
"Mbak Nina."
Mata Ozil membulat melihat pemandangan di hadapannya. Nina yang hanya mengenakan bra dengan dua gundukan yang terbelah dan saling menghimpit.
"Jangan melihatku seperti itu. Kamu membuatku malu." Ucap Nina tersipu.
Ozil mengusap sudut bibirnya yang hampir meneteskan air liur. Pria perjaka itu mengusap wajahnya.
"Padahal aku udah pernah lihat itu tanpa bra. Bahkan sudah hampir menyentuh wajahku. Tapi kenapa tetap saja membuat dada ini berdebar kencang." Gumam Ozil dalam hati, wajahnya yang putih itu tampak memerah.
Ozil menelan ludah nya yang tecekat. Membasahi tenggorokannya yang serasa kering.
Ozil memberanikan diri memeluk tubuh Nina. Menahan dan mengurut punggung nya ke atas, mata Ozil menatap wajah cantik dengan rambut tergerai hingga menutupi sebagian dada atas Nina.
Ozil menyibak rambut Nina ke belakang telinga. Tangan Ozil menahan tengkuk istri, perlahan wajahnya mendekat, semakin dekat, semakin dekat dan menempelkan bibir nya pada bibir Nina. Memberi sesapan kecil, lalu saling melummat dengan lembut.
"Ingat kata bapak Zil, naluri lelaki. Naluri lelaki." Gumam Ozil dalam hati.
Tangan Nina menyentuh dada bidang Ozil. Mendorong tubuh perjaka yang ia yakin tak tau harus apa selanjutnya. Hingga mau tak mau Nina yang harus banyak beraksi kali ini.
"Diamlah sejenak malam ini." Bisik Nina lirih.
Nina menyusuri wajah Ozil dengan bibirnya. Mencium pipi, lalu bergeser ke bawah, mencium lehernya, bergeser ke bawah lagi, mencium dada atas Ozil.
Ozil hanya diam mengusap punggung Nina yang terbuka. Membiarkan Nina beraksi diatas tubuh nya.
Nina membuat beberapa tanda ke pemilikan di tubuh Ozil. Dari dada, perut, pinggang. Memberi sensasi gelayar-gelayar yang mengalir di tubuh Ozil. Bagai mendapat sengatan kesenangan di aliran darahnya. Membuat Ozil menegang, namun ia menyukainya.
Nina duduk di atas tubuh Ozil. Tersenyum memandang wajah Ozil yang kian memerah. Ini pengalaman pertama. Nina ingin memberi Ozil hal menyenangkan dan membawa pria itu terbang ke angkasa.
Tangan Ozil kini telah berpindah mengurut paha Nina. Istrinya itu memposisikan dirinya duduk mencapit bagian tengah tubuh Ozil. Terasa benda keras diantara pahanya.
Nina mulai bergerak, wajah Ozil mulai makin memerah. Pergerakan Nina berawal dari kiri ke Kanan, mengesek dua lokasi yang memberi kedua nya sedikit rasa nikmat sebelum memulainya.
"Mbak Nina." Racau Ozil.
"Jangan terlalu keras meracau Oz. Nanti Zidan bangun."
Ozil meremas paha Nina, menggigit bibir bawahnya menahan rasa geli yang membuatnya senang.
Nina bergerak lagi ke depan dan ke belakang. Membuat Ozil makin tak karuan. Setelah memastikan benda itu berpindah posisi hingga di mulut gua, Nina mulai membuat gerakan maju dan mundur.
Ozil mengerang, meracaukan nama Nina berulang kali. Nina mengulas senyum nya. Ia pun merasakan hal yang sama. Gerakan tubuhnya membuat dirinya ingin bergerak lebih cepat.
Nina terus bergerak, maju dan mundur, ke kiri dan ke kanan. Maju dan mundur lagi, lalu mempercepat ritme nya.
Nina mulai melayang, memejamkan matanya menikmati gesekan di mulut gua yang semakin membuat nya tak karuan.
__ADS_1
Ozil mengerang,
"Mbak Nina, udah mbak."
Nina membuat mata nya menatap Ozil dengan wajah sayu.
"Udah mbak, aku mau pipis dulu. Kebelet pipis."
Nina mengulas senyum.
"Kluarin aja Oz."
"Di sini? Di dalam sana? Astaghfirullah mbak."
Nina tersenyum dan terus mempercepat gerakannya.
"Mbak, Nina... Mbak..."
"Aku nggak tahan mbak." Racau Ozil.
"Jangan di tahan, Ozil." Gumam Nina, semakin mempercepat.
"Aaaakkkhhh, mbak. Aku udah nggak kuat."
