
Waktu telah berlalu, tak terasa sudah tiga hari Ozil meninggalkan pekerjaannya. Tidak masalah sebenernya, karena dia sudah menyerahkan pada dua orang pekerjanya.
Kini waktunya Ozil kembali ke Bantul. Tentu saja dengan memboyong Nina beserta Zidan. Setelah menikah, mereka memang sepakat untuk tinggal di rumah Pak Bahdim.
Mengenai Nina yang berjualan. Masih tetap berlanjut karena Nina hanya pindah domisili saja. Ia masih bisa melaju jika gerobaknya butuh apa-apa. Nina tak selalu memantau pekerjaan asisten nya yang menjaga gerobak hotang nya. Karena memang sudah hampir 3 tahun bekerja dan memang bisa di percaya.
"Hmm.. jadi mantu lagi nih Nin."
Pak Bahdim yang menyalami Nina begitu mereka sampai di rumah.
"Iya pak. Jangan kecewa ya? Mantu nya Nina lagi." Nina Terkekeh-kekeh.
"Gimana Ozil nin? Kuat nggak?"kekeh pak Bahdim menggoda anaknya.
"Bapak!" Pekik Ozil malu.
Nina tak menjawab, lebih memilih tersenyum dan mengikuti Bu Ana ke dapur. Ia juga tau, begitupun dengan Ozil untuk selalu menjaga urusan ranjang, seperti apapun kekurangan dan kelebihan pasangan.
______
Beberapa hari sebelum pernikahan Nina.
Mama menatap anak dan menantunya yang sedari tadi tenang menyantap makan malam.
"Ben,"
Ben memandang sang mama yang memanggilnya. Sebagai bentuk jawaban.
"Kapan kita ke rumah Dila lagi untuk melamar Dila secara resmi. Dan... Membahas acara kalian."
Ben mengalihkan pandangan ke samping dan menatap Dila yang juga masih menikmati makan malam nya. Kini dia menjadi pusat pandangan.
Dila mengangkat kepalanya, melihat kini dirinya menjadi pusat perhatian. Bingung, jelas. Karena memang Dila tak menyimak karena konsentrasi makan.
"Ada apa ya?" Tanyanya setelah menelan makanan di mulut.
"Kapan bunda Anggi ada waktu untuk kami meminangmu secara resmi?"
UHUK
Dila tersedak, menepuk-nepuk dadanya sendiri. Ben menyodorkan segelas air. Dila langsung menenggaknya sampai habis.
Mata Dila menatap satu persatu wajah-wajah yang juga menatap nya.
"Ummm... Belum tau Tan, eh, mama." Jawab Dila jujur."Awal bulan depan, mbak Nina kan mau melangsungkan acara walimahan. Jadi bunda sibuk banget sampai acara selesai. Mungkin tak akan sempat membicarakan. Jadi...."
"Ooohhh, begitu... Kami ngerti kok." Kata mama mengulas senyum."lain kali saja kalau bunda mu sudah longgar kita bicarakan lagi."
Seusai makan malam dan bersantai dengan keluarga. Ben dan Dila menaiki tangga untuk masuk kedalam kamar masing-masing. Ben berjalan lebih dulu barulah dua langkah di belakang Dila berjalan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Nasri itu?"
__ADS_1
"Kenapa? Penasaran?"
"Nggak! Cuma buat topik aja."
"Kalau gitu nggak usah nanya." Dila mencleos berjalan melewati Ben Arfa dan memasuki kamar nya.
Ben tersenyum kecut. Lalu melanjutkan langkahnya ke kamar yang berada di sebelah Dila.
Keesokan paginya, Dila berangkat kuliah di antar oleh Ben. Karena saat sarapan maama sangat memaksa. Meski Dila menolak, namun akhirnya mereka berada dalam satu mobil yang sama.
"Mas Ben, turun situ aja deh."
"Kenapa? Kampusmu masih jauh kan?"
"Ada jalan pintas lewat pintu samping." Bohong Dila beralasan. Karena Dila tak ingin teman kampusnya ada yang tau jika dia diantar seorang pria. Sudah pasti akan jadi bahan gosipan.
Ben Arfa melewatkan begitu saja tempat yang Dila tunjuk dan tetap melaju sampai depan kampus.
"Iihh! Dila kan udah bilang berenti di sana!" Protes Dila mengomel, menatap Ben kesal.
Ben tertawa, "makanya lain kali jangan numpang."
