Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 44


__ADS_3

Dila merasa kepepet, malu juga jika Ben sampai melihat tubuh polos nya tanpa sehelai benang pun.


Pintu di buka dari luar. Ben berdiri diambang pintu.


"Mas Ben! Cepetan! Malah bengong!"


Suara Dira yang sedikit lebih kencang itu membuat Ben tersadar dari kekosongan nya sejenak. Ben Arfa bergegas mengambil handuk dan membungkus tubuh Dila dengan handuk itu. Meski dia harus mati-matian dan susah payah menelan ludahnya.


Ben mengangkat tubuh Dila dan membawanya keluar dari kamar mandi.


"Sepertinya tubuhnya salah urat. Kaku mas Ben."


"Iya, jangan cerewet. Aku bawa ke klinik." Ucap Ben sembari memangku tubuh Dila hendak keluar dari kamar.


"Tunggu, apa kamu bermaksud membawa ku begini aja? Tanpa baju?"


"Ck! Baiklah kamu mau aku memakaikan mu baju?"


"TIDAK! TIDAK!"


***


Selepas dari klinik. Dila menghela nafas panjang nya. Karena mereka sampai harus keluar masuk dari dua klinik karena kesemuanya dokter laki-laki. Ben memilih mencari klinik lain yang dokternya wanita.


"Ya ampun." Sebenarnya aku nggak perlu merasakan sakit lebih lama kalau mas Ben tidak keluar masuk dari klinik." Protes Dila yangs sudah mengenakan piyama bermotif Doraemon itu.


"Ck! Diam! Jadi kamu mau memamerkan tubuh mu yang tidak seberapa itu pada dokter laki-laki?"


Seketika Dila menatap Ben bengis.


"Apa?" Tanya Ben sedikit memalingkan wajah dari fokusnya, lalu kembali melihat ke depan.


"Benarkan apa yang aku bilang? Dada aja nggak punya."


Wajah Dila memerah karena malu. Ben pria pertama yang melihat tubuhnya setelah lama ia tutupi sejak umur 3 tahun. Saat kecil Dila mungkin sering mandi di kali bersama teman-temannya tanpa malu. Namanya juga bocah.😑


Hari itu Dila merasa jengkel pada Ben juga pada nasip nya yang malah terjatuh di kamar mandi, hingga membuat Ben melihat segalanya.


Hari pernikahan Nina tiba, Dila yang masih kesal karena Ben tidak mengatakan kata maaf padanya telah mengatakan hal menyebalkan itu. Memilih datang ke acara tanpa Ben. Hanya mama dan papa yang menemani. Lalu pergi, dan membiarkan Dila sejenak berkumpul dengan keluarganya.


"Kok Ben nggak ke sini? Kalian baik-baik aja kan? Nggak marahan kan?" Tanya bunda memasuki kamar anaknya.


"Enggak bunda." Lirih Dila.


"Yah, mungkin dia butuh waktu..." Gumam bunda menatap iba pada putri bungsunya.


Walau bagaimana pun bunda Anggi tau, Ben yang bermaksud melamar Nina malah berakhir menikahi adiknya, Dila. Pasti berat bagi Dila yang harus menghadapi pria yang mungkin masih mencintai kakaknya.

__ADS_1


"Dila, seperti apapun kehidupan rumah tangga kalian, bunda harap kalian bisa melalui nya bersama. Bertengkar, akur, bertengkar akur lagi. Itu hal yang bisa."


Dila bungkam.


"Meski mungkin awalnya kalian menikah karena suatu keadaan. Bunda yakin, Ben Arfa orang yang baik, dia akan memperlakukan mu dengan baik juga."


"Tapi hati mas Ben milik mbak Nina bunda. Untuk apa memiliki tubuh yang bahkan tidak bisa di sentuh dan hatinya milik wanita lain." Tentu saja kalimat ini hanya terucap di dalam hati Dila.


****


Malam itu Ozil sibuk menatap layar di ponselnya. Dia terlihat sangat fokus, di telinga nya terpasang headset yang tersambung ke hp nya.


Ozil sangat fokus pada layar ponselnya sampai tidak menyadari kedatangan Nina di kamar dan duduk mengintip pada layar yang sama.


"Astaghfirullah Ozil!!!"


Nina menarik headset dari telinga Ozil dan berteriak tepat di telinga suaminya, hingga Ozil terlonjak kaget.


"Astaghfirullah mbak! Bikin kaget aja." Ozil memegangi dadanya dan sedikit menggeser duduknya.


"Kamu tu lihat apa?"


