
"Assalamualaikum..."
Mama dan papa Ben menyambut Dila sang menantu di rumah itu.
"Wa'alaikum salam." Mama memeluk Dila dengan hangat dan sayang.
"Akhirnya, memantu mama, Sampai juga di sini." Ucap mama melepas pelukannya.
Dila mencium tangan mama dan papa bergantian.
"Ayo masuk." Ajak mama memeluk lengan Dila.
"Udah makan belum?"
"Udah Tante."
"Kok Tante sih? Mama dong."
"Belum terbiasa Tante."jawab Dila masih merasa tak nyaman.
"Tuh kan Tante lagi, mama. Biar terbiasa mulai panggil Mama." Ucap sang mama terus memprotes cara Dila memanggil nya.
Dila merasa sangat lega, karena orang tua Ben Arfa bahkan sangat ramah dan terbuka menerima nya.
"Ini kok kamu bawa keril?" Tanya papa melihat Dila meletakan tas keril nya di sisi sofa tempat Dila duduk.
"Dila lusa mau muncak om, eh, pa."
Papa mengernyitkan dahi nya. Lalu berganti menatap Ben yang duduk di sebrang.
"Kamu juga?"
Ben acuh dan memilih mengganti cenel tv.
"Dila sama teman-teman kampus Dila, om."
"Papa." Mama membetulkan panggilan untuk suaminya.
"Iya, papa maksudnya."
Papa mengganti pandangan mata pada putra semata wayang nya.
"Kamu ikut?"
Mama tersenyum kecil. "Ben ini juga biasa muncak Dil, nanti biar di kawal sama suamimu ya."
"Eehh?? Tapi kami udah...."
"Emang kamu mau gagal muncak?" Mama menyela.
__ADS_1
Entah kenapa Dila merasa kesal. Menikah membuat gerak nya terbatas berbeda dengan sebelumnya. Dia tinggal ijin pada sang bunda yang pasti langsung dapat ijin asal jelas dengan siapa dan kemana.
"Ini kamar mu."
Ben meletakkan tas keril Dila di samping pintu kamar sebelah kamarnya sendiri. Dila merasa lega karena tidak di paksa tidur di kamar yang sama dengan kamar Ben.
"Eehh, kok di sini?" Mama memprotes, karena sempat melihat kamar Dila dan Ben berbeda."di kamar mu dong. Dia kan sudah jadi istri mu."
"Dila nyaman di sini ma."
"Eehh, kalian udah nikah. Jadi...."
"Ma, kami emang udah sah secara agama, tapi belum secara hukum. Nanti kalau kami udah urus suratnya baru tinggal sekamar. Lagian Ben masih mau punya privasi."
Mama berdecak.
"Iya ma, kami udah sepakat, setelah urusan ke KUA baru kami akan tinggal sekamar. Sekarang ini biarkan kami saling menyesuaikan diri dan mengenal dulu." Ucap Dila membuat pembelaan. Dia pun tak ingin sekamar dengan Ben Arfa apapun alasannya.
Mama mendengus kesal. "Ya sudah kalau kalian sudah sepakat. Tapi, setelah muncak nanti kalian harus segara Mengurus secara hukum.
"Iya." Dila dan Ben serentak tersenyum menang.
Rasanya sangat bangga bisa membuat emak-emak mengalah.
Hari berikutnya, saat sarapan Dila menyempatkan diri mengunjungi dapur agar bisa membantu mertuanya. Namun tak ada sang mama di sana. Hanya bi Rokayah yang biasa memasak dan Rukmana yang bertugas bersih-bersih.
Dila tersenyum dan mendekat. "Ada yang bisa di bantu nggak?"
"Duuhh, non Dila, nggak usah bantu. Udah, balik tidur aja ini masih subuh." Kata Bu Rokayah.
"Tan... Eh, mama?"
"Oohh, nyonya biasanya juga masih di kamar. Paling ntar agak terang keluar jalan-jalan, terus sarapan." Jawab Bu Rokayah lagi.
Dila memilih duduk di kursi dapur, menatap wanita berusia sekitar 50tahunan itu.
"Biasanya, Dila bantu-bantu bunda di dapur kalau pagi." Ungkap Dila memangku wajahnya.
"Kalau di sini nggak usah non Dila. Kan nggak ada bunda."
"Ada Bu Rokayah tapi, kan? Sama aja. Biar Dila bantu ya?"
"Jangan, mending non joging, atau bangunin mas Ben."
"Iihh, ogah," Dila bergidig ngeri.
"Kenapa non? Kan udah sah." Tanya Bu Rokayah penasaran sempat menghentikan memotong sayur.
Dila nyengir.
__ADS_1
"Loh, kamu dah bangun Dil?"
"Iya ma. Mau bantuin Bu Rokayah, nggak boleh. Malah suruh joging." Dila mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah, joging aja yok sama mama."
Di sisi lain.
"Kapan Ben jemput Dila Bun?"
"Kemarin sore,Nin." Jawab bunda sembari menyiram tanaman di teras rumah.
"Oohh, iya, kemarin Ben sempet nanyain nomor Dila sih." Ungkap Nina sembari menyusun pembukuaan.
"Gimana penjualan hotang kamu?"
"Lancar Bun." Jawab Nina."sebenarnya, Nina pingin buka satu cabang lagi. Tapi, mengingat bulan depan Nina resepsi. Kek nya mundur tahun depan deh."
"Oo iya, bulan depan ya? Dila kpan ya?" Gumam bunda, "Dila kan sudah nikah siri. Ibu jadi cemas nih."
"Hmmm .... Seperti nya ini harus di bicarain dulu deh sama keluarga Ben. Nanti kami biar ngikut aja, misal setelah Dila pun nggak apa bun.'
"Emang nya Ozil mau?"
"Mau lah pasti." Sahut Nina yakin.
"Hmmmm.... Kalau bunda langsung nanya ke mereka agak nggak enak juga sih sih, kayak bunda yang ngejar."
"Apa mau Nina yang nanyain? Mereka aja udah nggak sabar sampai bawa Dila ke rumah."
"Ya sudah, nanti bunda pikirkan. "
"Ibuk...." Panggil Zidan yang lalu tiba-tiba muncul di ambang pintu depan.
"Ibuk, Zidan ada pr. Nggak ngerti." Celoteh Zidan. Nina tertawa. Zidan baru berusia 3tahunan. Bagaimana mungkin dia punya pr. Sementara sekolah saja tidak.
"Pr Zidan mana? Coba ibuk lihat "
"Ayokk..." Menarik tangan Nina kuat-kuat hingga terpaksa bangkit juga dari kursi di teras.
Setelah sampai di depan tv Zidan menunjuk gambar yang lebih mirip cakar ayam. Tapi bisa Nina lihat ada sebuah keluarga di sana.
"Ini ibuk...
Ini Zidan...
Ini om Ozil."
Nina mengulas senyum, "terus yang Zidan nggak bisa yang manaa?"
__ADS_1