terasa basah tersentuh air. Nina tersadar dari lamunannya. Melihat ke arah kaki, air sudah merendam sampai semata kaki.
Dengan cepat Nina berdiri. Jantung nya berdetak kencang dan tubuhnya lemas.
"Banjir!"
Nina bergegas masuk dan keluar sembari menggendong Zidan. Bu Ana pun tergopoh-gopoh di belakangnya.
"Tanggul jebol, sungai meluap. Segera mengungsi!" Teriak salah satu warga yang panik. Tampak banyak warga yang berhuyun-huyun menyelematkan diri di tengah guyuran hujan.
"Kita kemana buk?" Wajah Nina sudah basah oleh air mata.
"Ikuti orang-orang itu aja Nin, mereka pasti sedamg menuju ke pengungsian." Ucap ibu membuka payung untuk menaungi mereka bertiga.
"Sebelum air semakin tinggi kita harus ke tempat yang lebih tinggi dan tidak terjamah air."
Di tengah hujan yang masih mengguyur tanpa henti, dan air yang semakin tinggi dengan cepat Nina, ibuk dan beberapa warga berhuyun mencari tempat tinggi.
Kepanikan, kecemasan, dan suasana yang mencekam, anak-anak terdengar menangis dan ibu-ibu yang terus bersuara dengan di iringi istighfar makin santer terdengar.
Zidan terbangun, dan terlihat bingung. Nina berusaha menenangkannya di tengah suasana yang panik itu.
Malam itu, hujan sudah menyusut. Rintikan airnya mulai berjarak dan tak selebat sebelumnya. Nina memeluk Zidan agar bocah itu tenang. Di dalam tenda pengungsi yang berdiri di sebuah lapangan, Nina berada bersama beberapa pengungsi lainnya.
"Makan dulu Nin." Bu ana menyodorkan dua mangkuk mie instan yang masih mengepul uap panasnya.
Selama di barak, Bu Ana ikut memasak bersama ibu-ibu yang lainnya.
"Nina nggak usah buk. Buat yang lain aja, Nina ambil punya Zidan aja." Ucap Nina mengambil semangkuk mie. Lalu menatap anak lelakinya.
"Zidan makan ya?" Ucap Nina dengan suara parau. Zidan mengangguk.
"Om Ozil mana?"
Air mata Nina tumpah, ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa gelisah dan cemas yang membuncah di dadanya.
"Ibu...." Lirih Zidan terdengar sedih.
"Makan ya sayang." Parau Nina mengusap air matanya.
"Kamu juga makan Nin. Ozil pasti baik-baik saja. Makan ya nak. Hujannya sudah reda, besok kalau airnya sudah surut, kita ikut cari. Sekarang kita di sini saja."
Nina masih menangis, terpisah dari suaminya membuat hati Nina rapuh. Ia pernah kehilangan dan kini ia mungkin kehilangan lagi.
Malam itu, Nina bahkan tak bisa tidur nyenyak. Suara jangkrik dan kodok terdengar. Dengingan nyamuk beterbangan di telinga nya. Pikiran Nina masih tak jauh dari Ozil. Dalam hatinya, Nina terus berdoa, semoga suaminya selalu dalam lindungan-Nya. Selamat dan mereka di pertemukan segera.
Keesokan paginya.
Nina yang walaupun masih sangat bersedih dan cemas akan nasip suaminya yang masih belum ia temui sejak kemarin siang. Pagi ini ikut memasak ibuk-ibuk di dapur umum. Zidan ia tinggalkan di tenda karena masih tidur.
"Buk, biar Nina aja yang ke dapur umum. Ibuk temani Zidan biar nanti kalau bangun nggak bingung. Ibuk pasti capek dari kemarin sibuk di dapur umum." Ucap Nina lirih.
"Kamu yakin, sudah baik-baik saja?" Tanya ibu ana menatap wajah Nina yang semakin sembab sejak semalam. Nina mengangguk samar.
"Ibuk istirahat saja. Nina pergi dulu ya buk."
