
"Mbak Nina!"
Ozil memekik cukup keras dengan keringat sebiji jagung di wajahnya. Nafas Ozil memburu seolah ia baru saja berlari puluhan kilo meter. Ozil menatap sekeliling, ruang remang dengan cat hijau tua itu membuatnya tersadar, jika ia berada dalam kamarnya. Ozil bermimpi Nina menikah.
Ozil mengusap kasar wajahnya, melihat jam yang bertengger di dinding kamarnya. Jam 03.10 dini hari.
Ozil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa sesak oleh karena mimpi yang sangat menghantuinya. Ozil menurunkan tangannya, melihat sajadah yang tergantung di balik pintu kamar yang menutup.
Dengan langkah gontai, Ozil mengambil wudhu. Dan di sepertiga malam ini, ia ingin bermunajah. Memohon agar hati dan pikiran kembali tenang. Meyakini apapun yang di gariskan untuk nya.
Dalam sujud nya, bahu Ozil berguncang, air matanya meluruh begitu saja. Kenapa cinta nya pada Nina begitu menguasai hati dan pikirannya. Ia seakan di buat tak berdaya.
Ozil mengangkat tangannya memohon pada sang khalik.
"Jika mbak Nina jodoh ku, mohon dekatkanlah, mudahkanlah hamba dalam menghalalkan nya. Jika bukan, berilah kelapangan hati untuk menerima qodhar-Mu."
Suara panggilan subuh menggema, dan perlahan semburat keemasan tampak malu-malu di ufuk timur. Membias cahaya mentari yang mulai menyingkirkan kabut pagi itu.
Pagi itu, Ozil dan pak Bahdim masih bertadarus di ruang shalat. Sedangkan Bu Ana sudah berkutat di dapur.
"Pak." Sebut Ozil melipat rapi sajadahnya.
"Ada apa Zil?"
"Pak, lamarin mbak Nina pak." Pinta Ozil mengiba. Seketika pak Bahdim menoleh pada putranya itu. Menatap lekat anak bungsunya yang terus di Landa kegalauan panjang.
Karena merasa kasihan juga pada bungsu nya yang sudah sekian lama berjuang hingga di titik ini. Mungkin hampir berhasil. Pak Bahdim merasa kasihan juga. Lalu tersenyum yang menambah lipatan keriput di wajahnya.
"Ya sudah, besok kita ke rumah Nina."
Ada secerca harapan di wajah Ozil. Rasa lega akhirnya bisa meminang pujaan hatinya dengan terus bersabar mengumpulkan pundi-pundi rupiah dan kematangan diri. Melalui banyak kemelut hati, hingga sampai di penghujung penantiannya yang terasa panjang.
Di sepertiga malam, Ozil bermunajah, mengharap ridho dan kelancaran diri nya dalam meminang Nina. Dalam sujud nya, Ozil terus berdoa, mengangkat tangan memohon kepada sang pencipta, agar dirinya di persatukan dalam mahligai rumah tangga yang di idamkan.
Keesokan paginya, Ozil bersiap. Dengan membawa beberapa buah tangan dan tentu saja cincin pengikat dirinya dan Nina nanti. Senyum Ozil terus terkembang. Bunga-bunga seolah bermekaran di hatinya.
"Duuuhhh... Seneng ya... Sampai senyum-senyum terus." Goda sang bapak melihat rona cerah di wajah Ozil yang sempat mendung beberapa hari ini.
"Ingat ya Zil, apapun keputusan Nina nanti, kamu harus hargai. jika berjodoh, dia akan menerimamu. Jika tidak, maka kamu harus iklas dan berlapang dada menerima." bapak berpesan. Ozil mengangguk mengerti, walau hati nya terus berdebar tak karuan selama dalam perjalan ke rumah Nina.
__ADS_1
Setibanya di rumah Nina di Sleman.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Sahut suara dari dalam.
Pintu rumah Nina memang selalu terbuka jika ada orang di dalam nya. Namun, keluarga pak Bahdim lebih memilih menunggu di luar sampai tuan rumah mempersilahkan masuk.
"Loohh, pak Bahdim dan Bu Ana." Ucap bunda semringah kedatangan tamu besannya. Lalu mereka bersalaman, bunda dan Bu Ana bercipika-cipiki terlebih dahulu."Sudah lama tidak bertandang kemari. Ayo masuk dulu."
