
Hari ini Dila dalam perjalanan ke gedung tempat acara resepsi pernikahan yang nanti nya akan digelar.
Sesampainya di gedung Dila menatap bangunan yang merangkap hotel itu. Dila tersenyum kecil, lalu melangkah pelan menuju lobi.
"Dila!"
Dila menoleh, Rita datang mendekat.
"Kamu ngapain di sini?"
"Ummm... Ada urusan."
"Oohh, bukan kencan ya? Kupikir kencan sama om bule waktu itu."
Dila tersenyum kecil. "Kamu kok di sini, ya?"
"Aku ikut seminar di balroom hotel ini. Sama dia nih." Ucap Rita menunjuk teman lelaki yang berdiri di sampingnya."Kamu tunggu di parkiran aja ya aku mau ngobrol bentar sama temanku."
"Oke." Jawab lelaki itu melangkah pergi.
"O iya, ngomong-ngomong kamu tau nggak tentang mas Ben? Sejak muncak dulu aku kehilangan jejaknya. Padahal aku udah pernah minta nomornya, tapi nggak di kasih. UMM, sebenarnya sih, aku dapat dari ketua kita waktu itu. Tapi mas Ben nggak pernah balas. Aku curiga cuma di kasih nomor palsu." Rita bercerita panjang lebar. Membuat Dila jengah. Walau ada sedikit rasa senang karena Ben tidak menanggapi Rita.
"Oohh... UMM... Aku duluan ya ta." Pamit Dila enggan berlama-lama dengan Rita.
"Eh, mau kemana?" Menahan lengan Dila."aku masih mau bercerita sama kamu."
"Aku ada yang nungguin di dalam."
"Siapa? Suamimu? Aku dengar kamu udah nikah ya? Benaran ya? Apa sama om bule itu?" Cecar Rita.
"Bukan ta..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, hp Dila sudah berdering. Cepat-cepat Dila mengangkat nya.
"Halo."
("Kamu di mana?")
"Lobi."
("Lobi?")
Tak lama terdengar suara memanggil nama Dila dari arah lorong sebelah dalam.
"Ila!"
Dila dan dua temanya itu menoleh kearah sumber suara.
"Mas Ben."
Ben mendekat, Rita tersipu dan sedikit membetulkan rambutnya. Berdiri dengan senyum termanisnya.
Ben berhenti di depan dua wanita itu.
__ADS_1
"Mas lama nggak ketemu."
"Hai Ta." Ben tersenyum ramah pada Rita membuat gadis sedikit salah tingkah.
"Aku nungguin dari tadi, taunya malah ngobrol di sini." Ben berganti menatap Dila.
"UMM... Iya." Dila melirik rita yang tampak terkejut.
"Loh? Kalian? Janjian?" Rita menatap Dila dan Ben bergantian.
"Dila, aku kan udah bilang suka sama mas Ben, kenapa kamu rebut dia?" Gumam Rita geram mencubit lengan Dila.
"Dila istriku, ta."
Mata Rita membulat. "Apa? Jadi kalian udah nikah?"
"Iya, maaf ya aku nggak balas pesanmu. Kami sudah menikah sebelum kita Muncak. Aku ikut rombongan juga untuk menjaganya. Walau Dila keberatan karena muncak dengan teman-teman nya. Jadi, aku masuk dengan cara seperti itu." Jelas Ben.
"Maaf ya, Ta.' lanjut Ben menangkupkan tangan di dada lalu menarik tangan Dila.
"Ayo sayang."
"Maaf ya Ta, kami duluan." Pamit Dila meninggalkan Rita yang membulatkan bibirnya tak percaya.
Setelah melakukan pengecekan lokasi dan memantau kemajuan persiapan acara. Ben dan Dila kembali ke rumah.
Mereka duduk bersisishan di halaman belakang. Terdiam tanpa ada yang bersuara. Menikmati keheningan diantara mereka.
Ben menoleh,
"UMM.... Kenapa mas Ben membuat resepsi semewah itu?" Tanya Dila, karena dia cukup penasaaran.
"Kamu nggak suka?"
"Aku... Sebenarnya hanya ingin acara yang sederhana. Tapi, tadi saat meninjau lokasi dan juga melihat dekorasi nya seperti... Sangat jauh dari bayangan ku. Itu terlalu besar."
Ben mengulas senyum.
