Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 38


__ADS_3

Hari yang di nanti pun tiba, Nina pagi ini sudah tampak cantik dengan kebaya putih tulang dengan Payet manik yang indah. Janda cantik berjilbab putih itu tersenyum menatap pantulan diri di cermin.


"Cantik mbak." Puji Dila tersenyum melihat kakaknya.


"Oohh ya?"


"Huummm..."


"Kapan acara resepsi mu dan Ben?" Tanya Nina."bunda kok belum bilang apa-apa sama mbak?"


"Nanti kalau acara mbak Nina selesai. Baru di bicarakan mbak."


Nina mengulas senyum menatap adiknya yang mungkin masih gadis itu.


"Mana Ben? Dia ke sini nggak?"


Dila hanya mengendikkan bahu.


"Mama sama papa di luar tuh. Tadi kami bareng. Tapi, nggak tau deh mas Ben."


"Suami sendiri kok gitu?"


"Ya ampun mbak Nina. Kayak nggak tau aja kenapa kami bisa jadi suami-istri?"


Nina menatap lekat Dila. Ada rasa sedih tersirat di matanya.


"Apa Ben memperlakukan mu dengan buruk?" Tanya Nina menggenggam tangan Dila.


Dila hanya bungkam.


"Dia nyakitin kamu?"


"Enggak sih mbak."


"Terus?" Nina masih mengejar.


"Kami cuma butuh penyesuaian."


Nina bernafas berat. "Maafin mbak ya dek."


"Kok mbak Nina minta maaf?" Dila mengerutkan keningnya.


"Mbak cuma berharap kalian bahagia. Dan, kamu tidak tersakiti." Ucap Nina lekat menatap mata Dila.


Di depan rumah Bunda Anggi yang sudah di sulap menjadi pesta hajatan yang cukup meriah. Rombongan dari keluarga Ozil sudah berdiri di depan pintu masuk. Beserta Ozil dan orang tuanya.


Setelah serangkaian acara seserahan tibalah di Ozil yang duduk di bangku depan pak penghulu dan wali hakim. Karena Nina ayah Nina sudah meninggal dan ia tak memiliki saudara laki-laki.

__ADS_1


Dengan jantung berdebar, dan gugup Ozil menunggu Nina keluar untuk jadi mempelainya. Tangannya sampai dingin saking gugupnya menanti untuk menghalalkan Nina.


Dari dalam rumah, Nina berjalan dengan di tuntun oleh sang perias dan Dila. Jantung Ozil serasa mau copot saat melihat betapa cantik nya Nina hari itu.


Begitu Nina duduk disampingnya, Ozil semakin berkeringat dingin. Nina yang melihat kegugupan jelas di wajah Ozil tersenyum-senyum.


Sedangkan pak penghulu justru menggoda.


"Udah siap mas Ozil? Jangan salah sebut ya. Nanti mandi loh." Goda sang pengguhulu.


"Ya mandi to pak Rahmat. Besok." Timpal sang wali hakim terkekeh.


Ozil pun tersenyum kaku.


"Latihan dulu mas Ozil?"


"Iya pak, udah hapal tadi di rumah. Sampai sini kok lupa ya?" Ozil nyengir. Pak penghulu dan wali hakim tertawa. Nina pun ikut menarik sudut bibirnya ke atas.


"Ya udah, ini tak kasih contekan aja." Ucap pak penghulu meletakkan secarik kertas di depan meja Ozil.


"Eehh, dapat contekan ya? Tau gitu nggak ngapalin tadi di rumah." Sesal Ozil walau senang juga.


"Ya sudah saya tarik lagi ini..."


"Eeh, jangan pak." Ozil menahan tangan pak wali hakim yang udah menyentuh kertas di depannya. Kedua pria didepan Ozil terkekeh.


"Mas kawinnya ini ya? Seperangkat alat sholat dan emas 10gram?" Tanya pak wali hakim.


"Waah, sepertinya udah berkurang nih gugup nya. Ya udah, sebelum gugup lagi, kita mulai saja ya?"


Pak wali hakim mengulurkan tangannya. Ozil pun ikut menjabat dengan erat.


Hingga prosesi ijab Kabul yang sakral itu terlaksana dengan lancar.


"Alhamdulillah..."


Suara yang menggema di setiap sudut tempat hajatan berlangsung.


"Mbak Nina. Mbak Nina cantik banget pas pake baju pengantin." Puji Ozil berbisik di telinga Nina saat kedua sedang beristirahat seusai acara masih mengenakan baju pengantin.


"Ini kedua kali nya aku lihat mbak Nina pakai baju pengantin dan cantik terus. Tapi..."


Nina menatap lekat bocah yang kini menjadi suaminya.


"Tapi, kali ini yang paling cantik, karena jadi pengantin ku."


Nina tersenyum dan semakin lebar. Jantung Ozil makin kencang berdetak.

__ADS_1


"Alloh mbak." Ozil memegangi dadanya seolah sedang kesakitan. Nina menjadi cemas.


"Kenapa, Oz?"


"Udah mbak, plis, udahan senyumnya, baju dah mau robek nih gara-gara digedor-gedor dari dalam sana."


Nina mendelik dan mencubit lengan Ozil. Ozil nyengir.


"Sakit mbak."


"Makanya, jangan bercanda. Bikin khawatir aja."


"Khawatir tu tanda sayang mbak. Berarti mbak Nina sayang sama Ozil."


Wajah Nina menghangat. "Udah ah, mbak mau keluar dulu. Laper." Sambil berdiri dari bibir ranjang kamarnya.


Ozil menarik tangan Nina hingga terjatuh dan di lengan atas Ozil. Wajah Ozil semakin mendekat, terus mendekat.


"Mbak Nina sekarang dah halal kan?"


Wajah Nina kembali terasa panas, hingga memerah. Wajah Ozil pun semakin mendekat, dan bibir keduanya menempel.


"Waadduuhhhh...."


Seketika Ozil dan Nina saling dorong hingga tubuh Nina terjatuh di ranjang, sedangkan Ozil terpentok di kepala ranjang.


"Adduuuhh..." Ozil mengaduh memegangi kepala belakangnya.


"Eehh, mbak, sebenarnya, Dila mau anter ini makanan karena di suruh bunda. Uhukk.. nggak ada maksud ngintip ya. UHUK.."


Dila nyengir lalu meletakkan nampan berisi satu piring nasi beserta lauknya dan satu gelas besar.


"Kok cuma satu, Dil?" Tanya Nina yang mengusir kecanggungan dan rasa malunya.


"Kata bunda piring sama gelas abis." Jawab Dila santai."udah ya mbak, mas Ozil. Di lanjut yang sempet tertunda. Dila tutup pintunya ya?"


Dila menutup pintu.


"Huuff..." Nina dan Ozil saling menatap lalu tersenyum.


Tangan Ozil sudah menarik lengan Nina agar mendekat lagi. Lalu memegang pinggang Nina dan mendudukkan nya di pangkuan.


"Mbak...."


Cklek. Pintu di buka.


"Kata bunda jangan terlalu bersemangat! Nanti susah benerin liptiknya. Masih ada rangkaian resepsi lagi." Ucap Dila lalu menutup cepat pintu setelah mengucapkan kalimatnya.

__ADS_1


Nina jadi tertawa geli. Lalu menyentil pipi Ozil yang terlihat cemberut.


"Udah halal pun tetep aja susah."


__ADS_2