
"Udah lama banget, sejak kita masih satu kelas dulu. Dan sampai kamu nikah, kita juga sempet kehilangan kontak. Sekarang, kamu sudah sendiri lagi. Repot nggak ngurus Zidan sendiri, tanpa suami kamu?"
Nina menatap manik mata Ben yang lekat menatap wajahnya. Lalu menghela nafas dan melihat kolam ikan.
"Kami baik-baik aja. Ada banyak orang yang menyayangi Zidan. Sedikitpun dia tidak kurang kasih sayang dan aku tak merasa repot. Aku bahagia menjalani keadaan ini Ben." Jawab Nina yang mulai merasakan lagi perasaan berbeda dari Ben.
"Nina, sampai sekarang, apa kamu nggak menangkap sinyal yang aku kirim?"
Deg!
Hal yang paling Nina takutkan, ketika dia terlalu dekat dengan seorang pria. Dan part yang paling ia ingin hindari hingga kini. Adalah sekarang.
Sinyal itu, tentu sudah Nina rasakan, tatapan mata Ben dan sikap mengungkapkan segalanya. Tanpa pria harus mengutarakan dengan lisan.
Meski begitu, Nina tak ingin menjaga jarak pertemanan mereka. Karena Nina pun tak memiliki cukup alasan untuk menjauh.
"Ben... Aku..." Nina mengambangkan kalimatnya, tak tau lagi harus mengatakan dengan bahasa apa agar tak menyakiti temannya yang baik ini.
"Bisa nggak kita nggak membicarakan ini?"
Ben menatap Nina semakin lekat.
"Apa kamu nggak suka sama aku?"
"Bukan. Bukan begitu. Kamu seorang yang baik... Dan aku nyaman dengan mu. Bahkan ketika dengan Zidan pun kamu bisa berbaur. Hanya... Aku nggak mau pacaran Ben..."
"Aku nggak ngajak kamu pacaran Nina. Kalau kamu mau nikah. Aku nikahin kamu sekarang."
Nina menghela nafasnya, mengganti oksigen yang terus membuat sesak dadanya.
"Mas Ozan... Masih di sini Ben." Nina menyentuh dadanya.
Ben Arfa memejamkan matanya, menarik nafas dalam dan menghembuskan. Ben menelan ludahnya yang tercekat di tenggorokan, lalu membuka matanya lagi. Menatap lekat Nina. Tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Aku tidak keberatan."
"Ben!" Nina tampak putus asa dan memohon. "Itu dosa... Kamu mau aku menduakan suamiku nanti dengan orang yang sudah meninggal?"
"Nina, aku nggak ingin menggantikan posisi Ozan di hati kamu. Sedikitpun tak ingin. Jika ada ruang yang tertinggal di hati mu untuk nya. Aku tidak keberatan, dia ayah Zidan, cobalah membuka hati mu untuk pria baik ini Nin. Bukankah kamu bilang aku pria yang baik? Apa aku tak cukup baik untuk berada di sana hingga kamu menutup rapat hatimu?"
Air mata Nina menetes. Begitu besar rasa cinta nya pada Ozan hingga ia tak ingin menikah lagi, walau banyak pria yang datang padanya. Mengetuk pintu itu namun ia enggan untuk membuka.
Nina terus beralasan, tak ingin membagi hati suaminya kelak dengan ayah Zidan yang telah berpulang lebih dahulu. Hingga ia memilih menutup rapat hatinya. Meski ada yang mencoba menerobos masuk ke hatinya, namun segera ia usir sebelum semakin berkembang dan memenuhi ruang hatinya.
Nina melangkah ke pelataran resto Flori. Di ujung sana Zidan melambaikan tangan di samping motor Ozil. Ben masih menyertai nya hingga pertemuan antara Ben dan Ozil membuat kedua pria yang memiliki hati yang sama untuk Nina itu terkejut.
"Ozil! Kamu kok di sini?" Ben terperangah melihat salah satu supplier nya ada di pelataran resto bersama Zidan.
"Iya mas, jemput mbak Nina."
Ben berganti menatap Nina. Nina juga tampak terkejut Ben Arfa mengenal Ozil.
Ozil tersenyum kecil. Sementara Ben melayangkan tatapan tanya pada Nina.
"Ummm... Ini Ozil, adik mas Ozan. Om nya Zidan. Kebetulan semalam aku nginap di rumah mertua abis ziarah ke makam mas Ozan. Dan Ozil ada urusan di sekitar sini, jadi skalian." Nina menjelaskan dengan jujur.
"Oohh...." Ben menggaruk kepalanya."sempit banget ya?" Tersenyum paksa dan kikuk.
"Kalian saling kenal?" Nina kini menuntut penjelasan dari kedua pria di sekitarnya itu.
"Iya mbak. Jadi resto yang banyak pesan lele sama aku itu punya mas Be..."
"Aiya.. tempat aku kerja di sana. Gitu Nin." Potong Ben cepat. Ozil mengerutkan keningnya."iya kan, zil?"
Ozil tak menjawab, ia masih merasa ada yang tak kena di hatinya. Perasaan yang sulit Ozil jabarkan menggebrak hati terdalam nya.
"Kamu bukannya kanfasing ya?" Nina makin bingung dengan alasan yang Ben buat. Tentu nya sulit bekerja di dua tempat. Mengatur waktu dan tenaga.
__ADS_1
"Iya aku ambil dua job."
"Di resto sama kanfasing?"
"Iya, gitu."
"Bisa gitu ya?"
"Bisa dong." Jawab Ben cepat."oiya kamu mau balik bareng Ozil kan?"
Nina mengangguk pelan dengan sejuta tanya di kepala nya.
"Ya udah. Hati-hati ya."
Selama dalam perjalanan. Sedikitpun Ozil tak bersuara. Hanya celotehan Zidan yang terdengar. Ozil menanggapi hanya saat Zidan bertanya yang sampai di ulang dua Kali.
Sesampai nya di rumah Nina di Sleman.
"Kamu nggak papa Oz? Dari tadi diam terus." Nina sedikit khawatir dengan perubahan Ozil mendadak jadi pendiam.
Ozil tersenyum meski tak sampai ke matanya.
"Enggak papa mbak."
"Duduk dulu, biar mbak bikinin teh ya."
"Aku langsung balik aja, mbak. Takut kesorean ntar lepas bibit nya." Pamit Ozil.
"Ya udah hati-hati ya, sampai rumah kabarin mbak."
Nina melepas kepulangan Ozil di depan teras. Menatap sendu adik iparnya yang sudah beranjak dewasa. Perubahan Ozil sangat Nina rasakan. Apalagi biasanya Ozil banyak bicara, tiba-tiba saja menjadi sangat pendiam. Dan itu sangat mengganggu pikiran Nina.
"Kamu kenapa sih dek?" Gumam Nina yang tak lagi melihat punggung Ozil yang hilang di ujung gang.
__ADS_1