
Ozil mengendarai motornya dengan pikiran yang kalut. Terbayang saat pertemuan antara dirinya, Nina dan Ben Arfa.
Ia tau Ben seorang yang baik. Tidak ada hal jahat sedikitpun dari pria matang yang sedang dekat dengan Nina.
Rasa sakit kembali mendesak di dadanya, saat Nina dan Ben muncul dengan pakaian yang sama. Bahkan mereka membeli pakaian yang sama untuk Zidan juga. Seperti sebuah keluarga yang harmonis dan sangat serasi. Sakit seperti di cabik-cabik dan di hempas begitu saja.
"Kenapa cinta ini membunuhku, mbak Nina?"
Ozil tersenyum menertawai diri nya sendiri. Rasa sakit itu makin menghimpit dadanya. Dada nya terus berdenyut setiap mengingat perlakuan manis Ben pada Nina di pelataran resto tadi. Tatapan mata penuh cinta dari pria mapan yang bahkan tidak jumawa akan kekayaannya, justru menunduk dan menyembunyikan nya dari Nina.
Laju kendaraan Ozil tidak mengarah ke rumahnya, ia lewati begitu saja belokan ke jalan kampungnya. Motor itu melaju hingga ke bukit Mangunan. Melihat pemandangan hijau hutan Pinus dan dan rumah-rumah kecil di bawah sana. Cukup membuat Ozil merasa tenang.
Sepoi angin sore meniup wajah dan rambutnya. Ozil menatap kemilau jingga di ufuk barat yang mulai bersembunyi di belakang bukit barisan.
"Apakah tak ada tempat untukku di sisimu selain sebagai adik, mbak Nina? Apa hanya itu aku di matamu?"
Ozil mengganti oksigen di paru-paru. Ingin rasanya melepas hatinya dan ia tinggalkan di sana. Agar sakit itu lenyap. Sayangnya ia tak bisa.
Hati yang mencintai dan sakit itu terus melekat padanya.
"Apa aku tak pantas untukmu? Kenapa saingan cinta ku sangat berat? Kenapa harus mas Ben yang seorang konglomerat?"
Ozil mengukir senyum lagi,
__ADS_1
"Gap yang terlalu lebar...." Dengan tatapan mata sendu.
Ozil mencorongkan tangan di depan mulutnya.
"Mbak Nina!"
Suara itu bergaung dan memantul seolah banyak yang sedang membalas teriakan Ozil.
"Mbak Nina!"
Menjelang magrib, Ozil baru turun dari bukit Mangunan. Dan mampir saat kumandang azan memanggil. Meski hatinya sedang di uji oleh rasa sakit, namun, ia tak pernah lupa akan kewajiban.
"Kok baru pulang Zil?" Tanya Bu Ana yang sedang duduk lesehan menonton tv di ruang tamu. Begitu ia melihat Ozil memasuki pintu depan.
Bakda isha, Ozil duduk di teras rumah dengan beberapa teman kampungnya. Mereka hanya mengobrol hingga sangat larut.
"Kenapa Zil? Kok lemes gitu?"
Bapak duduk menjejeri anak bungsunya yang duduk melamun di teras setelah teman-teman pulang.
"Capek aja pak."
"Kalau capek itu tidur, istirahat bukan begadang."
__ADS_1
"Iya pak, nanti, belum ngantuk."
Hening... Hanya suara jangkrik dan gemerisik daun-daun yang di tiup angin menjadi nyanyian malam.
"Kamu mikirin Nina lagi?"
"Enggak pak."
"Jangan bohong kamu."
"Enggak beneran pak."
"Terus kenapa mukanya kek orang patah hati."
Ozil menghela nafas panjang. "Udah satu tahun lebih, berusaha, tapi belum mendapat hasil yang memuaskan."
"Kalau nurutin puas, nggak akan ada batasnya Zil." Sela pak Bahdim."Apa yang udah kamu capai sekarang ini sudah bagus, tinggal kamu tingkatkan lagi agar hasil nya maksimal."
"Iya pak."
"Kamu mau bapak lamarin Nina?" tanya pak Bahdim, seketika Ozil menoleh.
Bersambung...
__ADS_1