Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 45


__ADS_3

"Dil, ada Nasri di luar."


"Nasri?" Dila membersihkan tangannya seusai mencuci piring.


"Iya, kamu masih berhubungan dengan Nasri?" Tanya bunda mendekat.


"Maksud bunda?"


Bunda menghela nafas beratnya.


"Dil, bunda tau dia itu menaruh hati dan harapan sama kamu. Mustahil kamu nggak bisa ngrasain itu. Ibu aja tau, yang jarang ketemu."


"Kami nggak ada hubungan apapun bunda, hanya berteman." Jelas Dila berjalan ke depan."Dila temuin Nasri dulu ya Bun."


"Nggak kamu bikinkan minum?"


"Nggak usah Bun, bentar juga pergi kok."


Usai mengatakan itu, Dila melangkah keluar dan menemui Nasri.


Pria berkulit sawo matang itu, menatap Dila. Entah dengan tatapan apa Dila tak tau. Yang jelas pandangannya sedikit berbeda. Mungkin lebih ke kecewa dan patah hati.


"Ada apa nas?"


"Dil, kita perlu bicara?"


"Bicara lah." Dila duduk di sebrang Nasri.


"Benar kamu udah nikah sama mas Ben?"


Dila terkejut, ia bingung bagaimana bisa Nasri tau jika dia sudah menikah.


"Iya,tau dari mana?"


"Febri yang bilang. Jadi itu benar ya?"


"Hemm.. kamu datang cuma mau nanyain itu?"


Nasri tampak sedih menatap Dila.


"Kamu nggak cinta kan sama dia? Aku tau kamu nikah sama mas Ben karena terpaksa."


"Cinta. Aku cinta kok. Kami menikah karena saling mencintai. Hanya, karena aku masih kuliah, jadi kami sengaja tidak mengumbarnya. Itu saja." Jelas Dila bohong. Hanya agar Nasri mundur dan pergi.


"Kenapa Dila? Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Semua orang membicarakan hal buruk tentang mu."


"Kamu juga kan?" Sela Dila. "Kamu juga percaya pada hal buruk itu kan?"


"Dil...."


Dila mengangkat tangan. "Udah, sekarang pulang. Nggak ada yang musti di bicarakan lagi."


Dila beranjak dari duduk nya dan berdiri di ambang pintu. Ia terkejut, Ben berdiri di ujung teras, bersandar pada pilar penyangga, menatap dengan pandangan yang entah apa.


Dila membuang mukanya ke samping. Ia yakin dari sana pastilah Ben mendengar semua percakapan nya dengan nasri. Tak lama Nasri ikut keluar, ia juga terkejut melihat Ben ada di ujung teras.


Dila merasa canggung dengan berada di dua pria.


"Udah urusannya?" Tanya Ben menatap Dila intens.

__ADS_1


"Udah." Lirih Dila tak berani menatap Ben.


"Loh, nak Ben udah datang rupanya?" Seru bunda dari dalam rumah."ayo masuk dulu."


"Maaf bunda kemarin ngak sempet ke sini." Ben melangkah dan menyalami bunda,"lagi sibuk di resto."


"Nggak papa. Bunda ngerti kok."


"Saya mau jemput Dila buat fiting baju Bun."


"Oohh begitu." Bunda menatap Dila, dan Ben bergantian, dila memalingkan wajahnya. Lalu bunda menatap Nasri yang terlihat sedih dan canggung.


"Masuk sana dulu." Sembari Manatap Ben


"Kamu gimana nas? Udah mau pulang?" Bertanya dengan lembut.


"Iya bunda." Jawab Nasri lemas. "Tapi sebelum itu..." Nasri berganti menatap Ben."mas, bisa kita bicara sebentar?"


****


Di ruang shalat subuh itu. Sesusai mengucap salam. Dan Nina mencium tangan Ozil. Ozil tersenyum sumringah.


"Mbak Nina,"


"Iya, Oz."


"Zidan kan udah gede."


"Belum. Masih tiga tahun." Menjawab malas sambil berzikir.


Hening.


"Mbak Nina, aku doa, mbak aminkan ya." Pinta Ozil sedikit memiringkan tubuhnya.


"Iya, pak imam."


"Kok pak imam? Ozil ini."


"Kan Ozil nya lagi jadi imam sekarang." Jawab Nina."Cepept doa nya."


"Iya mbak." Membetulkan posisi.


