Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 27


__ADS_3

Flash back dikit


"Cepetan ma, keburu malam nih." Teriak Ben dari ujung tangga, mendongak memanggil sang mama.


"Iya, bentar sayang, nggak sabaran banget sih." Seru mama berlari kecil setelah merias wajahnya.


Wanita paruh baya itu tampak sangat cantik dengan dres bermotif floral."ayo..."


Mama berjalan mendahului, Ben Arfa mengekori.


"Mana papa?"


"Udah di mobil. Nungguin mama lama."


"Namanya juga wanita Ben, pasti ber-make up dulu. Nanti kalau kamu sudah menikah juga bakalan nungguin istri mu berdandan. Ya, beda sih kalau kamu mau istrimu kucel."


"Nina nggak kucel ma, dia cantik. Nggak dandan aja udah cantik."


"Ck! Kayak Nina bakal Nerima lamaran kamu aja."


"Ngarep dulu kan nggak papa ma."


Kedua nya pun memasuki mobil dan meluncur ke rumah Nina.


Sesampainya di rumah Nina.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Sahut suara dari dalam. Nina yang membukakan pintu.


Ben Arfa tersenyum melihat wanita yang dia cintai itu tampak cantik meski hanya memakai piyama bermotif Doraemon dan jilbab bergo.


"Ooh, kamu Ben, ada apa? Ayo masuk." Nina mempersilahkan. Ben masuk beserta papa dan mama nya.


Nina tak bisa menyembunyikan keterkejutan nya melihat kedua orang tua Ben Arfa juga ikut berkunjung. Ia mengalami serta mencium tangan kedua nya di depan pintu dan mempersilahkan masuk.


"Nina bikin kan minum dulu ya." Pamit Nina sopan.


"Iya Nin, bunda ada?"


"Ada Tan, saya panggilkan sebentar."


Nina masuk lebih dalam, menyibak gorden penghubung ruang tengah.


"Bun," panggil Nina agak keras.


"Siapa nin?" Bunda yang baru dari kamar mandi melongok.


"Ben sama kedua orang tua nya. Bunda temui dulu deh."

__ADS_1


"Eehh, ada apa ya? Kok tumben?" Bunda bertanya-tanya.


"Makanya temui dulu Bun, Nina mau bikinin minum dulu."


Dila udah pulang?"


"Belum."


"Ya udah bunda ke depan dulu."


Setelah sang bunda berjalan ke ruang tamu, Nina bergegas membuat teh, meski ada rasa penasaran kenapa Ben dan orang tuanya bertandang.


Nina mengambil lima gelas, mengisi dengan teh celup dan gula lalu menuang air panas dari dispenser.


Nina masih merasa penasaran, namun, ia teringat dengan pengakuan dari Ben jika pria itu memiliki rasa dengannya. Seketika jantung Nina berdebar keras. Ia menggeleng beberapa kali mengenyahkan pikiran bahwa Ben bermaksud melamarnya maalam ini.


Walau bagaimanapun, Nina wanita dewasa yang pernah menikah. Niat Ben terlihat jelas. Dengan membawa seerta orang tuanya dan beberapa oleh-oleh yang sempat mereka bawa. Menegaskan maksud kedatangan Ben sekeluarga.


Nina menenangkan hatinya, tetap harus berpikir ini hanyalah silaturahmi biasa. Lalu mengangkat nampan yang berisi lima gelas teh.


Terdengar sayup percakapan bunda nya dan orang tua Ben.


Nina menyibakkan gorden. Lalu mengulas senyum tipis pada mama papa Ben yang menatap ke arahnya.


"Di minum dulu, Tante, om, Ben." Ucap Nina meletakkan gelas di meja.


"Jadi kami sudah berbincang sedikit dengan bunda mu, Nin." Kata mama tersenyum ramah.


"Kamu?" Ben bersuara saat Dila menjabat tangannya.


Dila tersenyum sangat manis, sama manis nya dengan Nina. Hanya dia tak memakai jilbab.


"Ketemu lagi." Dila nyengir.


"Loh? Kalian kenal?" Tanya bunda dengan alis bertaut.


"Iya Bun, jadi kemarin pas saya mau ke acara reuni, mobil mogok. Terus dia ini bantuin saya sampai mobil saya bagus lagi." Ben menjelaskan.


"Oohh, begitu." Bunda manggut-manggut, "sekalian aja kalau gitu bunda kenalin. Ini Dila adik nya Nina. Dia kuliah sambil kerja. Suka otomotif baru balik dari kerja part time di bengkel."


"Ooh, hebat nya anak nya jeng Anggi, kuliah sambil kerja." Puji Mama menatap gadis manis yang masih berdiri di samping Nina.