"Ck! Itu kan karena mama yang maksa, kalau nggak mana mau aku ikut sama mas Ben!"
"Udah turun! Apa mau ikut ku kerja?" Ucap Ben yang sengaja menghentikan mobil nya di tengah kerumunan orang.
Dengan hati dongkol Dila keluar dari mobil dan membanting pintunya. Dan mobil Ben berlalu.
"Waahh, Dila, tumben dianter siapa?" Tanya salah satu temannya yang berada di kerumunan.
"Bukan sugar Daddy kan Dil?" Ledek temannya yang lain , di sambut gelak tawa.
"Bukanlah, cowo ku itu." Jawab Dila asal.
"Eeh, yang bener? Kok nggak di suruh keluar dulu. Langsung cabut aja. Jangan-jangan jelek ya cowok nya?"
"Mungkin bapak-bapak...." Timpal yang lain, yang diikuti gelak tawa.
Malas menanggapi lagi, Dila memilih pergi. Tentu saja suara ledekan dari temannya terus terdengar sampai ia benar-benar hilang.
"Dila, siapa yang anter kamu tadi?" Tanya Febri begitu duduk di samping Dila yang sedang mencatat beberapa materi.
"Kenapa?"
"Lagi rame loh di luar. Katanya kamu diantar cowo pake mobil. Padahal biasanya cuma naik motor dan angkot." Rita yang tiba-tiba ikut nimbrung duduk di depan Dila.
"Iya mana mobil mahal lagi." Timpal Febri.
Dila hanya menghela nafas panjang. Itu jugalah salah satu yang bikin Dila memilih berhenti di tempat yang gak jauh dan tak mau sampai depan kampus.
"Kenapa? Jangan-jangan bener ya? Sugar Daddy?"
__ADS_1
"Sembarangan!" Dila mendelik.
"Jadi, bilang dong!"
"Iya, itu cowok ku. Apa itu cukup?"
"Apa? Jadi, kamu sudah punya pacar? Kok nggak tau aku kamu pernah dekat ama cowo selain Nasri. Ya, emang biasanya juga Deket sama cowo lain tapi kan ya beda gitu kan?" Celetuk Rita.
Hari berikutnya,
Saat sarapan, mama lagi-lagi meminta Ben untuk mengantar Dila ke kampus. Dan tentu saja Ben Arfa kembali menurunkan Dila tepat di depan kerumunan. Kali ini ia menggunakan mobil yang berbeda dari kemarin. Hingga lagi-lagi menimbulkan kehebohan.
Gosip Dila memiliki sugar Daddy pun makin merebak.
"Dila!"
Dila yang sedang berjalan ke kantin terpaksa menoleh. Nasri tampak berlari kecil mendekatinya.
"Dila, aku perlu bicara sama kamu."
"Bicara apa?"
"Ayo ikut!"
"Aku mau ke kantin nas. Lapar."
"Ke tempat lain aja. Ayok. Aku yang traktir." Ucap Nasri sembari menarik tangan Dila.
Sesampainya di sebuah warung makan di dekat kampus Dila.
Keduanya hanya diam sembari menyantap makan siang kala itu. Nasri beberapa kali curi-curi pandang pada Dila.
"Apa? Katanya mau bicara?"
"Kamu.... Apa kamu kekurangan uang?" Tanya Nasri menatap manik mata Dila."Apa kamu kerja di bengkel nggak cukup? Aku bisa membantu mu Dila. Jika kamu mau. Kamu nggak perlu melakukan semua ini." Lanjut Nasri lagi dengan luapan emosi nya yang tertahan.
"Apa maksudmu?"
"Aku udah dengar."
"Dengar apa sih?" Tanya Dila tak begitu paham maksud Nasri.
"Kalau kamu jadi sugar baby."
"Apa?"
"Kalau kamu butuh uang, bilang sama aku. Aku bisa bantu kamu dila. Kamu nggak harus jadi wanita kek gini..." Lanjut Nasri lagi, "Apa ini alasan kamu menolakku?"
Dila yang sudah kesal karena tak percaya Nasri pun ikut termakan omongan orang.
"Sepertinya, cerita tentang aku seorang sugar Baby sudah mewabah." Gumam Dila."dari mana kamu tau?"
__ADS_1
"Nggak penting Dila." Elak Nasri, "karena inikah kamu menolakku?"
"Penting! Dari mana kamu dengar?"