Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 43


__ADS_3

"Oohh, jadi sebenarnya, Dila sudah menikah dengan mas Ben Arfa?" Ulang Febri setelah mendengar penjelasan dari Ben.


"Dan om bule ini, papa mas Ben?"


Ben pun mengangguk.


"Sekarang, giliran kamu yang cerita, ada apa di kampus?"


Febri tersenyum canggung. Walau begitu, ia tetap menceritakan semua nya. Termasuk salah paham tentang ayah Ben yang di kira sebagai sugar Daddy nya Dila.


"Astaga! Jahat banget sih teman-teman kampus Dila." Ucap mama menutup mulutnya.


"Maaf Tante. Dan itu semakin santer setelah beberapa orang lihat Dila di jemput om bule ini." Ucap Febri lagi sembari melirik papa Ben.


Baik mama dan Ben Arfa seketika ikut melirik papa Ben.


"Apa? Kenapa jadi menatapku semua? Apa salah aku menjemput menantuku? Haruskan aku umumkan jika dia menantu ku, lain kali? Mereka yang salah dengan otak mereka. Kenapa malah menatap ku?" Protes papa tak suka.


"Di tambah lagi Dila juga nggak ngomong apapun. Mungkin kalau semua terungkap pasti pada malu." Ucap Febri."Kenapa sih, Dila nggak bilang aja kalau udah nikah?"


"Ben?" Mama berbalik menatap anak lelakinya.


Ben hanya bungkam. Sampai akhirnya Febri pergi karena memang dia masih ada kelas.


****


Dila membuka matanya, memindai setiap sudut ruang dia di rawat.


"Syukurlah kamu udah sadar Dila." Mama mendekat. "Apa yang nggak enak? Kamu mau minum apa makan apa?"


Dila menggeleng, kepala nya masih terasa pusing.


"Kamu kenapa sih, nggak nurut aja apa yang mama bilang. Tinggal aja di rumah. Jangan masuk kuliah dulu. Bandel." Omel mama.


"O iya, masalah di kampus, Ben sudah uruskan libur selama 3hari. Jadi kamu harus pakai waktu itu untuk istirahat penuh."


"Iya ma. Makasih." Ucap Dila lemah.


"Sekarang, istirahat dulu. Kalau mau makan apapun bilang aja sama mama."


Dila mengangguk.


Hari berikutnya, Dila pulang dari rumah sakit. Di rumah yang besar itu, kebetulan mama dan papa ada acara ke luar kota dan membutuhkan waktu tiga hari di sana.


"Dila nggak apa ya, mama dan papa tinggal. Berdua aja sama Ben." Mama berpamitan dengan cemas.


Dila tersenyum.


"Duuhh, andai ini nggak penting. Mama pasti di rumah aja sama kamu." Gumam mama lagi gelisah, mengusap sayang kepala Dila."Tapi ada Ben kok di rumah. Sama bibi juga. Kalau ada apa-apa, bilang aja sama mereka ya."


"Iya ma, mama nggak usah khawatir. Dila bisa jaga diri kok." Ucap Dila melihat sang mama mertua tampak khawatir padanya.


Mama menghela nafasnya berat. Lalu memeluk Dila dengan erat. Mama pun berpamitan.

__ADS_1


"Pah, kita ke resto nya Ben dulu. Dia ini kita mau pergi malah nggak di rumah. Gimana sih?" Gumam mama jengkel.


"Udahlah ma, biasa nya juga gini kok."jawab papa santai.


"Kali ini beda papa. Ada Dila di sini, lagi sakit lagi."


"Dila baik-baik aja ma." Sela Dila cepat dengan senyum yang tersungging di wajahnya. "Berangkatlah dengan tenang. UMM?"


"Ya udah, mama berangkat dulu ya sayang." Pamit mama mencium pipi Dila dan memeluknya setelah Dila mencium tangan sang mama.


"Pah, ke resto Ben ya pah." Ucap mama memasuki mobil, suaminya hanya menjawab dengan deheman.


"Dila, baik-baik di rumah ya." Pesan papa."kami pergi dulu."


####


"Papa sama Mama udah pergi?" Tanya Ben begitu menginjakkan kaki nya di ruang tengah dan melihat Dila tiduran di sofa.


