
Setelah banyak pergolatan dalam hati dan pikiran, Ozil memutuskan untuk memulai beternak lele saja yang lebih mudah pemeliharaan dan modal tak banyak. Dengan untung yang cukup mengiurkan.
"Apa rencana mu Oz setelah lulus sekolah?" tanya Nina duduk di teras saat Ozil sedang ngopi-ngopi dan rokokan.
"Aku mau ternak lele aja mbak." jawab Ozil singkat mematikan puntung rokoknya.
"Lele?"
"Heemm... Aku punya beberapa kenalan, dan tempat buat lokasi tambang nya nanti."
"Modal mu sudah ada?"
"Ada kok tabungan Ozil."
"Cukup Zil? Berapa tabungan mu?" Bapak yang baru saja keluar dari dalam rumah rupanya mendengar percakapan Nina dan Ozil. Ikut duduk diantara keduanya.
"Bapak mau nambahin?" Ozil nyengir.
"Iya, nanti bapak tambahin. Di mana kamu mau bikin blumbang nya?"
"Di tempat Lik Bambang pak." Jawab Ozil, "ada tanah kosong punya Lik Bambang, kemarin dah ngomong pake aja sih."
"Oo ya udah kalau tempat Lik Bambang nggak jauh juga." Bapak menimpali.
Nina tersenyum dengan tekad Ozil untuk berternak lele.
"Kamu skalian kuliah aja Zil di peternakan. Biar tambah ilmunya."
"Enggak ah pak, Ozil bisa otodidak belajar dari pengalaman. Lagian kalau Ozil kuliah nanti nggak bisa nabung buat modal nikahin mbak Nina."
"Astaghfirullah..." Pak Bachdim mengurut dadanya.
__ADS_1
"Target Ozil satu tahun pak."
"Astaghfirullah..."
"Bapak ini istighfar terus kenapa sih?" Protes Ozil kesal pada bapaknya yang terus beristighfar sambil mengurut dadanya. Lalu minum kopi Ozil yang tinggal setengah.
"Waaa bapak ini, kopi Ozil itu. Bikin sendiri lah." Protes Ozil menyaut cangkir Ng bahkan masih menempel di bibir bapaknya.
Nina hanya terkekeh-kekeh saja dengan tingkah pria dua generasi itu.
"Nin, kamu kapan balik ke Sleman?" Pak Bachdim beralih menatap pada menantunya.
"Nanti siangan pak."
"Zidan tinggal sini aja ya?" Pinta pak Bachdim."Masih kangen bapak sama bocah itu. Besok pulang nya biar bapak anter."
"Skalian aja mbak Nina tinggal sini." Ozil menimpali.
"Udah, nanti biar bapak yang urus sama ibuk. Kamu yang tenang di Sleman." Pesan bapak mertua.
Siang harinya, Nina bersiap untuk pulang sendiri ke Sleman. Zidan sengaja Nina tinggal dan pas saat itu, di ajak kakeknya keliling pakai motor agar tidak menangis di tinggal ibunya.
"Buk pamit ya. Nitip Zidan." Pamit Nina mencium tangan mertuanya takzim.
"Iya kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut." Pesan ibuk Ana mengusap punggung Nina dengan sayang.
"Yang tlaten dan sabar ya Oz ternak lelenya."
"Iya mbak. Ke depannya bareng aja, skalian aku mau ambil bibit." Ozil memasang helm di kepalanya.
"Ya udah ayok."
__ADS_1
Nina dan Ozil pun berangkat dengan mengendarai motor masing-masing. Saat sampai i persimpangan, Nina pamit dengan menghentikan laju motornya.
"Hati-hati ya mbak. Tunggu Ozil nglamar mbak Nina."
Nina tertawa geli karena melihat wajah Ozil yang serius mengatakan itu. Seolah ia benar-benar akan melamar.
Nina mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas Selempang ya lalu mengulurkan pada Ozil.
"Ambil ini, buat tambahan modal kamu Oz."
Ozil menerima amplop coklat itu dengan pandangan haru.
"Mbak...."
"Di gunain dengan betul ya Oz. Moga lancar usaha mu ternak lele."
"Aamiin ... Alhamdulillah, makasih Ya Alloh, usaha Ozil di mudahkan." Ozil menengadahkan tangan lalu meraup wajahnya.
"Duuuhh,, jadi nggak sabar pengen halalin mbak Nina."
"Udah, nggak usah banyak ngegombal kamu." Nina tertawa renyah dengan ucapan Ozil.
"Seriusan mbak."
"Udah ya, mbak balik dulu." Pamit Nina menarik tuas gas motornya.
"Iya. Makasih ya Mbak."
Ozil melambaikan tangan mengiringi kepergian Nina dengan tatapan sendu.
"Tunggu Ozil ya mbak, selama itu, jangan jatuh hati pada pria lain..."
__ADS_1