"UMM..


Itu...."


Ozil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baru kali ini liat mbak. Suwer." Ozil mengangkat dua jari dengan mimik sungguh-sungguh.


"Baru kali ini lihat apa baru kali ini ketahuan?" Menatap sangsi Ozil.


"Baru kali ini liat mbak. Suwer. Sumpah." Ozil makin tinggi mengangkat jarinya, kali ini dengan dua tangan.


"Kamu dapat dari mana video itu?" Sambil menggulum bibir agar tak tersenyum melihat tingkah Ozil. Nina tetap memasang tampang garangnya.


"Dari teman mbak. Katanya buat belajar."


Nina menjitak kepala Ozil.


"Aduuhh... Mbak aku ini suamimu..." Ozil protes.


"Astaghfirullah... Maaf Zil. Mbak lupa." Nina nyengir."mana hape nya."


Dengan ragu Ozil menyerahkan hp pada Nina.


"Lain kali jangan lihat beginian lagi. Ini tu haram. Tau haram? Kamu kan orang beriman? Orang beriman nggak?" Tanya Nina sembari mengotak-atik hp Ozil menghapus Vidio dan mengecek galeri serta pesan WA nya. Memang hanya ada satu yang JAV. Dan itu baru di putar di awal. Belum sampai tahan buka-bukaan.

__ADS_1


"Iya dong mbak. Jelas."


"Kalau gitu jangan deketin yang haram. Ini malah lihat JAV." Nina mengulurkan tangannya hendak menjitak Ozil lagi, namun urung dan hanya melayang. Ozil pun reflek menyingkirkan kepalanya menjauh.


"Iya mbak tau."


"Tau ngapain lihat?" Nina menarik balik tangannya yang melayang sesaat, ingat jika Ozil kini bukan lagi adik iparnya, melainkan suaminya.


"Kan belajar tadi, kan?"


"Belajar kok sama yang haram." Nina melempar hp Ozil di sisi kasur yang lain."sini mbak ajarin!"


"Eehh? Sekarang mbak?"


Wajah Ozil tampak sedikit berubah." Bukannya mbak Nina lagi haid?"


Nia terdiam sesaat."iya juga ya," batinnya tersadar.


"Aku udah searching mbak di Gugel. Kalau wanita lagi haid itu nggak boleh berhubungan. Aku juga udah searching berapa lama masa siklusnya. Jadi mbak yang sabar ya."


"Astaghfirullah..." Nina mengurut dadanya. "Kalah gercep sama Gugel." Bergumam pelan.


"Apa mbak?"


"Udah, sini. Mbak ajarin membukanya."


"Kalau ciuman, aku udah bisa mbak. " Kata Ozil dengan sangat bangga."Tapi kalau mbak pingin cium Ozil, nggak papa lah, sini mbak."


Nina menepuk jidatnya.


"Ngajarinnya yang sabar ya, Nin, kalau Ozil nggak ngerti juga." Suara pak Bahdim dari ruang sebelah yang cekikikan bersama Bu Ana.


Berhubung rumah pak Bahdim masih belum di pasang plafon, jadi suara sekecil apapun tetap bisa di dengar ruangan lain karena tembok penyekat tak sampai langit atap.


Wajah Nina menjadi panas. Malu, Sampai pak Bahdim pun mendengar pembicaraan mereka. Lalu Nina merebahkan tubuh ke kasur dengan kasar. Dan menutup wajah nya dengan bantal.


"Mbak Nina." Bisik Ozil.


"Diam, Oz. Bapak dengarr tuh." Lirih Nina tanpa menyingkirkan bantal dari wajahnya.


Hening sesaat, hanya suara pak Bahdim dan Bu Ana yang terdengar sedang bercerita tentang kelucuan cucunya, Zidan.


Selama beberapa hari ini Zidan memang tidur bersama kakek dan neneknya di ruang tengah, kadang di depan, kadang juga di kamar Nina. Sedang kan Ozil dan Nina tidur di kamar Ozil.


Nina menghela nafasnya, "ya ampun, kenapa aku jadi begini? Sekarang, lihat Ozil kek lihat mas Ozan saja." Gumam Nina dalam hati.


Dulu saat bersama Ozan Nina memang sering bercanda dan bersentuhan hingga kegiatan ranjang mereka menjadi hangat.

__ADS_1


Tiba-tiba, Nina merasakan tubuhnya di dekap. Tangan dan kaki Ozil sudah melingkar di tubuhya.


"Selamat malam mbak Nina."


__ADS_2