Ibuk ana menatap punggung Nina yang mulai menjauh.
"Syukurlah jika Nina sudah jauh lebih tegar sekarang." Gumam Bu Ana.
***
Siang itu, hujan mulai mengguyur lagi, walau tidak selebat kemarin. Nina yang awalnya hendak melihat keadaan rumah dan mencari Ozil mengurungkan niatnya.
"Ya Alloh, tolong lindungi suamiku dimanapun dia berada."
__ADS_1
Mata Nina basah lagi.
Malam harinya,
"Nin, Nin!" Panggil Bu Ana tergopoh-gopoh mendekati Nina yang sedang mencuci bekas masak malam itu.
Nina menatap Bu ana yang datang seorang diri. "Kemana Zidan?" Gumam Nina dalam hati.
"Nin, bapak datang! Bapak selamat Nin."
Rasa lega hadir di sudut hatinya, Nina berdiri dan berpamitan sebentar pada para ibu-ibu yang juga sedang mencuci alat masak. Mereka ikut merasa haru mendengar ada anggota lain yang selamat.
Nina berjalan mengikuti Bu Ana. Rasa senang, mengiringi langkah kakinya. Berharap Ozil juga ada bersama bapak.
"Ozil juga buk?" Tanya Nina terus melangkah cepat.
Bu Ana menoleh dengan wajah sedih. Lalu mengusap lengan menantu nya itu.
"Pak." Nina menyalami dan mencium tangan pak Bahdim.
"Syukurlah kalau kamu juga selamat Nin."
"Ozil mana pak? Enggak sama bapak?" Tanya Nina, matanya berkelana mencari sosok yang dia rindui dan cemaskan itu.
"Ozil...."
Nina menunggu dengan harapan dan rasa cemas. Tubuhnya terasa lemas.
"Hujan, jangan ambil suamiku lagi...." Gumam Nina dalam hati.
Pak Bahdim hanya melempar senyum dan menepuk bahu Nina. Wanita itu berguncang bahunya. Tubuhnya bergetar hebat, dan air matanya menetes.
"Ozil baik-baik saja Nin. Kamu nggak perlu cemas." Kalimat yang terlontar dari pak Bahdim. Nina tau hanya untuk menenangkan nya saja.
"Loh, pak, Zidan mana? Tadi bukannya sama bapak ya?" Lontar Bu Ana mulai panik karena berpikir mungkin Zidan hilang.
Nina menghapus air matanya. Netranya berkelana mencari sosok anak berumur 3 tahun itu. Kini Nina di liputi rasa cemas dan gelisah yang bertambah.
"Zidan!"
"Zidan!"
Nina dan Bu ana memanggil. Nina berlari kecil dan terus menyisir lokasi pengungsian tanpa perduli dengan hujan yang membasahi tubuhnya. Bertanya pada setiap orang yang temuinya. Ada yang menggeleng, ada pula yang menunjuk arah ke tenda pengungsian lain.
Nina semakin panik, Ozil saja belum ketemu, Zidan malah menghilang.
"Zidan!" Teriak Nina semakin frustasi.
"Ibuk!" Suara sahutan dari arah masuk ke pengungsian di dekat tenda posko petugas.
Nina berlari mendekat. mencari sosok anaknya.
"Zidan!" Teriak Nina lagi.
"Ibuk!" Bocah kecil itu berlari ke arahnya di tengah keremangan malam itu. Dengan sangat erat Nina memeluk Zidan. Air matanya berderai karena berhasil melihat anaknya lagi.
"Anak bandel! Kamu kemana saja? Bikin ibuk khawatir." Omel Nina beberapa kali memukul bokong Zidan.
Pak Bahdim dan Bu Ana tampak menyusul di belakang Nina.
"Kamu sama siapa sampai di sini, zid?" Pak Bahdim bersuara.
"Sama om Ozil."
Nina melepas pelukan, menatap Zidan. "Dimana om Ozil, zid?"
