Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 31


__ADS_3

"Ben, kapan kamu mau ajak Dila kemari?"


Ben Arfa menghela nafas panjang. Menyenderkan tubuh ke punggungan Sofa.


"Kalian kan sudah menikah, walau nikah siri, tetep aja kalian harus nya tinggal bersama di sini." Lanjut mama sembari mengupas jeruk. Duduk di sisi kiri Ben Arfa.


"Benar. Nggak baik suami istri jauh-jauh gini Ben." Timpal sang papa mendapat suapan jeruk dari istrinya.


"Iya, nanti Ben jemput." Jawab Ben malas.


"Nanti kapan? Ini udah siang. Bentar lagi sore, terus malam." Mama menyela kesal.


"Iya, ini Ben mau mandi dulu." Ben Arfa beranjak dari duduk nya. Dari pada terus berada di sana dan kena omel terus. Mending pergi lihat situasi.


Setelah mandi dan rapi, Ben berjalan menuruni tangga.


"Ma, aku pergi dulu ya." Dengan suara yang sedikit keras di anak tangga terakhir.


"Uumm.... Jangan lupa bawa mantu mama kemari." Pesan mama tanpa beranjak dari duduk nya di depan tv ruang tengah.


Tidak menyahut, yang penting Ben sudah pamit. Ben melangkah keluar dari rumah mewah milik papanya. Dalam perjalanan yang entah kemana, Ben memijit pelipisnya pelan.


"Mau ke mana ya?" Gumam Ben Arfa, sebenarnya dia masih sangat bimbang dan bingung. Pasalnya pernikahan dengan Dilla bukanlah kehendaknya. Ben sudah menganggap Dila sebagai adik nya. Karena memang sejak awal yang ia cintai Nina. Tapi malah dapat adiknya.


Setelah cukup berpikir dan menimbang, ia memutuskan untuk ke rumah Nina saja. Walau hatinya masih sakit dan tak rela.


Ben memang mencintai Nina. Namun, itu tak berarti dia lantas bisa mempermainkan pernikahan meski itu hanya siri. Ben sudah menjadi suami Dila. Ben juga tak ingin asal menyalak Dila hanya untuk bisa menikah dengan Nina.


"Dila masih kuliah semester awal." Gumam Ben lirih, lalu mengacak rambutnya."Ya ampun, bagaimana bisa aku menikah dengan nya."


Ben terus bergumam menyesali. Ia tak tega saat melihat Dila menangis waktu mereka di adili warga karena tertangkap sedang mesum. Padahal tidak, hanya kesalahpahaman yang kemudian berhasil di luruskan. Namun, dirinya dan Dila sudah terlanjut menikah di bawah tangan.


Ben memarkirkan mobilnya di depan rumah Nina. Tampak sepi, tak ada orang. Ben mencoba mengetuk pintu. Berharap ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.


Hampir setengah jam lamanya Ben menunggu dan mengetuk. Namun tak ada yang keluar.


"Tumben sepi, pada kemana sih?" Gumam Ben sedikit menggerutu.


Ben masih duduk di teras sembari berpikir.


"Aku bahkan nggak punya nomernya Dila." Bergumam kesal.


Ben mengecek kontak hp nya, lalu berhenti pada nama Nina. Terus menimbang-nimbang walau ragu. Akhirnya, Ben menghubungi nomor Nina.


Sejak kejadian di Wonosobo waktu itu, Ben sudah tak pernah menghubungi Nina lagi. Banyak yang berkecamuk di dadanya. Hingga ia memutuskan untuk menjauh sejenak.


("Nin, minta nomernya Dila.") Pesan di kirirm.


Ben menghela nafas sejenak dan memejamkan matanya.


"Kenapa jadi seperti ini?" Gumamnya.


Tak lama balasan dari Nina ia terima. Gegas Ben mengecek hp. Hanya sebuah kontak nomor WA Dila tanpa caption apapun.


Ben tersenyum getir. Seperti nya mereka kini memang sudah berjarak.

__ADS_1


Ben mencoba menghubungi nomor Dila yang dia dapat dari Nina. Dua kali ia menelpon tak ada jawaban. Lalu ia mengulang lagi, untuk yang ketiga kalinya. Dan di reject.


Ben tertawa kecut.


"Dasar bocah. Apa dia pikir aku ini orang nggak ada kerjaan? Kalau nggak penting juga aku malas menelpon." Gumam Ben karena telponya beberapa kali di reject oleh Dila.


("Ini Ben Arfa. Bisakah kita bertemu? Penting.") Pesan di kirim.


Tak lama balasan di terima.


