
"Nis, kenapa nangis?"
Nisa meng hapus air matanya dengan punggung tangan.
"Ozil lagi?" Tanya Laras.
Nisa masih membisu.
"Kamu ngapain sih masih mikirin dia? Sampai nangis-nangis kek gini? Bikin aku kesel tau." Gerutu Laras dengan muka yang di tekuk-tekuk.
"Mas Ozil mau nikah, Ras." Tangis Nisa sesenggukan.
"Ya udah, biarin aja. Kamu tu cantik. Cari cowo lain ngapa? Kek cowo cuma Ozil aja." Laras masih menggerutu.
"Aku cinta nya sama dia Ras."
"Dia cinta nya sama wanita lain." Omel Laras makin kesal pada sahabatnya itu. Laras kasihan pada Nisa yang sudah sejak lama memendam rasa. Malah kini, Ozil mau nikahin Nina." Udah deh Nis, simpan airmata mu. Lupain Ozil."
Laras membuang nafas berkali-kali. Dan tetap menunggui Nisa yang terus menangis.
Hari berikutnya, Laras melihat Nina di warung. Hati Laras panas mengingat janda kembang beranak satu itu ia anggap telah merebut Ozil dari Nisa.
Laras mengepalkan tangannya, lalu melangkah mendekat. Dengan bahunya, Laras sengaja menyenggol lengan Nina, hingga ibu dari Zidan itu sempat terdorong dan menoleh.
Laras tersenyum sinis padanya.
"Mbak." Sapanya.
Nina memandang Laras sesaat lamanya, mengingat-ingat lagi siapa gadis yang kini berdiri di sampingnya memilih sayuran. Kebetulan memang di warung itu juga hanya ada mereka berdua. Bahkan pemilik warung pun belum keluar dari dalam rumahnya sejak Nina membunyikan bel.
"Kamu.... Temennya Ozil?"
Laras tak bergeming.
"Oohh, bukan temannya Ozil ya?" Nina balik menyenggol Laras Karena gadis itu acuh.
"Eehh, iya mbak. Saya Laras temannya Ozil." Sambil menoleh ke samping sejenak dan tersenyum sinis.
"Biasanya kamu sama Nisa."
"Nisa lagi sakit, mbak."
"Sakit? Sakit apa?"
"Sakit hati, mbak."
Nina mengernyit, bukan dia tak tau jika Nisa menyimpan rasa pada calon suaminya. Bahkan saat Nina berpapasan dengan Nisa tempo hari pun, Nina tau jika gadis membawa makanan untuk Ozil. Namun, kembali lagi karena Ozil menolaknya. Di tambah perkacakan dari pekerja Ozil menegaskan demikian.
"Mbak nggak nanya kenapa dia bisa sakit hati?" Menatap Nina ketus.
__ADS_1
Nina melengkung kan bibir nya ke atas.
"Nggak." Lalu Nina kembali memilih sayur, hal itu membuat Laras jengkel. Karena Nina justru seakan tidak perduli.
"Itu karena mbak." Tukas Laras."Kalau bukan karena Mbak Nina. Mungkin saja mereka bisa bersama."
Nina masih memilih sayur tanpa menanggapi, namun ia mendengarkan.
"Mbak tu harusnya ngaca dong. Umur kalian beda jauh. Mbak lebih tua dari Ozil, nggak bisa apa nyari yang lebih sesuai umur. Nanti mbak lebih cepet keriput terus lakinya cari cewe yang lebih bening dan muda, baru nyesel!!"
Nina masih tak bergeming.
"Mbak bisa kan bahagia tanpa merebut kebahagiaan wanita lain?"
Laras yang udah jengkel, semakin jengkel karena Nina tak mengindahkannya. Lalu ia pun berbalik hendak pergi.
"Loh, mau ke mana Ras? Nggak jadi beli?" Tanya pemilik warung yang baru saja keluar dari rumahnya untuk melayani pembeli warung.
"Nggak jadi!" Ketus Laras melanjutkan langkah kakinya.
Nina melangkah gontai ke rumah setelah dari warung membeli sayur. Nina kepikiran juga dengan ucapan dari Laras tadi. Benarkah dia sudah mengambil kebahagiaan wanita lain? Benarkah sebelumnya memang Nisa yang lebih berhak?
