Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 49


__ADS_3

Ozil meringkuk di bawah selimut malam ini. Hawa dingin menyerang lebih menusuk dari pada saat ia tinggal di Bantul.


"Istri, istri, mana istri..." Gumamnya dalam tidur.


Nina yang terbangun oleh gumaman suaminya, mengulas senyum. Lalu iseng Nina meletakkan guling diantara dirinya dan Ozil.


Ozil memeluk guling itu, Nina tertawa tanpa suara. Ozil memeluk-meluk gulung itu beberapa kali.


"Empuknya beda." Gumam Ozil melmpar guling asal."istri, istri, mana istri."


Ozil bergumam-gumam sembari meraba ruang di sekitar tanpa mau membuka mata. Nina menyingkir dan mengeser tubuh Zidan mendekat ke arah Ozil.


"Ini Zidan bukan istri." Gumam Ozil lagi, lalu memaksa membuka matanya. Langsung cemberut begitu melihat Nina yang tertawa tanpa suara dan membekap mulut dengan tangan.


"Mbak Nina! Dingin nih. Malah ketawa? Bukannya di peluk, malah kasih guling, guling di lempar, kasih Zidan. Kan mau nya istri tadi." Protes Ozil tanpa mau di sela seperti kereta.


Nina masih saja tertawa tanpa suara hingga perutnya sakit. Gemas, Ozil melompati Zidan dengan merangkak. Lalu sedikit menggeser tubuh Zidan ke samping menyisakan ruang untuk nya dan Nina.


Lalu tanpa basa basi, Ozil memeluk tubuh Nina sebagi guling.


"Nah, kek gini kan enak. Kalau dingin ada yang di peluk. Nggak cuma meluk guling muluk. Masa dari lajang sampai dah nikah juga meluk guling terus." Gumam Ozil lagi kali ini dengan cengiran.


Ozil memeluk Nina sampai Nina tak bisa bergerak. Kaki dan tangan Ozil melingkar dan menindih tubuhnya.


"Ozil...."


"Suami mbak." Kata Ozil mengoreksi."masa dah nikah sama belum sama aja panggilannya."


"Kamu mau di panggil apa Ozil?" Tanya Nina melembut."usah, longgarin dulu ini, sesek, nggak bisa nafas."


Ozil sedikit melonggarkan pelukannya, lalu menarik bahu Nina agar lebih dekat dan berhadapan dengannya.


"Apa ya mbak enaknya?" Ozil berpikir.


Wajah Nina perlahan menghangat, tubuhnya sudah begitu dekat dengan Ozil hingga ujung dadanya menempel di tubuh suaminya.


"Sayang?"


"Terserah, Ozil." Ucap Nina yang kini sudah memerah. 'Ya Ampun, apa yang kupikirkan, dia ini tetap saja Ozil, tapi kenapa? Pikiranku jadi traveling kek gini?' Nina membatin.


"Sayang...." Lirih Ozil membuat Nina mengangkat wajahnya hingga wajah mereka menjadi sangat dekat.


Nafas Nina dan Ozil saling bertautan memburu. Hingga tau-tau lidah keduanya sudah saling membelai.

__ADS_1


"Ingat pesan bapak Zil. Jangan buru-buru. Pakai naluri lelaki mu." Gumam Ozil dalam hati."walau belum pandai, tapi naluri lelakiku pasti bekerja."


Ozil menggeser tubuhnya hingga berada di atas tubuh Nina, menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan. Tanpa melepas pangutannya.


Hawa yang semula dingin berubah menjadi hangat dan perlahan membakar tubuh keduanya.


Tangan Nina perlahan bergerak turun ke bawah dan meremas senjata Ozil.


"Mbak." Wajah Ozil memerah bak kepiting rebus.


Nina menerbitkan senyum tangannya bergerak dan masuk menelusup ke dalam celana Ozil. Dan bermain dengan senjata yang udah on itu.


"Enak mbak." Kata Ozil malu-malu. Lalu mencium Nina lagi guna mengurangi rasa malunya.


Merasa cukup gerah pagi itu, Ozil membuka kaus putihnya dan melempar begitu saja di lantai. Melanjutkan lagi ciumannya yang terjeda. Tangan Ozil yang semula bertumpu, berpindah menyentuh dagu Nina. Lalu berpindah membuka satu kancing piyama Nina.


"Aku buka-buka baju mbak Nina nanti kena gampar nggak ya?" Ozil membatin, gerakannya seketika terhenti dari usil membuka kancing piyama Nina.