Keluarga pak Bahdim duduk teratur di sofa ruang tamu.
"Dil, buatin minum. Ini Ozil dan besan datang."
"Iya Bun!" Sahut suara keras dari dalam.
"Mbak Nina sama Zidan nya ke mana bund?" Tanya Ozil karena tak melihat Nina dan Zidan, bahkan motor matic Nina yang biasa terparkir di teras pun tak nampak.
"Ooh, Nina nya lagi ke warung sama Zidan. Biasa lah jajan." Jawab bunda dengan senyum ramah dan kibasan tangan di udara."Padahal udah di bilangin jangan keluar-keluar dulu."
Dari dalam, Dila keluar membawa nampan dan empat cangkir teh. Lalu meletakkannya di atas meja.
"Loh, kok cuma Ozil yang di tawarin. Bapak nggak nih?" Canda pak Bahdim.
"Eh, iya dong pak, kelewat. Hehe.." Dila mengaruk rambutnya yang tidak gatal. "Di minum dulu pak, buk." Lanjut Dila sembari menyalami dan mencium tangan mertua Nina dan Ozil.
"Dila balik ke dalam lagi ya, mau siap-siap kerja." Pamit Dila.
"Loh, bukannya kamu kuliah Dil?"
"Iya pak, kuliah sambil kerja."
"Wah hebat itu, ini si Ozil bapak suruh kuliah nggak mau."
"Dila masuk dulu ya, mau siap-siap."
"Iya, silahkan." Pak Bahdim mempersilahkan dengan tangannya.
"Bagus Bu, Dila mau kerja sama kuliah." Puji Bu Ana salut pada Dila yang kuliah sambil kerja.
__ADS_1
"Ha-ha-ha, buat jajan dia aja itu Bu. Kerja." Elak bunda dengan kekehan."lagian juga Dila kerjanya kek laki-laki, suka otomotif. Jadi tiap pulang kerja pasti kotor baju nya."
"Ooh, di bengkel?"
"Iya. Memang Dila SMK nya dulu di kejuruan otomotif. Jadi ya, seperti itu." Jelas bunda, masih dengan senyum ramah.
Tak lama terdengar suara motor mendekat dan terparkir di depan rumah. Lalu suara Zidan yang berteriak kegirangan masuk ke dalam rumah.
"Om!" Serunya langsung menghambur memeluk Ozil.
Ozil pun mengangkat tubuh kecil itu duduk ke pangkuannya.
"Embah ke sini?" Ucap Nina di ambang pintu. Menyalami dan mencium tangan pak Bahdim dan Bu Ana. Lalu duduk di samping bunda nya. Sementara Zidan memilih bermanja-manja di pangkuan Ozil.
"Ada apa pak? Mau jemput Zidan?"
Bu Ana dan pak Bahdim tersenyum teduh.
"Begini, maksud kedatangan kami kemari adalah untuk melamar Nina." Ucap pak Bahdim mengutarakan tujuannya.
Bunda dan Nina terperangah, terkejut dan saling berpandangan.
"Mak-maksudnya pak?" Bunda tergagap, mimik mukanya bingung.
"Jadi, saya kemari untuk melamarkan Nina untuk anak saya Ozil." Ulang pak Bahdim
Nina terdiam tanpa sepatah katapun. Wajahnya sendu, memilih menundukkan kepalanya dan meremas tangan.
Dalam keheningan itu, Ozil menatap wajah Kaka iparnya. Ada gurat kecewa, pengharapan dan sedih yang terpancar. Mungkinkah Nina akan menolaknya? Ozil tau di hati Nina, Ozan lah yang bertahta. Ia tak akan bisa menggantikan atau pun menggeser kedudukannya. Namun, salahkah ia yang mendamba seorang Nina?
"Eee,," Bunda tersenyum canggung, "sebenarnya... Bagaimana ya kami mau menyampaikannya?" Sambung bunda ragu.
Pak Bahdim tersenyum memaklumi keterkejutan bunda, hingga terlihat sangat salah tingkah dan bingung hendak berucap. Awalnya mereka juga sudah berbesan, pastilah sangat riwuh saat ia melamarkan untuk anak nya lagi.
"Tidak apa-apa Bu, kami sangat menerima apapun keputusan ibu dan Nina."
"Sebenarnya, Nina sudah di khitbah..."
Deg!
__ADS_1
Jantung Ozil serasa berhenti berdetak.