
"Nin! Zidan nangis tuuhh!" seru Mama Anggi, mamanya Nina yang sedang menyapu ruang tengah.
Nina yang sedang sibuk menggoreng tempe pagi itu, bergegas mematikan kompor dan melangkahkan kakinya ke kamar. Menjemput anak lelakinya yang menangis karena terbangun.
"Anak Ibu udah banguunn.. uluh uluh... Nangisnya sampe kejer gini.. mimpiin apa sayangg?" Nina menimang Zidan dengan kasih sayang.
Bocah itu akhirnya terdiam begitu didekap ibunya dan meminum asi. Bocah berumur sepuluh bulanan itu minum dengan rakusnya, hingga tersedak-sedak karena tak sabar.
Nina menepuk-nepuk ringan lengan anaknya agar bocah itu tertidur kembali. Namun mata anak itu terlihat segar terang benderang bagai lampu petromat sehabis dapat minyak sulut.
Akhirnya seusai menyusui dikamar, Nina menggendongnya dengan selendang, membawa serta bocah itu ke dapur dan melanjutkan aktifitasnya, yaitu menggoreng tempe.
"Ya ampunn Nina, Zidannya kok dibawa nggoreng-goreng sih? Nanti kalau kena minyak gimana?"tegur mama Anggi yang baru saja muncul dari ruang tengah dengan sapu ditangannya.
"Nggak apa-apa sih Ma, kan cuma goreng tempe, minyak nya nggak akan meletup kemana-mana."jawab Nina enteng.
"Udah, sini. Zidannya sama uti aja."Mama Anggi mengambil alih Zidan yang berada dalam gendongan Nina.
"Iya."
"Zidan udah dibikinin makan belum?"
"Udah ada sup Ma, kasih sup aja."ujar Nina membalik tempe yang dia goreng.
Mama Anggi mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan menambahkan sup dengan beberapa sayuran disana. Zidan sudah tumbuh gigi jadi tak masalah jika makan nasi. Udah sepuluh bulan ini.
Mama Anggi pun berlalu ke teras mengajak Zidan jalan-jalan sambil sarapan.
"Mbak, sarapan udah siap?"tanya Adira. adik Nina yang paling bontot, menyambangi dapur dengan seragam sekolahnya.
"Udah, ini tinggal nerusi goreng tempe sama bikin sambel." jawab Nina sibuk dengan tempe gorengnya.
"Cabe sama bawangnya udah disiapin?"
"Belum!"jawab Nina lagi."Masih dikulkas noh." Nina menunjuk dengan kepalanya.
"Biar cepet, Adira yang kopekin bawang sama cabenya ya mbak."Adira mengambil bawang dan cabe. lalu mulai mengupas dan mencucinya.
"Gimana sekolahmu Ra?"
"Nggak gimana-gimana mbak."
"Maaf ya dek, kemarin embak repotin kamu terus."
"Slow aja kali mbak. Adira seneng kok ngurus foodtrucknya. Lumayan buat nambah uang jajan dan pengalaman." cengir Adira mendekat pada Nina.
"Udah belum nih mbak goreng tempenya? Lama amat?" oceh Adira protes.
"Tinggal satu kali ini doang kok."ucap Nina memgangakat tempe terakhirnya."Mana cabenya."
"Kamu masih suka muncak Ra?"
"Kenapa mbak? Mau ikut?"
"Enggaklah, kan ada Zidan."
"Nggak papa kali mbak, ada kok pasangan yang bawa anaknya juga."
"Enggaklah,"
"Terus kenapa nanya?"
"Hehe, liat kamu sering muncak jadi pengen juga embak, Ra. Tapi ya... sudahlah."
_____
Pagi menjelang siang, Nina melajukan motornya menuju pusat grosir. Dengan troli Nina memasukkan beberapa bahan untuk dagangannya. Mulai dari saus, mayonaise, minyak, dan keju. Tiba-tiba punggungnya ditepuk, Nina menoleh. Seorang pria dengan senyum manis nya berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
"Ben Arfa?"
"Masih inget kamu ternyata, Nin?"seru pria berdarah blasteran itu.
"Masihlah." Nina menjabat tangan Arfa."Kamu kerja disini?" Nina melihat nametag yang tergantung dileher Arfa, teman masa SMA nya dulu.
"Heemm.. Lagi tugas aja disini." jawab Arfa."Blanja buat apaan nih? Banyak banget?" Arfa melihat troli Nina yang penuh.
"Bahan jualan Ar."
"Ooo.. Sekarang kamu jualan?"
"Iya."
"Dimana? Kalau lewat bisa mampir."
