Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 51


__ADS_3

"Mas, kok kasar banget sih?" Protes Dila berdiri melihat seorang pria sangat tak sopan pada suaminya, membuat Dila kesal.


Dila mengambil bunga yang pria itu lempar ke wajah Ben lalu melempar kasar pada penyanyi yang tidak sopan itu.


"Bawa kembali bunga mu.. kami tidak butuh bunga ini."


Pria di depannya itu menyeringai. Lalu, menarik kursi di meja Dila dan duduk di sana.


"Siapa yang mengijinkanmu duduk di sini?" Dila meninggikan suaranya dan mendelik pada pria itu.


"Sudah! Ila. Jangan keras-keras, banyak yang lihat kemari." Tegur Ben pelan menarik tangan Dila agar duduk.


Dila pun duduk dan menatap sengit pria yang kini duduk di depannya dan sedang menyalakan rokok itu.


Mata Dila menyipit, mengambil rokok yang masih mengapit di mulut orang yang Dila anggap tak sopan. Lalu mematikan bara nya di asbak.


Pria itu tampak tak suka.


"Apa? Kau tidak terima? Ayo berkelahi." Tantang Dila.


Pria itu tertawa kecil lalu menatap Ben.


"Apa seleramu sudah berubah Ben?"


Ben pun ikut tertawa kecil.


"Dia lucu sekali." Tawa pria itu melihat Dila. Lalu mencubit hidungnya. "Di mana kamu menemukannya?"


Dila menjadi makin kesal.


"Dia adik Nina."


"Benarkah?" Masih tertawa


"Dan dia istriku."


"AHa-ha-ha..." Pria itu makin kencang tertawa sampai memukul-mukul meja. Membuat Dila makin jengkel saja melihatnya.

__ADS_1


Lalu pria itu tiba-tiba mengurai kadar tawanya.


"Apa? Istri?" Pria itu mengulang dengan terkejut. Baru tersadar dengan ucapan Ben."bukankah kamu baru mau melamarnya? Bagaimana bisa... Uuppsss." Pria itu membekap mulutnya sendiri karena merasa kelepasan dan mendapat pelototan dari Ben.


Dila yang awalnya jengkel kini berubah bingung. Menatap bergantian sang suami dan sang penyanyi menyebalkan itu.


Ben menghela nafasnya pelan. Lalu menatap Dila.


"Awalnya aku ingin memberiku kejutan kecil. Tapi, perusuh ini malah mengacaukannya. Jadi..."


Ben mengangkat tangannya. Ruang yang semula terang itu berubah jadi remang dan hanya di sinari oleh lampu kelap-kelip dan lampu Tumblr di langit-langit resto.


Dila memandang berkeliling. Lalu berakhir dengan menatap Ben.


"Aku tak bisa bersikap romantis. Dengan memboking resto ku sendiri, jadi kubiarkan saja orang-orang berkunjung dan makan di sini. Karena aku tak mau rugi." Ucap Ben tersenyum.


"Kita memang sudah menikah, tapi, aku belum melamarmu dengan benar. Jadi..."


Ben membuka kotak yang sedari tadi dia bawa. Dan mengambil cincin di dalamnya. Tanganya menengadah ke arah Dila.


Dila tersenyum lebar dengan wajah bersemu.


"Kita udah menikah mas."


"Yeah, menikah secara hukum maksud nya."


Dila menempatkan tangannya di atas tangan Ben. Lalu Ben menyematkan cincin di jari manis Dila dan mengecup lembut tangan istrinya.


Suara sorak dan siulan terdengar riuh. Dila semakin melebarkan senyumnya.


"Kita bisa saling belajar untuk mencintai satu sama lain sampai menjadi kakek dan nenek." Lirih Ben memeluk Dila.


Dila mengangguk. Walau sesungguhnya mungkin ia juga belum sepenuhnya mencintai Ben. Namun, Dila merasa bahagia mendapatkan perlakuan dari Ben yang manis. Ini cukup untuk menjadi alasan untuk melanjutkan pernikahan mereka. Walau mungkin hati Ben masih bertaut pada Nina. Namun, seprti kata Ben. Mereka bisa belajar untuk saling mencintai.


***


"Besok kita ke rumah bunda, untuk membahas resepsi. Sekalian mengambil berkasmu untuk pengajuan ke KUA." Kata Ben begitu mereka dalam perjalanan ke rumah.

__ADS_1


"Iya mas. Malam ini bolehkan aku kembali ke rumah bunda. Biar aku bisa bantu bunda menyiapkan makanan."


"MMM.. baiklah, aku antar ke rumah bunda. Tapi, nggak usah masak. Mas udah pesankan makanan dari resto. Besok kami ke rumah siang, sebelum jam 10 akan ada orang resto yang mengantar."


Dila mengangguk patuh.


***


"Mbak Nina, mumpung aku masih di sini. Ke pasar malam yok di Denggung." Ajak Ozil duduk di samping Nina yang sedang menonton tivi bersama Zidan.


" Ini masih sore Oz." Jawab Nina melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore.


"Ya nanti mbak."


"Zidan mau ke pasal malam, buk." Rengek Zidan menggoyang lengan ibunya.


Nina melihat anaknya, Nina pikir memang Zidan baru sekali ke pasar malam. Jadi mengajak Zidan ke pasar malam sepertinya asyik juga.


"Oke deh."


"Yeess!" Zidan dan Ozil serentak.


"TOS Zid."


Ozil dan Zidan bertos ria.


"Nanti ya, abis makan malam sekalian. Biar nggak mubazir yang kita masak tadi."


"Iya." Jawab Zidan dan ozil serentak.


Seusai makan malam, Nina, ozil dan Zidan bersiap untuk berangkat ke pasar malam.


Tepat di depan pintu, Ben dan Dila datang. Rasa canggung pun terasa.


"Mau kemana mbak?" Tanya Dila mendekat pada Zidan.


"Mau ke pasar malam Dil. Mau ikut nggak? Bunda juga ikut loh, biar rame." Ajak Ozil dengan wajah sumringah. Tanpa tau sempat da gesekan kecil antara Dila dan Nina juga Ben.

__ADS_1


__ADS_2