"Jangan keras-keras. Nanti di dengar bapak sama ibuk. Malu Ozil." Kata Nina mengingatkan.


"Iya mbak Nina."


Ozil pun berdoa, dan Nina mengaminkan. Tiba di ujung doa Ozil.


"Ya Alloh, berikanlah kami putra dan putri yang lucu menggemaskan...."


"Tuh kan?" Batin Nina. Namun dia tetap mengamin kan.


"Yang Soleh dan Soleha."


"Aamiin...."


"Dan terakhir, tolong percepat masa haid nya mbak Nina, agar kami bisa mulai berusaha. Ammiin." Ozil meraup wajahnya.


"Astaghfirullah...." Reflek Nina berucap.

__ADS_1


"Amin mbak, bukan astaghfirullah." Protes Ozil seraya berbalik menatap istrinya.


****


Siang yang terik, matahari juga sudah sangat meninggi. Ozil melakukan pengecekan pada kolam lele nya yang beberapa hari yang lalu di tabur benih.


"Udah lumayan gede. Bibit bagus sih ya. Tempat nya juga bagus. Aku emang pinter urusan begini." Gumam Ozil sangat bangga.


Ozil mengangkat tangannya sampai di depan wajah, lalu mulai menghitung jarinya.


"Hmmm... Udah lima hari, sabar, sabar." Gumam Ozil melirik wanita cantik yang baru saja datang dengan seorang bocah tiga tahunan.


Ozil tersenyum lalu berjalan sembari mengelus pelan pahanya.


"Sabar ya dek, embak nya lagi banjir. Dua hari lagi paling cepet surutnya." Gumam Ozil.


"Makan, Oz." Seru Nina yang melihat Ozil semakin mendekat.


"Asyik. Makan berdua sama mbak Nina. Zidan masih kecil nggak perlu lah di sebut sebagai orang ke tiga." Gumam ozil riang.


"Kok cuma bawa nasi mbak?" Tanya Ozil begitu duduk di Gasebo, Nina hanya melempar senyum dan meneruskan mengisi piring dengan nasi. Lalu memberikan piring pada Ozil.


"Ya udah sih mbak, makan nasi sambil mandengin mbak Nina juga enak." Kata Ozil mencubit nasi dan memasukkan nya ke mulut.


"Nggak masak ya mbak?"


"Masak kok."


Ozil terlonjak kaget mendengar suara dari arah belakang punggungnya. Ozil menoleh, ada bapak dan ibuk berdiri disana sambil membawa beberapa kantong plastik dan rantang.


Ozil membelakangi arah masuk ke area kolam nya, sehingga ia tak melihat orang tuanya datang. Nina tersenyum geli.


"Kamu makan nasi aja Zil. Nggak usah pake lauk. Kan udah enak sambil mandengin Nina katanya." Kata Pak Bahdim duduk di samping Ozil sedangkan ibuk meletakan bawaannya ke atas Gasebo lalu ia duduk di sisi Nina.


"Yeeee... Bapak, curi dengar aja." Gerutu Ozil cemberut.


Nina sigap menata lauk. "Kamu mau makan pake lauk apa Oz? Apa cuma mau makan nasi aja?" Ledek Nina.


"Lauknya mandengin kamu Nin." Ibuk menimpali."nggak usah di kasih lauk." Ibuk terkekeh-kekeh.


"Iiissshhh,, ibuk ini." Sewot Ozil memindahkan sendiri ikan balado dan tempe goreng ke piringnya.


"Eehh, kamu ngapain ngambil ikan Zil? Balikin! Udah mandengin Nina aja yang enak." Pak bahdim ikut meninpali.


Ozil menggigit ikannya dengan mantap dan mengunyahnya keras-keras. Membuat Nina tertawa, begitupun dengan Zidan yang melihat tingkah ayah baru nya.


"Bapak sama ibuk ngapain sih kemari?" Protes Ozil setelah memakan beberapa suap.


"Ya anter lauk inilah Zil. Gimana sih kamu? Biar kamu makan nggak nasi aja." Jawab ibuk enteng.


"Dan nggak cuma mandengin Nina...." Timpal bapak terkekeh.


Ozil mendengus.


"UMM.. pak, aku pingin nambah ternak pak." Ucap Ozil.


"Boleh, Zil, ini lele juga sudah stabil kan?"


"Udah pak."

__ADS_1


"Kamu mau nambah ternak apa?"


__ADS_2