Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 42


__ADS_3

Dila yang sudah kesal karena tak percaya Nasri pun ikut termakan omongan orang.


"Sepertinya, cerita tentang aku seorang sugar Baby sudah mewabah." Gumam Dila."dari mana kamu tau?"


"Nggak penting Dila." Elak Nasri, "karena inikah kamu menolakku?"


"Penting! Dari mana kamu dengar?"


"Jawab aku dulu. Apa karena ini kamu menolakku?"


Dila menghela nafasnya, dia memang menyukai Nasri. Tapi, dila tak suka dengan sifat Nasri yang bahkan lebih mendengarkan ucapan orang orang pada percaya padanya.


"Kamu waktu di puncak Merbabu, sama sekali tidak memberiku jawaban kenapa. Apa ini adalah jawabanmu Dila?" Nasri menatap Dila penuh harap.


"Nggak ada yang perlu di bicarain lagi nas. Ayo pulang."


Dila berjalan keluar dari warung. Nasri menyusul setelah membayar makan siang mereka. Nasri menarik lengan Dila.


"Dila, aku sayang sama kamu aku nggak mau kamu terjerumus. Ayo hentikan ini!" Pinta Nasri memohon.


Mereka terhenti tak jauh dari beberapa mahasiswa yang sedang nongkrong.


Saat Dila membuka mulut hendak berucap, suara lain sudah memanggilnya.


"Dila!"


Semua orang menatap ke arah sumber suara. Seorang pria bule yang masih terlihat segar dan tampan berdiri di sisi jalan menuju kampus Dila.


"Papa?"


"Papa?" Serentak suara terdengar.


Dila melepas paksa tangannya dari genggaman Nasri. Lalu berlari kecil menuju papa Ben Arfa.


"Papa kok di sini?" Tanya Dila begitu sudah dekat pada papa mertuanya.


"Papa pas kebetulan lewat. Terus ingat tadi pas sarapan kamu balik siang. Jadi sekalian papa mau jemput kamu." Jelas papa.


"Oohh,"


Dila melirik ke belakang. Suara-suara sumbang mulai terdengar. Bisik-bisik yang menyebut jika dirinya benar seorang sugar baby makin santer terdengar.


Tak ingin sang papa mertua mendengar gosip tak sedap di kampusnya. Dila segera mengajak Papanya pulang.


"Dila!"


Nasri masih belum mau melepaskan Dila. Nasri masih mengejar dan menahan Dila agar tak pergi dengan pria yang dia anggap sebagai sugar Daddy wanita yang dia cintai.


"Dila, plis jangan pergi dengan bule tua ini. Hentikan ini Dila." Mohon Nasri.


"Lepasin, nas."


"Aku sayang sama kamu Dila! Plis!" Ucap Nasri mengiba."aku bakal Nerima kamu apa adanya. Tidak masalah meski masa lalu kamu seorang sugar babb...."


Plak!

__ADS_1


Tanpa ingin membiarkan Nasri semakin bicara ngawur di depan mertuanya. Dila menampar Nasri dengan keras. Lalu menarik tangannya kasar.


"Jangan katakan apapun lagi. Nas. Jangan cari aku dan jangan asal bicara!" Ucap Dila dengan marah.


Papa yang sudah berada di dalam mobil sedikit terkejut melihat Dila menampar seornag pria yang terlihat sangat mengiba. Namun begitu Dila masuk kedalam mobil dan meminta untuk segera pergi. Papa pun melajukan mobilnya.


"Ada apa sebenarnya Dila?"


"Tidak ada pa."


"Jangan membohongi papa. Kita Keluarga, jika ada sesuatu katakan."


Dila menghela nafasnya.


"Laki-laki itu sepertinya memiliki perasaan padamu, apa kalian pacaran?"


Dila menggeleng.


"Lalu?"


Dila memilih bungkam. Papa pun tak ingin bertanya lagi. Ia pikir biar masalah ini diselesaikan oleh kedua anaknya aja.


"Dila, jika kamu punya masalah, atasi dan hadapi. Bukan kabur."


Dila menghela nafas berat.


________


"Nanti aku jemput."


Ben Arfa hanya menatap dila yang beberapa hari ini terlihat sedikit suram. Gadis itu terlihat sedikit pucat. Ada rasa cemas di hati dan pikiran Ben. Hingga Ben Arfa hanya diam dan tak beranjak. Menatap punggung Dila yang mulai jauh.


