
"Kali ini harus berhasil, nggak ada pengganggu lagi."
"Ya, kalau Zidan nggak bangun." Kekeh Nina yang kini sudah berada di bawah tubuh Ozil.
"Yaah, mbak Nina." Ozil terdengar kecewa."jangan doa in yang jelek-jelek dong."
"Nggak doa ini Ozil, cuma jawab omongan kamu."
"Ia itu juga doa tau mbak. Kalau Zidan beneran bangun gimana?"
"Iya, iya. Udah iklannya?"
"EHEM..." Dehem Ozil menatap lekat Nina. Begitupun dengan Nina.
Jantung keduanya tiba-tiba bertalu. Nafas yang menghangat beriringan dengan suara detak jantung yang seolah mendapat loadspeaker. Terdengar sangat kencang bersuara.
Tiba-tiba Ozil merubah posisi nya, duduk dan membelakangi Nina.
"Astaghfirullah, kenapa aku tiba-tiba jadi malu gini?" Gumam Ozil dalam hati. Padahal udah siap mental dari tadi, tiba-tiba jadi melempem.
Nina mengulas senyumnya. "Dasar anak muda."
"Apa mbak?" Ozil menoleh,
Nina bangun dan memangkas jarak. Menyentuh pundak dan lengan Ozil. Lalu mendekatkan wajahnya mencium bibir Ozil.
Ozil ikut menggerakkan bibir dan lidahnya. Menyesap dalam-dalam, dan membelai lidah istri nya.
"Mbak Nina..." Lirih Ozil.
"Panggil Nina."
"Nina..." Lirih Ozil memeluk tubuh istrinya, lalu menjatuhkan tubuh itu secara lembut ke pembaringan.
Bibir mereka saling bertaut, lidah saling membelai, dan tubuh yang saling memeluk. Berguling secara bergantian merubah posisi, Nina kini di atas, lalu di bawah lagi, di atas lagi lalu....
Gubraakkk....
__ADS_1
"Aduuuhh..."
Nina dan Ozil mengaduh bersamaan karena jatuh dari tas peraduan dengan posisi Nina di bawah tertindih tubuh Ozil.
"Aduh mbak, kok malah jatuh sih."
"Iya jatuhlah, orang guling-guling. Ini kasurnya juga cuma sepetak. Kalau seluruh kamar ini kasur semua ya nggak jatuh Oz." Kata Nina, "minggir ah, kamu berat tau."
"Eehh, terus nggak jadi kita mbak?" Tanya Ozil bangkit.
"Nggak jadi apa?" Nina Linglung.
"Ya itu tadi, uwuh- uwuh kemochi." Ozil terkekeh.
"Pinggang ku sakit Oz." Keluh Nina sembari berpindah ke atas peraduan dan megangi pinggang belakangnya.
"Sini mbak, ku pijitin."
Nina tengkurap, lalu Ozil memijit pinggang Nina.
"Nggak gitu Oz mijitnya. Agak ke kiri dikit."
"Iya di situ." Ucap Nina menikmati pijitan Ozil."Enak lagi kalau pakai minyak Oz."
"Nggak ada minyak mbak."
Kedua nya terdiam. Nina menikmati pijitan Ozil, sedangkan Ozil sibuk mengurut pinggang Nina. Terkadang, baju Nina tersibak, lalu Ozil turunkan lagi agar kulit Nina tak nampak. Mati-matian menahan diri agar tak tergoda oleh wanita yang sudah halal baginya itu.
"Hmmm... Dia memang polos, jika laki-laki normal lagi, pasti malah di buka-buka, tangannya sudah kemana-mana." Batin Nina menarik nafas dalam."Memang harus bertindak lebih dulu."
Nina berbalik, dari posisi tengkurap nya. Ozil menatap Nina yang kini terlentang.
"Yah, kalau kek gini mana yang mau di pijat? Salah-salah aku malah di gampar lagi gara-gara salah tempat." Batin Ozil.
"Ini bocah malah diem aja. Apa beneran harus aku yang bertindak duluan?" Gumam Nina dalam hati.
"Oz, mau gantian di pijat nggak?" Tawar Nina.
__ADS_1
"Tapi pinggang ku nggak sakit mbak."
"Ya pijat yang lain." Kata Nina mengalihkan pandangannya, dengan wajah yang memerah karena malu.
"yang lain mana mbak? Oohh, kaki ku ya?" Tanya Ozil menautkan alisnya."emang rada pegel sih."
Kini Ozil yang berbaring dan Nina giliran memijit kaki Ozil.
"Enaknya punya Istri ya mbak, pegel ada yang mijitin."
"Nggak ada istri juga bisa ke tukang pijit Oz. Kan banyak."
"Ya bedalah mbak, kalau mereka bayar, kalau mbak kan gratis. Ha-ha-ha."
Gemas, Nina pun mencabut bulu kaki Ozil.
"Auuuu.. " pekik Ozil, "sakit mbak. Bercanda tadi mbak." Lanjutnya protes bangun dan terduduk . Hingga wajahnya dan wajah Nina begitu dekat.
"Kita ulangi yok mbak. Dari kemarin gagal terus." Lirih Ozil menatap Nina intens.
Nina mengangguk samar. Wajah keduanya semakin mendekat dan menautkan bibir. Saling membelai lidah.
"Bentar mbak." Ucap ozil melepas pangutan nya.
"Doa dulu mbak, biar nggak ada gangguan."
Nina terkekeh kecil, memang beberapa kali adegan mereka terganggu oleh hal kecil.
"ya udah , kamu yang doa."
seusai berdoa, mereka kembali berciuman. Memeluk satu sama lain, hingga kedua nya kehabisan nafas. Nina mulai merasa panas, ia melepas pakaiannya. begitupun dengan Ozil,
"mbak, celananya sekalian nggak?" tanya Ozil.
"astaga, terserah kamu lah." tukas Nina malu sendiri.
" mba nina gimana?"
__ADS_1
"hiissshh... gimana masuknya kalau nggak di lepas."