Ozil bergidig membayangkan dirinya kena gampar Nina. Ozil menatap Nina dengan mata menggantung.


Begitu pun dengan pandangan Nina yang mulai berkabut. Tangan Nina masih sangat lincah bermain di bawah sana. Membuat Ozil kegelian dan mencium leher Nina. Lalu menggigitnya.


"Aaauuu! Sakit Oz." Pekik Nina seketika melepas tangan dan mendorong kepala Ozil. "Kok kamu gigit leher mbak sih?" Protes Nina memelankan suara agar bunda tak mendengar.


Nina menepuk jidatnya.


"Ya nggak di gigit juga kali, Ozil."


Nina mendorong tubuh Ozil, memegang bahu suaminya, lalu berganti posisi Ozil terbaring di bawah dan Nina yang menindihnya. Sesekali, Nina melirik Zidan yang ternyata masih pulas. Jangan sampai saat mereka melakukan nya Zidan malah terbangun. Bisa berabe.


"Diam ya."


Nina menatap manik mata Ozil. Hampir tiga tahun lamanya tak tersentuh Ozan, ada Ozil yang halal, cukup mengobati dahaganya.


Nina memiringkan kepalanya, Ozil pikir, Nina akan menciumnya kali ini. Hingga Ozil menutup mata dan membuka mulutnya cukup lebar.


Cup.


Netra Ozil terbuka, sesapan kecil Ozil rasakan di lehernya namun hanya sebentar. Hanya agar tak meninggalkan bekas di sana.


Nina menggeser bibirnya sedikit kebawa dan menghisap bawah leher Ozil. Sedikit lebih lama dan lebih kuat.


"Uuugggghhhh, mbak Nina..." Ozil meracau.

__ADS_1


"Buka kancing bajuku, Oz." Bisik Nina tepat di depan telinga ozil sebelum menggulumnya Hingga Ozil terkikik geli.


"Apa mbak?"


'tadi mbak Nina bilang buka kancing baju? Apa ini lampu ijo? Berarti ntar nggak bakal kena gampar dong.' pikir Ozil, dengan cepat tangannya bergerak membuka kancing piaya Nina. Hingga menampakkan tubuh bagian depan Nina yang hanya tertutup bra. Hanya saja Ozil belum melihatnya. Pria perjaka itu masih menikmati sesapan Nina di kulit dada atasnya. Hingga Nina menyudahi aksinya dan sedikit mengangkat tubuhnya.


Netra Ozil melebar memandang tubuh atas Nina yang hanya mengenakan bra saja.


"Apa aku akan di hukum karena melihat ini?"


"Enggak, Ozil. Ini halal buat kamu lihat, dari pada lihat dada dan paha wanita JAV."


Ozil merona."nggak usah di ungkitlah mbak." Protes ozil.


"Mau coba?"


"Co-coba apa mbak? Otakku ngelag mbak."


Nina menunjuk dadanya sendiri. Nafas hangat Ozil menyembur seketika, seperti kerbau yang siap menerjang, memgangguk dengan sangat mantap.


"Tapi, wanita yang sudah pernah melahirkan dan menyusui, rasa dan penampakannya berbeda." Ucap Nina melepas pengait bra nya dan melempar benda itu sembarang.


"Mau! Mau, hidup janda!"


Nina terbengong mendengar ucapan Ozil yang aneh. Meski begitu, Nina merundukkan tubuhnya hingga dadanya sangat dekat dengan wajah ozil.


Krieett....


"Nin, anterin bunda ke pasar ya."


"Astaghfirullah...."


Kaget! Bunda sudah berada di ambang pintu kamar Nina, tak terasa sudah menjelang pagi saja. Nina bergegas menggeser tubuhnya kesamping dan tangan Ozil reflek menempel di dada Nina yang terbuka. Bermaksud agar tak terlihat.


"Ohohoho... Lagi mau bereproduksi ya? Ya sudah, lanjutkan saja, kalau sudah selesai, nanti anterin bunda ke pasar ya." Kata bunda tanpa rasa canggung. Lalu menutup pintu.


"Ya ampun mbak, apa semua orang tua begitu? Kemarin bapak sekarang bunda." Ozil menarik tangannya.


"malunya, mbak jadi nggak berselera, Oz." ucap Nina menepuk wajahnya.


"aku juga mbak."


Nina dan Ozil saling berpandangan. lalu tertawa geli bersama.

__ADS_1


"udah ah, mbak mau anter bunda ke pasar dulu. nitip Zidan ya." ucap Nina mendengar kumandang azan subuh.


__ADS_2