"Sebenarnya aku juga ingin begitu. Membuat pesta di restoku sendiri. Tapi, kapasitas tamu di resto tidak cukup. Jadi kami memilih tempat itu. Skalian, malam nya bisa istirahat di sana."
Dila mengerjab.
"Kapasitas tamu nggak cukup? Memangnya berapa banyak tamu yang di undang?"
"Ila, kamu tau kan jika aku ini anak tunggal?"
Dila mengangguk.
"Dan... Rekan bisnis papa itu banyak. Banyak sekali dan semua di undang. Termasuk beberapa teman papa yang ada di luar negeri. Karena itu, papa ingin acara kita di buat semeriah mungkin dan sebagus mungkin. Itu untuk menjaga wajah papa."
"Kalau begitu, kenapa mereka membiarkan kita menikah? Seharusnya, mereka menentang, apalagi cara kita menikah juga seperti itu..." Ucap Dila makin di buat bingung.
__ADS_1
Ben tertawa geli.
"Benar. Harus nya mereka menentang, dan memilihkan aku wanita yang sesuai dengan bibit dan bobotnya."
Dila menatap mata Ben, begitupun dengan Ben yang menatap mata Dila dengan kesungguhan.
"Mereka orang-orang yang menjunjung tinggi kesakralan sebuah pernikahan. Dan lagi, mereka juga sudah berulang kali menjodohkan ku. Tapi aku selalu mengelak. Aku juga tak pernah begitu dekat dengan wanita, sampai mama dan papa berpikir aku ini tidak normal. Sampai, mereka tau tentang Nina."
Dila menundukkan wajahnya. Ia sangat tau dulu Ben begitu mengejar kakaknya. Dan justru terperangkap pernikahan dengannya.
"Mereka sangat senang dan berharap aku mau menikah. Mama sangat bersemangat saat melamar Nina untukku. Tapi, saat Nina meminta waktu, mama sangat khawatir jika Nina menolak dan aku kembali tak berminat pada wanita. Sampai, di saat terakhir aku justru menikah dengan mu." Lanjut Ben mengangkat wajah Dila yang menunduk dengan jari agar melihat ke arah nya.
"Sejak awal bertemu, mama udah suka padamu. Lalu saat tau kita menikah karena di grebek, mama memang bersedih untuk ku. Tapi, sebenarnya dia bahagia. Apalagi, kamu mengingatkannya pada Almarhum Rania."
"Rania?"
"Rania adikku, meninggal saat usianya masih delapan tahun."
Dila menutup mulutnya yang terbuka. Ben mengulas senyumnya.
"Kamu terkejut?"
Dila mengangguk. "Kalian tidak pernah membicarakannya."
"Iya. Memang."
Hening sesaat.
"Apa hati mas Ben masih terpaut..."
"Ila..." Sela Ben menatap istrinya."Mari kita membicarakan masa depan saja. Huummm?"
Dila dan Ben saling menatap, lalu Dila mengangguk kecil. Ben mengulas senyum. Lalu sedikit mencorongkan tubuhnya ke arah Dila. Mencium keningnya, lalu berpindah turun ke pipi, Dila memejamkan mata menikmati setiap kecupan ringan dari Ben yang kini berpindah ke pipi yang sebelahnya lagi.
Dada Dila serasa berdetak kencang. Pikirannya melayang kemana-mana. Sampai bibir lembut Ben menyentuh bibirnya. Memberi sesapan kecil. Dila ikut menggerakkan bibirnya memberi celah untuk lidah Ben masuk mengekplor mulutnya.
Bukan ciuman penuh naafsu, hanya saling membelai lidah dengan lembut dan perlahan.
Di sisi lain, mama yang baru saja pulang bersama papa meletakkan martabak manis di atas meja ruang keluarga.
"Ben sama Dila mana bik?" Tanya mama pada bibi yang menyambut.
"Di belakang nyah, "
"Kita makan di belakang aja pa." Ajak mama mengambil lagi martabak yang sempat mendarat di atas meja.
Papa mengangguk. Lalu bersama-sama berjalan ke halaman belakang. Mama tertegun dan berhenti melihat anak dan menantunya sedang beradu bibir. Mama mengulas senyuman.
"Pah, balik aja." Ucap mama berbalik menarik lengan suaminya."sepertinya Ben sudah mulai menerima Dila dan melupakan nina. Mama senang."
Papa tersenyum kecil."kita makan berdua aja martabaknya ma."
__ADS_1
"Hayuk."