"Saya permisi mau bersih-bersih dulu, Tante." Pamit Dila menangkup kedua tangannya di depan dada.


"Iya silahkan." Mama mempersilahkan dengan tangan. Lalu Dila berbalik menyibak gorden dan menghilang di baliknya.


"Itu Dila? Yang dulu kecil nya ingusan dan kucel?" Ben masih tampak terkejut melihat perubahan Dila.


"Iya." Jawab Nina dengan kekehan kecil.

__ADS_1


"Aku nggak kepikiran, ternyata Adek kamu yang nolongin aku."


"EHEMM..." Papa Ben Arfa berdehem setelah meminum tehnya dan meletakkan kembali di atas meja.


"Jadi begini Bu Anggi." Ucapnya setelah lama bungkam. "Beberapa hari yang lalu, Ben tiba-tiba menelpon dan meminta ku untuk pulang saat masih sibuk dinas di Malaysia. Dia bilang memiliki perasaan yang spesial pada putri Bu Anggi, Nina."


Deg!


Nina menggenggam kuat pinggiran sofa. Kenapa firasat nya harus tepat? Ia tak mengharapkan sebuah lamaran dari siapapun.


"Dan maksud kedatangan kami kemari adalah melamar Nina untuk anak kami Ben Arfa." Papa Ben menyelesaikan ucapannya.


Sudut bibir Ben terangkat, tanpa bisa menahan rasa bahagia karena sudah mengkitbah sang pujaan hati. Meski, Nina belum mengatakan apapun. Setidaknya, satu langkah sudah dia tapaki.


"Terima kasih pak Irfan, untuk maksud baiknya. Saya hanya orang tua Nina, seperti yang sduah bapak tau ayah Nina sudah tiada. Dan sebelum nya apa bapak tau jika Nina seorang janda beranak satu." Terang bunda, walau bagaimanapun keluarga calon besannya harus tau setatus Nina, agar di kemudian hari tidak menimbulkan gesekan.


"Tentu saja." Tutur pak Irfan mengangguk." Ben sudah bercerita semua. Dan kami tidak mempermasalahkan hal itu. Asalkan mereka saling menyayangi dan melengkapi. Itu sudah lebih dari cukup."


Bunda tersenyum penuh arti. "Saya senang mendengarnya. Saya minta, apapun yang menjadi keputusan Nina, tolong diterima dengan iklas."


Lalu menatap Nina.


"Bagaimana Nin? Bunda terserah pada mu. Kamu yang nantinya menjalani."


Nina mengangkat kepalanya yang sempat menunduk. Menatap Ben yang tersenyum dan berbinar penuh harap lamarannya akan di terima.


"Ben, aku sudah mengatakan pada mu kan, di sini, masih ada mas Ozan." Nina menunjuk dadanya. "Bagaimana bisa aku memulai hubungan yang baru jika di sini masih ada kisah yang lama dan belum kering sepenuhnya."


"Aku pernah bilang kan, kalau aku nggak keberatan." Ucap Ben memajukan tubuhnya menatap lekat wanita yang sudah dia cintai sejak masih SMA."Aku tetap ngijinin kamu dan Zidan berziarah ke makam Ozan. Atau pun bertemu dengan keluarga mantan suami mu jika kita menikah nanti."


Ben menggenggam tangan Nina. "Aku sayang sama kamu Nin, karena itu aku membawa papa dan mama kemari untuk melamar. Karena bagiku, seorang lelaki itu menikahi, bukan memacari."


Ben menatap lekat wajah Nina yang terlihat bimbang. "Beri aku kesempatan buat ngebahagiain kamu dan Zidan Nin. Terima lamaran aku. Huuummm?"


Nina menarik nafas panjang. Berbalik menatap pria yang kini terus menatap lekat padanya.


"Aku nggak bisa jawab sekarang Ben. Beri aku waktu satu Minggu untuk sholat istikharah."


Ben tampak kecewa. Namun ia mengulas senyum setelah nya. "Baiklah."


Ben melepas genggaman nya dan menegakkan punggung.


"Aku akan bersabar selama satu Minggu." Ucap Ben mengambil cangkir teh nya dan menyeruput pelan.


"Yah, karena mereka sudah sepakat. Kami hanya mengikuti saja." Kata mama Ben.


"Terima kasih karena sudah menerima keputusan Nina jeng." Ucap bunda lembut. Lalu menatap Ben."biar Nina nggak bingung, kamu mau kan selama Nina istikharah nggak hubungi dia dulu."


"Siap bunda. Percaya sama aku."

__ADS_1


"Terima kasih nak Ben."


Bersambung ...


__ADS_2