Nikah Yuk Mbak?!

Nikah Yuk Mbak?!
bab 40


__ADS_3

"Mbak Nina!" Ozil mencapit tubuh Nina lalu menggelitiki nya, hingga tubuh Nina menggelinjang dan tertawa sampai suaranya tak terdengar."Bilang sekali lagi. Ayo bilang."


"Ampunn... Ampunn.. Ozil." Ucap Nina di sela-sela tawanya. "Mbak kan cuma bercanda."


Ozil pun menghentikan menggelitik Nina. Sesaat mereka terdiam dalam keheningan dalam ruang yang gelap. Meski tak tampak, tapi mereka saling memandang.


Perlahan wajah Ozil mendekat, nafas nya semakin cepat memburu oksigen.


"Nina..." Bisik nya lirih. Sebelum bibirnya mendarat di bibir Nina. Menyesapi bibir lembut yang berbalik memberinya kecupan.


Ozil mengeratkan pelukan di punggung Nina. Menahannya untuk semakin dekat ke tubuhnya. Tangan Ozil menelusup di bawah leher Nina, menarik tubuh sang istri hingga terposisi di atas tubuhnya yang terlentang.


Lidah kedua nya saling membelai hingga terjeda sesaat karena kehabisan nafas.


"Nina....." Lirih Ozil, nafas hangat nya menerpa wajah Nina. yang kini berjarak beberapa senti.


Dalam keremangan, Ozil menyingkap anak rambut ke belakang telinga Nina. Tangan nya menekan lagi tengkuk wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Menautkan bibir dan saling membelai. Tangan lainnya memeluk erat tubuh yang kini berada di atas tubuhnya.


"Ozil...." Lirih Nina saat tangan Ozil mulai membuka kancing piama nya.


"Aku... Sedang datang bulan."


Seketika gerak jemari Ozil terhenti. "Aku... Cuma mau nyiumi mbak Nina aja kok malam ini..."


"Terus.... Tangannya ini ngapain?" Tanya Nina menahan tangan Ozil yang masih membuka satu kancing teratas piama Nina.


"UMM.... Naluri lelaki mbak."


Nina tertawa kecil. Ozil nyengir.


"Tidur yookk mbak." Ajak Ozil mengeratkan pelukannya karena tak ingin Nina membuat jarak.


Nina merebahkan kepalanya di dada Ozil. Mendengarkan irama detak jantung Ozil dan nafas lelaki itu yang cepat.


"Oz..."


"Heemm?"

__ADS_1


"Mau mbak bantu padamin yang lagi nyala nggak?" Tawar Nina masih mendengarkan detak jantung Ozil yang cepat.


"Madamin apa mbak?"


"Ini." Tanpa canggung Nina meremas senjata Ozil yang sudah on Fire. Sontak pria yang masih perjaka itu terkejut dan langsung mendorong Nina. Dan terduduk menjauh.


"Iihhh, mbak Nina nih, jangan pegang-pegang lah. Malu tau!" Seru Ozil wajahnya sudah sangat memerah karena malu. Bahkan sampai ke telinganya.


Nina melongo melihat reaksi Ozil. Padahal tadi bersemangat menciumnya. Bahkan tangannya sudah sibuk membuka kancing piyama Nina.


"Ssstttt! Jangan keras-keras. Nanti di dengar bunda sama Dila. Malu tau!"


"Makanya mbak jangan pegang-pegang. Di situ lagi." Protes Ozil sewot.


"Ozil! Kecil kan suaramu!"


Nina bergerak mendekat hendak membungkam mulut Ozil. Namun, gerakan Nina dalam remang itu dapat Ozil lihat hingga dia justru makin histeris.


"Mbak! Jangan dekat-dekat dong! Mbak lagi haid."


"Astaghfirullah!"


"Sudahlah. Tidur aja. Capek." Gumam Nina.


Hening.


Ozil melihat Nina yang sudah terbaring di samping Zidan. Yang kini posisinya sudah berada di sebelah tengah ranjang. Ozil bernafas berat.


"Mbak Nina."


Hening.


"Mbak Nina!"


Masih hening.


"Mbak Nina marah ya?" Tanya Ozil merangkak mendkat dan tidur di samping Zidan juga.

__ADS_1


"Mbak Nina. Mbak?" Ozil menggoyangkan tangan Nina."yaahh, mbak Nina marah." Lirihnya lesu.


"Enggak. Udah tidur." Ucap Nina masih dengan mata terpejam. Kasihan juga dia mendengar suara Ozil yang lemas.


"Beneran? Mbak Nina nggak marah?" Bersemangat lagi.


"Heemmm ... Cepat tidur."


"Makasih ya Mbak."


Keesokan paginya.


Di meja makan, bunda tersenyum-senyum melirik pada Nina dan Ozil yang sedang mengunyah sarapan.


"EHEM... Semalam kamu nggak terlalu keras kan Nin sama Ozil?"


UHUK UHUK UHUK.


Ozil dan Nina tersedak bersamaan.


"Wah, kesedak pun sampai bareng." Dila ikut menggoda.


Secara bersamaan pula mengambil gelas dan meminum nya. Hingga gelas di letakan dalam waktu yang bersamaan.


"Bunda....."


"Bunda dengar loh Nin. Mbak jangan pegang-pegang." Goda bunda lagi menirukan suara Ozil yang di buat-buat.


Dila pun cekikikan.


Sedangkan Nina dan Ozil sama-sama menyemburkan air yang belum sempat tertelan.


"Iiihhhh.... Pasangan jorok! Ini meja makan tau." Protes Dila mengusap wajahnya yang kena semprot.


"Bunda udah dong! Ada Zidan nih! Nggak baik buat pertumbuhan dia." Protes Nina malu.


"Ha-ha-ha,, iya iya... Habis... Sudah ah... "

__ADS_1


Bunda yang sudah tak bisa menahan tawa nya lagi memilih menyudahi sarapannya dan meletakan piring di wastafel.


"Jatah pengantin baru yang nyuci piring." Ucap bunda sebelum menghilang di balik gorden menuju ruang depan. Tawa nya masih terdengar meski telah berlalu.


__ADS_2