("Oke.")


Ben tersenyum kecut lagi. "Jawaban nya cuma oke lagi. Apa dia nggak mau bertanya di mana dan jam berapa?" Bergumam kesal.


("Aku di depan rumah mu") pesan di kirim.


("Oke. Aku masih di kampus.")


Mendapat balasan dari Dila, Ben tak mau lagi berkirim pesan. Ia langsung menelpon.


("Halo?")


"Dil? Dimana kampus mu? Kita ketemu saja di sana."


"Oke."


Setelah Dila menyebutkan kampusnya, dan di mana dia menunggu. Ben segera menginjak pedal gas dan meluncur ke kampus Dila.


"Masuk!" Seru Ben tanpa keluar dari mobil.


"Kamu free? Nggak kerja?"


"Enggak." Jawab Dila singkat.


"Ya udah, ikut mas ke resto. Skalian makan."


****


"Mbak Nina mau ngomong apa?" Tanya Ozil yang sudah tak tahan karena hingga siang ini Nina masih bungkam.


Saat itu, Nina dan Ozil sedang berada di saung. Zidan berada di tengah-tengah sawah ikut kakek dan neneknya meladang.


"Beberapa hari ini, mbak mimpiin mas Ozan, Oz."


Ozil menatap hamparan padi yang sudah menguning.


"Kami pergi ke banyak tempat dan aku sangat bahagia. Lalu, tiba-tiba dia melepaskan tanganku dan pergi...."


Ozil masih terdiam menatap burung yang mulai nakal memakan padi.


"Dia menitipkan Zidan pada ku. Hati ku sakit. Menangis seberapa banyak sampai tangan seseorang menghapus air mataku."


Ozil menunggu Nina menyelesaikan kalimatnya. Meski kini jantung nya berdebar dan terasa sangat sesak.


"Pas mbak mendongak. Mbak lihat kamu."

__ADS_1


Ozil tersentak, reflek menoleh pada wanita cantik di samping nya.


Nina mengulas senyum. "Dulu mbak pernah janji akan nunggu kamu kan, Oz?"


Wajah Ozil masih tampak terkejut.


"Boleh mbak penuhi janji mbak?"


Seberkas senyuman terbit. Wajah Ozil kini di penuhi aura bahagia.


"Beneran mbak?"


Nina mengangguk dan tersenyum.


"Jadi mbak Nina milih Ozil?"


Tanpa kata, Nina mengangguk dan tersenyum.


"Makasih mbak." Ozil kegirangan, sampai tangannya menangkup wajah Nina yang terkejut dan mendekatkan wajah hendak mencium Nina.


"Ozil!"


Seketika Ozil menjauhkan Nina dengan ssdikit mendorong hingga Nina hampir terjungkal.


"Maaf mbak. Maaf..." Dengan mimik muka bersalah. Menarik tangan Nina agar posisi duduk nya kembali.


"Ingat ya, belum halal. Nggak boleh curi-curi duluan!" Tegur pak Bahdim mendekat membawa sekantong belalang.


"No no! Om Ozil!" Zidan menimpali.


Ozil dan Nina tersenyum malu-malu.


"Jadi Nina sudah memutuskan untuk Nerima Ozil?" Tanya pak Bahdim saat mereka makan malam bersama.


Nina menjawab dengan anggukan. "Nina sudah dapat jawaban. Dari mimpi dan kejadian sebelum Nina memberi jawaban pada keluarga Ben pak."


"Kejadian?" Bu Ana yang sempat menyuapi Zidan terhenti sesaat.


"Iya, ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi. Dan disitu, Nina yakin ini adalah jawaban yang kedua."


"Kejadian apa sih Nin?" Pak Bahdim ikut penasaran.


"Ben dan Dila terpaksa menikah di Wonosobo karena sebuah kesalahpahaman." Jelas Nina.


"Apa?" Serentak.


Masih dalam suasana terkejut. Lalu bapak tertawa. "Jadi kamu di duluin Dila, Nin?" Bapak terkekeh-kekeh.


Ozil menatap Nina sedih, "jadi mbak Nina Nerima Ozil karena gagal nikahin mas Ben?"


Nina memandang Ozil lalu menjitaak kepalanya.


"Kamu kok picik banget sih?" Geli Nina.


Bapak tertawa sembari menggeleng. Lalu Ozil pun ikut tertawa. Ia teringat, saat Nina bilang jika dalam mimpinya, Ozillah yang menghapus air mata Nina. Hingga Nina yakin. Ozillah jawaban setiap doa-doa nya.

__ADS_1


__ADS_2