"Hmmm.. nggak ketemu emang nya? Katanya tadi ke resto dulu buat ketemu sama mas Ben." Jawab Dila cuek.


Ben hanya berdiri di sisi kiri Dila menatap nya tanpa mengatakan apapun. Dila mendongakkan kepalanya.


"Enggak. Mungkin tersilap di jalan." Jawab Ben sembari menggeser kaki Dila agar ia bisa duduk.


Dila yang kaki nya di geser paksa hingga turun dari sofa pun terpaksa duduk.


"Udah mendingan?" Tanya Ben Arfa sembari menempelkan tangan di kening Dila.


"Makanya jangan banyak pikiran. Udah mas beresin sih masalah di kampus."


"Maksudnya?"


"Capek nih, bikinin minum dong." Tanpa menjawab Ben memilih mengalihkan perhatian.


Meski kesal, Dila tetap beranjak juga dan membuatkan Ben minum.


"Mas Ben mau minum apa?"


"Terserah, yang penting kamu yang bikin." Jawab Ben Arfa yang kini berganti tiduran di sofa seperti Dila sebelumnya.


Setelah selesai membuat minuman. Dila membawa dua gelas es lemon biji selasih ke ruang tengah.


"Nih, satu-satu." Ucap Dila. Mengambil gelas miliknya."seger."


Ben melirik kecil kearahnya.


"Dila ke kamar dulu ya, mas Ben." Pamit Dila sembari membawa gelasnya.


Sesampainya di kamar, Dila cekikikan karena ia sudah mengganti gula dengan garam di minuman Ben Arfa.


"Mandi dulu ah, biar seger." Gumam Dila.


Sementara itu, setelah asik nonton tv, Ben merasa kehausan. Lalu ia duduk dan mengambil gelasnya yang dingin meski sebagian besar es nya telah mencair.

__ADS_1


Sruuupuuuttt....


Rasa asin dan asam di mulut Ben Arfa seketika membuatnya menyembur.


Byyyyuuuuurrrrr....


"Dilaaa!"


Di kamar mandi.


Dila mengulas senyumnya sembari berendam dalam bathtub. Hari ini, ia mencoba sabun baru pemberian salah satu teman.


"Bau nya enak juga." Katanya lalu asal meletakan sabun itu mulut bathtub.


Setelah cukup puas berendam. Dila membilas tubuh di sower. Kaki jenjang Dila melangkah hendak mengambil handuk. Namun sialnya Dila malah menginjak sabun yang tergeletak di lantai karena sabun yang dia letakkan di mulut bathtub terjatuh.


Dila mencoba mencari pegangan namun, ia tetap berakhir di lantai.


"Aaahhh.. sakit... Sakit.. leherku, tubuh ku... Sakit... Nggak bisa di gerakkan... Astaga..." Rintih Dila.


Di sisi lain. Ben yang kesal karena Dila menjahili minumannya. Membuka kamar Dila dengan kesal. Bermaksud memarahi bocah nakal itu.


"Ila! Ila!"


Ben memandang setiap sudut ruangan Dila. Lalu ia mendengar suara rintihan Dila di kamar mandi.


Ben menyentuh ganggang pintu kamar mandi dan mendengar dari baik pintu.


"Dila!"


"Mas Ben.. aku terpeleset. Tubuhku nggak bisa di gerakkan."


"Haaahh? Kualat tuh sama suami." Gerutu Ben menarik sudut bibir ke atas.


"Sakit mas."


"Ya udah, aku buka pintunya ya."


"Jangan! Jangan! Aku masih nggak pakai apapun."


"Apa?"


"Panggilan bibi aja."


"Bibi lagi pergi. Ngk ada orang di rumah."


"Astaga. Ya udah, mas Ben masuk. Tapi tutup mata! Jangan ngintip."


"Ila, gimana aku bisa nolongin kamu kalau tutup mata. Dasar bocah labil." Geram Ben. "Aku buka nih."


Dila merasa kepepet, malu juga jika Ben sampai melihat tubuh polos nya tanpa sehelai benang pun.


Pintu di buka dari luar. Ben berdiri diambang pintu.

__ADS_1


__ADS_2