
"Mau kemana mbak?" Tanya Dila berbasis basi saat mereka berpapasan di depan rumah.
Walau merasa canggung, karena Dila masih ingat dan tau bagaimana perasaan Ben Arfa pada Nina. Namun, Dila mencoba bersikap wajar. Begitupun dengan Nina, ia merasa tak enak hati dengan Dila adiknya, yang kini sudah menjadi istri Ben yang dulu pernah melamarnya.
Terlebih, Ben bebeapa hari yang lalu masih menanyakan masalah jawaban meski sudah tau kini dirinya adalah istri Ozil. Bahkan, pria itu tak datang ke acara pernikahan mereka.
"Kami mau ke pasar malam, Dila. Yok, ikut, biar rame. Bunda juga ikut loh." Ajak Ozil menjawab. Ia yang tak begitu tau menahu tentang ketegangan yang sempat tercipta saat dirinya masih di Bantul mengurus lelenya dan beberapa pesanan untuk pelanggannya.
"UMM... Kami nggak ikut, mas Ben juga harus pulang."
"Loh, jadi kalian pisah ranjang?" Tanya Ozil kaget, Nina menyikutnya. "Aduh, sakit mbak." Protesnya pada Nina.
"Tante ikut." Rengek Zidan menggoyangkan tangan Dila.
'iya, Dil ikut aja. Di rumah nggak ada orang loh. Bunda aja ikut." Timpal Ozil. Lalu Ozil menatap Ben Arfa."Ayok, mas juga ikut aja. Biar rame. Kalau nggak sibuk sih, biar Dila juga ada yang nemenin."
Ben menatap Dila lalu berpindah menatap Nina yang memilih menunduk.
Ben membuka mulutnya hendak berucap namun urung karena mendengar bunda yang baru saja keluar menyapanya.
"Loh nak Ben. Ke sini kok nggak ngabarin. Dila juga." Bunda menatap Ben dan Dila bergantian."bunda nggak jadi ikut aja deh, kalian sekeluarga pergilah, bunda udah ada yang nemenin." Lanjut bunda yang kini berbicara pada Nina dan Ozil.
"Eehh, nggak usah bunda. Bunda ikut pergi aja. Udah cantik kok nggak jadi pergi? Nggak udah mikirin Dila bun. Ini juga masih rumah Dila kan? Nggak masalah kalau Dila di rumah sendiri." Ucap Dila
"Loh, Ben langsung pulang?" Bunda terkejut menatap Dila dan Ben bergantian.
"Enggak bun, saya nemenin Dila di rumah kalau bunda mau pergi ke pasar malam nggak apa." Jawab Ben, "O iya, besok siang kami sekeluarga akan berkunjung kemari, untuk membahas masalah pernikahan kami nanti nya. Jadi nanti saya akan kembali setelah menemani Dila."
"Ooohh, begitu, kok mendadak? Bunda belum siap-siap apa-apa nih."
"Kalau untuk konsumsi, saya udah siapkan dari resto, nanti nya mereka yang akan antar kemari. Mungkin sekitar jam 10an." Jawab Ben.
"Oohh, begitu."
"Kalau bunda mau ke pasar malam."
"Kalau begitu skalian aja ikut ke pasar malam. Nanti jam 10an pulang." Usul Ozil, "jadi tidak ada yang perlu tinggal dirumah."
Akhirnya semua pergi juga ke pasar malam. Dengan mobil Ben, motor yang siap di depan untuk di pakai, akhirnya masuk garasi lagi.
Di pasar malam yang ramai itu, Ozil dan Zidan menaiki banyak permainan. Bunda dan Nina menunggu di kursi tunggu dekat arena bermain. Sedangkan Ben dan Dila berjalan-jalan mencari camilan.
"Kamu tunggu di sini, aku beli yang di sana ya."pamit Ben menunjuk STAN makanan yang lain.
"Oke." Jawab Dila yang masih menunggu antrian membeli minum.
Tak lama Ben datang membawa beberapa kentang ulir, jagung bakar dan dua kantong plastik yang entah apa isinya. Dila menghela nafasnya, kentang goreng dan jagung bakar adalah makanan favorit Nina. Dada Dila serasa sesak, bahkan setelah Ben melamar nya dan mengatakan semua hal membuat Dila menatap ke depan. Kini pria itu kembali menorehkan luka. Walau hanya makanan tetap saja itu membuat Dila sakit.
__ADS_1
Setelah selesai membeli, mereka kembali ke tempat bunda menunggu. Namun di sana hanya ada bunda.