Ada rasa bahagia yang terbit di hati Nina, kekhawatiran nya mulai mengikis.
"Mbak Nina!"
__ADS_1
Nina mendongak menatap sosok yang kini berdiri beberapa meter di belakang Zidan memakai baju yang basah di tubuhya.
Nina memeluk erat tubuh Ozil. Rasa lega melihat suaminya selamat membuat Nina menangis kencang.
"Mbak...
Aku nggak papa mbak." Lirih Ozil tanpa membalas pelukan Nina. Karena mereka sedang berada di tengah pengungsi dan banyak orang.
Nina terus menangis dan semakin mengeratkan pelukannya. Bayangan dirinya yang di tinggalkan terus menari di pelupuk matanya. Nina tak sanggup bila harus kehilangan lagi, karena itu, ia merasa lega melihat Ozil selamat.
"Mbak,
Mbak Nina. Udah dong. Pada liatin nih. Malu."
Nina tak perduli dan tetap menangis dan memeluk tubuh Ozil.
"Sudah, aku nggak apa-apa mbak. Maaf ya udah buat mbak Nina cemas." Ucap Ozil membalas memeluk Nina, karena istrinya itu tak kunjung tenang.
Ozil mengusap punggung Nina, dan tak mengatakan apapun lagi. Ia tau saat ini mungkin ini yang Nina butuhkan. Menumpahkan semua rasa khawatir dan cemas yang sedari tadi mendera.
Ada rasa bahagia yang terselip di hati Ozil, Nina menangisi dan mengkhawatirkan dirinya. Pelukan erat yang tak kunjung ingin di lepas oleh pemiliknya itu, cukup menegaskan Bahwa, Nina mencintai. Dan itu sudah cukup.
***
Satu Minggu kemudian.
"Apa ini mbak?" Tanya Ozil saat ia sedang duduk di kursi teras siang itu setelah pulang dari kolam lele.
Ozil memperhatikan benda yang ada di tangan Nina yang kini istrinya itu sodorkan padanya. Benda pipih dan panjang.
"Ini test kehamilan, kamu... Bakal jadi bapak." Ucap Nina dengan senyuman malu-malu.
"Aku udah jadi bapak mbak, bapaknya Zidan." Celetuk Ozil tak mengerti. Nina menarik sudut bibirnya ke atas menjadi lebih lebar.
"Ini adiknya Zidan."
Wajah Ozil berubah yang awalnya tersenyum kini jadi bingung.
"Maksudnya mbak?"
"Adik Zidan. Kamu bakal jadi ayahnya adik Zidan. Di sini, ada kehidupan." Ucap Nina sembari mengusap perutnya yang masih rata.
Sudut bibir Ozil tertarik ke atas. Lalu berdiri dan menarik tangan Nina masuk kedalam rumah. Wanita itu bingung dengan Ozil yang terus menariknya berjalan hingga ke kamar. Lalu mereka berhadapan.
"Benaran mbak?"
Nina mengangguk.
"Jadi, tok cer dong."
Nina mengangguk di sertai senyum lebar. Lalu tiba-tiba Ozil membingkai wajahnya dan menciumnya dalam-dalam.
"Makasih mbak."
Ozil menghujani wajah Nina dengan kecupan. Sampai Nina tergelak karena geli.
"Mbak Nina, ayo." Ozil menuntun Nina ke peraduan.
"Kemana? Ke bidan?"
"Enggak lah mbak, itu nanti aja. Aku mau jengukin anakku dulu." Ozil nyengir."nggak sabar pingin liat anakku sebesar apa."
Kesal, namun juga geli, itu yang Nina rasakan dengan sikap Ozil. Tau punya baby, bukannya langsung ke bidan buat ngecek, ini malah mau cek pribadi.
"Ya ke bidan Ozil! Emang itumu punya mata?" Gemas Nina.
Ozil menggaruk kepalanya sambil nyengir. "Jangan marah mbak... Eh, jangan marah buk, sama ayah."
-Dah abis-
__ADS_1