
"Ben, udah sampai mana?"
Terdiam sesaat
"Apa? Kok bisa?" Mama memekik tak percaya. Wajahnya berubah jadi sangat tegang dan cemas. "Iya, kami ke sana."
Mama Ben menatap bunda dan Nina dengan wajah yang sangat cemas.
"Nina, kita berjodoh, tapi mungkin dalam hal yang lain." Lirih mama.
"Ada apa Tan?"
"Dila di mana?"
"Dila antar temannya syuting ke Dieng." Jawab bunda sedikit bingung, karena calon besan nya itu menanyakan keberadaan Dila.
"Iya, benar.." gumam mama.
"Ada apa sih, ma?" Tanya ayah Ben.
"Ben dan Dila, kena salah grebek pah."
"Apa?" Serentak terkejut.
"Kita ke sana sekarang." Putus papa Ben.
Dalam perjalanan, Nina dan bunda ikut dalam mobil papa nya Ben. Mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. Nina dan bunda saling memeluk untuk menguatkan.
"Semoga Dila baik-baik aja." Gumam bunda lirih.
"Jangan khawatir bunda. Dila selalu dalam lindungan-Nya. Mungkin ini hanya hal yang nggak bisa di hindari. Pasti ada makna di sana." Lirih Nina menguatkan bunda nya.
Sedangkan mama Ben masih terlihat sangat cemas. Terus merapal doa untuk anaknya.
Sesampainya mereka di lokasi yang banyak warga dan beberapa orang kru syuting.
"Dila."
Gadis cantik berambut sedikit acak-acakan namun tak mengurangi kecantikannya itu mendongak. Melihat sang bunda hadir disana membuatnya langsung berdiri dan memeluk.
"Bunda!"
Dila berlari dan memeluk bundanya. Menangis sesenggukan.
Baik Nina maupun bunda tidak berkata sedikitpun. Mereka memilih menenangkan Dila dengan pelukan dan mengurut pungung Dila agar lebih bersabar dan kuat.
"Bunda, Dila nggak nglakuin itu Bun. Sungguh. Ini hanya salah paham." Tangis Dila terisak.
"Udah, sini duduk dulu." Ucap bunda menuntun Dila duduk ke kursi panjang dari kayu."Terus ceritain sama bunda. Apa yang terjadi."
__ADS_1
Sedangkan mama Ben terlihat menghampiri anaknya yang terkulai lemas di sudut ruangan. Saat melihat mamanya, Ben hanya tersenyum pahit. Mama Ben memeluk anaknya yang tak beranjak sedikitpun dari kursi tempat nya duduk.
"Ma, mama percaya pada Ben kan? Kalau aku nggak akan melakukan hal semacam ini?" Lirih Ben lemas
"Iya sayang, mama percaya." Mama mendekap erat kepala sang anak yang tenggelam dalam pelukannya.
Masih di ruangan yang sama, Dila menceritakan kronologis nya. Bahwa saat itu ia sedang berganti baju di gudang, karena semua toilet penuh dan antri.
Saat itu, entah muncul dari mana, Ben tiba-tiba saja masuk dan terantuk sesuatu. Hingga tubuh mereka saling menindih dan posisi kepala Ben terbenam di dada Dila. Tentu itu membuat orang yang melihat pasti salah paham mereka sedang mesum.
Mereka di grebek saat dalam posisi seperti itu. Sempat terjadi perdebatan dengan warga. Tentu mereka yang merasa tidak melakukan hal mesum. Terpaksa menuruti kemauan para warga yang sudah tersulut emosi. Apa lagi ada suara sumbang yang meminta mereka di arak keliling kampung.
"Jadi, kalian sudah menikah?"
Dila terisak hingga bahu nya berguncang. Bunda memeluk putri bungsunya.
"Mereka bahkan nggak ngasih kami kesempatan bunda..."
"Mereka udah terlanjur emosi. Mungkin tempat itu sudah sering di jadikan tempat mesum. Karena itu mereka geram dan bertidak seperti itu." Bunda mengusap lengan Dila.
"Maaf Dil. Aku beneran nggak nyangka bakal kek gini. Pihak kru udah mencoba menjelaskan. Tapi, memang tidak membantu banyak." Ungkap Fina teman Dila yang udah berada di sana begitu mendengar kabar dari Dila.
Nina mengelus kepala Dila. "Ternyata kamu malah mendahului embak, Dil."
"Mbak!" Pekik Dila kesal karena Nina malah menggodanya.
"Mbak!"
Nina tersenyum, ia tau ini adalah jawab dari doanya. Selain ia mendapat pertanda dari mimpi, sang Khalik pun menjawab dengan kejadian ini. Dila yang justru di paksa menikah dengan Ben karena suatu salah paham.