"Cuma di pinggir jalan kok."
Arfa tertawa lucu."Ya dipinggirlah Nin. Kalau ditengah malah ketabrak entar. ahahahha."
"Hahaha.."
"Minta nomormu." Arfa mengeluarkan hpnya, melirik Nina yang bengong."Biar gampang ntar kalau mau mampir."
Nina menyebutkan nomornya. Arfa mengulang, memastikan nomor yang dia ketik benar. Lalu melakukan panggilan telpon, terhubung.
"Itu nomorku ya. Disave."
"Ok."
Dikejauhan ada yang memanggil Arfa. "Ya. Bentar."Arfa menyahuti.
"Aku pergi dulu ya, masih banyak kerjaan."pamitnya.
____
Nina hanya sendiri dirumah, Adira masih sekolah dan mama Anggi lagi kondangan dengan Zidan juga.
ZIIIINNGG!
Hp Nina bergetar, sebuah pesan wasap masuk dari nomor tak dikenal. Nina membukanya,
-"Pagi Nina."-
-"Siapa ya?"- balas Nina, pesan dikirim.
-"Ben Arfa. Kamu nggak save nomorku?"-Balas Arfa pesan diterima.
-"Sorry, kelupaan."- balas Nina tak enak. pesan dikirim.
-"Nggak papa. Kamu jualan dimana? Aku mau mampir."-Arfa membalas
Setelah mengetik balasan Nina menyimpan hp nya. Nina menyiapkan barang apa saja untuk dibawa. Memilah dan mengecek bahan apa saja yang habis di setiap cabang gerobaknya. Setelah semua siap, Nina mandi dan sedikit memoles wajahnya biar tidak kelihatan pucat.
ZZIIIIINNNGG!
hpnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk dari nomor Arfa
-"Masih dirumah lama nggak Nin?"-
Nina membalas. -"Masih."-
Satu pesan masuk. -"Aku dah didepan rumah."-
Haahh?? Yang bener? batin Nina mengintip dari balik jendela ruang tamu. Dihalaman, terparkir sebuah mobil berwarna hitam.
TOK
__ADS_1
TOK
TOK
Pintu rumah diketuk. Nina membukanya. Ada Arfa disana.
"Kok udah disini Ar?" Nina heran, tiba-tiba saja Arfa sudah didepan pintu."Masuk."
"Kebetulan lewat sini tadi." Arfa masuk kedalam rumah, duduk di sofa tamu."Ayah sama Mama mana?"
"Lagi kondangan." Nina membuka lebar-lebar pintu rumah."Mau minum apa?"
"Apa aja deh yang penting dingin. Haus habis muter."
Nina berjalan kedapur, membuat es teh dan es sirup melon. Meletakannya diatas nampan , membawanya kedepan.
"Nih." Nina mengangsurkan es sirup melon pada Arfa.
"Es teh aja Nin." Arfa mengambil es teh yang ada diatas meja. Lalu meminumnya.
"Bentar lagi aku mau anter bahan."
"Ya udah, kuanter skalian."
"Kamu lagi kerja kan?"
"Santai kok." balas Arfa menghabiskan es tehnya. "Mana yang mau dibawa?"
Setelah memasukan semua bahan, Nina dan Arfa masuk kemobil. Melaju menuju foodtruck dan foodstand milik Nina. Setelah semua terbagi rata sesuai kebutuhan, Arfa mengajak Nina makan siang. Setelah makan siang, Arfa mengantar Nina pulang.
Mobil berhenti tepat di halaman rumah Nina.
"Aku langsung gas ya Nin." Arfa menurunkan kaca pintu mobilnya."Masih ada urusan nih. Salamin buat Ayah sama Mama."
"Iya. Makasih ya."
Arfa melambaikan tangannya, dibalas lambaian juga oleh Nina. Mobil Arfa perlahan meninggalkan halaman.
_____
Disisi lain Ozil dengan kegalauannya, bersenandung diteras rumah. Ditemani kopi hitam dan pisang goreng hangat.
"Jika aku bukan jalanmu
kuberhenti mengharapkanmu
jika aku memang tercipta untukmu
Kukan memilikimu
Jodoh pasti bertemu"
Lagu Afgan itu, lagi gencar-gencarnya Ozil nyanyikan dengan petikan gitarnya. Bocah yang baru menunggu kelulusan itu, agak gamang juga ditinggal kakak iparnya. Sepi rasanya, tiada suara Zidan apalagi kehadian Nina.
"Uuuugggghhhh,, mbak Nina aku tersiksa lahir batiiinnn...."keluuhh Ozill dengan penekanan disetiap kata-nya.
___€€€___
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1