
"Ngapain sih mas Ben ikut segala?" Protes Dila dengan muka cemberut.
"Kamu udah jadi tanggung jawab ku, Ila." Jawab Ben Arfa seraya mengikat tali sepatu nya.
"Kok ila?"
"Nama mu kan Dila. Kalau aku manggil Dil, rasanya kek manggil temanku si Fadil. Jadi, ila aja bagus."
Dila mendengus.
"Ayo berangkat." Ben menggendong keril nya.
"Mas Ben ngapain sih ikut segala? Kalau di tanyain temen ku gimana?" Mengekori Ben dengan malas.
"Ya kalau di tanya tinggal jawab."
"Jawab apa? Malu lah kalau bilang udah nikah. Mana nikah siri lagi. Bisa ditertawain aku mereka."
Ben menoleh menatap Dila dalam diamnya. Dila masih tampak tercemberut.
"Jadi kamu malu kita dah nikah."
"Ya malu lah, aku ini masih kecil. Baru juga ngrasain kuliah. Mana nikah siri lagi."
"Udah tau masih kecil, ngapain nglakuin itu di gudang?"
"Emang ngapain aku di gudang? Cuma ganti baju juga."
"Ya itu... Harusnya ganti di tempat lain. Jadi kegrebek kan kita."
"Kok mas Ben jadi nyalahin aku sih?"
"Ya kan kamu yang buka-bukaan baju jadi orang pada salah paham."
"Itu kan juga karna mas Ben nyosor sini! Kalau nggak mana mungkin mereka salah paham." Sambil menunjuk dadanya.
"Itu kan karena aku, kesandung."
"Terus nyosor nya ke sini? Kan bisa jatuh nya ke tempat lain!"
Mama yang sedari tadi mendengar pasangan yang bertengkar entah kenapa jadi geram dan mendekat.
"Duuhh, ini jadi mau berangkat nggak sih? Kok malah bertengkar depan pintu?" Tegur mama di ambang pintu.
Ben menyentak nafasnya bersamaan dengan Dila.
"Kalau nggak jadi muncak bantuin mama merawat bunga. Mama kewalahan kalau cuma sendiri." Mama memindai kedua orang berbeda usia yang kini adalah anak dan menantunya. Yang memilih mengalihkan pandangan.
"MMM.. Dila berangkat dulu ya, Tan..."
Mama berdehem.
"Mama! Dila berangkat dulu ya, ma." Dila mengkoreksi ucapannya sembari nyengir.
"Iya, hati-hati, jaga sikap dan lisan jika di gunung." Pesan mama saat Dila mencium tangannya.
"Iya ma."
__ADS_1
"Kamu Ben, jaga Dila dengan baik. Dia tanggung jawab mu sekarang." Pesan mama lebih galak saat menghadapi anaknya.
"Ya ampun, sebenarnya, aku ini anak apa menantu sih." Protes Ben setelah mencium tangan mamanya.
Dalam perjalanan, Dila terus merasa jengkel. Dia malas jika teman-teman nya meledek karena dia muncak bersama Ben. Apalagi dia bukan orang kampus.
"Kamu kenapa sih?"
"Masih nanya lagi."
"Masih nggak rela aku ikut?" Melirik dari ekor matanya.
"Iya." Kedua terdiam sesaat.
"Aku juga kalau nggak di paksa mama sama papa juga nggak mau, ila."
"Kalau gitu, kenapa mas Ben nggak pura-pura ikut saja. Nanti berhenti di mana gitu, terus besok kita ketemu lagi di situ. Pulang bareng. Kan nggak ketahuan. Aduuhh!!"
Setelah bicara panjang lebar Dila mengusap kepalanya yang kena toyoran Ben.
"Sakit tau!"
"Siapa yang ngajarin kamu licik kek gitu? Bohong sama orang tua?" Ben meninggikan suaranya, Ben memang tak pernah suka berbohong pada orang tuanya. Hingga ia marah Dila sampai bicara seperti itu. Manipulatif.
Dila berdecih.
"Katanya terpaksa." Bergumam lirih.
"Itu nggak berarti membenarkan ucapanmu barusan, ila."
Ben masih tampak marah. Selama beberapa saat mereka hanya dalam kebekuan yang sunyi.
"Lain kali, jangan lakukan."
Sesampainya di basecamp, Dila berjalan lebih dulu.
"Ingat ya mas, aku nggak mau teman-teman ku tau kalau aku sudah menikah. Nikah siri lagi. Mereka bakal buli aku sampai liang lahat."
Ben terrtawa kecil.
Dila memilih tak acuh dan melangkah ke tempat teman-teman nya berkumpul. Heboh beberapa saat bertemu dengan teman-teman mapala nya.
Setelah urusan simaksi selesai, Dila dan rombongan berjalan meninggalkan bascamp.