Dan ini sudah sesuai dengan ketentuannya. Bahwa dia dan Ben Arfa tidaklah berjodoh.
Nina berjalan pelan mendekati Ben. Pria yang masih di peluk oleh mama nya itu menatap Nina sayu. Lalu mulai merenggang pelukan sang mama.
"Nin, kamu tau aku nggak akan melakukan hal semacam ini kan? Aku nggak akan melecehkan adikmu." Menatap Nina penuh harap. Nina membalasnya dengan senyuman.
"Aku percaya Ben."
Wajah Ben Arfa berubah menjadi lebih bersinar, karena ada secerca pengharapan. Namun, ia segera tersadar. Ia dan Dila adik Nina sudah menikah meski karena paksaan dan masih di bawah tangan.
Itu artinya, ia dan Nina tidak berjodoh.
"Terima kasih."
Dengan lemas dan sedih, mereka kembali ke Jogja. Ben dan Dila pun tak ingin memperpanjang masalah ini dan memilih kembali. Satu hal yang pasti mereka ingat dan tanam dalam hati, mungkin akan butuh waktu beberapa tahun untuk mereka menginjak kaki di sana. Karena rasa trauma membuat mereka enggan. Walau pada dasar nya mereka warga yang ramah.
Dila kembali ke rumah bunda nya. Sedang kan Ben kembali ke rumah di Turi. Mereka memang butuh waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
"Dila, kamu nggak apa kan di rumah sendiri? Mbak mau ziarah ke makam mas Ozan." Pamit Nina menggandeng Zidan.
__ADS_1
"Bunda kemana mbak?" Bertanya dengan lemas.
"Bunda ke tempat Bulik Lastri. Rewang." Jawab Nina, "Mereka kan mau menggelar hajatan."
Dila tampak sedikit sedih." Iya mbak. Hati-hati."
"Kamu nggak apa kan sendiri di rumah?"
"Nggak apa-apa mbak. Dila dah gede kok. Bisa jaga diri."
"Ya udah mbak berangkat ya."
Sesampainya Nina di rumah pak Bahdim. Nina hanya memarkirkan motor dan berjalan ke pemakaman. Berdoa dan membersihkan pusara sang mantan suami.
"Mas, kamu ninggalin aku sama Ozil. Kamu juga harus bahagia di sana. Doa kami akan terus mengalir untuk mu." Ucap Nina menyentuh nisan Ozan.
Nina dan Zidan berjalan keluar dari areal makam. Di jalan depan gapura Ozil termenung di atas motornya.
"Om Ozil!"
Ozil menoleh, ia terpesona oleh penampilan Nina yang kini sedikit berbeda. Wanita sangat dia cintai itu mengenakan gamis berwarna cream kombinasi darkcoklat dengan jilbab berwarna senada.
Tak ingin berlama-lama memandang dan mengagumi Nina yang menambah rasa sesak di dalam dadanya. Ozil memilih tersenyum melihat Zidan berlarian ke arahnya. Ozil merentangkan tangan memeluk tubuh kecil yang berhambur memeluknya.
"Om, Zidan tanen." Celoteng anak Nina itu.
"Om juga zid." Ozil menciumi wajah Zidan dengan gemas.
"Udah lama mbak?" Tanyanya mencoba menyingkirkan gugup dan dentang jantung nya yang bertalu-talu.
"Enggak, kok tau kami di sini?" Jawab Nina begitu mereka sudah berhadapan.
"Iya, pas pulang tadi lihat motor mbak Nina di teras rumah. Jadi kupikir mbak pasti mengunjungi mas Ozan."
Nina mengulas senyum. Ozil menatap Nina lekat. Jantung nya makin tak karuan. Teringat dua hari yang lalu, harusnya Nina sudah memberi jawaban untuk Ben Arfa. Dada Ozil terasa nyeri, dan sedih.
"Mungkin saja mbak Nina udah menerima lamaran mas Ben, apalagi dia datang kemari bukan Kamis sore. Mungkin mbak Nina bermaksud untuk ijin atau memberi tahu mas Ozan." Gumam Ozil dalam hati.
Tiba-tiba saja hidung nya terasa gatal dan berair oleh karena desakan rasa sakit Nina kan menikah dengan pria lain. Ozil menghisap ingusnya. Lalu berbalik.
"Ayo pulang mbak."
Dalam perjalanan.
"Kok tumben mbak, ini masih hari Selasa, udah ziarah ke makam mas Ozan."
"Kemarin kan nggak ke sini, Oz." Jawab Nina enteng." Embak juga ada yang mau di bicarain sama kamu."
"Jantungku tenang dong. Ingat kata bapak, harus iklas. Harus Nerima apapun keputusan mbak Nina." Gumam Ozil dalam hati.
__ADS_1