Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 39


__ADS_3

"Zidan tidur sama nenek ya?"


"Enggak ah, sama ibuk."


"Sama Tante Dila aja Zid, di kamar Tante ada banyak boneka." Dila pun ikut membujuk.


"No! Zidan kan laki-laki!"


Baik bunda, Dila, Nina dan Ozil serentak tertawa.


"Kenapa emang kalau laki-laki? Nggak boleh main boneka?" Tanya Dila menahan tawanya."kata siapa?"


"Om Ozil!" Tunjuk Zidan. Lalu memeluk Ozil."bobok cama Om."


Ozil nyenggir. "Nggak mau ah. Om mau bobok sama ibuk aja. Bosan sama Zidan."


"Uuuuummm...." Zidan menggaung ngambek. Ozil tertawa.


"Iya, nanti bobo sama Om."


"Yeeeiiii...." Zidan bersorak gembira.


"Cam ibuk juga?"


Ozil melirik Nina. "Iya nggak mbak?" Di akhiri dengan cengiran dan kerlingan nakal.


Nina tersenyum-senyum malu.


***


Malam itu, di kamar Nina yang sudah di sulap menjadi kamar pengantin yang indah, penuh dengan kelap-kelip lampu Tumblr.


Nina berbaring di atas ranjang di sisi kiri. Ditengah ada Zidan dan di sisi kanan Ozil. Ketiganya, berbincang entah apa.


"Jadi Zidan manggil om Ozil, ayah?" Tanya Zidan polos.


"Hemmm..."


"Kenapa?"


"Mau nggak?" Tanya Ozil.


"Om ajalah."

__ADS_1


"Kenapa mau om?"


"Zidan kan udah punya, ayah."


"Mana?"


"Di kubulan."


Ozil tersenyum kecil. "Zidan nggak mau nambah Ayah lagi?" Tanyanya, "yang bisa Zidan ajak jalan-jalan, main, tidur bareng."


"Mau!"


"Kalau gitu panggil Om, ayah."


"Uummm...." Zidan tampak berpikir mengerjab-ngerjabkan mata.


"Sudah, tidur. Besok lagi ngobrolnya ya." Nina memeluk Zidan dan menepuk paha bocah kecil itu pelan sembari bersenandung agar anaknya tidur.


****


Malam semakin larut, Nina membuka matanya karena sempat ikut tertidur karena kelelahan setelah acara resepsi tadi. Nina masih tidur di sisi Zidan yang terlelap dengan posisi yang sudah tak jelas di mana kakinya.


Di depannya hanya ada Zidan. Hawa dingin terasa menusuk tulangnya malam itu meski telah menyelimuti diri sampai batas perutnya. Di belakang Nina merasakan suhu yang lebih hangat malam itu.


Perlahan, Nina melihat ke belakang. Ozil sudah berpindah ke sana. Yang awalnya tidur di samping Zidan, entah jam berapa Ozil menggeser tubuhnya.


"Mbak Nina dah bangun?"


"Loohh? Kupikir kamu tidur, Oz."


"Nggak bisa tidur mbak." Sahut Ozil, "hadap sini deh."


Nina membalikkan tubuhnya yang semula membelakangi Ozil kini sudah menghadap suami kecilnya.


"Denger deh," Ozil mendekatkan kepala Nina ke dadanya. "Dari tadi kek gini terus, gimana bisa tidur."


Kepala Nina menempel di dada Ozil. Terdengar suara detak jantungnya yang berirama cepat.


Nina terkikik.


"Ya ampun, anak maniss..." Gemas Nina mencubit hidung Ozil.


"Aku dah gede mbak."

__ADS_1


"Iya. Iya. Udah, tidur." Nina berbalik lagi membelakangi Ozil


"Kok malah hadap sana sih?" Protes Ozil.


"Kenapa lagi?"


"Hadap sini lah mbak, gantian peluknya. Masak Zidan terus yang di peluk. Nggak bosen apa?"


Nina tertawa kecil.


"Iissshh... Kamu ini Zil. Katanya udah gede."


"Aku memang sudah gede mbak, tapi kan aku masih punya Adek yang butuh kehangatan." Celoteh Ozil, "Eh, aku matiin ya mbak lampunya."


Ozil bangun dan beranjak dari tidurnya.


"Bukannya kamu takut gelap?"


"Enggak. Kan ada mbak Nina."


Nina menggeleng sembari berdecak. Ozil berjalan mendekati saklar. Lalu lampu kamar mati, juga lampu Tumblr sengaja Ozil matikan.


Kini kamar Nina benar-benar gelap.. hanya lampu yang menyorot dari luar yang melewati celah ventilasi yang menembus kamar.


Ozil kembali berbaring di atas tempat tidur di sisi Nina. Memeluk Nina lagi dari belakang.


"Angget mbak. Ternyata nikah enak ya mbak?"


"Kamu baru satu malam ngrasain. Bilang itu kalau udah 10 atau 20 tahun ya."


"Kenapa?" Ozil mengeratkan lagi pelukannya. "Mbak hadap sini deh."


Nina pun menurut, walau lebih muda, ozil tetaplah imamnya. Suami yang harus selalu ia junjung dan patuhi.


"Mbak Nina kalau nanti aku sudah tua, dan nggak ganteng lagi..."


"Nanti mbak cari yang lebih ganteng lagi." Sela Nina terkekeh-kekeh.


"Mbak Nina!" Ozil mencapit tubuh Nina lalu menggelitiki nya, hingga tubuh Nina menggelinjang dan tertawa sampai suaranya tak terdengar."Bilang sekali lagi. Ayo bilang."


"Ampunn... Ampunn.. Ozil." Ucap Nina di sela-sela tawanya. "Mbak kan cuma bercanda."


Ozil pun menghentikan menggelitik Nina. Sesaat mereka terdiam dalam keheningan dalam ruang yang gelap. Meski tak tampak, tapi mereka saling memandang.

__ADS_1


Perlahan wajah Ozil mendekat, nafas nya semakin cepat memburu oksigen.


__ADS_2