"Loh, Nina kemana, Bun?" Tanya Ben yang melihat bunda duduk sendiri.
"Oohh, mereka sedang naik bianglala."
"Oohh, begitu."
"Ini Bun, di makan. Saya tadi beli jagung bakar manis kesukaan bunda." Ucap Ben menyodorkan jagung bakar."Ini buat Nina yang pedes."
"Wah, makasih ya nak Ben." Sambil menerima jagung bakar.
"Ini Bun minumannya, biar nggak seret." Dila meletakan beberapa botol minuman di samping kursi sebelum dirinya menjatuhkan bobot.
"Nih, kebetulan STAN sampingan." Ben memberikan sekantong kresek pada Dila. Sedang Ben memakan kentang ulir sedang yang satu lagi dia letakan di samping minuman.
Dila membuka kantong kresek itu melihat di dalamnya yang di bungkus kertas. Dia mengambil bungkusan kertas itu dan mbukanya. Dila tersenyum tipis. Itu adalah leker. Makanan manis dari adonan tepung yang tipis dan garing dengan di taburi meses dan keju.
Dila melihat ada satu bungkus kertas lain yang juga masih terasa hangat. Dila membukanya. Jamur goreng yang menjadi makanan favorit nya.
Dila menatap Ben yang mengunyah kentang ulir sembari melihat beberapa permainan. Pria itu lalu menoleh dan tersenyum pada istrinya.
"Main itu yuk." Ajak Ben menunjuk permainan pukul tikus.
Diam bergeming.
"Iya Bun."
***
"Aku ahli dalam permainan ini." Ben sesumbar.
"Oh ya? Mau tanding mas?"
"Ayook."
Setelah beberapa kali permainan, Dila lah yang lebih banyak mendapat boneka. Gadis itu tersenyum puas dan bangga.
"Mau lempar kaleng?" Tawar Ben lagi.
"Masih percaya diri mas?"
Hingga akhirnya, Dila dan Ben hanya menghabiskan waktu dengan permainan semacam itu saja. Tentu saja Dila lah yang memenangkan pertandingan mereka. Atau mungkin Ben yang mengalah, entahlah.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Semua udah berkumpul.
"Balik yuk." Ajak bunda.
__ADS_1
"Boleh." Jawab Ben," yang lain gimana?" Sambil melirik Nina.
Nina berganti menatap Ozil. Berjongkok menyamakan tinggi dengan Zidan.
"Zidan mau pulang sekarang?"
"Nggak!"
"Nenek udah ngantuk loh, pulang ya?"
"Nggak, enggak, masih mau main..."
Ozil mengulas senyum di wajahnya. Lalu menatap Ben dan bunda bergantian.
"Kalian duluan aja deh, kami masih mau main lagi."
"Ya nggak bisa gitu dong mas. Kita kan berangkat bareng." Ucap Dila. "Nggak papa sampai jam 10, sampai Zidan puas."
"Enggak, nggak. Kasihan bunda tuh. Kami gampang nanti pulangnya. Udah, kalian duluan aja." Ozil menolak, ia sudah punya rencana sendiri.
"Ia, Dil. Kasian bunda tuh, di sini juga banyak grab kok. Nanti kami bisa naik grab, atau sejenisnya." Nina menimpali."Bunda, boleh ya?" Nina menatap bundanya memohon.
"Ya sudah, ayo kita balik aja." Bunda mengangguk mengerti.
"Eeh, tapi Bun, kasian Zidan..."
"Udah biar aja. Zidan sama orang tuanya kok." Sela bunda mendorong anak gadisnya. "Nenek pulang dulu ya, zid. Balik jangan malam-malam ya."
"Siap nek." Zidan menempelkan tangan di kening.
"Duluan ya Zil." Ben pamit menatap Ozil.
"Oke, mas, hati-hati di jalan."
Ben berganti menatap Nina dengan pandangan yang berbeda. "Nin."
"Hati-hati, bawa bunda sama adik ku ya."
Ben membalas dengan senyuman sebelum ia berbalik dan menyusul bunda serta istrinya.
"Mbak," bisik Ozil. "Nanti kita nggak usah pulang ya mbak?"
Nina menatap Ozil dengan tanya.
"Ke hotel aja." Cengir Ozil
Nina mendengus. "Bocah ini selalu semangat, tapi pas di atas ranjang, malah kebingungan. Dasar bocil!" Gumam Nina dalam hati.
__ADS_1