"Guys, kita dapat teman baru nih." Seru Ilkay yang menjadi leader tim kali ini.
Dila yang sedang berbincang dengan seorang teman prianya melebar pupil matanya melihat orang yang di bawa Ilkay.
"Mas Benn..." Geram Dila dalam hati.
"Kenalan dulu yok sebelum kita mulai melangkah ke pos 1."
"Hay, semua, namaku Ben Arfa. Tadinya mau solo hiking, tapi ikut rombongan kalian boleh kan?"
"Boleh! Boleh!" Seru teman-teman Dila yang perempuan.
Dila kesal bukan main menyikut temanya yang histeris.
__ADS_1
"Kenapa? Dia ganteng. Mau aku gebet ah." Rita teman Dila yang memang sedikit centil."Siapa tau abis ini bisa jadi pacar, uhukk..." Celetukan Rita disambut cie-cie an oleh teman wanita yang lain. Dila hanya menggeleng.
"EHEMM.. biar lebih akrab sekalian kenalan ya," Ilkay memperkenalkan satu persatu timnya yang beranggotakan 7 orang termasuk dirinya. Dua laki-laki dan Lima perempuan."Mas Ben kan dah berpengalaman, jadi leader kami ya, biar aku di tengah sama Nasri yang jadi sweeper."
"Eehh, jangan. Aku aja yang di tengah tau sweeper nya. Kamu tetap jadi leader nya di depan. Aku nggak kenal cukup baik dengan anggotamu."
Setelah di putuskan akhirnya, justru Ben yang jadi sweeper. Formasi, Ilkay di depan lalu Mei, Yuli, febri dan Nasri di tengah, Dila, Rita dan Ben sebagai sweeper.
Selama dalam perjalanan. Rita tak pernah melepaskan kesempatan. Beberapa kali mengajak Ben berbicara dan mencari perhatian.
Sedangkan Dila sibuk ngobrol dengan Nasri. Dari pandangan mata Ben yang beberapa kali menangkap Dila dan Nasri bercanda dan berinteraksi. Dapat Ben tarik kesimpulan jika kedua nya adalah sepasang kekasih.
"Dua orang itu emang lengket kok bang kek perangko."
"Benarkah? Jadi mereka pacaran?"
"Pacaran sih enggak, tapi sama-sama saling suka." Ungkap Rita makin gencar menggibah.
"Kok kamu tau?"
"Ya tau lah, kan kelihatan dari gelagatnya. Nasri perhatian terus sama Dila. Dila nya juga open sama Nasri. Yah, intinya mereka saling nunggu lah buat ngungkapin perasaan masing-masing. Kalau nggak percaya, lihat aja ntar di pos satu bang."
Benar saja di sampainya di pos satu, Nasri memang memberi perhatian lebih pada Dila. Ben hanya memberi pandangan aneh pada dua manusia yang saling melempar senyum itu.
Dalam perjalanan di pos berikutnya, Dila berada tepat di depan Ben, Rita sudah berjalan lebih dulu dengan Febri. Di depan Dila ada Nasri beberapa meter.
Ben berjalan menyusul Dila.
"Pantas aja aku nggak boleh ikut, rupanya mau pacaran di sini?"
Dila menoleh mendengar suara sumbang dari Ben.
"Apa maksudmu, bang?" Sengaja Dila menggunakan sebutan sama dengan yang lain agar tak ada yang curiga jika mereka pasangan suami istri.
"Sudah berapa lama kamu pacaran sama Nasri?"
Dila terdiam sesaat lalu tertawa. "Rita yang bilang?"
"Kamu nggak sadar jika kamu terlalu dekat dengan lelaki yang bukan muhrim?"
"Nggak usah ceramah deh bang."
"Aku cuma ngingetin kamu, kamu sudah bersuami. Jadi jaga sikap. Atau memang seperti ini kamu kalau di luar rumah? Bunda tau?"
"Maksud Abang apa? Abang mau ngadu sama bunda?"
"Yah, tergantung bagaimana kamu bersikap."
Dila berdecih. Lalu mempercepat langkahnya, "ganteng-ganteng kok nyebelin. Aku tarik balik ucapanku dulu dia orang baik. Ternyata aku belum kenal dia dengan benar." Menggerutu dengan gumaman.
Ben yang masih tertnggal di belakang. Mengulas senyum. Di sudut lain Rita yang melihat Ben sempat berbincang dengan Dila merasa cemburu.
"Dila." Nasri mendekat dengan secangkir kopi saat mereka sampai di camping ground."nih, kopi biar anget."
"Makasih ya, Nas." Dila menyeruput kopi pemberian Nasri didepan tenda nya.
"Nih, pake jaket ku biar nggak dingin." Sambung Nasri lagi.
__ADS_1
Keduanya tersenyum malu-malu. Ben yang menatap dari depan tendanya tersenyum kecil.
"Dasar bocah." Gumam Ben.