"Keluarin Oz." Nina semakin mempercepat gerakannya.
"Aaaakkkhhh...." Ozil mengerang panjang di ikuti tubuhnya yang bergetar. Wajah lega namun di selimuti sesal menatap Nina. "Maaf mbak."
"Sudahlah, mungkin lain waktu." Gumam Nina benda itu sudah keluar sendiri dan berada di mulut gua. Nina masih duduk diatas Ozil. Benda Ozil mulai terasa lagi, Nina menatap wajah Ozil yang memerah. Menatap Nina penuh sesal.
"Maaf mbak, aku.... Itu... Di tempat mbak Nina." Sesal Ozil.
"Nggak apa Oz."
"Emang waktu di sekolah kamu nggak belajar sistem reproduksi?"
"Tidur mbak. Pelajaran pak Mo membosankan." Gumam Ozil."duuhh kok tegang lagi sih di bawah." Batin Ozil, "malu nih sama mbak Nina."
"Pantes. Sekarang mbak ajarin jangan tidur ya."
"Gimana bisa tidur mbak kalau nyenengin kek gini. Rasanya aku kek melayang jauh sampai nembus awan-awan yang lembut itu." Kata Ozil, "Lega, tapi, maaf ya mbak."
"Ozil, itu namanya air mani. Itu memang keluar setiap kali kamu berhubungan."
"Aku tau mbak."
"Terus kenapa wajahmu begitu?" Nina yang mulai merasakan benda Ozil yang makin mengeras itu kembali membuat gerakan maju dan mundur. Hingga benda itu perlahan masuk ke dalam gua penuh kenikmatan yang akan membawa Ozil melayang lagi.
__ADS_1
"Aku merasa bersalah karena udah..." Ozil menggantung kalimatnya.
"Sekali lagi ya Ozil."
Dengan wajah yang malu-malu, Ozil mengangguk.
"Uuugghhhh.... Mbak Nina aku makin cinta. Meski udah pernah di lewatin bayinya Zidan. Tapi rasanya, menggigit banget." Gumam Ozil pelan yang nyaris berbisik. Namun Nina masih dapat mendengarnya.
Nina mulai bergerak dan bergoyang diatas tubuh Ozil lagi. Bergerak maju dan mundur. Nina memejamkan matanya, merasakan sensasi yang telah lama tidak dia rasakan.
"Ozil...." Racau Nina, Nina menatap Ozil mata menggantung. "Tukar posisi, Oz."
"iya mbak."
Ozil dengan cepat menahan tangan Nina. bangkit dan menjatuhkan tubuh Nina ke samping. Tanpa mau berjarak dari tubuh Nina.
kini posisi Nina sudah di bawah Ozil. Ozil menatap tubuh atas Nina. menelan ludahnya susah payah.
"mbak, boleh?" tanya Ozil sembari tangannya bergerak dari lengan Nina ke arah dada wanita itu yang masih terbungkus bra.
"lakukan saja Oz."
Tangan Ozil meremmaass gundukan yang masih terbungkus itu.
"kenyal banget mbak, empuk." ucap Ozil.
"Apa kalau aku hisap, ada susu nya mbak?"
"enggak." jawab Nina. "Tapi bisa bikin mbak senang."
"Aku senengin mbak ya?"
tampa jawab. Nina menarik lengan Ozil dan menekan kepala Ozil ke dadanya. tangan Ozil menarik penutup itu hingga terlepas, mulutnya bergerak mencari ujung gundukan kenyal itu.
Nina memejamkan matanya menikmati setiap gelayar dan sengatan di tubuhnya. rasa yang sangat ia rindui meski sedikit berbeda dengan yang dulu Nina rasakan saat bersama Ozan. Tak masalah, karena ini pengalaman pertama Ozil.
"dia pasti akan lebih pandai nantinya jika terbiasa." gumam Nina dalam hati.
Nina menekan wajah Ozil kedalam dadanya. Hingga wajah pria itu tampak memerah karena kesulitan bernafas.
"Mbak, ampun mbak."
Nina mengusap kepala Ozil, menelisip di antara rambut Ozil dengan lembut tanpa tekanan. Hingga Ozil bisa bernafas kembali tanpa melepas gulumannya.
Ozil menatap wajah Nina. Wajah yang tak pernah Nina tunjukan pada siapa pun kecuali pada suaminya.
Ozil mulai menghentakan tubuhnya, perlahan menghujam Nina lebih dalam. Wajah Nina yang terpejam membuat Ozil makin ingin menghujam nya lebih keras.
__ADS_1
"mbak Nina....."
"lanjutkan Ozil....."