Nina memang tak terlalu mengenal teman-teman Ozil. Hanya beberapa yang Nina tau karena beberapa sering main ke rumah pak Bahdim.
Hari pernikahan Nina dan Ozil tinggal menghitung hari. Namun, Nina malah kembali merasa resah dan bimbang. Benarkah dengan pernikahan ini? Mereka memang terpaut usia yang cukup banyak. 7 tahun.
"Mbak, ayo naik."
"Ayo buk." Seru Zidan tak sabar."halan-halan..."
Nina tersenyum memandang kedua prianya. Lalu memposisikan diri duduk di belakang Ozil.
"Peganan mbak."
Nina yang duduk menyamping melingkarkan tangan kanannya di pinggang Ozil. Ozil nyengir.
"Asyyyiiikk... Coba kek gini dari dulu mbak."celotehnya. Lalu menarik tuas gas motor.
"Oz, dulu gimana hubunganmu sama Nisa."
Tiba-tiba saja Nina ingin tau dan mendengar sendiri dari mulut Ozil.
"Kenapa mba? Dia nyari embak?"
"Enggak."
"Dia ngomong yang jelek-jelek sama embak?"
"Enggak, Oz."
__ADS_1
"Terus kenapa tiba-tiba nanya?" Suara Ozil terdengar tak suka. "Nggak usah dengerin kata orang mbak. Jangan sampai kita nggak jadi nikah gara-gara omongan orang mbak dengerin."
Nina merasa tersentil dengan ucapan Ozil. Benar. Ia menjadi bimbang karena omong yang tidak patut ia dengar.
Jika dalam hati, siapapun berhak untuk mencintai. Tapi, untuk memiliki, hanya yang terpilih yang akan bersambut.
Dan Nina salah satu yang terpilih, meski dia belum sepenuhnya mencintai Ozil. Tapi, bukankah sang Pencipta sudah memberinya petunjuk. Jika Ozil adalah jodoh nya setelah Ozan.
"Mbak Nina."
Nisa terkejut melihat Nina ada di depan konter pulsa tempat dia bekerja. Tak beda jauh dengan Nina.
"Loh, kamu kerja di sini, Nis?"
"Iya mbak. Mau beli pulsa?"
"Voucher paket data aja, Nis."
Nina menunjuk satu vocher yang hendak ia beli. Lalu, Nisa mengambilnya untuk Nina.
"Kamu jaga sendiri?"
"Iya mbak."
"Ini lima tiga ya?" Tanya Nina mengambil voucher dan menggosoknya, tak lupa ia menyerahkan uang pada Nisa.
Nisa sendiri memindai wajah Nina. Memandang setiap lekuk wajah cantik berjilbab hitam itu.
"Cantik tanpa cacat." Gumam Nisa dalam hati.
Tak lama ada orang gila yang lewat depan konter. Nisa tau orang gila karena pakaiannya copang camping dan kotor. Dan juga orang itu E-Ring lewat depan konternya.
Nina mendekati orang gila itu dan berbincang layaknya orang normal. Tak lupa Nina memberi orang gila itu plastik berisi makan yang dia beli untuk Zidan.
Lalu Nina kembali lagi ke konter karena tas miliknya tertinggal.
"Mbak Nina kenal sama orang gila itu?" Tanya Nisa penasaran.
Nina mengukir senyum.
"Iya. Biasanya mbak lihat dia di simpang jalan sana. Ternyata jalan nya sampai sini juga ya?"
"Mbak kasih makan?"
Nina tersenyum. "Mereka kan juga manusia, Nis. Butuh makan, merasakan lapar dan haus juga, hanya mereka nggak bisa mengeluh seperti kita yang orang waras. Benar kan?"
Nisa terdiam, ia salut dengan apa yang Nina lakukan dan sampaikan. Nisa pikir nggak masalah jika mengalah pada wanita seperti Nina.
"Mbak pergi dulu ya."
__ADS_1
"Iya mbak."
Nisa menatap Nina yang semakin menjauh. "Pantas aja mas Ozil SE cinta itu sama mbak. Nggak cuma wajah, hati mbak juga cantik."