Saat Ben hendak melaju, ia melihat tubuh Dila yang terlihat sempoyongan.


"Dia tidak terlihat baik-baik saja." Gumam Ben yang langsung keluar dan berlari kecil mendekati istrinya.


Tepat saat itu, tubuh dila tumbang. Beruntung, Ben Arfa sempat menangkapnya.


"Dila! Dila!"


Ben Arfa menepuk-nepuk pipi Dila. Lalu dengan segap Ben segera memangku tubuh istrinya dan membawa nya kembali ke dalam mobil.


Sesaat ia melangkah, Ben sempat mendengar bisikan-bisikan sumbang.


"Wah, sudah ganti lagi, kemarin sama bule, sekarang sama opa Korea. Astaga."


"Pingsan? Jangan-jangan hamil lagi."


"Iihh, anak siapa?"


"Yah, main sama banyak cowok sih."


"Ya ampun."


Ben sempat menghentikan langkahnya, namun melihat Dila yang pucat dan lemas. Membuatnya urung dan melanjutkan langkah.

__ADS_1


"Mas Ben."


Febri yang baru saja datang terkejut Ben memangku Dila di depan kampus.


"Dila kenapa?" Mendekat menatap wajah Dila yang pucat dan tidak sadarkan diri.


"Dia pingsan. Aku akan membawanya ke rumah sakit."


"Aku ikut mas. Kebetulan kelasku masih dua jam lagi." Pinta Febri yang cemas melihat Dila.


"Oke."


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Febri memangku Dila di kursi belakang. Ben melirik sekilas keduanya.


"Apa yang terjadi di kampus? Aku dengar suara sumbang tentang sugar baby?" Tanya Ben pada Febri yang masih menunggui Dila yang belum sadar dan terbaring di brangkar.


"Ooh, itu..."


febri tampak ragu untuk mengatakan nya. Apa lagi yang ia tau Ben adalah orang luar dan ada banyak pertanyaan kenapa Ben bisa berada di kampusnya.


"Feb?"


"Sebenarnya...."


Febri pun menceritakan perihal gosip yang tersebar di kampus dan juga penyebab awal nya gosip itu muncul dan semakin memanas setelah Dila di jemput oleh seorang pria bule paruh baya tempo hari.


Ben yang menyimak hanya tersenyum kecut mendengar nya. Awalnya Ben Arfa hanya berniat iseng saja. Tapi, ternyata membawa pengaruh buruk bagi istrinya.


Meski ia belum memiliki perasaan pada Dila. Tapi, Ben Arfa masih punya hati dan perasaan yang membuatnya merasa bersalah sekarang.


"Ben!" Pintu kamar Dila di rawat di buka dari luar. Mama muncul dengan wajah cemas nya. Dan papa juga di belakang Mama.


Febri yang melihat pria bule yang jadi topik tempo hari dan sempat melihat foto nya, terkejut. Namun, ia tak dapat bersuara.


"Ya ampun Dila. Kenapa dia bisa sampai kek gini? Dari sarapan udah mama bilang, kenapa masih bandel mau masuk kuliah juga." Gumam mama yang kawatir menyesalkan sifat Dila yang keras kepala.


"Kamu gimana sih,Ben nggak bisa jaga istri sendiri." Mama yang kesal memukul lengan Ben Arfa.


"Aaauuu.... Sakit ma." Ben menggosok lengannya yang kena pukul.


"Istri?" Reflek Febri bersuara langsung menutup mulutnya.


Semua mata menatapnya.


"Dia siapa?" Tanya mama menatap Febri.


"Dia, teman kampus Dila, ma." Jelas Ben, "namanya Febri. Tadi kami ketemu depan kampus. Terus dia menawarkan diri untuk ikut."


"Febri ini juga kemarin pas muncak, ikut." Lanjut Ben lagi.


"Oohh... Kamu ini juga suruh jagain Dila malah pulang-pulang, istrimu terkilir." Omel mama memukul kepala Ben.


"Jadi, Dila udah nikah?" Lontar Febri yang masih sangat tak percaya.


Mama dan papa saling berpandangan. Begitu pun Ben yang jadi sasaran pandang pasangan paruh baya itu.

__ADS_1


__ADS_2